
"Hah, konyol. Kakek... Apa gunanya jika hanya ada uang?. Kakek, dua hari lalu kakek sakit begitu Parah, Dia tidak muncul sama sekali. Tidak mengeluarkan uang maupun tenaga, benar kan?". Cibir Celine, kakek ngangguk-ngangguk. "Dulu aku masih berpikir untuk mencari pacar yang kaya. Namun, setelah dipikirkan sekarang, tidak dapat membantu sama sekali di waktu kritis. Semuanya tetap harus ditanggung oleh She na sendiri. Malah Cheng ziqian ini lumayan bagus. Sibuk ke sana kemarin. Dia sangat peduli terhadap She na. Jadi, untuk kolom perasaan She na, Aku pilih Cheng ziqian menang". Ucap Celine menempelkan bintang pada kolom perasaan di bawah foto ziqian.
"Perkataan Zhao Di benar. Aku menyukai ziqian sejak dia masih kecil. Orang tua mereka saling kenal dan akrab. Dari segi budaya keluarga, aku pilih ziqian". Timpal kakek Gu.
"Baik, ziqian menang". Ujar Celine dengan semangat menempel bintang.
"Selain itu, perbedaan She na dan Lu Jin terlalu besar. Latar belakang mereka tidak cocok, ditambah lagi dengan ibunya itu, kelak hidupnya pasti susah". Ucap kakek dengan khawatir. Paman tua diam mendengarkan.
"Perkataan kakek benar sekali. Jika pilih Cheng ziqian, sangat terkendali dan aman. Jika pilih L Jin, ada banyak faktor yang tidak bisa dikendalikan. Terlalu beresiko. Jadi, untuk kolam resiko, Cheng ziqian menang". Ujar Celine mengejek paman tua yang mencebikkan bibirnya.
"Paman... zaman apa ini?. Masih membicarakan peraturan kuno, harus punya latar belakang yang sama?. Aku merasa, umur bukan perbedaan, kondisi keluarga bukan tekanan. Yang paling penting adalah Perasaan dari kedua orang. Nana suka Lu Jin. Hanya mengandalkan poin ini, Lu Jin menang sepenuhnya". Sahut paman tua mengambil bintang di meja. "Awh.. Apa yang sedang kamu lakukan?". Paman tua mengadu saat Celine memukul tangannya saat mengambil bintang di meja.
"Apa gunanya suka?. Yang paling penting adalah bisa menjalani hidup dengan stabil dan bahagia. Sekarang Gu she na terbelenggu dalam Cinta. Kita harus membantunya untuk membuat keputusan yang benarl". Ucap Celine memegang tangan paman tua dengan kuat.
"Paman, pernikahan tanpa cinta tidak akan bertahan lama. Nana harus memilih orang yang lebih dicintainya. Aku masih memilih Lu Jin". Ucap paman tua mencoba melepaskan tangannya dan mau mengambil bintang.
"Tidak, tidak..". Seru Celine mencengkram tangan Paman tua lebih kuat.
"Lepaskan...".
"Wanita harus memilih orang yang lebih mencintai dirinya".
"Xu Zhao Di, lepaskan tanganku. Lepaskan tanganku..Cheng ziqian ada banyak tempelan, Lu Jin tidak ada". Teriak Paman tua saling tarik-menarik dengan Celine.
"Aku tidak akan melepaskannya..". Seru Celine memukul tangan paman tua dengan kuat.
"Xu Zhao Di, Aku tidak akan Melepaskanmu. Setiap kali kamu seperti itu denganku. Ku beritahukan padamu, aku hanya tempel satu". Paman tua dan Celine terus berdebat dan memukul. Kakek Gu sudah berdiri dan berjalan ke depan papan besar itu melihat foto Lu Jin dan ziqian. Lalu menempel bintang besar pada foto ziqian. Perdebatan paman tua dan Celine berakhir setelah kakek Gu menempel bintang besar pada foto ziqian. Setelah itu kakek Gu meminta Paman tua memesan mobil untuknya kembali ke rumah sakit.
__ADS_1
Keesokan harinya kakek Gu melakukan operasi.
"She na..duduklah sebentar". Ucap ziqian melihat she na jalan mondar mandir di depan ruang operasi kakek Gu. "Jangan khawatir. Duduk di sini dulu". Ziqian menuntun she na duduk di kursi. Tak berapa lama dokter keluar dari ruang operasi.
"Dokter Bagaimana?". Tanya she na dengan cemas saat melihat dokter keluar.
"Operasinya berjalan lancar. Selanjutnya hanya perlu dirawat dengan baik. Ingat, hindari makanan pedas dan berminyak". Peringat dokter.
"Terima kasih". Ucap she na dengan senang mendengar operasi kakeknya berhasil.
"Sudah melihatnya kan?. Sudah kubilang akan baik-baik saja. Kita duduk sambil menunggu". Ucap ziqian pada she na. She na menghela nafas lega dengan mata memerah duduk di kursi depan ruang operasi.
**
Malam hari di Swiss...
"Presdir Lu.. kita ada rencana perluasan Asia Street yang perlu Anda lakukan survei lokasi. Itu juga mempengaruhi perencanaan proyek kita kedepannya. Jadi, aku sudah menetapkan waktunya sendiri di besok. Jika anda ada urusan, aku juga bisa menundanya dulu. Namun, sebenarnya paling-paling hanya menunda waktumu satu hari saja". Ucap Li Man.
"Baik, kamu tentukan saja". Sahut Lu Jin menghela nafas kasar. "Sesuai dengan rencana awalnya, malam ini aku akan traktir kalian". Ucap Lu Jin berdiri. "Xiao Jie.. Apakah tempatnya sudah dipesan?". Tanyanya pada M X J.
"Sudah di pesan, tenang saja". Jawab M X J.
"Baik, Ayo kita pergi".
Tok..Tok..Tok.. Lu Jin mengetuk meja melihat Li Man masih mengetik di laptopnya.
"Aku susun dulu dokumen yang direvisi tadi.Aku akan segera menyusul". Ucap Li Man.
__ADS_1
"Baik..". Ucap Lu Jin berjalan keluar.
Kembali ke Suhai...
She na sedang menjaga kakeknya sehabis operasi masih belum bangun. Dia sedih melihat kakeknya yang sakit kayak begini. She na mengambil ponselnya dan berjalan keluar dengan pelan. Setelahnya She na menyandar di dinding sambil melihat ponselnya. Lalu dia menelpon Lu Jin.
Ponsel Lu Jin tertinggal di ruang rapat di bawah dokumennya. Li Man mendengar ada ponsel yang bergetar dia mencarinya dan melihat ponsel Lu Jin di bawah dokumen. Melihat She na yang menelpon, Li Man langsung menekan tombol hijau tanpa bicara lebih dulu.
"Halo...Lu Jin. Kamu... Kamu tahu apa yang terjadi belakangan ini. Kakek tiba-tiba pingsan, aku mengantarnya ke rumah sakit. Tadi baru saja selesai menjalani operasi. Sangat sukses, kamu jangan mengkhawatirkan aku di sini....". Ucap she na terpotong suara Li Man.
"Halo..Nona Gu, aku adalah Li Man". Ucap Li Man setelah diam.
"Lu Jin dimana?". Tanya she na.
"Sekarang presdir Lu tidak bisa menjawab telepon. Jika kamu ada urusan, aku bisa bantu kamu menyampaikannya". Sahut Li Man.
"Jika begitu, suruh dia telepon balik untukku". Pinta she na.
"Baik..". Ucap Li Man. Setelah dia menghela nafas panjang melihat ponsel Lu Jin di tangannya dan menghapus riwayat panggil dari she na di ponsel Lu Jin.
" Kenapa kerjaan kamu belum kelar juga?". Ucap Lu Jin tiba-tiba berjalan masuk. " Apakah kamu melihat ponselku?". Tanyanya sambil mengangkat dokumen mencari ponselnya.
"Aku baru saja ingin membawanya untukmu". Ucapnya sambil tersenyum memberikan ponsel Lu Jin seperti tidak terjadi apa-apa.
"Terima kasih..".
"Aku sudah selesai, sudah bisa pergi". Ucapnya mematikan laptop dan berjalan keluar lebih dulu.
__ADS_1
"Lihatlah ingatanku..". Gumam Lu Jin berjalan keluar.