
"Apa-apaan?. Paman Zhang?. Paman Zhang juga memakai ini?". Omel she na menunjuk bando di kepalanya. "Apakah ini normal?".
"Aku...aku...".
"Kamu naik dulu. Aku pergi beli cuka". Ucap she na pada ziqian dan melangkah pergi.
"Aku juga masuk". Seru presdir Lu di abaikan she na.
Ketiganya duduk di meja makan. She na membekukan sekumtum bunga mawar merah dan menyuruh presdire menepuknya di atas kue tart.
"Lihat baik-baik ya, puk...". Sang presdir menepuk bunga dengan kedua tangannya dan jadilah serbuk bunga merah menabur di atas kue tart.
Aaaaarrghh.....She na bersorak gembira melihatnya. Cheng ziqian menatap presdir Lu dan she na yang lagi senang dengan muka kecut.
"Aku bagikan untuk kalian". Ucap she na memotong kue tart. Sedangkan keduanya pria di sampingnya saling menyerang lewat tatapan mata masing-masing.
"Presdir Lu, meskipun kamu adalah atasanku, tapi tempat ini bukan Hotel XX". Isyarat tatapan ziqian.
"Apa yang ingin kamu katakan?". Tanya Presdir Lu lewat tatapan mata.
"She na dan aku adalah kekasih masa kecil, merupakan teman sepermainan yang sangat akrab". Ziqian melipat tangan di dadanya.
"Hah, itu sudah merupakan masa lalu. Masa depan she na hanya ada aku". Sang presdir menaikkan sudut bibirnya menatap remeh pada ziqian.
"Apakah kamu akan selalu tinggal di sebelah rumah she na?".
"Pokoknya selama ada aku, kamu tidak akan punya peluang".
She na melihat kedua pria itu saling menatap dengan aneh.
"Kalian berdua...Saling suka?". Tanya she na mengernyitkan alisnya.
"Makan..". Presdir Lu.
She na melanjutkan makan kue tartnya, ada sedikit kue yang menempel di sudut bibirnya. Ziqian melihatnya duluan di ikuti sang presdir. Cheng ziqian langsung mengambil kotak tisu sebelum tangan sang presdir meraihnya. Cheng ziqian tersenyum menang melihat presdir Lu. Sang presdir menyeringai mengambil sapu tangannya. Keduanya sama-sama mau membersihkan sudut mulut she na. Namun tangan mereka belum sampai, she na sudah sudah menjilat dengan lidahnya dan menatap aneh kedua pria di sampingnya.
"Tidak apa-apa".
"Tidak apa-apa". Ucap keduanya bersamaan.
"Apa kalian tidak ingin makan?". Tanya she na.
"Segera makan". Ucap sang presdir tersenyum licik pada ziqian.
"Makan. Ayo, makan ini". Ucap ziqian mau mengambil kue untuk she na. Namun, sang presdir menghalangi dengan pisau dan garpunya. Pisau dan garpu saling beradu.
"Sedang apa?". Ujar she na melerai keduanya.
"Kami berdua suka sepotong kue". Ucap sang presdir berbohong sambil tersenyum nyengir pada ziqian, di balas senyuman nyengir ziqian juga. "Tapi aku tetap suka bagian yang kamu potong untukku". Gombal sang presdir. Ziqian menatap kesal melihatnya dan menusuk kuenya dengan garpu memasukkan kemulutnya.
__ADS_1
"Kamu bisa makan kue dengan menggunakan garpu?. Aku selalu makan dengan tangan ketika aku berada di luar negeri". Nyinyir presdir Lu memasukkan kue ke mulutnya dengan tangan. She na mengulum senyum melihatnya.
"Harus makan banyak dalam satu suapan. Harus makan banyak". Ucap ziqian memotong kue dalam suapan besar dengan garpunya. Sang presdir yang tidak mau kalah, segera mengambil kue dengan potongan besar memasukkan ke mulutnya. Cheng ziqian menganga melihatnya.
"Apakah kamu merasa susah untuk menelannya?". Tanya she na melihat mulut sang presdir sudah penuh dengan kue.
*
Di Swiss, seorang wanita paruh bayah yang masih sangat cantik sedang menulis kaligrafi china. TOK...TOK...TOK... Setelah mengetuk pintu langsung membukanya. Li Man berjalan masuk ke dalam.
"Presdir Zheng, anda mencariku?". Ucap Li Man dengan sopan.
"Sudah pulang beberapa hari kan?. Jika aku tidak mencarimu, apakah kamu tidak berencana untuk datang menemuiku?". Tanya presdir Zheng masih menulis.
"Aku tidak menyelesaikan hal ini dengan baik". Ucap Li Man menunduk.
"Katakan. Putraku itu lari kembali ke Suhai dari Zhuo zhou, sekarang bahkan tidak ingin kembali ke Swiss lagi. Sebenarnya ada masalah spesial seperti apa di Hotel XX?. Bahkan nada bicaramu juga berubah menjadi begitu kecewa". Tanya Presdir Zheng kenapa putranya Lu jin tidak mau kembali ke Swiss.
"Maaf sekali. Sejauh yang kuketahui, di Suhai... Lu Jin mengakui keterampilan memasak dari seorang koki wanita. Dia tidak kembali demi koki wanita itu". Adu Li Man dengan muka sendu.
"Koki wanita?. Tidak aneh jika seperti itu, sudah kuduga. Kenapa bahkan kamu tidak sanggup?". Ucap Presdir Zheng menatap Li Man.
"Aku kurang mamlu". Sahut Li Man menunduk kepala.
"Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik. Aku sangat puas. Hanya saja, ada hal yang lebih penting yang perlu di lakukan oleh Lu Jin. Seharusnya tidak boleh ada terlalu banyak hasrat dalam makanan. Sekarang perusahaan memerlukan kerja keras sepenuh hati darinya. Tentu saja, lebih membutuhkan kerja keras sepenuh hati darimu. Apakah kamu mengerti?". Ucap presdir Zheng.
"Mengerti". Jawab Li Man tegas.
"Baik".Sahut Li Man melangkah pergi.
Ibu presdir Lu sudah sampai di Suhai. Sekarang sudah berada di vila putranya.
"Presdir Lu..". Sapa pelayan yang melihat tuannya masuk ke vilanya. Sang presdir mengangguk menjawab sapaan pelayan. Dia berjalan menghampiri ibunya yang sedang melihat pemandangan di belakang vila.
"Ibu..". Panggilnya memeluk ibunya.
"Putraku". Jawab sang ibu membalas pelukan putranya.
"Kenapa tidak bilang padaku jika ibu ingin pulang lebih awal. Jika aku tau dari awal, seharusnya aku pergi menjemput ibu. Duduklah ibu, duduk". Ujar sang presdir membawa ibunya duduk.
"Ibu dengar bahwa ada sesuatu yang ingin kamu bagikan kepadaku. Jadi aku sangat tidak sabar". Ucap ibunya tersenyum.
"Hah, ini...Siapa lagi yang bergosip kepada ibu?".
"Sudah punya pacar?". Tanya ibunya langsung.
"Benar. Belum berhasil mengejarnya". Adu sang presdir.
"Gadis seperti apa yang begitu sulit di kejar". Tanya ibunya pura-pura tidak tau.
__ADS_1
..."Sebelumnya ibu sudah menyelidiki latar belakangnya dengan sangat jelas, jadi jangan memancing kata-kataku lagi". Ucap sang presdir menuangkan teh untuk ibunya dan dirinya....
"Ibu senang kamu sudah punya pasangan, tapi, nona Gu itu, dari tampang hingga latar belakang keluarga, ibu merasa dia bukan pasangan yang paling cocok denganmu. Aku merasa Li Man paling cocok denganmu. Bagaimana pun kalian berdua sudah lama bekerja sama, sudah saling memahami". Ucap sang ibu.
"Karena terlalu akrab, terlalu memahami, jadi tidak dapat menjadi hubungan seperti itu. Hubungan terbaik di antara kami adalah Mitra kerja. Jika tidak, ibu akan kehilangan seorang tangan kanan yang sangat bagus". Sang presdir memberi alasan menolak.
"Suka sesuatu yang baru. Jika begitu, waktu itu putri raja kapal Australia begitu suka padamu, bukankah hatimu tidak tergoyah juga?".
"Ibu, gadis kecil itu masih begitu muda. Selain itu, dia sangat keras kepala, aku tidak sanggup untuk mengendalikannya". Alasannya.
"Tapi, noni Gu, juga masih muda?". Tanya ibunya heran kenapa putranya ini bisa jatuh cinta pada she na dari pada Li Man dan yang wanita lain dari golongan yang sama dengannya.
"Iya. Jadi dia tidak merasa putramu ini sudah berusia, aku merasa itu sudah perlu di hargai".
"Sangat kebetulan. Mitra kerja kita di Australia, putri presdir Jiang, usianya sebaya denganmu".
"Dia adalah wanita yang kuat. Terlalu dominan. Kami berdua akan berkelahi". Selalu ada saja alasan presdir Lu menolak wanita lain.
"Aku dengar nona Gu juga sangat keras kepala".
"Hah..Iya. Seperti itulah baru cocok dengan sifatku yang susah di atur. Pasangan yang serasi". Sahutnya dengan mantap.
"Jika kamu begitu tertarik dengan nona Gu itu, maka atur waktu agar aku juga bisa mengenalnya". Ucap ibunya berdiri melangkah masuk ke dalam.
"Tidak!. Aku......". Sang presdir hanya bisa menghela nafas panjang melihat punggung ibunya masuk ke dalam.
"Apa...?. Ibumu ingin bertemu denganku?. Harus bertemu dengan orang tua secepat ini?". Ucap she na kaget saat sang presdir memberitahunya. Presdir Lu hanya senyum nyengir melihat she na.
"Atas dasar apa?. Apa statusku?. Aku harus bertemu dengan ibumu dengan status sebagai apa?. Aku tidak ingin pergi". Tanya she na ingin mempertegas statusnya.
"Hanya sekadar bertemu saja. Jangan terlalu mempedulikannya". Ucap sang presdir asal membuat she na kesal.
"Oooh, hanya sekadar bertemu saja?. Maaf.. Aku tidak pernah bertemu orang dengan sekadarnya saja". Ujar she na menatap tajam padanya melangkah pergi.
"Tidak sekadarnya". Ucap sang presdir mengejarnya. "Serius. Ayo, bertemulah. Aku mohon padamu". Ucap sang presdir memelas.
"Aku pertimbangkan dulu".Sahut she na melangkah pergi menahan senyumnya. Sang presdir menghela nafas pasrah menerimanya.
Disinilah sekarang 3 serangkai beda usia berada. Di studio Quan'an milik paman tua.
"Hebat juga kamu, Gu she na. Strategi rahasiaku". Ucap Celine melihatkan ponselnya.
"100 hal yang harus kamu ketahui. Hahaaa...". She na membaca di ponsel Celine ketawa.
"Tidak boleh ketawa". Sentak paman tua. "Zhao Di, terlalu banyak, dia tidak bisa mengingatnya. Tunjukkan poin penting padanya". Perintah paman tua.
"Intinya adalah satu kata. Orang bergantung pada dandanan. Kamu harus tampil cantik dan elegan, selain itu juga harus terkesan terbuka". Ucap Celine dengan suara manja.
"Kamu juga harus menunjukkan sikap tenang". Timpal paman tua.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang ingin kalian berdua katakan?". Tanya she na menautkan alisnya.
"Kelas di mulai..". Seru paman tua dan Celine bersamaan