CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Tunanganku


__ADS_3

"Aku perkenalkan kepada kalian semua, ini adalah tunanganku, Nona Gu she na..". Ucap Lu Jin membuat she na membelalakkan matanya tidak percaya akan apa yang di dengarnya. Lu Jin tersenyum dan memeluknya dengan erat. Semua orang bertepuk tangan dengan kamera yang terus memfoto mereka di atas panggung. She na membalas pelukan Lu Jin sambil tersenyum. Setelah acara pengenalan she na, Lu Jin membawa she na turun dan mengenalkan she na pada rekan bisnisnya. Lu Jin terus merangkul pinggang she na seakan kalau lepas she na akan melarikan diri.


"Ketua Asosiasi Lu, selamat". Ucap seorang rekan bisnisnya.


"Terima kasih..". Ucap Lu Jin sambil tersenyum dengan she na.


"Bibi..".


"Ibu..". Ucap She na dan Lu Jin saat ibunya menghampiri dengan menekuk wajahnya.


"Keluar dulu denganku..". Pinta ibunya datar dengan tatapan tajam.


"Apakah kamu bisa berada di sini sendirian?". Tanya Lu jin pada she na.


"Bisa. Kebetulan aku bisa pergi makan sedikit". Sahut she na sambil tersenyum.


"Tunggu aku. Aku akan segera kembali". Ujar Lu Jin, She na mengangguk patuh. Setelah Lu Jin pergi, she na berjalan ke meja yang penuh dengan makanan manis. Dia tersenyum senang melihat berbagai macam makanan di sana. Tiba-tiba ada menepuk pundaknya dari belakang. Saat she na membalik badan melihat siapa yang menepuknya, dia terkejut.


"Kamu...". Ujar she na sambil tersenyum melihat Lu Zheng di depannya.


"Kenapa kamu ada di sini dan berpakaian seperti ini?". Tanya she na melihat tampilan Lu Zheng dengam setelan jas yang keren.


"Jangan diungkit lagi. Aku dipaksa oleh ibuku". Jawab Lu Zheng dengan jengah. She na hanya membulatkan mulutnya mendengar ucapan Lu Zheng. "Malah kamu yang membuatku terkejut. Tak kusangka kamu adalah tunangan kakakku". Ujarnya.


"Kakakmu?. Lu Jin adalah kakakmu?". Tanya she na melotot.


"Satu Ayah, beda Ibu. Ayahku menikah dengan ibuku setelah berpisah dengan Bibi Zheng". Sahut Lu Zheng dengan santai.


"Namun, kalian berdua tidak terlalu mirip. Lu Jin agak rewel, kamu lumayan ramah". She na membedakan sifat kedua kakak adik itu.

__ADS_1


"Aku tak dapat dibandingkan dengan kakakku. Sejak kecil, kakakku menerima pelatihan yang sangat ketat". Ujar Lu Zheng menceritakan apa yang pernah dilihatnya waktu kecil, saat mengikuti ayahnya ke perjamuan bisnis, tidak sengaja dia melihat ibunya Lu Jin mengajari Lu Jin menghafal pidato yang sangat sulit.


"Ck, tidak disangka Lu rewel punya masa lalu seperti itu". She na merasa prihatin dengan Lu Jin.


"Namun, aku tidak ingin hidup seperti kakakku. Terlalu Lelah. Lihatlah semua orang di pesta ini. Semuanya terlalu palsul". Ujar Lu Zheng membuat she na bingung. "Eih, lihat ke arah jam 11". Pintanya.


"Arah jam 11?". She na melihat arah yang di bilang Lu Zheng dan melihat ada dua orang wanita sedang ngobrol sambil ketawa.


"Jangan lihat mereka akrab seperti sahabat saat berbicara. Begitu selesai ngobrol dan berbalik badan, pasti tidak akrab lagi". Ucap Li Zheng.


"Mana mungkin?". She na tidak percaya. Mereka berdua terus memperhatikan dua wanita itu berbincang. Saat seorang wanita itu berbalik badan dan berjalan ke arah lain dengan muka jutek, She na membelalakkan matanya melihat Lu Zheng. "Ternyata benar". Ucap she na tersenyum geli.


"Jadi, aku memutuskan untuk fokus pada jurusanku, menjauhi arena bisnis seperti ini". Ujar Lu zheng melihat orang-orang dalam pesta bisnis ini.


"Jurusan?. Memperbaiki mobil?". Tanya she na mengerutkan alis.


"Yang aku perbaiki bukan mobil biasa". Lu zheng mengambil sebuah mobil Tamia dari sakunya. "Bagaimana?. Apakah kamu ingin main?". Tanyanya dengan senyum.


"Saat ditangkap Ibuku ke sini, aku ambil dari pabrik mobil. Jreng... Jreng...Apakah kamu ingin main?. Aku ajari..". Tanyanya lagi menghidupkan tombol on/off Tamianya.


"Baik...". Jawab she na tersenyum senang.


**


"Kenapa dia?". Tanya ibu Lu Jin saat sudah berada di luar.


"Karena aku akan sangat bahagia saat bersama dengannya". Jawab Lu Jin dengan santai. "Aku yakin Ibu juga berharap kelak putramu dapat hidup dengan senang dan bahagia. Benar, kan?". Tanya Lu Jin balik.


"Apakah kamu bersedia menanggung semua konsekuensinya?". Bukan menjawab pertanyaan putranya, malah ibunya bertanya balik.

__ADS_1


"Tentu saja, aku bersedia". Jawab Lu Jin dengan pasti. "Aku juga berharap Ibu dapat mendukung keputusanku". Ucapnya sambil tersenyum.


Ibunya tidak menjawab, dia hanya menatap putranya dengan lekat. Lalu melangkah pergi, namun baru beberapa langkah dia berhenti karena di depannya ada Lu Ming Ting, mantan suaminya.


"Xiao Jin..Zheng Hong...Apa kabar?". Sapa Lu Ming Ting dengan senyum ramah. Namun Ibu Lu Jin langsung melewatinya tanpa berkata apa pun. Lu Jin menatap sedih melihat ibunya.


"Hari ini, ayah mengucapkan selamat dengan tulus kepadamu karena telah menemukan pasanganmu. She na adalah gadis yang baik". Ujarnya pada Lu Jin.


"Terima kasih..". Ucap Lu Jin dengan datar.


"Hal lain adalah masalah aku dan ibumu adalah masalah orang tua. Namun, di dalam pasar, Ming Ting dan Zheng Hong sangat bertentangan, kurang dalam segi saling melengkapi. Meskipun suatu hari kamu memimpin Ming Ting, itu juga hanyalah usaha yang sia-sia. Aku sarankan, kamu Jangan melakukan itu". Ujar ayahnya berharap Lu Jin tidak menyerang perusahaannya lagi.


"Oh ya?. Namun, aku tidak berpikir seperti itu. Sumber daya group Ming Ting di Tiongkok punya sedikit kegunaan bagi kami untuk membuka pasar domestik. Terhadap Departemen tumpang tindih itu, itu mudah ditangani. Dibongkar dan dijual. Tidak rugi". Sahut Lu Jin dengan datar dan dingin.


"Fondasi yang dibangun oleh grup Ming Ting selama ini, tidak bisa kamu ganggu sesuka hati". Sentak ayahnya dengan kesal.


"Jika begitu, lihat saja". Ucap Lu Jin dengan enteng melangkah pergi.


"Paling-paling, aku serahkan beberapa proyek penting ke orang lain dengan harga diskon. Tunggu dana kembali, lewat masa pembayaran hutang, tunggu tenagaku pulih, maka semua usahamu akan sia-sia". Ujar Lu Ming Ting dengan sombong.


"Proyek yang kamu bilang itu adalah Fu Tian dan Guan Shan?". Tanya Lu Jin melangkah kembali ke hadapan ayahnya. "Mungkinkah pemandangan Qin Yun yang dikerjakan oleh Chang Jiang Hi-Tech?. Kenapa aku dengar bahwa Chang Jiang Hi-Tech ingin melepaskan proyek itu setahun yang lalu, dan belum ada yang berani mengambil alih?". Ucap Lu Jin dengan senyum meremehkan. " Usaha aku tidak sia-sia. Ini baru saja dimulai". Lu Jin menatap tajam pada setelah mengingat kejadian waktu kecil, ayahnya lebih memilih wanita lain daripada dia dan ibunya. Lu Jin berlalu pergi meninggalkan ayahnya yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Di dalam ruang pesta she na dan Lu zheng sedang mengejar mobil Tamianya.


"Dewa tempur, maju..". Seru she na.


"Angkat kaki!. Jangan injak mobilku!. Jangan injak mobilku!. Seru Lu Zheng mengejar mobil Tamianya dengan she na, sampai mobil Tamia itu menabrak sepatu hitam berkilap.


"Untung...". Ujar she na mengambil mobil Tamia itu tanpa melihat siapa yang ada di depan.

__ADS_1


"Kak...". Panggil Lu Zheng mengambil Mobil Tamianya dari tangan she na dengan cepat. "Kak, salah aku tidak mengendalikan mobilku dengan baik. She na membantuku mengejar mobil". Ucap Lu Zheng dengan gugup takut she na di marahi oleh Lu Jin. She na menunduk dalam diam setelah melihat Lu Jin.


"Lain kali ganti panggilanmu. Panggil kakak ipar. Ayo, kita pulang". Ucap Lu Jin menggandeng tangan she na melangkah pergi.


__ADS_2