CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Bisakah kamu antarkan handuk padaku


__ADS_3

Di dalam restoran Korea Lu Jin dan Li Man pesan soju, Kimchi dan ayam goreng madu. Li Man menuang soju dan bersulang dengan Lu Jin.


"Sebenarnya Gu she na sangat imut". Ucap Li Man setelah meneguk habis soju di gelasnya. "Seharusnya kamu sangat senang bisa bersama dengannya setiap hari kan?". Tanyanya.


"Memang bisa terjadi hal yang tak terduga". Sahut Lu Jin sambil tersenyum memikirkan she na.


"Memang bagus jika masih muda. Masih ada berbagai kemungkinan. Jika aku bisa duduk di mesin waktu dan kembali ke usia 21 tahun, aku pasti akan bergaul bersamamu dengan cara yang berbeda". Ucap Li Man dengan nada sendu.


"Kondisimu sekarang ini sangat bagus. Tidak perlu berubah". Seloroh Lu Jin.


"Ya. Aku adalah wakil CEO Zheng Hong, dan ketua Aliansi butik Global. Tentu saja semua itu sangat bagus. Namun, kamu tidak menyukainya". Li Man menatap mata Lu Jin.


"Kita ganti topik lain saja". Ujar Lu Jin.


"Biarkan aku mengatakannya hingga selesai. Selama 10 tahun bersamamu, hal yang paling aku sesali adalah.. tidak mengucapkan kata-kata ini lebih awal. Selama 10 tahun ini, aku terus mengingatkan diriku sendiri untuk bekerja dengan giat agar aku menjadi lebih baik. Aku hanya ingin selalu berada di sisimu". Li Man mengutarakan kata hatinya yang selama ini dia pendam dengan nada suara serak bergetar. "Aku tidak ingin hanya menjadi rekanmu. Lu Jin..Aku suka padamu".


"Kamu minum terlalu banyak arak. Kamu mabuk. Aku anggap kamu tidak pernah mengatakan apa pun. Aku kembali untuk istirahat dulu". Sahut Lu Jin berdiri menepuk bahu Li Man dan berjalan pergi. Li Man duduk diam merasa sakit hati sudah di tolak. Dia menghabiskan 1 botol soju dengan mata memerah menahan air matanya, lalu kembali ke hotel. Sesampainya di hotel dia menelpon Lu Jin.


Tut...Tut...Tut.....


"Halo...Ada apa?". Ucap Lu Jin dengan suara tenang.


"Lu Jin... Aku mandi di kamar mandi, tapi, tidak ada handuk lagi di kamar mandi. Bisakah kamu antarkan satu untukku?". Ucap Li Man duduk di kamar mandi dengan air mata berlinang merendahkan dirinya sendiri demi Lu Jin.


"Li Man.. Meskipun aku antarkan handuk Untukmu, aku juga hanya akan meletakkannya di depan pintu. Karena aku tidak akan pernah membuka pintu itu. Selama ada pintu itu, kita berdua selamanya adalah teman baik, adalah rekan kerja. Selamanya. Lagi pula, kamu juga tidak berharap pintu ini dibuka benar kan?". Jawaban Lu Jin menohok tenggorokannya. Li Man menggigit bibir bawahnya dengan kuat menahan tangis. "Sudahlah. Sudah jalan seharian, jangan duduk melongo lagi di sana. Tidurlah". Ucap Lu Jin dengan tenang.

__ADS_1


"Lu Jin..Terima kasih".


"Selamat malam..". Ucap Lu Jin mau menutup telpon.


"Tunggu sebentar. Di hari perayaan, aku menerima telepon dari busena untukmu. Aku tidak memberitahumu dan menghapus riwayat panggilannya. Aku tahu aku seharusnya tidak melakukan ini, namun, aku tidak dapat menahan diri. Karena aku tahu kamu akan pergi jika menerima telepon itu". Akhirnya Li Man memilih jujur pada Lu Jin dengan suara bergetar. "Waktu itu aku merasa aku masih punya kesempatan. Aku minta maaf padamu. Maaf..". Ucapnya Li Man langsung menutup telpon dan menangis di dalam kamar mandi. Dan keesokan paginya, Lu Jin langsung terbang pulang ke Suhai.


Di depan rumah sakit she na dan ziqian berjalan bersama.


"Tadi aku sudah tanya kepada dokter, katanya operasi kakek berjalan dengan lancar. Asal istirahat dengan baik, aku rasa kakek Gu bisa segera keluar dari rumah sakit". Ucap ziqian.


"Sudah merepotkanmu, kak ziqian. Terima kasih banyak". Ujar she na.


"Tidak merepotkan. Sebenarnya aku sangat senang, bisa menemanimu selama beberapa saat ini. Aku berharap kedepannya aku tetap bisa menemanimu seperti ini. She na... ini untukmu". Ziqian memberikan she na proposal 'Desain Restoran Pribadi'. "Bukankah kamu ingin buka restoran pribadi?. Ini adalah gambar desain yang aku buat. Aku harap ada posisiku di dunia masa depanmu. Bisakah serahkan dirimu padaku?". Tembak ziqian mengulurkan tangannya pada she na.


"Maaf, kak ziqian. Aku akan membayar biaya pengobatan secepat mungkin. Maaf.. Maaf sekali..". Ucap she na pergi meninggalkan ziqian.


Malamnya, she na keluar dari kamar rawat kakek Gu dan duduk di kursi depan ruangan kakeknya. Namun, baru saja duduk, dia kaget melihat ada Lu Jin yang tak jauh darinya. She na langsung berdiri tidak percaya melihat Lu Jin ada di rumah sakit. Dan Lu Jin berjalan cepat ke arahnya dan langsung memeluknya dengam erat dan mencium puncak kepalanya berkali-kali. She na menangis dalam pelukan Lu Jin, sesaat dia mengingat ucapan Ibu Lu Jin padanya waktu itu. ('Nona Gu.. Apakah kamu merasa Lu Jin akan senang setiap hari jika dia melepaskan karir besarnya dan bersama denganmu setiap hari?'). She na langsung melepas pelukan Lu Jin.


"Maaf.. Aku takut ingus dan air mataku mengotori bajumu". Ucap she na menghapus air matanya.


"Seluruh tubuhku adalah tisumu. Kamu bisa lap di mana pun juga". Sahut Lu Jin. Keduanya tidak bicara lagi masuk ke dalam ruangan kakek Gu dan saling diam sampai pagi mendatang.


"Aku antar kamu pulang". Ucap Lu Jin saat berjalan keluar rumah sakit dengan she na.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri". Sahut she na datar terus melangkah ke depan mau menyewa sepeda umum.

__ADS_1


"Kamu tidak tidur semalaman. Bagaimana caranya kamu naik sepeda?. Aku antar kamu pulang". Ucap Lu Jin mendesak memegang tangan she na.


"Aku bisa pulang sendiri. Aku sudah bilang, aku bisa pulang sendiri". Sentak she na menepis tangam Lu Jin dengan kasar tidak peduli di lihat orang.


"Kenapa kamu ingin bertengkar denganku?". Tanya Lu Jin kesal tidak mengerti kenapa sikap she na berubah begitu padanya. "Kakekmu menjalani operasi besar seperti ini, kenapa kamu tidak langsung memberitahuku?. Biaya operasi semahal itu, kamu tidak memberitahunya padaku, bagaimana kamu menanggungnya....". Ucap Lu Jin mulai marah.


"Kak ziqian membantuku bayar dulu". Sela she na.


"Aku akan mengembalikan uang padanya". Ucap Lu Jin setelah diam sesaat.


"Aku akan bayar sendiri". Tolak she na.


"Aku adalah pacarmu. Kenapa semua harus dihitung dengan begitu jelas?". Sentak Lu Jin emosi.


"Aku menghitungnya dengan jelas karena aku tahu diri". Sahut she na menahan rasa sakitnya.


"Ibuku mempersulit kamu kan?".


"Tidak". Sahut she na dengan cepat.


"Permisi, apakah sepedanya masih mau dipakai?". Tanya seorang pemuda yang ingin menyewa sepeda juga.


"Mau..".


"Tidak..". She na bilang mau, namun Lu Jin berteriak tidak.

__ADS_1


Saat she na mau menaiki sepeda itu, Lu Jin langsung menggendongnya ala bridal style


"Kamu pakai sendiri saja". Seru Lu Jin pada pemuda itu dan membawa she na masuk ke mobilnya.


__ADS_2