
Keesokan harinya, Lu zheng menerima telpon dari orang yang di suruhnya untuk memantau kegiatan Lu Jin.
"Baik, aku sudah tau. Jika dia ada tindakan lagi, segera lapor padaku". Perintah Lu zheng menutup telpon dan melihat mobil kecilnya sedang mengitari rel lomba sampai menabrak sebuah botol hitam. BRAK...Botol dan mobil kecilnya jatuh ke lantai. Lu zheng mengambil botol itu dan menatapnya dengan tatapan tajam penuh arti.
**
Di kantor Celine sedang di adakan rapat, direktur Lin lagi meraung-raung di ruang rapat. Prak...Direktur Lin melempar dokumen di atas meja, semua karyawan menunduk diam termasuk Celine.
"Bukankah biasanya kalian sangat pintar berbicara?. Kenapa setelah aku menjadi direktur, semua jadi bisu?". Bentak direktur Lin.
"Kita pernah bekerja sama dengan pihak merek Prancis ini. Anggarannya sedikit, namun, banyak masalah. Yang terpenting adalah idenya selalu berganti". Sahut Andrew rekan kerja Celine yang tidak suka dengan Celine.
"Sebagai pihak kedua, di mana profesionalisme kalian?. Sejak kapan giliran kamu mengomentari pihak pertama?". Sentak direkrur Lin menatap tajam Andrew. "Aku tanya sekali lagi. Siapa yang mau bertanggung jawab atas proyek ini?". Tanya direktur Lin menatap semua orang yang sedang menuduk. Andrew menyenggol lengan rekannya yang duduk di sebelahnya dan menunjuk Celine dengan dagunya. Rekannya mengerti langsung mengangguk.
"Bukankah proyek ini seharusnya diserahkan kepada Celine Xu?". Sahut rekannya dengan seringai licik. Celine langsung mendongak mendengar namanya di sebut.
"Celine Xu...paling ahli menangani klien luar negeri. Finlandia atau Jerman, semuanya tidak masalah. Jika serahkan proyek Prancis ini kepada Celine, seharusnya tidak masalah". Timpal Andrew dengan senyum mengejek. Celine melotot pada dua sekawan itu.
"Iya, betul. Jika menyalakan proyek ini kepada Celine Xu, pasti akan ditangani dengan baik". Timpal rekan kerja wanita Celine ikut memojokkan Celine melihat ke arah direktur Lin.
"Itu.....". Baru mau berucap suara Celine sudah di sela.
"Celine, bagaimana menurutmu?". Potong direktur Lin menatap Celine lekat.
"Direktur... Aku ingin membantu anda, namun,bukankah aku akan dipindahkan ke cabang perusahaan?. Aku takut waktunya bertabrakan". Tolak Celine halus dengan alasan.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal ini. Perpindahan personel Pusat mungkin perlu direncanakan ulang". Cicit direktur Lin membuat Celine terperangah. Celine melirik dua sekawan di depannya yang sedang tersenyum senang mengejeknya. "Perintahnya tidak akan turun secepat ini. Kamu selesaikan dulu proyek ini dengan tenang, setelah itu baru pergi. Aku akan mengajukan permintaan kepada kantor pusat. Selain itu, agen mereka kali ini adalah orang Tiongkok, tidak masalah dalam komunikasi. Kamu cukup melakukannya dengan tenang". Perintahnya tidak menerima penolakan. "Baiklah. Proyek kali ini diserahkan kepada Celine. Andrew, kamu bekerja sama dengan Celine untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Kamu juga pernah menangani merek ini, Seharusnya mudah untuk dipahami". Perintahnya anda Andrew. "Baik. Sekian pertemuan kali ini. Bubar..". Ucapnya.
"Direktur...". Cicit Celine di abaikan. Semua orang keluar dari ruangan rapat kecuali Celine. "Kenapa aku?. Aku mana bisa?. Orang-orang ini....". Gerutu Celine berdecak kesal.
**
Malam harinya she na menyiapkan makan malam romantis di rumahnya dengan Lu Jin. She na menyalakan lilin, menuangkan wine ke gelas dan mengambil foto makanan dan foto dirinya sambil memegang gelas wine tersenyum manis, lalu mengirimnya pada Lu Jin. "Aku tunggu kamu..". Isi pesannya.
Lu Jin yang masih lembur di kantor mendengar ponselnya berdenting, Ting...Ting.... Lu Jin mengambil ponselnya yang ada di sampingnya lalu membuka pesan, sudut bibirnya terangkat melihat foto yang di kirim she na. beberapa menit kemudian Lu Jin membalas pesan she na.
"Ada yang perlu aku selesaikan. Malam ini aku tidak pergi". Isi pesan Lu Jin. She na kecewa membaca pesan dari Lu Jin, lalu dia meniup mati lilin yang sudah di nyalakannya dengan wajah cemberut.
Keesokan harinya, Lu Jin pergi ke bengkel Lu zheng. Lu zheng sudah melihatnya dari jendela di lantai 2. Lu zheng mengambil foto Lu Jin lalu mengirimnya pada She na. Lalu dia turun ke bawah untuk menemui kakaknya, Lu Jin.
__ADS_1
"Kak... Kenapa kamu bisa datang?". Tanyanya dengan santai sambil tersenyum. "Ada urusan mencariku?". Ujarnya sudah berdiri di depan Lu Jin.
"Kamu yang melakukannya?". Tanya Lu Jin to the point melihatkan foto dari ponselnya.
"Siapa yang memotret ini?". Tanya Lu zheng pura-pura terkejut menggeleng kepalanya.
"Tidak peduli siapa yang memotret. Aku beritahu, taktik licik seperti itu tidak berarti sama sekali. Jangan dilanjutkan lagi. Ingat, jauhi Gu She na. Cukup sampai di sini. Tidak akan ku permasalahkan lagi". Pinta Lu Jin dengan tegas, lalu berbalik badan melangkah pergi.
"Aku suka Gu she na..". Seru Lu zheng sengaja memancing emosi Lu Jin. Lu Jin berhenti melangkah dan berbalik melihatnya dengan tajam. " Selain itu, She na juga menyukaiku. Kami saling mencintai, tentu saja akan sedikit mesra, aku juga tak berdaya". Ucapanya menantang Lu Jin dengan senyum mengejek.
"Apakah kamu tahu apa yang sedang kamu katakan?". Sarkas Lu Jin melangkah mendekati Lu zheng. "Aku beri satu kesempatan. Tarik kembali perkataanmu tadi. Aku akan anggap tak pernah terjadi". Pinta Lu Jin mengeratkan giginya menekan setiap katanya.
"Kak... aku dan Gu she na sangat cocok. Kami seumuran dan hobi kami juga sama. Aku sudah bertemu teman dan sahabat she na. Semuanya merasa kami sangat cocok. Keluargaku juga sama. Ibuku sangat menyukai Gu she na. Dia memperlakukannya seperti menantu sendiri". Ucap Lu zheng mengabaikan permintaan Lu Jin sambil menyeringai. "Namun Kakak berbeda. Aku tau Bibi Zheng tidak menyukai Gu she na. Dia sering diperlakukan tidak adil.....Bugh...". Sebelum menyelesaikan ucapannya, Lu Jin sudah meninjunya hingga Lu zheng tersungkur ke lantai.
"Lu...Lu Jin... Apa yang kamu lakukan?". Teriak She na yang baru saja masuk ke dalam bengkel Lu zheng melihat adegan Lu Jin memukul Lu zheng dengan mata melotot. Lu Jin berbalik badan melihat she na disana terkejut. Sedangkan Lu zheng tersenyum menyeringai sambil menunduk sehingga tidak ada yang melihatnya. "Apakah kamu baik-baik saja?". Tanya She na membantu Lu zheng berdiri. Lu zheng menggeleng. "Apa yang sedang kamu lakukan?. Tidak bisa dibicarakan baik-baik?. Dia adikmu..". Marah she na menatap Lu Jin tajam setelah melihat sudut bibir Lu zheng berdarah.
"Kenapa kamu bisa muncul di sini?". Bukannya menjawab Lu Jin malah bertanya balik, penasaran kenapa she na bisa tiba-tiba muncul disini.
"Aku malah ingin bertanya padamu. Jelas-jelas kamu bilang kamu percaya padaku. Jika percaya padaku, kenapa kamu datang memukul orang?. Intinya kamu tidak percaya padaku, kan?". Cecar she na dengan tatapan tajam.
"She na, jangan di katakan lagi". Ujar Lu zheng dengan sengaja menepuk tangan she na yang masih melingkar di lengannya agar di lihat Lu Jin. Benar saja Lu Jin geram melihatnya. "Ada kesalahpahaman di antara kita". Ujar Lu zheng dengan tatapan sendu.
" apa yang mau dibahas?. Aku sudah menjelaskannya padamu. Aku sudah mengatakannya dengan jelas. Apa lagi yang bisa kita bicarakan?". Cecar she na dengan dingin. Lu Jin langsung berbalik badan melangkah pergi dengan amarah. She na terlihat sedih Lu Jin pergi begitu saja. Lu zheng menyeringai tersenyum senang, rencananya berhasil.
"Maaf, she na... Aku tau pasti foto itu yang mendatangkan masalah untukmu. Aku juga tidak tahu kenapa bisa ada foto seperti itu. Setelah Ayah meninggal, banyak dewan direksi di perusahaan yang tidak menerima aku. Merasa aku tidak pantas duduk di posisi itu. jadi, pasti mereka yang melakukan semua ini secara pribadi. Sudah mendatangkan masalah untukmu. Maaf..". Ucapnya dengan wajah penyesalan, melempar semua kesalahannya pada para dewan direksi yang tidak bersalah itu.
Sudahlah. Aku temani kamu pergi ke rumah sakit dulu". Ucap she na setelah menghela nafas panjang, lalu mengantar Lu zheng ke rumah sakit mengibati lukanya yang hanya sedikit itu.
Setelah mengantar Lu zheng, She na pergi ke studio paman tuanya untuk mengadu.
"Katakan, kali ini Lu Jin sangat keterlaluan, kan?". Tanya she na.
"Kamu pantas mendapatkannya". Cibir paman tua santai.
"Apa maksudnya aku pantas mendapatkannya?". Ujar she na tidak terima."Lu Jin sendiri yang sembarangan berpikir setiap hari. Lagi pula, masalah apa pun itu, dia tidak boleh memukul orang 'kan?". Omel she na kesal.
"Nana...Dia memukulmu?". Tanya paman tua khawatir.
"Tidak. Dia memukul adiknya". Jawab She na menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Dia memukul Lu zheng?. Jika begitu, memang keterlaluan". Ujar paman tua menghela nafas lega karena bukan She na yang di pukul Lu Jin. "Nana...Hari itu, setelah aku pergi dari rumahmu, apakah Lu Jin menghubungimu?". Tanya Paman tua resah.
"Iya, kenapa?". Jawab She na setelah berpikir sebentar.
"Apa yang kamu katakan. Apakah kamu memberitahukannya bahwa Lu zheng ada di rumahmu?". Tanya paman tua sudah merasa cemas.
"Tidak. Aku pikir, Lu Jin begitu sibuk, jika aku bilang Lu zheng ada di rumahku, dia pasti akan sembarangan berpikir". Jawaban She na membuat muka paman tua pias dengan kesalahannya yang sudah melapor pada Lu Jin. "Lebih baik aku tidak mengatakannya. Lagi pula, aku dan Lu zheng memang......". Ucao She na berhenti melihat wajah paman tuanya yang aneh. "Kamu kenapa? Kamu kenapa?". Tanya She na menarik jaket paman tua.
"Itu.....". Sahut paman tua gugup.
"Apa yang terjadi?". Tanya She na menuntut jawaban paman tua.
"Lepaskan dulu.." Paman tua menarik jaketnya dari cengkraman tangan She na. "Hari itu aku pergi dari rumahmu karena Zenan terkena gastroenteritis. Dalam perjalanan ke rumah sakit..... Aku menelpon Lu Jin dan bilang bahwa Lu zheng ada di rumahmu". Ujar paman tua merasa menyesal. Mata She na melotot mendengarnya. "Jadi, Lu Jin mengira bahwa kamu sengaja berbohong padanya". Sambung Paman tua membuat She na murka.
"Gao Quan'an.....". Ucap She na mengetatkan giginya menunjuk wajah paman tua.
"Kenapa?". Tanya paman tua menentang.
"Aku ingin memukul kepalamu..". Teriak She na langsung memukul kepala paman tua dengan tasnya. Paman tua meringis kesakitan mendapat serangan mendadak dari she na yang sangat kuat.
Kembali ke kantor Celine.
Celine berjalan masuk ke ruangan yang ada Andrew dan dua rekan kerja lainnya sambil membawa laptop di tangannya. Saat melihat Celine masuk dua rekan Andrew berdiri.
"Andrew..."Panggil Celine, namun tidak di jawab oleh sang punya nama.
"Kami pergi dulu, kalian bahas dulu". Ujar rekan Andrew melangkah pergi.
"Baik, terima kasih". Ucap Celine lalu duduk di samping Andrew meletakkan laptop di meja. "Andrew... Besok akan ketemu dengan pihak merek. Kita buat satu versi proposal lagi untuk Bos". Usul Celine.
"Tenang, Celine. Proposalnya tidak penting, yang penting adalah pihak merek". Cicit Andrew cuek.
"Tanpa proposal, apa yang bisa kuberikan pada pihak merek?". Tanya Celine sambil mengetik di laptopnya.
"Bukankah kamu lebih mengetahui trik ini dari pada siapapun?". Ledek Andrew. Celine melihat Andrew tidak mengerti apa maksudnya. "Aku dengar bahwa dia adalah pria tua yang kaya raya. Bukankah kamu paling ahli dalam menangani klien seperti itu?". Cibir Andrew dengan tatapan menghina.
Celine memejamkan mata dan menghela nafas panjang untuk tidak memukul kepala Andrew, mencoba untuk bersabar.
"Bisakah kamu membantuku?". Pinta Celine mengalah. "Ini bukan proyekku sendiri". Terang Celine dengan lembut.
__ADS_1
"Apakah ini adalah proyekku?....