
Meng xin jie pergi ke mall untuk membeli cincin berlian. Dia mau melamar Celine setelah apa yang terjadi pada mereka pada malam habis makan hot pot.
"Halo... Tuan. Apakah ada yang bisa kubantu?". Tanya pelayan toko pada M X J.
"Aku ingin beli cincin berlian". Sahut M X J dengan santai.
"Anda ingin beli cincin pernikahan atau cincin berlian untuk melamar?".Tanya pelayan itu lagi.
"Aku datang sendiri, tentunya untuk melamar". Ujar M X J sambil tersenyum.
"Baik. Anda ingin model seperti apa?". Tanya pelayan toko sambil memakai sarung tangan hitamnya.
"Aku lihat dulu. Lihat dulu". Ujar M X J melihat-lihat cincin dari kaca etalase.
"Aku tunjukan dulu kepada anda...Tuan bisa melihat ini dulu. Model ini adalah cincin berlian Menara Eiffel emas 18k dan 1 karat. Model lebih klasik, harganya sekitar 80.000 yuan".Ucap pelayan mengambil sebuah cincin berlian dan menaruh pada papan di depan M X J.
M X J terkejut mendengar harganya.
"Itu...Ekhem..Ini terlalu berlebihan. Aku tidak suka terlalu mencolok. Ini tidak terlalu cocok". Kilah M X J dengan canggung.
"Jika begitu, Anda lihat model ini dulu. Yang ini adalah seni penobatan cinta sejati. Harganya sekitar 30.000 Yuan. Terlihat lebih elegan". Ucap pelayan toko mengambil cincin lain dan menjelaskannya.
"Tiga...Tiga puluhan ribu..". Ujar M X J tergagap. Dia masih keberatan dengan harga segitu.
"Jika anda masih tidak suka, kami juga menyediakan layanan custom pribadi bagi tamu VIP". Ucap pelayan toko melihat M X J masih tidak menyukai yang di tawarkannya.
"Nona, seperti ini. Ekhem.. Seumur hidupku ini, aku hanya melamar sekali ini. Iya kan?. Aku mempercayakan hal sebesar ini kepada toko kalian. Apakah seharusnya kalian memberikan sedikit diskon?. Lagi pula, jika cincin lamaranku dibeli di toko kalian, cincin pernikahan juga pasti akan dibeli di toko Kalian juga. Berikan aku diskon, harga paket". Ucap M X J dengan manis mencoba mendapat diskon dari toko berlian ini.
"Apakah anda beli langsung sepaket?". Tanya pelayan toko.
"Bukan..".Sahut M X J.
__ADS_1
"Jika begitu, tidak ada". Ucap Pelayan toko.
"Aku punya kartu keanggotaan Mall kalian". Ujar M X J mengambil sebuah kartu dari dompetnya.
"Aku bisa memberikan anda kupon parkir gratis".Sahut pelayan tetap ramah pada M X J.
"Anggap saja aku membantumu mencapai target penjualan. Bagaimana. Apakah bisa...". Ujarnya masih berusaha.
"Aku bisa memberikan anda kemasan yang bagus". Sahut pelayan toko sambil tersenyum.
"Ambil ini saja..". Ucap M X J menunjuk cincin yang harganya 30.000 yuan sambil memejamkan mata. Dia sudah lelah berdebat dengan pelayan toko itu.
"Baik. Tuan, aku kemaskan untuk anda". Sahut pelayan toko dengan senang.
"Terima kasih..". Ucap M X J dengan mata terpejam agar tidak berubah pikiran dengan harganya yang menurut M X J sangat mahal.
Di studio paman tua
"Kenapa Xu Zhao Di tidak pergi?". Sahut she na dengan cuek.
"Belakangan ini Dia sangat dekat dengan Meng Xin jie. Jadi, paman memutuskan untuk memberikan kesempatan tampil ini untukmu". Ujar paman tua berkilah.
"Eih, aku tidak membutuhkannya. Lagi pula, aku tidak punya baju yang bagus. Jika aku memakai baju seperti ini, pasti akan dianggap sebagai pelayan". Ujar she na mencebikkan bibirnya.
"No, no, no... Paman sudah menyiapkan pakaian untukmu". Paman tua membawa she na masuk ke dalam ruangan melihat pakaian yang sudah di siapkannya.
"Aku tidak... paman, jangan...". She na tidak mau ikut masuk, namun di paksa paman tuanya. "Waoow.....". She na terpesona melihat sebuah gaun yang sangat bagus di depannya.
**
Di dalam ball room sebuah hotel bintang lima, sedang ada jamuan bisnis Lu Jin dengan rekan bisnisnya.
__ADS_1
"Selamat ketua Asosiasi Lu". Ucap istri rekan bisnis Lu Jin padanya.
"Terima kasih". Sahut Lu Jin dan ibunya bersulang dengan rekan bisnisnya.
"Baiklah, semuanya. Selanjutnya, mari kita sambut dengan meriah, ketua Asosiasi baru tahun ini, Tuan Lu Jin, untuk menyampaikan pidatonya di atas panggung". Seru pembawa acara mempersilahkan Lu Jin untuk naik ke atas panggung. Semua tamu yang hadir bertepuk tangan menyambut Lu Jin.
Prok...Prok...Prok.....
Lu Jin naik ke atas panggung dengan penuh wibawa
"Terima kasih banyak atas dukungan dan kepercayaan semuanya". Sapa Lu Jin dari atas panggung pada semuanya.
Sementara di luar ruangan, she na dan paman tua baru sampai di depan ruang pertemuan.
"Apakah disana?". Tanya she na menunjuk pintu di depannya sambil merangkul lengan paman tua.
"Iya..". Sahut paman tua. She naenarik tangan paman tua berjalan dengan cepat, namun, paman tua berhenti membuat she na bertanya.
"Kenapa?". Tanyanya menautkan alis.
"Paman tidak masuk lagi". Ujar paman tua.
"Kenapa?". Tanya she na merasa aneh.
"Misi Paman hari ini sudah selesai. Jalan ke depannya, perlu kamu jalan sendiri". Ucap paman tua dengan sendu.
"Apa maksudmu?. Aku menemanimu datang mengikuti pesta. Kamu tidak masuk, jadi....".
"Dasar bodoh..". Potong paman tua sambil membenarkan rambut she na dan memegang kedua lengan she na lembut. "Ini adalah Pestamu, bukan pestaku. Putri kecilku, Pangeranmu sudah menunggumu di dalam". Ucap paman tua dengan tatapan lembut. She na melihat ke depan pintu ruangan dan melihat paman tuanya. "Pergilah..". Paman tua mengangguk meyakinkan she na. She na membalikan badan berjalan ke depan pintu. "Nana..."Panggil paman tua. She na berbalik melihatnya. "Semangat..". Ucap paman tua dengan haru. She na tersenyum dengan air mata berlinang bahagia mengangguk pada pamannya.
Kembali ke dalam ruangan perjamuan, Lu Jin masih berpidato di atas panggung.
__ADS_1
"Belakangan ini aku membaca 'Human Words' karangan dari tuan Wang Guowei. Sangat tersentuh. Aku juga berharap dapat berbagi dengan semua di kesempatan kali ini. Di dalam buku tertulis, bisnis hebat di zaman kuno dan zaman modern, pasti akan melewati tiga tahap. Angin malam menggugurkan daun, aku naik ke gedung tinggi sendirian melihat jalan yang tak berujung. Ini adalah tahap pertama. Tidak menyesal meskipun menjadi kurus karenanya. Ini adalah tahap kedua. Sementara, tahap ketiga adalah aku mencarinya di dalam kerumunan, saat menoleh seketika, orang itu ada di bawah lampu remang. Ceklek...". Pintu ruangan terbuka seraya pidato Lu Jin usai. Terlihat seorang wanita yang sangat cantik dan elegan, she na. Dia adalah she na. Lu Jin melangkah turun menghadap ke arah she na dan mengulurkan tangannya menyambut she na. She na tersenyum melihat Lu Jin, melangkah dengan anggun dan elegan menyambut tangan Lu Jin. Semua lampu dan kamera menyorot pada She na dan Lu Jin. Setelahnya Lu Jin membawa she na naik ke atas panggung, menggenggam kedua tangan she na dengan lembut. "Aku perkenalkan kepada kalian semua, ini adalah tunanganku, Nona Gu she na...