CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Aku sedikit menyesal


__ADS_3

"Ada masalah apa mencariku?". Tanya paman tua begitu melihat she na. "Ah...salah kamar,kan?". Goda paman tua.


"Selamay malam, paman". Ucap she na dengan senyum malu-malu.


"Hati-hati". Ucap paman tua menutup pintu.


Saat dia berjalan lagi, she na melihat M X J , keduanya kaget.


"Ah..Kamu...Aku mencari Bos kita untuk melapor masalah pekerjaan, baru teringat". Ucap M X J dengan canggung.


"Kebetulan aku mencari Zhao Di untuk membahas masalah pribadi, tiba-tiba teringat". Ucap she na tak kalah canggung.


"Kalau begitu, silakan". Ujar M X J.


"ya..". She na berjalan ke arah kamar Celine lagi, dan M X J berjalan ke arah kamar Lu Jin. Baru beberapa langkah, keduanya berbalik arah.........."72508..". Ucap she na.


"72511..". Ucap M X J. Keduanya berjalan ke kamar yang ingin di tujunya.


Setelah sampai di depan pintu kamar Lu Jin, she na menghela nafas sebelum mengetuk pintu. Tok...Tok...Tok...


"Akhirnya kamu datang". Ucap Lu Jin begitu membuka pintu. She na langsung memeluknya dengan senang dan menangkup wajah Lu Jin dengan kedua tangannya, saat bibirnya hampir menempel bibir Lu Jin...


"Gu she na.. Kenapa kamu baru datang?. Kita hanya menunggumu seorang". Sentak Daguo dari kamar Lu Jin bersama koki wong. She na langsung melepaskan diri dari pelukan Lu Jin. "Hanya kurang kamu seorang". Seru Daguo memegang kartu mahyong di tangannya.


"Kamu memanggilku untuk hal ini?". Tanya she na mengerutkan alisnya.


"She na, Kamu sedang apa?. Cepat ke sini, jangan ngobrol di depan pintu". Desak Daguo. Lu Jin hanya mengangguk-angguk.


Saat di dalam mereka berempat bermain mahyong dengan seru.


"Angin selatan". Ujar Daguo.


"Kong..". Ucap she na.


"Angin utara".


"Ah...Menang!". Sorak she na. " Ayo, ayo, lagi, lagi. Ayo main lagi". Seru she na, mereka bermain sampai ketiduran di kamar Lu Jin.


Keesokan paginya saat she na bangun, sudah tidak ada siapa-siapa lagi. She na menemukan pesan di kertas di atas meja nakas.


'She na, grup memiliki masalah mendesak yang harus kutangani, aku perlu pergi selama beberapa hari. Saat mau pergi, aku melihatmu tertidur sangat pulas, tidak tega membangunkanmu. Villa ini sudah kusewa untuk seminggu, kamu boleh tinggal di sini untuk main beberapa hari lagi. Jaga dirimu dengan baik, Kalau ada masalah, telepon aku'. She na membaca pesan Lu Jin dengan senyum bahagia.


Sedang di luar sekarang ziqian lagi mengetuk pintu kamar she na.


Tok..Tok..Tok...


"She na, Sudah bangun belum?. Ayo, makan sarapan. Tok..Tok..Tok..". Ujar ziqian, tidak ada sahutan dari dalam dan tidak ada yang membuka pintu. Jadi ziqian melangkah pergi, baru dua langkah, ziqian melihat she na keluar kamar Lu Jin.

__ADS_1


"Selamat pagi". Ucap she na dengan canggung.


"Pagi. Itu.. Aku datang untuk memanggilmu sarapanl. Ucap ziqian.


"Baik, kita bareng saja. Aku pulang ambil tas dulu". Ucap she na pergi ke kamarnya.


"Itu...".


"Ha..". She na berbalik melihat ziqian.


"Lu Jin, dia juga ikut?".


"Katanya, di perusahaan ada masalah yang mendesak, jadi dia pulang duluan". Jawab she na jujur.


"Kalau begitu, aku tunggu kamu di sini". Ucap ziqian menunggu she na di luar kamarnya.


Sementara dalam perjalanan menuju bandara, M X J mengirim pesan suara pada Celine.


'Aku sedang dalam perjalanan ke bandara. Setelah aku turun dari pesawat, aku akan menelponmu'.


Lu Jin yang duduk di belakang mendengarnya langsung menutup dokumen di tangannya dengan kasar, lalu memijat pelipisnya.


"Bos, kemarin baru saja berpisah, sudah kangen dia?.". Goda M X J.


Lu Jin tidak mau kalah, dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik pesan pada She na dengan cepat.


"Bos, cepat juga kamu ketiknya. Biasanya saat kerja, kamu mengerjakannya dengan begitu cepat. Tidak terpikir kan, saat Pacaran juga tak kalah cepatnya. Kagum". Pujinya menyindir.


"Semuanya terkendali, semuanya terkendali. Hehe...". Jawabnya dengan senang.


**


Setelah beberapa hari liburan She na dan semuanya kembali bekerja di Hotel XX.


"Eh, sedang apa kamu?". Tanya she na melihat Daguo menghias kuenya tidak rapi.


"Tersenggol sedikit".


"Kamu curi makan,kan?".


"Kamu yang makan, kalau makan macam tidak lengket di lidah?". Ucap Daguo ketus menjulurkan lidahnya.


"Sudahlah, sudahlah". Ucap she na, kemudia menyicip kue buatan Daguo.


"Bagaimana?". Tanya Daguo penasaran.


"Bahannya sudah benar semua. Hanya saja, kurang dapat perasaannya. Makanan penutup ini berbicara tentang suasana hati saat sepasang kekasih berpisah. Di dalam kue mu ini tidak ada sedikit pun perasaan 'bahwa aku pergi'. Melainkan, ada sedikit perasaan 'lepaskan aku pergi'. She na memberi komentar.

__ADS_1


"Kenapa?". Tanya Daguo.


"Karena pahit!". Sentak she na kesal.


"Bukan, kamu pikir, kopi dan kakao pada dasarnya pahit, tiramisu yang pernah ku makan juga pahit". Sahut Daguo mengelak.


"Suasana hati seorang koki kue, bisa langsung mempengaruhi rasa kue yang dibuat". Terang she na.


"Kalau begitu, sudah benar. Hati kekasih yang berpisah pada dasarnya pahit".


"Tidak benar. Ketika pasangan yang sedang jatuh cinta terpaksa harus berpisah, di dalam hatinya tidak hanya ada rasa pahit. Melainkan, suatu rasa tidak rela untuk berpisah. Dalam rasa pahit ada sedikit rasa manis. Di dalam rasa manis ada sedikit rasa asam. Tidak bisa tidur karena terlalu kangen, terus memikirkannya". Ucap she na sambil tetsenyum memikirkan pesan Lu Jin untuknya.


"Cukup. Bukankah cuma buat ulang?. Untuk apa berbicara begitu banyak?. Masih menyuguhkan ku kata-kata romantis sebanyak itu". Decak Daguo kesal.


"Jangan tambah lagi, kamu ini...Ting..Ting...". Ucap she na terpotong bunyi ponselnya. She na tersenyum sipu melihat pesan dari Lu Jin.


"Masih bilang 'terlalu kangen, terus memikirkannya'. Ngejek Daguo.


"Kerjakan dengan baik, jangan bercanda". Sentak she na berlalu pergi dan menelpon Lu Jin.


"Hai...sedang apa?. Sudah makan siang belum?. Tanya Lu Jin begitu menekan tombol hijau.


"Sudah makan. Sekarang sedang mengajar Toa besar membuat kue".Sahut she na.


"Kue apa?".


"Tiramisu".


"Aku sekarang sedikit menyesal. Aku menyesal kemarin malam tidak seharusnya mengajak begitu banyak teman ke sana. Aku lebih menyesal kemarin malam tidak seharusnya mengajak mereka ke kamarku untuk bermain Mahyong. Harusnya Hanya kamu dan aku berdua". Ucap Lu Jin dengan nada penyesalan.


"Aku merindukanmu...".


"Aku merindukanmu...". Ucap mereka berdua bersamaan. She na tersenyum cengengesan mendengarnya.


"Baiklah, aku sudah mau rapat". Ucap Lu Jin.


"Baik..". Ucap She na menutup telpon.


Lu Jin duduk di ruang rapat melihat-lihat foto Sena dengan dirinya.


"Presdir Lu...". Panggil Li Man. Lu Jin tidak mendengar, dia masih fokus melihat foto mereka berdua yang mesra. Li Man sedikit kesal melihatnya. "Presdir Lu...". Panggil Li Man lagi agak keras.


"Oh, maaf". Ucap Lu Jin menyimpan ponselnya di saku jasnya.


" 2 dokumen ini perlu kamu membacanya, Kalau tidak ada masalah, sudah boleh menandatanganinya". Ucap Li Man meletakkan dokumen di atas meja.


"Kamu sudah baca,kan?". Tanyanya.

__ADS_1


"Ya..".


"Baik..". Lu Jin langsung tanda tangan tanpa membacanya lagi.


__ADS_2