
"Dimana orangnya?".
"Sudah pergi". Jawab ibunya santai.
"Kenapa?".
"Dia bilang agak lelah, ingin pergi dulu".
"Apakah ibu puas dengan penampilannya?". Tanya presdir Lu dengan tenang.
"Lumayan". Jawabnya singkat.
Malamnya sang presdir datang ke rumah she na bertanya kejadian tadi pagi. She na menceritakan semua pada sang presdir.
"Ibuku benar-benar menanyakan pertanyaan seperti itu padamu?". Tanya sang presdir gak percaya.
"Hm, aku merasa itu sangat normal. Sebagai ibumu, dia membantumu untuk menilai seorang gadis, itu sangat dapat di mengerti. Karena ada banyak wanita yang mendekatimu karena uangmu. Hanya saja, ibumu tiba-tiba bilang ingin memberikanku uang, aku tetap merasa agak aneh". Jawab she na.
"Sepertinya kesanmu terhadap ibuku tidak terlalu bagus!".
"Tidak seperti itu. Lumayan bagus, serius. Tidak munafik, berkata langsung, sangat keren". Ucap she na menunjukkan jempolnya.
"Keren?". Sang presdir menautkan alis mendengarnya.
"Sudahlah, kamu cepat pulang. Jika tidak, lain kali ibumu akan memberikanku uang lagi". Usir she na. "Sebenarnya, jika aku bisa mendapatkan banyak uang setelah meninggalkanmu, transaksi ini bisa di pertimbangkan juga". Goda she na.
"Jika kamu punya nyali, katakan sekali lagi". Ancam sang presdir menatap tajam.
"Itu tergantung pada harga dirimu. Berdasarkan status kekayaanmu, bagaimana pun juga, seharusnya ada 10.000 hingga 20.000, kan?". Ucap she na membuat presdir Lu langsung berdiri melangkah pergi. "Aku sudah salah, aku salah. Aku bercanda, aku bercanda". Ujarnya dengan cepat mengejar sang presdir. Saat she na memegang lengannya, sang presdir berbalik dan menggendong she na ke atas meja dan menekannya.
"Lain kali tidak boleh berkata seperti itu lagi".
"Baik". Jawab she na mengalungkan tangannya di leher presdir Lu. Keduanya saling menatap, makin lama makin dekat, hingga hidung sudah saling menempel. Saat bibir keduanya mau menempel..Ciiitt........Bunyi air mendidih menyadarkan keduanya, dan menjauhkan wajahnya. Namun tangan she na masih melingkar di leher sang presdir.
"Airnya sudah mendidih. Aku pergi matikan apinya".
"Apakah kamu ingin turun dulu?". Tanya sang presdir.
"Kalau begitu, ayo kita pergi bersama". Ucap she na memeluk presdir setelah berpikir sebentar.
"Baik..". Sang presdir menggendong she na dengan kakinya melingkar di pinggang sang presdir berjalan ke dapur mematikan kompor.
**
__ADS_1
Keesokan harinya adalah hari kompetisi penentuan koki utama baru di hotel XX.
Beberapa pelayan membawakan menu hidangan yang di buat oleh para koki yang ikut kompetisi ke sebuah ruangan yang terdapat Cheng ziqian, Li Man, dan manager Shen.
"Presdir Li, kita sudah boleh mulai". Ucap Cheng ziqian setelah hidangan sudah di letakkan di meja. Ketiganya mencicipi semua hidangan tersebut dengan tenang.
"Presdir Li, manager Cheng..Tidak membiarkan kalian berdua memilih di saat mencicipi hidangannya, karena berharap kalian dapat memilih sebuah hidangan yang benar-benar berkesan setelah selesai mencicipinya. Juga berharap pemimpin Zheng dapat menyukai". Ucap manager shen memberikan buku penilaian pada Li Man dan Ziqian.
Sementara di dapur, para koki yang ikut kompetisi menunggu dengan cemas.
"Koki Liu, bagaimana?. Apakah kamu percaya diri?". Tanya koki wang.
"Percaya diri atau tidak, bukankah tidak penting?. Posisi penanggung jawab kali ini pasti milik koki Yu". Sahut koki Liu.
"Benar. Kali ini adalah persaingan adil. Setiap orang punya kesempatan". Ucap koki Yu bijak.
"Iya.. Justru kali adalah persaingan adil, sehingga kami turut ikut serta. Hehe..". Ujar koki wang.
"Ya..Kalian hanya ikut serta, jangan mengingkari janji ya. Jika ada yang terpilih, harus serahkan kesempatan itu padaku". Sahut she na.
"Yoo..Sepertinya Gu tidak ingin hanya ikut serta saja ya?. Tapi, jika kamu ingin terpilih, itu tergantung pada kemampuanmu". Ucap koki Yu tersenyum meremehkan.
"Benar. Koki Yu adalah koki utama dapur kita. Dapur kita mengandalkan koki Yu. Koki Yu, kamu harus traktir kami setelah menang". Timpal koki wang.
"Sudah selesai makan..". Seru Daguo berlari masuk. "Kalian di panggil".
"Ayo, semangat, semangat". Seru koki wang dan koki Liu melangkah pergi.
"Koki Wong, apa yang sedang kamu pikirkan?". Tanya she na.
"Aku sedang berpikir, jika aku terpilih, setelah mendapatkan bonus ini, aku akan membawanya pergi bertamasya. Pergi keliling dunia, melihat bintang dan bulan bersama". Sahut koki wong.
"Hehe...Siapa dia?". Tanya she na kepo.
"Kamu tidak perlu mempedulikannya". Jawab koki wong cuek melangkah pergi.
"Aku tidak perlu mempedulikannya?". Gumam she na ikut pergi.
Disinilah mereka sekarang, di ruangan terdapat Cheng ziqian, Li Man dan manager shen. Kelima koki berdiri dengan gugup menunggu hasilnya.
"Presdir Li...". Panggil manager shen meminta buku penilaian di tangannya.
"Eh...Para koki, setelah di cicipi dan di evakuasi oleh presdir Li, Manager Cheng dan aku, kandidat koki utama dalam perjamuan kali ini sudah terpilih". Ucap menager shen menatap kelima koki di depannya. "Dia adalah.....GU SHE NA". Cheng ziqian langsung tepuk tangan di ikuti Li Man dengan enggan bertepuk tangan dan juga koki lainnya. She na tersenyum pada semuanya.
__ADS_1
Di ruang rapat, presdir Lu dan ibunya sedang mengikuti rapat dengan para karyawannya.
"Target proyek kita terbagi atas penentuan posisi hotel dan konsep hotel. Kelompok usaha, wisata budaya. Selanjutnya aku jelaskan konsep hotel kami secara spesifik". Ucap seorang karyawan mempresentasikan proposalnya. "Kami menjadikan hiburan orang tua-anak dan wisata budaya sebagai tumpuan. Lalu berkomitmen untuk membangun hotel menjadi Resort Rekreasi".
Ditengah rapat presdir Lu mendapatkan pesan dari she na.
'Aku sudah terpilih. Malam nanti kita makan bersama. Aku pilih tempatnya'.
"Hanya kita berdua?". Balas sang presdir.
'Iya..'. Balas she na dengan cepat.
Sang ibu melihatnya main ponsel saat sedang rapat menatap tajam. Sang presdir meletakkan ponselnya dan lanjut melihat presentasi di depan.
Sedangkan di dalam dapur, she na lagi bersenandung ceria memenangkan kompetisi ini.
"Semuanya sudah bekerja keras, sampai jumpa". Ucap she na melangkah pergi dengan senang.
"Kak she na, tunggu aku...Semoga bekerja keras". Seru Daguo mengikuti langkah she na pergi.
"Koki utama sudah pergi, sedang apa kalian disini?". Sindir koki Yu dengan muka kesal.
"Koki Yu..Bukan aku ingin mengkritikmu, kamu terlalu dermawan. Kalah dari seorang gadis kecil. Kamu...Apakah kamu benar-benar tidak merasa marah?". Sahut koki wang mengompori.
"Apa gunanya marah?. Dia punya pendukung". Tuduh koki Yu sambil membersihkan alat masaknya.
"Pendukung?". Tanya koki Liu.
"Apakah kalian masih ingat dengan tamu di kamar 1123?". Tanya koki Yu, semuanya mengangguk tanda ingat. "Pada akhirnya, dia mengakuisisi hotel kita, menjadi Bos dari Bos kita. Itulah sebabnya Gu she na bisa di pecat beberapa kali dan masuk lagi. Terakhir hotel mengeluarkan surat Perekrutan, baru bisa merekrutnya kembali". Ucapnya.
"Ooh...Ternyata mereka berdua memiliki hubungan seperti ini?". Tanya koki wang.
"Eh, eh...Aku tidak mengatakannya,ya".Elak koki Yu dengan cepat.
"Benar juga. Dia adalah Bos besar. Menentukan siapa yang bertanggung jawab atas menu, bukankah itu sangat gampang?. Jadi, kita berusaha sekeras ini, ternyata hanya menemani Gu she na memenangkan pemilihan kali ini?". Timpal koki Liu dengan kesal.
"Dalam hatiku, koki Yu adalah yang paling hebat. Aku tidak peduli dengan hal lain". Sahut koki wang.
"Lagipula, status koki utamanya itu hanya awal mulanya saja. Pada akhirnya, harus pemimpin merasa puas saat memakannya, itu baru terbilang berhasil". Ujar koki Yu.
"Dia adalah ibu dari Bos besar. Apa mungkin dia tidak mendengar kata-kata putranya?. Ayo pergi" Timpal koki Liu dengan malas.
"Jangan marah lagi. Ayo, ayo, ayo, aku traktir malam ini. Kita pergi minum arak, ayo...". Ajak koki wang menepuk pundak koki Yu lalu melangkah pergi. Koki Yu berdiri diam dengan tatapan tajam memikirkan sesuatu, tak lama kemudian dia juga melangkah pergi dari dapur hotel.
__ADS_1