
"Eh, jangan bergerak". Ucap Celine menata rambut she na.
"Pertama-tama adalah usia. Dia berusia 36 tahun, kamu 21 tahun. Kalian sama sekali bukan di era yang sama. jadi, aku harus menghapus kesenjangan kalian, agar kamu dan dia berada di jalur yang sama". Timpal paman tua.
"Kedua adalah etika. Duduk harus sopan, berdiri harus tegap". Ucap Celine menatap she na yang langsung membenarkan cara duduknya. "Selain itu, harus ada sikap tenang saat menghadapi segala masalah".
"Apa maksudnya?". Tanya she na melihat Celine dengan cemas.
Prang.....Prang.....Celine sengaja menjatuhkan gelas di samping she na.
"Aaaaa....". Teriak she na kaget.
"Tidak boleh melihat, tidak boleh bergerak, tidak boleh berteriak". Sentak Celine dengan cepat. "Ingat...Tidak peduli apa pun yang terjadi, kamu jangan melirik kemana-mana. Terus dengarkan tanpa mengubah raut muka dan tanpa berdebar. ini di namakan Moralitas. Apakah kamu mengerti?". Ucap Celine dengan tegas.
"Mengerti". Jawab she na menjulingkan mata.
"Tidak boleh bermata juling".
"Ingat..Sebelum menjawab sebuah pertanyaan, kamu harus tersenyum kepada orang yang bertanya. Suaramu harus di kontrol dalam tingkat desibel suara orang yang bertanya". Ujar paman tua memberitahu.
"Dari mana aku tau berapa tingkat desi...."
"Ssttss...."Paman tua meletakkan jarinya di mulut menyuruh she na diam.
"Maksudnya adalah jangan berbicara dengan keras, harus lembut". Celine menjelaskan.
"Ponit terakhir.. Jika ibunya mengatakan sesuatu yang membuatmu malu...". Paman tua menjeda ucapannya.
"Gu she na...Kamu tidak pantas bersama dengan putraku!". Teriak Celine menjadi ibu presdir Lu.
"Kamu...kamu..sem...". Reaksi she na langsung membalas.
"Harus di tahankan. Jangan langsung bertengkar dengannya begitu bertemu". Sela paman tua.
"Jadi apa yang harus kulakukan?". Tanya she na gugup.
"Kamu bisa tersenyum, lalu bilang, maaf, hari ini aku tidak enak badan. Bisakah kita ngobrol lain kali?. Balik badanmu dan pergi dengan elegan". Ucap paman tua mengajarkan dari A sampai Z dengan Celine.
__ADS_1
"Baiklah. Sudah selesai, kelas berakhir".
"Sudah selesai, kelas berakhir". Seru paman tua dan Celine bersama. She na tepuk tangan dengan muka gugup.
Presdir Lu datang ke studio paman tua menjemput she na, namun tidak melihatnya.
"Halo..Aku ada di depan QUAN'AN. Kamu dimana?. Aku tidak melihatmu". ucap sang presdir menelpon she na.
"Aku ada disini". Ucap she na sudah berdiri di samping sang presdir. Sang presdir terkejut setelah berbalik melihat she na yang penampilannya sangat cantik dan terlihat lebih dewasa, rambutnya terurai dengan anting panjang.
"Tidak bertemu selama 3 hari, apakah kamu merasa aku menjadi agak berbeda?". Tanya she na dengan suara lembut. Sang presdir menelan ludahnya, menggeleng kepalanya pangling melihat she na yang begitu cantik di depannya.
"Kenapa?. Apakah tidak bagus?. Apakah terlalu dewasa?". Tanya she na dengan panik.
"Tidak. Aku salah berpakaian". Sahut sang presdir melihat pakaiannya yang santai. "Ayo..". Ajaknya.
"Ayo..". She na dan presdir Lu jalan menuju mobil sang presdir dan go...
Tiba di vila sang presdir, mereka duduk di dofa ruang tamu yang besar. Presdir Lu dan she na duduk berdampingan, dan ibunya duduk di depan mereka. Beberapa saat mereka diam gak ada yang bicara. She na tersenyum tipis melihat ibunya presdir Lu.
"Bibi, aku sudah berusia 21 tahun. Baru saja ulang tahun, zodiakku adalah Scorpio". Jawab she na dengan tenang dan elegan.
"Lu Jin juga Scorpio. Tahun ini adalah tahun Shio kelahirannya, 36 tahun". Uhuuk...Presdir Lu tersedak mendengar ucapan ibunya. "Nona Gu masih muda, tapi dandananmu lumayan dewasa".
"Karena aku terlihat tua sejak kecil. Uhuukk....Uhuukk....". Jawaban absur she na membuat sang presdir tersedak lagi.
"Kenapa kamu memilih untuk menjadi koki?".
"Bibi, seperti ini alasannya.. Karena keluarga kami adalah keluarga kuliner. Tiga generasi keluarga kami adalah koki. Aku dengar kakekku bilang, dahulu kala ada keluarga kami yang bekerja di dapur kekaisaran. Aku di pengaruhi oleh ini sejak kecil, belajar dari melihat dan mendengar. Secara perlahan-lahan aku tertarik dalam hal memasak sehingga memulai prestasi ini". Jawab she na dengan tenang tanpa gugup sama sekali. Sang presdir menutup mulutnya menahan tawa melihat wajah she na saat menjawab pertanyaan ibunya. "Selain itu, sangat lama sebelumnya, aku pernah membaca sebuah buku. Di dalam buku tertulis, hanya ada 3 benda di dunia ini yang dapat melampaui, Waktu, Ruang, Bahasa, mencapai komunikasi tanpa hambatan antar sesama manusia". Sambungnya sambil tersenyum lembut.
"Apa ketiga benda itu?". Tanya ibu presdir Lu.
"Musik, Makanan, Percintaan. Aku benar-benar tidak berbakat dalam musik, jadi aku memilih makanan. Karena aku ingin masak makanan enak untuk orang yang kucintai seumur hidup". Ucap she na tersenyum lembut menatap sang presdir di sampingnya.
Uhuukk...Uhuukk...Ekhem... Lagi-lagi presdir Lu tersedak ludahnya sendiri. Kali ini bukan karena jawaban she na, namun karena bulu mata she na.
"Tenggorokanmu sakit?". Tanya she na melihat sang presdir. Sang presdir mendekat ke she na.
__ADS_1
"Miring...Miring". Gumam sang presdir.
"Apanya yang miring?". Tanya she na berbisik.
"Bulu matamu miring". Gumam sang presdir.
Ibu sang presdir melihat keduanya saling berbisik dengan diam.
"Apa..apa...Apa yang miring?".
"Bulu..Bulu mata miring. Sudah hampir jatuh". Bisik sang presdir membuat she na panik, membalik badannya membenarkan bulu matanya sebelah kanan. "Sisi lain". Gumam sang presdir.
"Kenapa tidak bilang dari awal?". Gerutu she na membuat presdir Lu dan ibunya mengulum senyum melihatnya. "Sudah benar?". Tanya she na membalik badan sambil tersenyum. Sang presdir belum sempat menjawab...
"Putraku..Bisakah kamu biarkan aku berbicara secara pribadi dengan nona Gu". Tanya ibunya. "Ngobrol sedikit masalah sesama wanita". Sambungnya sebelum putranya menolak.
"Sesama wanita!". Ucap sang presdir melihat she na yang mengangguk sambil tersenyum. "Masih miring". Gumamnya pada she na sambil berdiri. Senyuman she na langsung luntur mendengarnya. Dengan cepat dia melepaskan bulu matanya. "Aku ambilkan sedikit camilan untuk kalian". Ucapnya melangkah pergi meninggalkan kedua wanita yang di cintainya.
"Nona Gu..Apakah kamu membutuhkan uang". Tanya ibu presdir Lu setelah melihat putranya sudah menjauh.
"Ha..Bibi, aku tidak tau anda menanyakan hal seperti ini kepada berapa banyak gadis. Aku juga tidak tau bagaimana mereka menjawab Anda. Tapi jawabanku adalah...Iya, aku membutuhkan uang". Jawab she na dengan mantap dan tenang menatap ibu presdir Lu. "Aku butuh uang karena kakekku sudah tua, aku ingin dia menikmati hidup secepat mungkin. Aku butuh uang karena uang sewa rumahku akan naik lagi bulan depan. Aku harus mencari lebih banyak uang, agar dapat membayar uang sewa. Tapi uang yang aku butuhkan, prinsipnya adalah semua itu kucari sendiri". Ucap she na dengan keren.
Ada seorang pelayan membawa teko teh dan mau menuang teh ke gelas she na, namun gak tau sengaja atau tidak, gelasnya jatuh. Prang.....Prang.....She na langsung teringat ucapan Celine. 'Tidak boleh melihat, tidak boleh bergerak, tidak boleh berteriak'. She na duduk dengan tenang menatap ibu presdir Lu di depan.
"Maaf..". Ucap pelayan itu.
"Pergilah, disini tidak membutuhkanmu". Perintah ibu presdir Lu, dan pelayan itu langsung membungkuk dan pergi.
"Uang yang kuberikan padamu tidak dapat kamu dapatkan seumur hidup. Katakan berapa banyak uang yang kamu butuhkan agar kamu meninggalkan putraku?". Ucap ibu sang presdir dengan angkuh. She na tidak langsung menjawab, dia mengingat ucapan paman tuanya.
'Jangan langsung bertengkar dengannya begitu bertemu. Kamu bisa tersenyum lalu bilang, maaf, hari ini aku tidak enak badan. Bisakah kita ngobrol lain kali?. Balik badanmu dan pergi dengan elegan'.
She na membungkuk dan berkata. "Maaf, Bibi. Aku agak lelah hari ini, kita ngobrol lain kali saja". Ucapnya pamit dengan senyum dan berbalik badan melangkah pergi dengan elegan sesuai ajaran pamannya dan Celine.
Ibu presdir Lu hanya diam menatap kepergian she na. Gak lama sang presdir kembali dengan membawa camilan di tangannya, alisnya menaut tidak melihat keberadaan she na.
"Dimana orangnya?". Tanya sang presdir pafa ibunya sambil meletakkan camilan di meja.
__ADS_1