CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Mencabut gulma


__ADS_3

Semua orang yang ada disana bersorak dan bertepuk tangan. "Bersama..Bersama...Bersama...". Namun reaksi muka Celine berbeda dengan yang lain. Celine terlihat kesal dan mau marah dengan tindakan M X J.


"Semoga kehidupan kita bisa bergairah dan Sejahtera seperti hot pot". Seru M X J dengan lantang.


"Bagus...". Sorak semua orang.


Celine langsung berlari pergi dengan marah dari tempat itu.


"Zhao Di...Zhao Di...". Seru M X J mengejar Celine pergi.


"Meng xin jie... Apakah kamu kira dua orang bisa hidup bersama jika saling menyukai?". Tanya Celine menggebu-gebu. "Sebenarnya, yang ingin aku katakan adalah, sejak kecil, aku tumbuh dewasa di lingkungan seperti itu. Setelah pergi, aku tidak ingin kembali lagi. Meng xin jie...Aku tidak sudi". Ujar Celine menolak M X J berlalu pergi dengan kesal.


Meng xin jie dengan langkah lunglai pergi ke sebuah restoran hot pot, memesan sepanci sup hot pot.


"Tuan, anda ingin pesan apa lagi?". Tanya pelayan restoran itu. " Tuan...masih ingin pesan apa lagi?l. Tanya pelayan itu lagi karena M X J tidak menjawab, hanya memasang muka sedih. Sampai M X J hanya menggeleng kepala, pelayan itu baru pergi. M X J sangat sedih, tidak menyangka Celine akan menolaknya lamarannya mentah-mentah. Dengan kesal M X J mencabut gulungan daging dan memasukkannya ke dalam panci sup kuah hot pot. M X J makan daging dengan sedih sampai menangis tersedu-sedu, antara merasa sedih dan kepedesan karena kuah hot pot


Keesokan paginya...


She na masih tidur dengan nyenyak bergelung dalam selimutnya sampai ponselnya berdering. She na mengangkatnya dengan mata masih memejam ngantuk.


"Halo...". Ucap she na dengan suara serak tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Aku adalah ibu Lu Jin". Sahut Ibu Lu Jin dari seberang telpon.


"Bibi, apa kabar..?". Ucap Shen na langsung bangun dan duduk di ranjangnya. "Ada apa?. Tanyanya panik.


"Masih panggil Bibi?. Apakah seharusnya kamu ganti panggilanmu?". Ujar ibu Lu Jin dengan lembut.


"Halo..Bibi Zheng, itu...Ada masalah apa?". Tanya she na gugup.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku lihat cuaca hari ini lumayan bagus. Ingin kamu ikut aku keluar berkebun. Apakah kamu bersedia?". Tanya ibu Lu Jin.


"Baik, baik. Aku akan segera pergi kesana". Jawab she na dengan cepat tanpa berpikir.


"Mobil sudah menunggu di bawah rumahmu".


"Baik, Bibi tunggu sebentar". Ujar she na menutup telpon menghela nafas panjang dan segera bersiap-siap pergi bertemu ibu Lu Jin.


Tak lama she na sudah sampai di tempat yang di katakan oleh ibu Lu Jin. Sebuah ladang sayuran yang sangat luas.


"Bibi, Apakah ini juga adalah industri grup Zheng Hong". Tanya she na setelah melihat tempat yang sangat luas menanam berbagai macam sayuran.


"Bukan. Ini adalah milik pribadiku". Jawab ibu Lu Jin sambil tersenyum.


"Dunia orang kaya sungguh menakjubkan. Jika ingin makan sayur, bukankah cukup beli di pasar saja?. Kenapa harus tanam sendiri?". Tanya she na merasa ini sudah berlebihan, bukankah orang kaya kalau mau makan apa saja tinggal perintah saja, untuk apa sampai harus menanamnya sendiri segala.


" Namun, bukankah Lu Jin sering keluar dinas, pergi ke luar negeri, jarang ada waktu untuk pulang makan?". Tanya she na.


"Meskipun tinggal satu hari, satu hari itu juga harus diperhatikan. Apakah kamu tahu?. Putraku kerja di luar, benar-benar sangat capek. Jadi, sandang dan pangan, aku usahakan yang terbaik untuknya. Terutama hidangan yang paling dia pedulikan. Itu lebih tidak boleh disepelekan. Aku tidak peduli dia sembarang makan apa di luar. Namun, begitu pulang ke rumah, yang dimakannya pasti adalah hidangan terbaik dan terenak yang kusiapkan dengan cermat untuknya. Seharusnya nona Gu mengerti, kan?". Ucap Ibu Lu Jin dengan santai sambil tersenyum.


"Bibi... hidangan yang menurut Bibi bagus, belum tentu Lu Jin bisa memakannya dengan senang. Meskipun hidangan yang dimakannya di luar, bukan yang paling mahal dan bagus, namun, pasti bukan sembarang hidangan seperti yang Bibi katakan. Setiap hidangan yang aku masakkan untuknya adalah hidangan yang di masakan dengan penuh ketelitan. Jadi, Bibi tidak perlu khawatir. Lu Jin makan dengan sangat bahagia". Jawab she na tidak mau kalah sambil tersenyum.


"Nona Gu, sangat percaya diri terhadap keterampilan memasakmu".


"Itu tidak berhubungan dengan keterampilan memasak. Ini namanya berpikir di posisi orang lain".


"Berpikir di posisi orang lain. Sangat bagus. Karena Nona Gu begitu peduli terhadap Putraku, maka tinggallah untuk mencabut gulma. Juga termasuk melakukan sesuatu untuknya. Lihatlah belakangan ini, mungkin tanah terlalu subur, sehingga tumbuh sekumpulan gulma yang tidak tahu diri, tumbuh dengan sombong. Jika tidak dicabut, nutrisi dari tanah ini akan habis diserap oleh mereka. Jika begitu, sayuran yang khusus kutanam untuk Putraku, bukankah akan jadi tidak bergizi lagi?. Benarkan nona Gu?". Ujar ibu Lu Jin sengaja menyindir she na.


"Baik, aku bantu Bibi". Sahut she na mengangguk sambil tersenyum di paksa.

__ADS_1


"Baiklah. Lihatlah, sangat kebetulan, sebelum kamu datang, aku diminta menghadiri sebuah rapat. Aku tidak menemanimu lagi. Ini adalah peralatannya. Kamu bisa menggunakan semua ini. Aku akan kembali setelah rapat". Ucap Ibu Lu Jin menunjuk berbagai macam alat yang bisa di gunakan she na, dan berlalu pergi meninggalkan she na di bawah terik matahari


"Mencabut gulma. Cabut ya cabut. Bukan masalah besar". Gumam she na setelah ibu Lu Jin pergi. She na meletakkan tasnya dan menggulung lengan bajunya, lalu mulai melakukan apa yang harus di lakukannya. She na tidak hanya mencabut gulma, dia juga mencabut semua sayuran segar dengan asal.


Keesokan harinya, she na sakit.


"Nana...Nana...". Panggil Lu jin setelah masuk ke dalam rumah, tidak melihat she na.


"Aku ada disini. Uhuk..Uhuk...". Sahut she na dari kamar dengan suara lemah.


"Kamu kenapa?. Kenapa kamu seperti ini?". Tanya Lu jin sambil duduk di depan she na di atas ranjang.


"Sepertinya aku demam?. Sakit kepala". Gumam she na memejamkan matanya.


"Demam?". Ujar Lu Jin menempelkan punggung tangannya ke dahi she na dan mengecup sebentar. "Kamu benar-benar lumayan panas.Ayo, aku bawa kamu ke rumah sakit". Ucap Lu Jin berdiri dan bersiap membantu she na bangun.


"Aku tidak mau pergi ke rumah sakit". Tolak she na dengan cepat.


"Kamu sudah seperti ini?".


"Ke rumah sakit harus keluar uang lagi. Tidak mau".


"Heh, baik. Aku beri kesempatan untuk menggunakan uangku".


"Aku tidak mau". Kekeh she na tidak mau pergi.


"Ayo, patuhlah". Ujar Lu Jin tegas.


"Aku tidak mau pergi". Rengek she na dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2