
"Kamu ingin cari mati?". Cecar she na melotot.
"Tidak apa-apa. Alergiku ini tidak stabil. Terkadang kambuh, terkadang tidak masalah. Belakangan ini aku benar-benar sangat sial. Ayahku sudah meninggal, ibuku juga hanya tau mengomel dan menangis di rumah. Aku, bahkan alergiku kambuh dan harus menginap di rumah sakit". Ujar Lu zheng dengan muka sedih, sengaja mengambil simpati she na. Karena dia tau she na orangnya tidak tegaan, sangat muda untuk menipunya.
"Tidak apa-apa. Semuanya akan membaik. Jangan khawatir, mulai sekarang kamu adalah adikku. Aku akan melindungimu". Ucap she na menghibur Lu zheng.
"Kenapa aku ingat aku lebih tua darimu?". Tanya Lu zheng menautkan alisnya.
"Berdasarkan senioritas, aku adalah kakak iparmu. Aku lebih tua darimu". Jawab she na sekenanya.
"Benar juga". Ujar Lu zheng nyengir kuda.
"Sudahlah, istirahat dengan baik. Aku ambilkan air untukmu". Ucap she na mengambil termos melangkah keluar. Beberapa detik kemudian, ponsel she na yang ada di nakas berdering, tertera nama 'Lu rewel'. Lu zheng melihatnya dengan tatapan tajam, lalu menyeringai licik. Sedangkan di seberang telpon sana, Lu Jin menunggu she na mengangkat telpon. Saat mau menelpon lagi, Li Man memanggilnya dan mengurungkan niatnya menelpon lagi.
"Presdir Lu..Ada sedikit masalah dalam kasus Ming Ting. Pihak ketiga itu terus menaikkan harga. Sekarang harga akuisisi Ming Ting lebih tinggi 3% dari perkiraan kita. Apakah kita harus terus naikkan?". Tanya Li Man.
"Naikkan. Aku harus mendapatkan Ming Ting". Jawab Lu Jin dengan yakin.
"Aku sudah mencari orang untuk menyelidiki latar belakang pihak ketiga, seharusnya minggu depan akan ada hasilnya". Li Man memberitahu tugas yang diberikan Lu Jin sedang di jalankan.
"Baik. Li Man..". Panggil Lu Jin saat Li Man berbalik mau pergi, Li Man langsung berbalik menghadap Lu Jin. "Kamu awasi hal ini secara pribadi. Aku tidak ingin ada kelalaian". Pinta Lu Jin, Li Man Mengangguk dan berjalan pergi.
Keesokan harinya setelah keluar dari rumah sakit, Lu zheng mengadakan lomba mobil Tamianya dengan teman-temannya. She na , Celine dan paman tua juga datang untuk meramaikan.
"Permainan mobil mainan mengapa begitu heboh?. Benda sekecil ini, apakah bisa di lihat dengan jelas?" Tanya Celine melihat begitu banyak anak muda yang ikut berlomba.
"Lu zheng...Lu zheng...". Panggil she na melambaikan tangan.
"Eh, kak she na, kamu sudah datang?". Sahut Lu zheng menghampiri she na sambil tersenyum senang.
"Hari ini aku bawa dua teman untuk mendukungmu. Kamu harus semangat ya". Ucap she na menunjuk Paman tua dan Celine.
"Sangat mendukung". Ujar Lu zheng dengan senyum palsunya.
"Aku perkenankan dulu. Ini adalah paman tuaku, Gao Quan'an". Ucap she na.
"Hai, paman tua, namaky Lu zheng". Sapa Lu zheng dengan ramah, namun paman tua tidak menyahut, malah membuang muka ke samping dengan wajah kecut.
"Mukanya memang selalu seperti itu". Ucap she na menjelaskan melihat muka pamannya. "Ini adalah sahabatku, Xu Zhao Di. Ramah dan terbuka". Ucap she na memperkenalkan Celine.
"Panggil aku Celine Xu". Ucap Celine mengulurkan tangan kirinya.
__ADS_1
"Waw..Gadis cantik". Lu zheng menyambut tangan Celine dengan senyum sumringah.
"Terima kasih". Balas tersenyum senang.
"Nanti bantu aku ramaikan suasana". Pinta Lu zheng pada she na.
"Sudah seharusnya". Jawab she na dengan pasti.
"Bermainlah sepuasnya. Aku pergi bersiap". Ucap Lu zheng pamit pergi.
"Pergilah. ". Suruh she na. Paman tua melihat Lu zheng dengan tatapan tidak suka.
Tibalah giliran Lu zheng untuk berlomba. Dia sedang bersiap-siap menjalankan mobilnya. She na di sampingnya memberi semangat.
Blur...Blur...Ngenggg....
"No 8... No 8...". Teriak she na dan Celine dengan semangat.
"No 6...No 6...". Teriak yang lainnya.
Semua bersorak untuk mendukung pemain yang di dukungnya. Melihat mobil Tamia siapa yang lebih cepat mencapai finish.
"Yeah....No 8". Mobil Lu zheng yang menang. She na memeluk Lu zheng saking senangnya. Paman tua yang melihat itu mencebikkan bibirnya. Perlombaan selesai saat hari sudah malam. Semua peserta bubar dan keluar dari tempat Lu Zheng.
"Tidak masalah..". Jawab Lu zheng santai.
"Ayo makan cemilan bersama".Ajak temannya.
"Baik, tunggu aku di mobil. Aku segera ke sana". Sahut Lu zheng menerima ajakan temannya.
"Bergegaslah..". Ucap temannya melangkah pergi.
" Bagaimana?. Menyenangkan?". Tanya Lu zheng melihat she na, Celine, paman tua.
"Sangat menyenangkan. Aku sudah memutuskan harus mempelajari ini". Jawab she na dengan muka serius.
"Aku ajari kamu..". Ujar Lu zheng dengan senyum sumringah.
"Terima kasih". Ucap she na tak kalah senang.
"Ayo, pergi makan bersama". Ajak Lu zheng.
__ADS_1
"Baiklah..". Sahut she na dengan cepat.
"Eh, aku tidak ikut, masih ada janji. Aku pergi dulu". Potong Celine pamit pada paman tua dan she na.
"Sampai jumpa".
"Sampai jumpa".
"Aku pergi dulu, si ganteng". Ujar Celine melambaikan tangan pada Lu zheng.
"Sampai jumpa, si cantik". Balas Lu zheng.
"Aku juga tidak ingin pergi. Aku tidak ingin ikut pesta anak muda". Ucap paman tua melihat ke she na.
"Jika begitu, aku juga tidak pergi. Lain kali saja". Ujar she na setelah melihat tatapan paman tuanya. Paman tua tersenyum senang mendengarnya.
"Jangan... Tidak menarik jika pulang secepat ini". Ajak Lu zheng lagi.
"Nana... Pergilah jika ingin, pulang lebih awal". Ucap paman tua mengalah setelah melihat muka cemberut she na.
"Kalau begitu, aku pergi makan cemilan malam ya". Ujar she na izin pada paman tuanya dengan senang melihatkan deretan gigi putihnya.
"Pergilah, sampai jumpa".
"Sampai jumpa". She na melambai tangan pada paman tua.
"Sampai jumpa, paman tua..". Ucap Lu zheng membawa she na pergi dengan tangannya merangkul pinggan she na, paman tua yang melihatnya langsung kesal.
"Tunggu...". Seru paman tua, keduanya berbalik melihat paman tua. "Nana, aku baru saja ingat, kakek suruh kita pulang. Katanya ada perlu". Bohong paman tua melihat she na dan Lu zheng bergantian.
"Jika begitu, pulanglah dulu. Besok datang cari aku, aku bawa kamu balapan". Ujar Lu zheng.
"Baik. Sampai jumpa". Jawab she na melambaikan tangan pada Lu zheng.
"Sampai jumpa".Ucap Lu zheng melangkah masuk ke mobil yang sudah di tunggu temannya.
"Ayo, kita pergi cari kakek". Ujar she na setalah melihat mobil yang membawa Lu zheng sudah pergi.
" Cari kakek apanya?. Panggil kakak keluar untuk makan?". Ujar paman tua dengan santai.
"Bukankah Kakek ada perlu dengan kita?".Tanya she na heran melihat sikap paman tuanya.
__ADS_1
"Dia ada urusan apa adanya kita?. Ayo, aku traktir". Ucap paman tua melengos pergi di ikuti she na dengan senang karena akan di traktir.