
Setelah mengantar she na pulang, Lu Jin kembali ke villa mewahnya. Lalu dia membawa satu koper kecil berjalan keluar lagi.
"Lu Jin..Kamu sudah pulang?". Tegur Ibunya.
"Ibu..Aku lupa memberitahumu". Sahut Lu Jin dengan santai.
"Masalah di Vancouver sudah selesai ditangani?". Tanya ibunya dengan wajah tegas.
"Sudah ditangani dengan sangat sempurna". Sahutnya sambil tersenyum.
"Kamu ingin pergi ke mana?". Tanya ibunya melihat Lu Jin membawa koper.
"Ingin tinggal di luar beberapa hari, aku ada urusan lain". Sahut Lu Jin.
"Ingin pergi menjaga Nona Gu atau kakeknya?". Sinis Ibunya. Lu Jin tidak langsung menjawab, dia melihat ibunya dengan lekat.
"Kenapa Ibu tahu tentang kakeknya?".
"Dia adalah gadis yang disukai Putraku, tentu saja aku harus memperhatikannya. Lagi pula, kamu sudah meninggalkan pekerjaan, untuk pergi menjadi menantu dan tinggal di rumahnya. Bagaimana pun juga, aku harus pergi ke rumahnya untuk melihat apakah pantas sebagai Putraku untuk berusaha susah payah seperti ini". Sindir ibunya menghina she na.
"Ibu.. apa saja yang telah ibu lakukan?". Tanya Lu Jin menghela nafas panjang.
"Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya pergi lihat kondisinya". Sahut ibunya dengan santai.
"Ibu bilang kepada Gu she na, Liu Bang dan Xiang Yu, siapa yang akan aku pilih. Ibu juga memberinya kode bahwa dia tidak bisa menjadi Lu Zhi, hanya bisa menjadi selir Yu, benar kan?". Ucap Lu jin dengan senyum seringai.
"Dia bertanya padamu?. Apa yang kamu katakan?. Apakah jawabanmu sesuai dengan keinginan dia?".Sinis ibunya.
"Ibu, dalam hal pekerjaan, aku tidak pernah mengecewakan Ibu. Namun, aku harap Ibu jangan ikut campur dalam masalah asmaraku. Ibu juga tidak bisa ikut campur. Apapun yang ibu lakukan, semua itu tak dapat mempengaruhi perasaanku terhadap Gu she na". Ucap Lu jin menegaskan dan berbalik pergi.
"Lu Jin...". Panggil Ibunya membuat Lu Jin berhenti melangkah. "Aku harap kamu Sadarkan dirimu. Kamu harus ingat, pekerjaan tidak perlu cinta. Bertindak secara emosional hanya akan menggagalkan karirmu". Sentak ibunya.
"Mungkin perkataan Ibu benar. Namun, aku tidak ingin menjadi mesin pekerja yang tidak berperasaan".Sahut Lu Jin berjalan pergi tanpa melihat ibunya. Ibunya menatap kepergian putranya dengan wajah marah.
Di rumah sakit, kakek Gu mendapat surat dari ziqian.
"Maaf kakek. Hal yang ku janjikan sebelumnya, mungkin tidak dapat ku tepati. Namun, aku percaya She na pasti akan bertemu pria yang lebih baik dariku, memiliki masa depan yang lebih baik. Kakek, jagalah kesehatan. Semoga kakek cepat sembuh". Kakek menghela nafas panjang setelah membaca isi surat ziqian.
she na juga mendapat surat dari ziqian saat berada di hotel.
"She na.. Terima kasih selama ini kamu memberiku kenangan yang indah. Aku tahu aku punya banyak kekurangan. Jadi, aku memutuskan untuk belajar di luar negeri. Kamu harus menemukan kebahagiaanmu sendiri. Jaga dirimu dengan baik". She na sedih setelah membaca isi surat ziqian. Menghela nafas memandang ke atas langit, mengenang kembali masa kecilnya dengan ziqian hingga sekarang. Ziqian selalu ada untuknya saat susah maupun senang.
__ADS_1
Tok...Tok...Tok...Lu Jin mengetuk pintu kamar rawat kakek Gu.
"Masuklah..". Sahut kakek dari dalam.
Ceklek...
"Hai...Kakek. Aku datang untuk menjenguk kakek". Ucap Lu Jin berjalan masuk.
"Baik". Sahut kakek mengangguk. " Bawa barang juga?". Tanyanya melihat Lu Jin menenteng dua paper bag dan 1 termos sup.
"Beberapa suplemen dan teh kesukaan kakek". Sahut Lu Jin.
"Aku sudah tua. Bisa panas dalam jika makan terlalu banyak suplemen".
"Iya. aku juga suruh koki Hotel XX buat sup untuk kakek". Ujar Lu Jin.
"Bukan kamu yang memasaknya sendiri?".
"Bukan..".Sahut Lu jin canggung.
"Baik, letakkan disana saja". Kakek Gu menunjuk nakas di samping ranjangnya.
"Baik..". Lu Jin menaruh barang bawaannya dan duduk dikursi samping ranjang kakek Gu.
"Tentu saja". Sahut Lu Jin pasti.
"Aku merasa kursi itu, sepertinya letaknya salah". Ucap kakek Gu menunjuk kursi di dekat sofa.
Lu Jin langsung berdiri dan menghampiri kursi itu.
"Pindahkan?". Tanyanya.
"Pindah agak ke sini, pindah ke sini". Lu Jin memindahkan kursi itu sesuai arahan kakek. "Iya, iya, iya. Sedikit agak ke belakang".
"Sebelah kanan?".
"Benar. Majukan sedikit".
"Apakah seperti ini sudah pas?".
"Ai ya.. Maksudku bukan itu?. Yang besar itu". Ucap kakek Gu menunjuk sofa besar itu, dia sengaja mengerjai Lu Jin.
__ADS_1
"Baik". Lu Jin beralih ke sofa besar di samping bersiap menggeser sofa itu. "Kakek ingin...".
"Arahnya... putarkan, putarkan". Perintah kakek Gu. " putarkan sedikit kemarin. Hadap ke jendela".
"Baik..". Lu Jin menggeser sofa menghadap kw jendela.
"Pot bunga itu..".
"Kakek ingin...". Tanya Lu Jin mengambil vas bunga di atas meja.
"Bukan vas bunga itu. Yang ini". Tunjuk kakek pot bunga besar dekat jendela. "Keluarkan tenagamu". Perintah kakek melihat Lu Jin memindahkan pot bunga dengan menyeretnya ke depan pintu toilet.
"Sudah pas?". Tanya Lu Jin.
"Ai ya, Xiao Lu.. Kamu putar dan pindah sana-sini, aku jadi pusing. Kembalikan ke tempat semulanya". Pinta kakek lagi. Lu Jin segera menempatkan kembali semuanya ke tempat semula dengan cepat. Setelah selesai Lu Jin kembali duduk di samping ranjang kakek.
"Pulanglah jika kamu ada urusan". Ucap kakek memejamkan matanya.
"Baik. Kakek jangan lupa minum sup. Sampai jumpa". Lu Jin membungkuk sebentar lalu melangkah keluar. Setelah mendengar pintu di tutup, kakek Gu membuka matanya melihat ke arah pintu dan mengangguk-ngangguk.
**
"Dua hari nanti ada pesta Koktail, kamu dan Xiao Zheng harus ikut. Suruh dia perhatikan penampilannya". Ujar pemimpin Lu pada istrinya.
"Kamu belum sembuh, jangan pergi. Untuk apa memberinya muka?". Sahut istrinya tidak suka.
"Aku tetap harus bicara dengannya. Jika dibandingkan dengan grup Ming Ting, tubuhku tidak terlalu penting".
"Tak kusangka dia begitu kejam. Sama sekali tidak memperdulikan hubungan. Begitu berdarah dingin. Persis sama dengan ibunya". Dengus istrinya mengumpat Lu Jin.
"Jangan mengatakan Lu Jin seperti itu. Segala sesuatu ada sebab dan akibatnya. Aku yang bersalah terlebih dahulu". Ucap pemimping Lu tidak senang istrinya mengumpat Lu Jin.
"Sudah seperti ini, kamu masih memihak pada mereka. Kamu menganggapnya sebagai putramu. Aku rasa, dia sama sekali tidak menganggapmu sebagai ayah". Omel istrinya berjalan keluar. Pemimpin kesal dengan ucapan istrinya.
'Warung Tumis Sedunia'.
"Eh, Kenapa kamu datang?". Ucap she na kaget melihat Lu Jin ada di depannya.
"Bukankah kamu sudah berjanji akan istirahat beberapa hari di rumah?. Kenapa kamu datang kemari?". Decak Lu Jin kesal.
"XX adalah wilayahmu, kamu suruh aku istirahat, tentu saja aku harus nurut. Namun, ini adalah wilayah kakekku". Ucap she na.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku. Kamu salah paham. Aku hanya ingin membantumu. Aku bisa mencari dua koki dari XX untuk membantumu". Lu Jin menawarkan bantuannya.
"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri kamu tidak perlu ikut campur". Tolak she na langsung.