CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Apakah Kamu Menyukaiku?


__ADS_3

Sampai di dalam kamar, ziqian membaringkan she na dengan pelan di ranjang. "Pelan-pelan. Baik, baik". Setelah itu, dia menyelimutinya dengan selimut. Ziqian melepas jaketnya dan duduk di tepi ranjang menatap she na dengan intens, membelai rambut she na dengan lembut sambil tersenyum.


"Solusi, solusi,solusi. Pikirkan solusinya, pikirkan solusinya". Ucap sang presdir Jalan mondar mandir di dalam kamar.


"Aku sedang memikirkannya, aku sedang memikirkannya". Sahut M X J menatap buah yang ada di meja menelan ludah sendiri. Mau makan tidak berani. Saat melihat sang presdir berjalan ke arah jendela, M X J langsung mengambil pisang dan memakannya dengan cepat, saking laparnya.


"Sepertinya sebelah sini tidak bisa di lewati". Ucap sang presdir melihat keluar jendela.


"Tidak bisa di lewati". Sahut M X J sambil mengunyah pisang di mulutnya. Sang presdir berbalik dan melihatnya sedang makan pisang langsung berjalan ke arahnya.


"Aku suruh kamu pikirkan solusinya, kamu malah datang makan pisang". Ucap presdir Lu menggeprak kelapanya dengan emosi.


"Aku...kita lari seharian tanpa makan". Lirih M X J yang belum menelan pisang di mulutnya.


"Baik, makan, makan. Ayo, solusinya, solusinya". Desak sang presdir meminta solusinya.


"Solusi, ada ,ada". Ucap M X J menelan pisang di mulutnya. "Biarkan pihak hotel yang menanganinya". Sambungnya memakan pisang lagi.


"Hanya satu?". Ucap sang presdir menatapnya. M X J lalu mengambil buah apel untuk bosnya.


TING TONG.....Pintu kamar she na berbunyi.


"Tuan, ini sandal yang nada minta". Ucap pelayan setelah ziqian membuka pintu. Dia melihat ke dalam kamar, dan terlihat she na sedang berbaring di ranjang.


"Aku tidak minta sandal. Apa yang kamu lihat?". Tanya ziqian menatap tajam.


"Tidak apa-apa. Tuan, semoga anda bermalam disini dengan gembira". Ucap pelayan pergi setelah ziqian mengangguk dan menutup pintu.


*


"Apakah di kamar itu ada seorang wanita?". Tanya M X J pada pelayan yang tadi mengetuk pintu kamar she na.


"Iya, ada seorang wanita tidur di atas ranjang". Ucap pelayan itu.


"Di atas ranjang?". Ujar presdir Lu terkejut.


"Dimana pria itu?".Tanya M X J.


"Pria itu tidak ada di atas ranjang".


"Apakah dia membuka pakaiannya?".


"Buka. Tapi hanya buka jaketnya saja". Ucap pelayan berkata apa yang di lihatnya.

__ADS_1


"Tidak bisa, aku harus pergi lihat dulu". Ucap sang presdir berdiri dengan suara lemah.


"Jangan pergi, jangan pergi, tidak apa-apa. Hanya buka jaket saja. Biar aku yang menanganinya, duduk, duduk. Elegan, elegan". Ucap M X J membantu bosnya duduk kembali.


"Pergi sekali lagi. Selidiki dengan baik". M X J memberikan uang pada pelayan itu.


"Baik".


"Pergilah".


"Eh...". Sang presdir menggunakan menyuruh asistennya memberikan uang pada pelayan itu lagi.


"Perhatikan baik-baik". M X J memberikan uang lagi pada pelayan itu.


"Baik, iya,iya". Pelayan menerima uang itu dan pergi.


Sang presdir duduk dengan gelisah menunggu informasi dari pelayan hotel itu.


TING TONG.....Kali ini bukan kamar she na yang bunyi, melainkan kamar presdir Lu.


"Bagaimana?". Tanya M X J begitu membuka pintu melihat pelayan itu.


"Maaf, pria itu sudah pergi. Wanita ini memberikanku 400 yuan". Ucap pelayan geser ke samping melihatkan she na yang berdiri di belakangnya. Mata M X J membulat melihat she na di depannya.


She na langsung berjalan masuk ke dalam melewati M X J yang masih kaget melihatnya.


"Lu rewel...". Panggil she na membuat sang empu nama terkejut. "Apa yang kamu lakukan disini?. Trik apa lagi yang ingin kamu lakukan?". Cerca she na setelah masuk ke dalam.


Presdir Lu berdiri dan melihat asistennya, memberi isyarat pergi lewat matanya.


"Ayo, kita bicara dulu, ayo, ayo". Ucap M X J pergi mengajak pergi pelayan itu.


"Kunjungan pribadi dengan berpakaian biasa. Urusan kantor. Apakah tidak boleh ada urusan kantor?. Dan sudah berapa kali aku memberitahumu, jangan memanggilku 'Lu rewel' lagi". Decak presdir Lu dengan muka gugup.


"Kunjungan pribadi dengan berpakaian biasa?. Kamu membohongi anak kecil?. Apakah kamu sudah mengikuti kami sepanjang hari?. Apa yang ingin kamu lakukan?". Ucap she na memberikan rentetan pertanyaan.


"Hah, aki belum bertanya padamu, bukankah kamu bilang ikut kelas pelatihan?. Kenapa kamu berkencan dengan seorang pria?". Bukannya menjawab, sang presdir malah bertanya balik. "Tidak melakukan hal yang benar, tidak memikirkan kemajuan". Cercanya.


"Aku ikut pelatihan atau tidak, aku ikut latihan dengan siapa, aku kencan dengan siapa, itu adalah urusanku sendiri, apa hubungannya denganmu?. Apa hak kamu untuk mengaturku?". Balas she na dengan ketus.


"Tentu saja aku punya hak. karena aku...ka...karena...karena...".


"Karena apa?". She na menunggu kelanjutan ucapan sang presdir tidak sabar.

__ADS_1


"Di dalam gula kapas tidak ada kapas". Presdir Lu mengalihkan pembicaraan.


"Ha...?".


"Sakarin berkualitas buruk di dalamnya terlalu manis. Sangat menjijikkan". Ucapnya membekangi she na karena gugup.


"Pfftt...Sudahlah. Aku sudah capek bermain seharian. Aku malas berbicara denganmu". Ucap she na berjalan pergi.


"Jangan pergi dulu, aku belum selesai berbicara". Ucapan sang presdir di abaikan she na yang terus melangkah. Sang presdir berlari mengejar keluar.


"Jika kamu suka memanah, aku bisa melatihnya". Teriak presdir Lu dari depan pintu kamarnya membuat langkah she na berhenti. "Kalau suka memotret, aku juga bisa mempelajarinya. Tapi, bisakah kamu jangan berkencan dengan orang lain lagi?. Aku akan menemanimu". Ucap sang presdir membuat she na tersenyum senang, dengan pelan she na membalikkan badannya.


"Lu Jin...Apakah kamu menyukaiku?". Tanya she na dengan senyum merekah.


"Iii...iya". Jawabnya menatap dengan tatapan penuh arti.


"Itu dia, itu dia, itu dia". Seru beberapa staf hotel menghampiri presdir Lu. "Ini adalah CEO Grup Zheng Hong, Tuan Lu Jin". Ucap salah satu di antara mereka. Sedangkan sang presdir masih menatap lurus ke arah she na yang tersenyum padanya. "Presdir Lu, silakan anda berikan pengarahan. Kami pasti akan memperbaikinya dengan cermat. Tidak tau, kali ini presdir Lu melakukan kunjungan dengan berpakaian biasa, apakah ada rencana investasi?". Tanya mereka pada sang presdir yang tidak menyahut ataupun melihat ke mereka. She na menunjuk kamarnya dengan jari sambil tersenyum sebelum masuk, presdir Lu mengangguk pelan melihatnya. Lalu she na menjulurkan tangannya memberikan finger Love pada sang presdir. Presdir Lu juga mengangkat jarinya bentuk finger Love sambil tersenyum sendiri.


"Iya, apakah anda punya saran?. Anda bisa menyampaikan kepada kami. Preadir Lu, presdir Lu...". Panggil beberapa orang itu merasa di abaikan. "Apakah anda ada masalah?. Anda bisa mengatakannya pada kami. Presdir Lu, presdir Lu..".


"Semuanya lumayan bagus. Besok. Aku capek. Besok..". Sahut presdir Lu gak nyambung, berlalu masuk ke dalam kamarnya.


"Presdir Lu, presdir Lu..". Seru semuanya dengan wajah kecewa.


**


Setelah kembali dari Hotel Sakura Bay, she na kembali bekerja di hotel XX.


"Gu she na...Kamu terlambat lagi?". Tegur Koki Yu tidak senang dengan she na.


"Koki Yu, bukankah ini baru jam 9?". Jawab she na melihat jam di ponselnya.


"Kamu sudah melihatnya?". Ucap koki Yu menunjuk semua koki yang ada di dapur. "Semua orang tiba pada pukul 8. Jika semua orang tiba pukul 9 seperti kamu, di dapurku ini tidak perlu beroperasi lagi". Cibir koki Yu sebagai koki kepala.


"Tapi jam kerja.....".


"Guru Gu, kita pergi bersihkan kotoran udang saja". Sela Daguo mengajak she na pergi.


"Tunggu..Toa Besar, kamu saja yang bersihkan kotoran udangnya. Kotoran udang yang dia bersihkan waktu itu, aku suruh orang lain untuk membersihkannya sekali lagi. Jika di sajikan seperti itu, apa mungkin pelanggan tidak menuntut kita?". Sindir koki Yu sinis.


"Koki Yu, jika kamu ada pendapat padaku, katakan secara langsung saja". Ucap she na menghampiri koki Yu dengan muka kesal.


"Yoo...Kamu memiliki pendukung, aku tidak berani berpendapat terhadapmu". Sindirnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?. Setiap hari kamu menyuruhku kupas kelunak dan potong bawang bombai. Jika aku memiliki pendukung, apakah aku perlu bersabar terhadapmu, koki Yu..?". Sentak she na sudah emosi.


__ADS_2