CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
SAHABAT BAIK


__ADS_3

She na sudah mulai membuat hidangan dari kentang. Dia mengerjakannya sendiri. Mulai dari makanan pembuka hingga makanan penutup. Gak butuh waktu lama, she na sudah selesai membuat semua hidangan dan para pelayan yang mengantarkan makanan ke kamar 1123.


Presdir Lu dan asistennya menikmati semua hidangan yang di buat she na dengan senang.


"Eh, kemarilah". Panggil sang presdir pada asistennya.


"Sepertinya ini kurang pantas!". Ucap sang asisten setelah presdir Lu membisik sesuatu padanya.


Gak lama mesin menu pesanan berbunyi, dan she na segera berlari kesana dan mendapat kertas menu yang sangat panjang. She na tertegun melihatnya. . .


"Baik. Aku akan bertarung denganmu.Haha...". Ucap she na seperti sudah mau gila dengan menu pesanan yang sangat banyak.


Setelah selesai membuat semua pesanan, para pelayan mengantar ke kamar 1123.


Dan setelah semua hidangan sudah di lahap habis oleh sang presdir dan asistennya, sang presdir memesan lagi.


"Ganti 10 menu selanjutnya". Ucap sang presdir melipat tangan di dada sambil tersenyum licik.


Di dapur hotel, she na gak berhenti memasak, karena pesanan kamar 1123 yang gila. She na tau kalau presdir Lu sedang mengerjainya. Mau gak mau harus menerimanya, karena tidak bisa menolak.


Sedangkan di dalam kamar 1123, sang presdir dan asistennya menikmati setiap hidangan yang di buat she na dengan senang dan gembira.


"Enak sekali". Ucap sang asisten mengunyah makanan di mulutnya mau melepas jasnya, tapi di tatap tajam oleh bosnya.


"Sikapku kurang pantas, kurang pantas". Ujarnya langsung memakai kembali jasnya dan kembali menikmati makanan di atas meja dengan ketawa puas.


She na sampai ketiduran di dapur usai memasak hidangan terakhir kamat 1123, karena terlalu capek.


"Apa ini?. Hitam pekat. Apakah ini bisa di makan?". Tanya sang asisten saat membuka tutup labu yang berisi mie hitam.


"Mie tinta sotong". Sahut presdir Lu dengan santai.


"Apakah dia memarahimu berhati hitam?. Ini adalah tebakanku". Ucap asisten setelah mendapat tatapan tajam dari sang bos.


"Saat sedang melarikan diri, sotong baru akan mengeluarkan tinta seperti ini. Itu artinya dia sedang minta ampun". Ucap sang presdir menjelaskan maksud dari mie tinta sotong sambil tersenyum menang.


"Hais...Tidak boleh melepaskannya juga". Ujar asisten dengan kejam.


"Tidak. Sudahlah. Biarkan dia pulang istirahat lebih awal". Ucap presdir Lu yang masih punya hati nurani.

__ADS_1


"Baik, baik, baik. Aku juga harus...aku juga harus pulang dan istirahat lebih awal". Sahut sang asisten.


"Aku suruh dia istirahat dengan baik". sarkas presdir Lu.


"Baik, aku akan menghubungi dia. Hoam...". Ucap asisten menguap berlalu pergi.


**


Esok paginya presdir Lu mencari keberadaan asistennya yang entah kemana.


"Kamu dimana?". Tanya sang presdir di telpon.


"Bos, aku sedang membantumu periksa kolam renang". Ucap sang asisten di telpon. Setelah menutup telpon, sang asisten langsung menyebur ke dalam kolam renang yang sudah banyak wanita seksi memakai bikini menunggunya.


Rena mengintip dari luar kaca kolam renang, melihat ada Richard Meng yang merupakan asisten presdir Lu sedang bermain dengan wanita di dalam kolam renang. Rena tersenyum menyeringai pergi dari sana. Dia berjalan berlenggang-lenggok mau melewati meja petugas kolam renang.


"Nona, silakan tunjukan kartu kamar anda". Ucap petugas kolam renang memghentikan langkah Rena.


Rena dengan senyum genitnya mengambil sebuah kartu dari tasnya, lalu memberikan pada petugas pria itu.


"Halo...Satpam, disini ada seorang wanita ingin merayuku. Datang dan tarik dia keluar". Ucap petugas itu dengan tegas menelpon satpam hotel XX, setelah melihat kartu yang di berikan Rena adalah kartu namanya sendiri.


Raut wajah Rena langsung berubah masam.


Rena pergi ke dapur hotel mencari she na.


"Kak Rena...". Panggil Daguo melihat Rena celingak-celinguk di depan pintu dapur.


"Eh, toa besar(Daguo)". Ucap Rena kaget.


"Kenapa kamu ada disini?". Tanya Daguo.


"Oh, dimana Nana?". Ujar Rena.


"Nana...Barusan dia masih ada disini. Jika begitu, aku tidak tau lagi. Kamu cari pelan-pelan saja". Kata Daguo tidak melihat keberadaan she na.


"Baik, baik, terima kasih". Ucap Rena.


"Sama-sama". Ucap Daguo berlalu pergi.

__ADS_1


Rena masuk menyusuri dapur mencari keberadaan she na, dia bertemu banyak koki yang dikenalnya sedang memasak.


"Eh Rena, lama tidak bertemu!". Ucap beberapa koki menyapa Rena .


"Lama tidak bertemu, kalian kerja saja". Ucap Rena melambaikan tangannya.


"Baik, baik". Sahut para koki.


Rena masuk ke dalam tempat menaruh perabot dapur, dan menemukan she na sedang tidur di bawah kolong meja.


Pelan-pelan Rena mendekati she na, berjongkok dan memanggilnya dengan lantang.


"GU SHE NA...". Panggilnya dengan keras membuat she na kaget dan reflek langsung bangun bergumam.


"Kamat 1123 ingin pesan makanan...PONG...". Kepala she na ke pentok atas meja.


"Ini aku. Sahabat baikku, aku datang menjengukmu". Ucap Rena tersenyum dengan suara manja mengulurkan tangannya ingin membantu she na bangun. She na langsung menepis tangan Rena dan bangun sendiri.


"Sahabat baikku...". Ucap Rena mau memeluk she na.


"Eh eh...Kamu mundur dua langkah. Mundur..Berdiri dengan baik". Seru She na, satu tangannya menunjuk Rena untuk menjauh, satu tangan lagi mengusap kepalanya yang ke pentok.


"Panggil aku sahabat baik, jika ada masalah. Panggil aku Gu she na, jika tidak ada masalah. Ada apa?". Decak she na yang sudah tau tabiat sahabat itu.


"Nana...Aku ingin minta bantuan yang sangat penting!". Ujar Rena dengan lembut.


"Heh...Sudah kuduga. XU ZHAO DI, kamu belum membayar hutang yang timbul karena aku membantumu waktu itu". Dengus She na mengingat kejadian dengan sport mahal itu.


"Jika kali ini kamu membantuku, aku akan bayar setengah hutangnya". Ucap Rena dengan pasti.


"Tidak mungkin. Aku rasa itu bukan hal yang bagus. Aku beritahukan padamu, belakangan ini aku sudah sangat sial. Cari orang lain saja". Ucap she na mau kembali ke kolong meja, namun tangannya di tahan Rena.


"Eeh, lepaskan, lepaskan, lepaskan". Seru she na melotot melepaskan tangannya.


"Nana...Bantuan kecil ini pasti berada dalam lingkup kemampuanmu". Ucap Rena membujuk dengan lembut.


"Meskipun bantuan ini berada dalam lingkup kemampuanku, kamu juga berada di luar lingkup bantuanku. Aku pamit dulu". Ucap she na membalas Rena saat meminta bantuannya dulu, lalu langsung kembali ke kolong meja dan berbaring memejamkan mata.


"Ehem...Gu she na. Jika kamu membantuku, aku akan bayar biaya ganti rugi mobilnya". Ucap Rena lantang, membuat she na langsung membuka matanya dan tersenyum senang, lalu bergegas keluar dari kolong meja langsung memeluk Rena.

__ADS_1


"Ayuh...Sahabat baikku, My Best Friend. Katakan saja". Ucap she na lembut dengan senyum manisnya.


"Alangkah baiknya, jika seperti ini dari tadi. Ayo". Sungut Rena, lalu mengajak she na keluar yang masih memeluknya dari samping.


__ADS_2