
"Apakah kamu merindukanku?". Ucap M X J dari dapur Celine, dia membawa bahan membuat hot pot ke rumah Celine.
"Untuk apa merindukanmu?. Aku sangat senang hidup sendirian". Sahut Celine duduk di meja makan menikmati hidangan yang dibuat M X J.
"Aku tahu aku pergi secara mendadak. Namun, ini juga karena keperluan kerja, aku tak berdaya. Jadi, demi menebus kesalahanku, aku traktir kamu makan hot pot hari ini. Bagaimana?. Aku beli banyak udang". Ucap M X J membawa sayuran dan daging untuk membuat hot pot ke meja.
"Jangan, jangan, jangan melakukannya sendiri, aku saja. Aku paling ahli mengupas udang. Udang yang aku kupas sangat enak. Dapat mengunci rasa segarnya. Huhuhu...". M X J melarang Celine mengupas udang sendiri, dia mengambil udang dan mengupas sampai tangannya kepanasan. Celine tersenyum melihat tangan M X J kepanasan. "Ini untukmu. Ayo mulai makan, aku juga sudah lapar". Ujarnya memberikan udang yang sudah di kupasnya.
"Sebenarnya sewaktu kecil, aku paling benci makan hot pot".Ujar Celine sambil makan udangnya.
"Hah, kenapa?".
"Sewaktu kecil, aku nonton TV. Aku lihat orang lain makan hot pot, aku merasa sangat enak, jadi, aku menyuruh Ibuku untuk membawaku pergi makan hot pot. Sebenarnya, keluarga kami tidak punya uang untuk makan di restoran. Ibuku tidak bercaya, dia mencari sebuah panci tumis, lalu ditambahkan dengan sedikit air putih, tabur sedikit garam, dimasukkan sedikit sawi putih, tahu beku dan saya potong kulit babi. Sangat tidak enak. Aku bilang, yang ada di TV itu rumah semuanya menipu orang. Aku tidak akan pernah makan hot pot lagi". Cerita Celine dengan sedih sambil menundukkan kepala. M X J mendengarkan dalam diam menatap Celine dengan prihatin. "Setelah aku dewasa, aku baru menyadari bahwa ternyata semua hot pot punya bumbu dasarnya. Ada sup mentega dan sup jamur. Ternyata hot pot asli begitu enak". Ujarnya tersenyum sedih.
"Ke depannya, aku akan masa hot pot setiap hari untukmu". Ucap M X J membuat Celine terharu.
"Sudahlah, tidak perlu kamu. Hanya tersisa 2 udang?. Beli begitu sedikit?. Pelit sekali". Ujar Celine mengalihkan cerita sedihnya.
"Aku pesankan langsung untukmu". Ucap M X J mengambil ponsel dan membuka aplikasi untuk memesan.
"Cepat..".
__ADS_1
"Kenapa tidak bisa memakai wi-fi rumahmu?". Tanya M X J tidak menyambung ke wi-fi celine.
"Sepertinya router di rumahku rusak. Tidak ada internet". Sahut Celine melihat router wi-finya di nakas ruang tamu.
"Tidak bisa seperti ini, ini adalah masalah besar. Aku perbaiki untukmu". M X J berdiri dan berjalan mengambil router dan memeriksanya. "Coba aku lihat. Apakah kamu tahu? Sangat gampang. Kamu hanya butuh sebuah pulpen, lalu ada sebuah lubang hitam kecil di bagian belakang. Tusuk bagian itu selama 3 detik dengan pulpen. Seharusnya sudah bisa dipakai. Aku lihat dulu". Ucap M X J mengambil ponselnya duduk di meja makan dan coba menyambung ke wi-fi Celine. "Lihatlah, kuberitahukan padamu, biasa hanya jika datang ke rumahmu, ponsel ku akan otomatis terhubung wi-fi. Aku punya perasaan,rumah ini mengenalku. Seolah-olah aku adalah kepala keluarga di rumah ini. Jika begitu datang, wi-fi tidak bisa tersambung, aku akan merasa takut.. takut". Gombalnya setelah berhasil memperbaiki router wi-fi.
"****** rumahku juga rusak. Bagaimana jika kamu perbaiki?". Ucap Celine mengerjai M X J.
"Baik, aku akan pergi". Sahutnya langsung berdiri dan melangkah pergi, namun baru dua langkah dia berhenti. "Apakah sekarang kamu merasa aku semakin tak tergantikan?". Ujarnya dengan bangga.
"Memperbaiki router, ******, begitu saja sudah tak tergantikan?". Ejek Celine.
"Apakah segi lain bisa tergantikan atau tidak, tergantung kamu memberiku kesempatan". Ucap M X J menggodanya.
"Bermulut manis. Katakan saja kamu suka atau tidak". Tanya M X J mendekatkan wajahnya.
"Cup..Aku suka. Patuh". Celine menarik dasi M X J dan mengecup bibirnya, M X J sangat senang. Saat M X J mau melanjutkan aksi Celine, Celine langsung menjauhkan dirinya. "Makan hot potmu". Ucap Celine menunduk malu.
"Aku perbaiki ******". M X J melangkah pergi dengan senyum bahagia. Celine melihat tingkah M X J ikut tersenyum
**
__ADS_1
"Kamu membawaku ke hutan belantara seperti ini. Apakah kamu ingin menjualku?". Tanya She na memicingkan mata saat Lu Jin membawanya pergi ke sebuah gedung kosong yang sangat besar.
"Apakah kamu terlalu banyak nonton film?. Terlalu banyak imajinasi. Kenapa sebut tempat ini sebagai hutan belantara?. Ini adalah kawasan pusat bisnis". Sahut Lu Jin terkekeh geli melihat sikap she na.
"Kawasan pusat bisnis?. Kamu ingin membohongi siapa?. Begitu kumuh". Ujar She na tidak percaya, namun masih terus berjalan masuk ke dalam.
"Sekarang memang tampak kumuh, namun, sebenarnya tidak lama lagi akan dibangun kembali menjadi pusat komersial". Ujar Lu Jin menjelaskan. She na mengangguk-ngangguk kepalanya. "Ayo..". Lu Jin mengulurkan tangannya pada she na yang langsung di sambutnya. Keduanya berjalan masuk bergandengan tangan, sampai di dalam lampu langsung menyala. Mata she na berbinar melihat apa yang ada di depannya. Tembok yang sudah di gambar oleh Lu Jin dengan cantik.
"Kamu yang mempersiapkannya?". Tanya she na dengan senyum senang.
"Demi kamu...". Sahut Lu Jin menatapnya penuh cinta.
"Kamu sembarangan mencoret di sini, bagaimana jika kamu tertangkap". Tanya she na khawatir dengan Lu Jin.
"Tidak takut". Sahut Lu Jin enteng. "Karena sebidang tanah ini adalah milikku". Sambungnya membuat she na takjub mendengarnya.
"Waw. Bukankah kamu bilang tempat ini akan dirubah menjadi wilayah komersial?. Kenapa kamu masih melukis di sini?". Tanya she na penasaran.
"Benar. Semua yang ada di sini akan dihancurkan dan dibangun kembali. Namun, tembok ini tidak akan. Dipertahankan untukmu, tidak akan dirobohkan". Ucap Lu Jin dengan serius, she na terharu mendengarnya. "Aku yang melukis gambar ini. Aku pernah belajar melukis sewaktu kecil. Namun, lukisanku tidak bagus. Jadi, aku membawamu keluar hari ini adalah ingin kamu rileks. Kamu bisa melukis sesuka hati. Aku suka semua yang kamu lukis. Cobalah". Ujar Lu Jin menyuruh she na coba menggambar di tembok.
"Aku tidak bisa menggambar". Cicit She na malu-malu.
__ADS_1
"Gampang..". Ucap Lu Jin melepas jasnya dan membuangnya sembarang. Lalu Lu Jin mengambil seember cat yang sudah dia siapkan dan menyiramnya ke tembok. Dia mengajak she na mengikuti caranya, she na ketawa senang dan berjalan mengambil ember cat dan menyiramnya ke tembok. Keduanya ketawa senang sambil menyiram cat ke tembok dan menggambarnya sesuka hati. She na menggambar bentuk hati dan lingkaran di punggung Lu Jin sambil tersenyum. Lu Jin membiarkannya, asal she na senang.