CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
LAYANI TAMU DENGAN BAIK


__ADS_3

"Terutama karena aku takut kamu kelaparan, tubuhmu tidak tahan". Ucap asisten Meng membujuk bosnya, karena dia sudah capek dari tadi keliling mencari restoran, namun tidak ada satupun yang cocok dengan selera bosnya.


"Aku masih bisa tahan". Ucap sang presdir dengan santai. Sang asisten hanya bisa pasrah mengikuti perintah dari bos.


"Eeh..". Gumam presdir Lu saat melihat Plang 'Warung Makanan Tumis Sedunia'. Asisten Meng langsung rem mendadak mendengar gumaman sang presdir, dan membuat presdir Lu menubruk kursi depan.


"Maaf, maaf, maaf". Ucap asisten Meng panik.


"Baik. Jika bisa, kita cari di sekitar sini saja". Ucap sang presdir merapikan rambutnya yang berantakan.


"Baiklah jika begitu". Ujar asisten Meng.


PLAK..


"Bisakah lain kali kamu bilang dulu sebelum rem?". Sentak sang presdir mengeplak kepala asistennya.


"Salahku, berhenti terlalu mendadak. Berhenti terlalu mendadak". Sahut asisten Meng mengusap belakang kepalanya.


Setelah itu, Meng xin jie mengarahkan mobil masuk ke 'Warung Makanan Tumis Sedunia'.


She na sedang masak di dapur kakeknya sambil bernyanyi.


'Aku ingin tinggal di hatimu


'Kamu lebih menarik dari pada bumi


'Aku ingin berpetualang denganmu di luar angkasa.....'.


"Gadis kecil..Aku baru saja ke toilet, kamu sudah ke dapur?". Kesal sanf kakek melihat she na memasak di dapurnya.


"Ada banyak tamu yang mendesak. Aku hanya ingin...Ai, kakek sangat...Aku berbaik hati membantumu, tapi kamu masih seperti ini". Ujar she na menghela nafas.


"Aku sudah masak selama puluhan tahun. Tidak boleh hancur karena kamu.....".


"Tidak boleh hancur karena kamu. Pergi, pergi, pergi. Keluar bantu Doupao, kamu jangan berada di dapur ini...". Ujar she na mengucapkan apa yang ingin di katakan oleh kakeknya.


"Jangan mengikuti caraku berbicara lagi. Pergi, pergi, pergi. Kamu bantu Doupao, pergi, pergi, pergi". Sentak sang kakek kesal mengusir she na keluar.


"Yang ini sudah selesai dimasak, ya". Ucap she na menunjuk bihun goreng seafood yang di buatnya.


Setelah she na keluar, sang kakek mengambil masakan she na dan mau membuangnya ke tempat sampah.


"Jangan bergerak..". Seru presdir Lu yang baru masuk ke dapur kakek Gu dan menghentikannya membuang masakan she na.

__ADS_1


"Aku mau masakan itu". Ucap presdir Lu menunjuk masakan di tangan kakek Gu.


Setelah di bawa keluar, presdir Lu duduk di meja menghirup aroma masakan di depannya, dan sang asisten memberikan sumpit yang sudah dia bersihkan dengan tisu.


Baru mau menjepit makanannya, sumpit di tangan presdir Lu di ambil oleh she na yang muncul mendadak di samping presdir Lu.


"Yoo..Bukankah ini adalah presdir Lu?. Kenapa kamu datang kesini?. Tempat ini tidak sesuai dengan identitasmu. Lagi pula, bukankah kamu tidak ingin melihatku?". Sindir she na dengan wajah mengejek.


"Aku juga tidak tau, kenapa bisa melihatmu disini". Ucap sang presdir dengan tenang.


"Tulisan GU sebesar itu, apakah kamu buta?". Ucap she na menunjuk papan nama warung kakeknya.


"Jadi marga Gu di seluruh dunia adalah keluarga kalian". Tanya presdir Lu melirik sekilas papan nama di depan dengan muka datar.


"Itu belum tentu.....".


"Gadis kecil, gadis kecil. Kenapa kamu langsung bertengkar dengan tamu begitu mulai bekerja?". Ucap sang kakek keluar dari dapur mendengar suara she na sedang berdebat dengan tamu di depan.


"Tuan tua..Bolehkah aku mengajukan pertanyaan pada anda?". Kata presdir Lu berdiri menghadap kakek she na.


"Silakan di tanyakan, silakan di tanyakan". Ucap kakek Gu.


"Apakah toko ini milik anda?". Tanya presdir Lu, she na melipat tangan di dada menatap tajam padanya.


"Yang ini tidak enak, aku gantikan untuk anda". Ujar kakek Gu mengambil piring makanan di meja.


"Tidak tuan tua. Aku ingin yang ini". Ujar presdir Lu menghentikan tangan kakek Gu.


"Aku mau yang ini, terima kasih". Ucap sang presdir.


"Layani tamu dengan baik. Aku mau ke dapur dulu". Ucap sang kakek pada she na dan mengangguk pada presdir Lu.


Presdir Lu mau menarik sumpit dari tangan she na, namun tidak bisa, karena she na memegangnya dengan kuat. Asisten Meng menahan tawanya melihat itu.


"Layani tamu dengan baik". Ucap presdir Lu mengulang ucapan kakek Gu.


"Layani tamu dengan baik". Cibir she na memberikan sumpit dengan cemberut.


"Terima kasih". Ucap sang presdir menerima sumpit dari she na.


"Makan apaan?". She na mengambil piring bihun goreng seafood yang dibuatnya.


"Eh, guru Gu..". Seru asisten Meng melihat perilaku she na.

__ADS_1


Sang presdir juga ikut memegang sudut piring di tangan she na. Dan terjadilah adegan tarik menarik piring. Sampai...


"Tidak ingin rebutan denganmu". Ucap she na kesal melepaskan tangan dari piring itu.


"Aku akan membayarnya". Ucap presdir Lu.


"Presdir Lu. Apakah kamu kecanduan menelan ludah sendiri?. Cih..". Sindir she na berlalu pergi.


Sedangkan di sebelah warung kakek Gu, bibi wang sedang bertengkar dengan pelanggannya.


"Aku toh tidak mau makan". Ucap pelanggan bibi wang.


"Makanan sudah di makan". Ujar bibi wang .


"Jangan omong kosong denganku". Bentak pelanggan tersebut.


"Makanan sudah di makan. Bocah kecil, kamu tidak boleh menolak untuk bayar". Ujar bibi Wang meminta bayaran. "Kamu harus bayar".


"Percaya atau tidak, aku akan menghajarmu?". Ucap pelanggan itu marah tidak mau bayar.


"Kamu sangat tidak tau aturan". Sentak bibi wang.


PLAK...


"Aku ingin menamparmu, memang kenapa?". Ucap pelanggan itu menampar bibi wang sampai tersungkur ke lantai.


"Bibi Wang..". Seru she na melihat bibi wang jatuh ke lantai dan berlari untuk membantunya.


"Jangan tidak tau di hargai". Sentak pelanggan itu.


"She na, dia sudah makan dan minum banyak. Dia tidak mau bayar".Adu bibi wang pada she na.


"Siapa bilang aku tidak mau bayar". Elak pelanggan itu.


"Percaya atau tidak aku akan lapor polisi?". Ancam she na.


"Siapa kamu?". Tanya pelanggan itu


Presdir Lu merasa terlalu berisik, dia memakai headseat di telinganya dan menyalakan musik. Lalu mulai menikmati makanannya tidak peduli suara berisik di belakangnya.


She na dan pelanggan itu saling dorong mendorong. Saling melempar kursi dan melempar apa yang dapat di jangkau oleh tangan. Sampai she na mengambil botol bir dan melemparnya ke pelanggan itu, namun pelanggan itu menghindar dengan cepat. Asisten Meng melihat botol botol melayang ke arah sang presdir, dia berusaha menangkap botol itu, tapi dia kalah cepat. Dan...


PIANGGG......Botol bir itu menghantam kepala presdir Lu dan membuatnya langsung terkapar pingsan. She na menutup mulutnya yang menganga karena terkejut.

__ADS_1


"Zhao di, Zhao di. Aku ingin bersembunyi di rumahmu. Aku menyinggung Lu rewel itu lagi". Ucap she na tergesa-gesa kembali ke rumahnya dan mengemas barangnya.


__ADS_2