CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Pacarmu..


__ADS_3

Malam harinya, she na merayakan kemenangannya di 'Warung Makanan Tumis Sedunia' dengan teman dan sanak saudara saudaranya.


"Bibi pertama, Bibi kedua". Panggil she na dengan gembira. "Wang, ini adalah sahabatku, Xu zhao di". Ucap she na mengenalkan Celine pada saudaranya.


"Hai...". Sapa Celine.


"Kalian makan perlahan-lahan". Ucap she na meninggalkan mereka dan menyapa yang lain. Suasana di tempat itu sangat ramai, penuh dengan teman dan saudaranya.


"She na...Sini, sini..". Panggil kakeknya. "Ini adalah Bibi asuh".


"She na..". Panggil Bibi asuh.


"Bibi asuh..". Sapa she na sambil memeluk Bibi asuhnya. "Aku tau kamu adalah yang terbaik".


Presdir Lu duduk sendiri dengan lesuh melihat keramaian tempat ini.


"Presdir Lu, aku perkenalkan dulu..Ini adalah Bibi asuhku". Ucap she na membawa bibi asuhnya ke hadapan presdir Lu.


"Bibi asuh?. Halo..Bibi". Sapa sang presdir.


"Pria ini sangat tampan. Muda dan berprestasi. Siapa namamu?". Tanya Bibi asuh.


"Namaku Lu Jin. Panggil xiao Lu saja". Sahut presdir Lu dengan suara agak keras.


"Kamu tidak perlu begitu keras, aku tidak pekak". Ucap Bibi asuh.


"Dia tidak pekak. Baiklah, Bibi asuh, duduk dan makan yang banyak ya. Pergilah". Ucap she na dengan senyum senang.


"Ada apa?". Tanya she na saat presdir Lu menariknya duduk dan menatapnya dengan kesal.


"Apakah ini makan malam yang kamu katakan padaku?". Tanya sang presdir datar.


"Kenapa?. Apakah tidak sesuai dengan seleramu?. Lu rewel, dulu kamu mati-matian ingin datang makan disini, ya!". Sahut she na dengan kesal.


"Bukan itu maksudku, aku...".


"Apa maksudmu?". Tanya she na dingin.


"Aku kira hanya kita berdua". Ujar sang presdir.

__ADS_1


"Aku juga tidak menyangka. Semua karena kakek, dia bilang ingin mengadakan perjamuan besar. Sudah lama tidak ada alasan untuk mengadakan perjamuan. Orang tua memang suka keramaian, jika tidak, kakek sudah begitu tua, kenapa masih tidak ingin pergi dari sini?". Ucap she na menjelaskan.


"Semuanya, semuanya...Hari ini aku, Gu Bao guo, mengadakan perjamuan adalah untuk merayakan prestasi cucu perempuanku, she na. She na, sini, sini, she na". Ucap kakek Gu pada semuanya. Ini adalah cucu perempuanku, she na. Kalian semua mengenalnya, kan?".


"Kenal...". Seru semuanya.


"Aku melihatnya tumbuh dewasa dari kecil. Aku masih ingat saat dia memakai celana yang bagian bawahnya terbuka". Gurau paman keduanya.


"Paman kedua...menyebalkan". Decak she na membuat semua ketawa.


"Sebelumnya, aku tidak setuju dia menjadi profesi ini. Seorang gadis kecil harus mencium bau asap setiap hari, sangat melelahkan". Cerita kakek Gu. Sang presdir sedang kesal dengan paman kedua she na, dia makan kuaciz tapi kulitnya dibuang ke belakang tepat di depan presdir Lu. Sang presdir mengambil tisu membersihkannya.


"Selain itu, jarang ada wanita yang bekerja dalam profesi seperti ini. Sebelumnya, dia hanyalah seorang asisten koki. Aku merasa tidak berguna. Tapi tak kusangka, dia tidak hanya berguna, tapi juga sangat membanggakan. Keluarga Gu akhirnya ada seorang koki utama wanita hotel bintang Lima". Ucap kakek dengan bangga. Semua yang hadir tepuk tangan.


"Hanya koki utama dalam sekali perjamuan malam saja. Bukan...". She na menjelaskan.


"Sama saja, koki utama wanita. Semua, Hari ini aku yang traktir. Kalian tidak perlu sungkan. Apa yang ingin kalian makan dan minum, oesan saja sepuasnya".


"Baik...". Sorak semuanya bertepuk tangan.


"Eh,...Jangan bertepuk tangan dulu". Ucap kakek Gu mengangkat tangannya.


"Presdir Lu, presdir Lu, presdir Lu.....". seru semuanya.


"Kakek Gu tidak akan mempermalukan presdir Lu, kan?". Tanya Celine.


"Presdir Lu kami pernah menghadapi kondisi apa pun. Dia bisa mengatasinya, tidak masalah". Sahut M X J.


"Pertama-tama...". Presdir Lu baru berucap sudah disela.


"Eh, ceritakan dulu hubungan kamu dengan she na". Sela Lao Liu teman she na.


"Benar. Apakah kalian sebatas atasan dan bawahan biasa?". Timpal Mili temannya.


"Jangan bercanda, dengar perkataan presdir Lu dulu". Ucap kakek Gu.


"Aku rasa aku perlu menjelaskan hal ini. Nona Gu she na, memang adalah.....". Lagi-lagi ucapannya di potong.


"Pacarmu.....". Sela Lao Liu, presdir Lu memgangguk pasti. Wajah she na bersemu merah karena malu. Semuanya bersorak gembira.

__ADS_1


"Ini adalah salahmu. Punya cucu menantu sekaya ini, tapi hanya traktir kami makan disini?. Kamu pelit sekali. Benar,kan semaunya?". Seloroh paman keduanya.


"Aiyaa...Sudahlah, sudahlah. Itu..Lao Liu, Mili, jangan kalian bersembunyi di meja paling belakang, jadi aku tidak tau gosip kalian ya". Tunjuk she na pada dua orang temannya yang sudah menunduk takut di bongkar she na. "Dan kamu paman kedua, kamu sudah berumur, kenapa malah ikut ribut dengan mereka?. Pantas saja Bibi kedua menyekop rambutmu hingga kamu hampir botak". Nyinyir she na. Sang presdir mengintip ke belakang kepala paman kedua. "Sudahlah, semua yang ada disini, kalian adalah orang yang melihatku tumbuh dewasa dan tumbuh dewasa denganku. Tidak perlu mengatakan yang lain lagi, semuanya ada di dalam arak ini. Semuanya ada di dalam arak ini. Ayo, bersulang.. ". Seru she na mengangkat gelas araknya.


"Baik, ayo bersulang...". Semuanya bersulang dan minum arak sampai gelas kosong. Namun gelas sang presdir tidak ada isi apa-apa.


"Aiii...Kalah sepenuhnya. Tak kusangka presdir Lu kami juga bisa canggung seperti hari ini". Ucap M X J mengolok bosnya.


"Mana mungkin bos kalian pernah menghadapi kondisi seperti ini?. Sangat normal. Ayo, kita bersulang". Ujar Celine.


"Cobalah, buatan kakek". Ucap she na mengambil makanan untuk presdir Lu.


"Baik". Ucap sang presdir tersenyum.


"She na...". Panggil kakeknya. Presdir Lu berdiri melihat kakek Gu. "Silakan duduk". Ucap sang kakek.


"Ayo duduk. Ada apa?" Tanya she na setelah presdir Lu duduk.


"She na... kamu jangan hanya duduk disini saja. Kamu harus pergi ke meja Bibi pertama dan Bibi kedua. Jangan sampai kamu di bilang sombong, tidak bersulang dengan mereka". Nasehat sang kakek.


"Benar, benar". Ucap she na berdiri, namun lengan bajunya di tarik sang presdir dari belakang. "Jangan khawatir, aku akan segera kembali. Oke?". Ucap she na melihat wajah presdir Lu yang tidak ingin di tinggal sendiri.


"She na..Jangan khawatir. Serahkan Presdir Lu kepada kakek". Timpal kakek Gu.


"Baik. Kalian ngobrol saja". Ucap she na melangkah pergi meninggalkan kakek dan presdir Lu.


"Baik, baik" Sahut kakek Gu duduk di depan presdir Lu. "Kamu...Lumayan berkarisma. Jas kamu juga sangat rapi. Sangat bagus". Ucap kakek Gu melihat tampilan sang presdir. "Kenapa aku merasa kamu agak familiar?. Apakah kamu pernah makan di tempatku?. Tanya kakek Gu merasa kenal.


"Iya. Aku adalah pelanggan tetap di toko Anda". Jawab presdir Lu mantap.


"Baguslah jika begitu. Baguslah kalau pelanggan tetap. Semakin akrab. Xiao Lu...Bolehkah aku memanggilmu seperti ini?". Tanyanya.


"Tentu saja".


"Baik, baik, baik. Xiao Lu, berapa usiamu sekarang?".


"Aku berusia 36 tahun".


"36 tahun, ya?..".

__ADS_1


__ADS_2