CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Aku Akan Tinggal Sebisaku


__ADS_3

"Bisakah kamu sedikit menjauhi guru?". Ucap sang presdir menahan nafasnya.


"Baik, guru". Sahut she na berdiri tegak. Sang presdir menghela nafas lega.


"Tidak perlu sampai seperti itu. tuangkan lagi sebotol wine untukku. Satu gelas saja, terserah wine apa saja". Pinta sang presdir. She na mengambil gelas dan wine dam meletakkan di depan presdir Lu dan menuangnya ke gelas. "Sudah cukup". Ucapnya sambil mencium aroma wine di gelasnya. "Harum sekali". Ucapnya tidak sesuai dengan raut mukanya. "Itu...".


"Apakah kamu butuh layanan lain?". Ucap she na mengambil pisau dan memainkannya dengan tangannya.


"Aku merasa sudah cukup". Ucap sang presdir langsung menciut.


"Aku juga merasa begitu". Ucap she na juga meletakkan pisaunya.


"Kita masuk ke topik utamanya". Ucap sang presdir.


"Baik. Jadi, kamu bilang masakanku tidak sempurna, karena penataannya kurang bagus, atau rasanya kurang enak?". Tanya she na ke mode serius.


"Maksud tidak sempurna dariku adalah karena beberapa hidanganmu ini di buat dengan terlalu mengejar kesempurnaan. Warna, aroma, dan rasa sangat bagus. Ganti dengan kata lain, ini sangat memenuhi standar dari hotel Michelin". Ucap sang presdir memberi nilai pada masakan she na.


"Apakah seperti itu tidak bagus?. Aku merasa orang sukses seperti presdir Zheng seharusnya sangat mengejar kesempurnaan hidangan". Ujar she na tidak mengerti.


"Tapi tidak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna. Ibuku sudah bercerai dengan ayahku ketika aku masih sangat kecil." Ucap presdir Lu mengingat masa lalu. Mereka tidak tau, sekarang koki Yu berdiri di depan pintu masuk sedang melihat mereka. Koki Yu tidak melihat muka presdir Lu, Karena sang presdir duduk membelakanginya.


"Lalu ayahku meninggalkan kami tanpa meninggalkan uang sedikit pun. Jadi ibuku menggunakan sisa sedikit tabungannya untuk memulai bisnisnya dengan tegar. selangkah demi selangkah sampai dia mendirikan Grup Zheng Hong begitu sukses. Jadi di mata orang luar, dia adalah wanita yang kuat, merupakan wanita yang sangat terampil, tapi tidak ada orang yang bisa memahami kesulitannya di balik itu". She na mendengarkan cerita presdir Lu dalam diam. Koki Yu juga ikut mendengarnya dari depan pintu.


"Dari tidak memiliki apa pun sampai sangat berkuasa. Sangat sulit. Jadi, demi menjadi sukses, dia juga pernah merasa minder, pernah bertindak kejam. Setiap orang tidak ada yang sempurna". Sang presdir menceritakan perjuangan ibunya dari nol sampai sekarang.


"Tak kusangka ibumu punya masa lalu seperti itu". Ucap she na dengan tatapan sendu.


"Tidak peduli seberapa sempurnanya sebuah masakan, jika tidak ada momen rasa dimana sesungguhnya menggerakkan hati orang, maka hidangan tersebut akan kehilangan makna aslinya". Ucap sang presdir menatap she na lekat.


"Sepertinya aku sudah memahaminya". Ucap she na tersenyum.


"Baiklah, itulah yang dapat guru ajarkan padamu. Sisanya harus kamu pahami sendiri. Semoga kamu berhasil". Ucap sang presdir memgangkat telapak tangannya tersenyum.

__ADS_1


"Semoga aku berhasil". She na menempelkan telapak tangannya pada tangan presdir.


"Aku sudah kenyang, ayo pulang bersama. Satu arah". Ajak sang presdir.


Koki Yu juga pergi setelah mendengar percakapan mereka.


Keesokan paginya.


"Eh, Bos, rumah ini terlalu kumuh, juga tidak kedap suara. Apakah kamu bisa tidur dengan nyenyak disini?". Ucap M X J melihat lingkungan rumah baru bosnya setelah pulang habis belanja dengan bosnya.


"Apakah kamu tidak menyadari bahwa tempat ini sangat ajaib?. Tempat ini memberikan rasa nyaman yang tak dapat di jelaskan". Ujar sang presdir santai.


"Aku tidak merasakan adanya rasa nyaman, tapi aku merasa jika aku tinggal disini, aku pasti akan merasa sangat cemas. Aku pasti berpikir setiap hari, bagaimana caranya untuk berusaha untuk meninggalkan tempat ini. Terlalu kumuh". Komentar M X J terhadap tempat baru bosnya.


"Perkataanmu benar. Kamu kekurangan rasa kecemasan seperti itu. Bagaimana jika aku sewa sebuah rumah untukmu disini agar lingkungan mendorongmu untuk bekerja keras". Ucap sang presdir terlihat serius.


"Tidak, tidak, itu tidak perlu. Takutnya lingkungan seperti ini tidak dapat mendorongku untuk bekerja keras. Yang dapat mendorongku untuk bekerja keras hanya vila besar seperti Anda". Sahut M X J dengan cepat.


"Hahaha...Kayu busuk". Ucap sang presdir ketawa.


"Sudahlah. Berikan padaku". Ucap sang presdir meminta kantong belanja dari tangan asistennya.


"Apakah kamu masih ingat kata sandinya?. Ulang tahun Anda. Tidak akan kulupakan seumur hidup. Tidak akan kulupakan seumur hidup". Ucap M X J.


"Nanti aku lemparkan kartu aksesnya padamu". Ujar sang presdir.


"Kartu...Kartu aksesnya ada di tempatku. Anda tidak perlu melemparnya. Anda cukup tinggal dengan nyaman saja disini. Tapi aku harus mengingatkan anda, tidak dapat tinggal dengan nyaman terlalu lama lagi. Pimpinan akan segera kembali. Sebelum dia kembali, aku rasa anda lebih baik.....". M X J tidak melanjutkan ucapannya.


"Aku akan tinggal sebisaku". Jawab sang presdir dengan tatapan sendu.


"Baik. Jika..jika begitu, aku pergi dulu. Hubungi aku jika ada masalah. Silakan anda tinggal dengan nyaman disini". Pamit M X J berjalan pergi.


Presdir Lu menghela nafas panjang dan melangkah ke arah rumahnya dan she na. Langkahnya terhenti melihat Cheng ziqian berdiri di depan rumah dengan membawa sebuket bunga mawar merah.

__ADS_1


"Manager Cheng..". Panggil sang presdir melangkah mendekat.


"Presdir Lu...Baru pulang?". Sapa ziqian tidak kaget melihat sang presdir disini, karena dia tau sang presdir tinggal di sebelah rumah she na.


"Sangat kebetulan. Kita bertemu lagi disini". Ucapnya dengan muka tidak senang.


"Sekarang anda harus beli sayur sendiri setiap hari?". Ucap ziqian melihat kantong belanja di tangan sang presdir.


"Kamu ingin mencari Gu she na?". Tanya presdir Lu melihat buket bunga mawar di tangan ziqian tidak suka.


"Iya..".


"Dia tidak ada di rumah".


"Hah....".


"Dia keluar. Pagi-pagi tadi dia bawa tas besar dan lari keluar. Seharusnya tidak akan kembali dalam waktu singkat". Ucap presdir Lu berbohong. "Tidak perlu menunggu lagi. Aku akan memberikan bungamu ini padanya". Ucap sang presdir mengambil buket bunga dari tangan ziqian dengan cepat.


"Presdir Lu...". Seru Ziqian.


"Kak ziqian...". Panggil she na yang kebetulan berjalan keluar rumah.


"She na...".Panggil ziqian kaget. Sang presdir langsung membuang muka menghadap ke arah lain dengan malu.


"Kenapa kamu datang kemari?". Tanya she na.


"Bukankah kamu melakukan perjalanan jauh?". Tanya ziqian penasaran.


"Melakukan perjalanan jauh?". Tanya she na. Cheng ziqian mengangguk. "Tidak. Ada perubahan waktu cuti dari hotel, aku tinggal di rumah seharian. Siapa yang mengatakannya?". Tanya she na. Cheng ziqian melihat ke presdir Lu yang memalingkan muka ke arah lain di ikuti she na.


"Sudah begitu tua, naif sekali". Ucap she na membalikkan badan sang presdir dengan kesal.


"Aku salah lihat. Pagi-pagi tadi aku melihat seseorang yang sangat mirip denganmu membawa tas besar lalu lewat sebelah sini". Ucap sang presdir mengelak dengan gugup.

__ADS_1


"Apa-apaan?..."


__ADS_2