
"Bagaimana?". Tanya Daguo dengan rasa masakannya.
"Aroma buah palanya masih kurang sedikit. Aku sarankan, kamu masak ulang menggunakan kaldu sapi". Ujar she na.
"Baik..". Sahut Daguo dengan lesuh.
"Ingat, aduk searah jarum jam. Kring...Kring...". Ucap she na terpotong ponselnya berdering. "Halo...". Ucapnya.
"She na, Kamu di mana?. Kakekmu tiba-tiba pingsan, sudah dikirim ke rumah sakit. Kamu Cepat kemari". Ucap Bibi wang dengan panik berdiri di depan ruang operasi Anestesiologi.
" Baik, aku segera kesana". Sahut she na dengan cepat menutup telpon. "Toa Besar, kakekku pingsan, aku harus segera ke rumah sakit. Aku pergi sekarang ya. Kamu ada masalah, telepon aku saja". Ucap she na segera pergi dengan cepat.
"Baik, kamu tenang saja. Hati-hati..". Teriak Daguo.
Setelah sampai di rumah sakit, She na berlari dengan cepat masuk ke dalam dimana Bibi wang sedang menunggu kakeknya.
"Bibi Wang, bagaimana kondisi kakekku?". Tanya she na dengan panik dan nafas ngos-ngosan habis berlari.
"Tidak tahu, sudah masuk satu jam lebih, tetapi sampai sekarang belum keluar. Sungguh mencemaskannya". Sahut Bibi wang dengan cemas.
Tak lama dokter keluar dari ruang operasi.
"Dokter..". Panggil She na dengan panik begitu melihat dokter keluar.
"Ada anggota keluarga Gu Baoguo?". Tanya dokter.
"Aku, aku..". Sahut she na cepat.
"Sekarang pasien sudah terbebas dari periode bahaya".Ucap dokter.
"Bagaimana kondisinya sekarang?".Tanya she na cemas.
"Arteri koroner pasien tersumbat parah. Sementara sudah selesai ditangani, tetapi perlu menginap di rumah sakit untuk observasi. Begini, kamu cepat urus prosedur rawat inap ini. Selanjutnya, kepala dokter yang akan bertanggung jawab menanganinya". Terang dokter.
"Baik,baik,baik. Bibi wang, aku pergi mengurusnya dulu. Kamu jaga di sini". Ucap she na pada Bibi wang.
"Cepat pergi, cepatlah pergi". Ujar Bibi wang. She na langsung berlari pergi dengan cepat.
"Dekan Chen, terima kasih secara khusus ke sini di hari liburmu". Ucap pemimpin Lu pada direktur rumah sakit tempatnya di rawat.
__ADS_1
"Tidak masalah, pemimpin Lu. Bagaimana kondisi tubuhmu beberapa hari ini?". Tanya Dekan Chen.
"Lumayan baik".
"Aku sudah mengatur agar kepala Departemen memimpin tim untuk bertanggung jawab atas pengecekan kesehatanmu selanjutnya". Ujar Dekan Chen.
"Sudah merepotkan kalian". Sahut Pemimpin Lu.
"Tidak masalah. Ini adalah pekerjaan kami. Lagi pula, kami harus berterima kasih kepada anda, terutama beberapa aset peralatan terbaru yang anda sumbangkan kepada Rumah Sakit kami. Peralatan ini sangat membantu Departemen kami". Ucap dekan Chen.
"Tidak perlu sungkan. Intinya, kuserahkan jantungku ini pada kalian". Ujar Pemimpin Lu.
"Anda tenang saja kau mau serahkan pada kami. Silakan". Ucap dekan Chen persilahkan pemimpin Lu masuk lift di ikuti seorang dokter.
*
"Kamu bantu aku pikir lagi". Mohon she na pada perawat, karena belum mendapat kamar pasien untuk kakeknya.
"She na...". Panggil Bibi wang yang menjaga kakek Gu di lorong rumah sakit.
"Ada apa ini?". Tanya pemimpin Lu melihat she na sedang memohon pada perawat.
Sedangkan di swiss, Lu Jin terbangun dari tidurnya jam 02.00 dini hari dan mengambil ponselnya yang bergetar di nakas. 'Hari ini berencana menelpon Nana pada pukul 11:00 waktu Suhai'. Tampilan di ponselnya.
Lu Jin menelpon she na, namun tidak di angkat. Sementara di rumah sakit she na sedang kalut memikirkan kakeknya yang tidak kamar pasien.
"Anggota keluarga Gu Baoguo, ayo ikut aku, sudah ada kamar pasien". Ucap seorang perawat menghampiri she na.
"Sudah ada kamar pasien?". Tanya she na kaget.
"Bagus sekali..". Ujar Bibi wang.
"Kalian sangat beruntung. Ada orang yang membantu kalian membuka satu kamar pasien VIP. Sekarang ikut aku mengurus prosedur rawat inap". Ucap perawat itu menjelaskan.
"She na...kamu cepat pergi. Cepat pergi". Ucap Bibi wang menyadarkan she na yang sedang melamun tentang siapa yang membantu kakeknya.
"Baik..". Ucapnya langsung mengikuti perawat itu.
Di dalam kamar ruang rawat pemimpin Lu.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah memberitahumu?. Sesuatu yang bisa dilakukan perawat pembersih, kamu tidak perlu melakukannya sendiri". Ucap pemimpin Lu pada istrinya yang sedang membersihkan tempat tidurnya.
"Bagaimana mereka bisa melakukannya sampai sedetail ini?. Aku paling tenang jika barangmu aku lap sendiri. Oh ya, itu adalah sup yang aku buat khusus untukmu. Rasanya agak ringan, nanti jangan lupa meminumnya ya?". Sahut istrinya menunjuk termos sup di atas meja.
"Ayah...aku datang menjengukmu". Ucap Lu Zheng berjalan masuk ke ruang rawat ayanhnya dan duduk di samping ayahnya. "Sedang baca apa?". Tanyanya langsung mengambil buku dari tangan ayahnya. "Jangan membaca bacaan yang berat seperti ini. Kata dokter, selama masa istirahat Ayah, suasana hati harus tetap bahagia". Ucapnya tersenyum cengengesan.
"Kamu jangan sering membuatku marah, suasana hatiku pasti bahagia". Ujar ayahnya. Lu zheng tersenyum menanggapinya.
"Yang dikatakan ayahmu benar. Jika kamu ada waktu, lebih seringlah ke kantor, membantu ayahmu meringankan pekerjaannya. Dengan begini beban Ayahmu akan berkurangl. Timpal ibunya.
"Bahas ini lagi". Gumam Lu zheng. " Bukankah aku hanya menambah masalah jika ke sana?. Lagi pula, beberapa dewan direksi itu, kalau tidak ada aku malah pekerjaannya menjadi lebih lancar". Jawab Lu zheng dengan santai.
"Memang kemampuan tidak cukup, susah melakukan hal besar". Ucap ayahnya dengan kesal.
"Kamu jangan marah. Bukan itu maksudnya". Bela ibunya. "Xiao Zheng takut kalau sekarang dia sering ke kantor, maka akan kelihatan talentanya. Khawatir beberapa dewan direksi itu akan curiga".
"Curiga?. Curiga apa?. Sekarang siapa yang tidak tahu bahwa aku, Lu Ming Ting memiliki seorang anak yang suka meninggalkan pekerjaannya untuk melakukan hal-hal lain. Khawatir dia mengemudikan ekskavator merebut pekerjaan pekerja sub kontraktor, ya?. Kamu ini, hanya bertanggung jawab melucu di Ming Ting". Tegur Ayahnya menyindir.
Tok..Tok..Tok..
"Masuk...". Ucap Lu zheng.
"Maaf mengganggu". Ucap she na berjalan masuk. " Apa kabar Bibi?. Apa kabar paman?. Apa kabar?". Sapa she na.
"Apa kabar". Sahut Lu zheng.
"Kami adalah...". Tanya ibunya Lu zheng.
"Oh, Aku adalah anggota keluarga pasien dari kamar pasien sebelah. Aku datang ke sini untuk berterima kasih kepada Paman. Aku sudah mendengarnya dari perawat, kalau bukan karena bantuan Paman, kakekku tidak akan bisa tinggal di kamar pasien. Jadi, aku datang untuk berterima kasih padamu". Ucap she na membungkuk pada pemimpin Lu. Lu Zheng menatap ayahnya salut yang membantu orang lain.
"Hubunganmu dengan bapak tua itu...". Tanya pemimpin Lu.
"Cucu...". Jawab she na. "Benar, ini adalah masakan yang kubuat sendiri. Aku adalah seorang koki, jadi, masakanku lumayan enak. Anda boleh mencicipinya". Ucap she na memberikan rantang makanannya.
"Terima kasih". Ucap pemimpin Lu. Namun istrinya langsung mengambil rantang makanan she na sebelum sampai ke tangannya.
"Terima kasih ya, sudah merepotkanmu, masih secara khusus membuat masakan dan membawanya kemari. Tapi, pamanmu adalah seorang pasien, harus makan makanan yang agak ringan. Makan makanan yang sederhana lebih baik. Ini...Tapi, tetap harus berterima kasih padamu". Ucap ibunya Lu Zheng.
"Ayahku tidak makan, aku saja yang makan". Timpal Lu zheng mau mengambil rantang makanan she na, namun ibunya menghindar.
__ADS_1