
TING...Ada pesan masuk ke ponselnya.
"(Malam ini kamu pulang jam berapa?. Aku buat kacang kenari madu untukmu dan banyak hidangan baru. Setelah itu, aku juga belajar seruling, Erhu juga sudah bisa 2 lagu, tapi aku tidak tera bayaran. Aku jadikan sebagai pengantar makanmu. Hmm, kalau kamu bisa mendengarnya sampai habis, hehehe...itu juga sangat menegangkan)". She na mengirim pesan suara, sang presdir tersenyum tipis mendengar suara she na.
"(Oh ya, hari ini, hari ini hari jumat, mungkin di luar sana agak macet. Jadi kamu harus berangkat lebih awal. Asal kamu sudah naik mobil langsung kirim pesan padaku. Aku akan mulai masak. Kalai besok kamu tidak bekerja, aku antar kamu pergi makan.....Kamu pulang aku baru kasih tau kamu. Hati-hati di jalan)". Ucap she na dengan hati senang mengirim pesan, sedangkan sang presdir sudah lesuh merenungkan apa yang akan dia putuskan.
"(Malam ini aku traktir kamu makan)". Balas sang presdir.
"Dia sedang mengajakku?. Kami akan kencan". Ucap she na senang menerima pesan presdir Lu. Lalu dia membalas pesannya.
"(Baik. Kalau begitu, kita janjian di restoran mana?. Restoran di Suhai tidak tau apakah cocok denganmu atau tidak, kamu sangat pemilih)". Balas she na dengan perhatian.
Sang presdir sangat stres sekarang, dia menyugar meremas rambutnya dan membalas pesan she na dengan perasaan tertekan.
"(Temlatnya aku yang pesan)".
Malamnya mereka berdua bertemu di restoran yang sudah di pesan presdir Lu. Tuan Lu, silakan di nikmati!". Ucap pelayan menuangkan wine dan berlalu pergi.
"Aku sengaja buat kacang kenari madu untukmu". Ucap she na meletakkan satu toples kacang kenari madu di atas meja.
"Aku takut kamu tidak terbiasa makan hidangan di luar, bawakan khusus untukmu. Cicipilih". She na membuka tutup toples dan menyuruh sang presdir mencobanya.
Sang presdir melihat she na dengan tatapan sendu.
"Tidak terima bayaran, gratis". Ucapnya cengengesan. Sang presdir tersenyum melihatnya dan mengambil kenari madu kemulutnya.
"Bagaimana?. Aku takut kamu tidak bisa makan yang manis, saat membuatnya aku mengurangi sedikit gula. Maniskah?". Tanya she na tidak menyadari perubahan mimik wajah sang presdir.
"(Tempatmu bukan disini. Sebaiknya pulang ke posisimu sendiri lebih awal)". Presdir Lu melamun mengingat ucapan Li Man. "Kamu ingin kembali kerja di hotel XX?. Aku akan mengaturnya". Bukannya menjawab, sang presdir malah bertanya.
"Aku masih harus masak untukmu. Masalah kerja bicarakan lagi lain kali". Ujar she na tersenyum. "Kamu harus makan ini yang banyak, mereka bilang ini untuk suplemen otak. Bagus untuk kesehatan, kamu cicipi lagi".
"Kelak apabila butuh bantuan dalam hal apa pun, katakan saja padaku. Aku bisa membantumu semuanya".
Setelah diam sesaat, she na bertanya.
"Kenapa kamu tiba-tiba baik padaku?. Aku tidak ingin berhutang budi padamu. Tapi kami rakyat jelata begitu, kamu berbuat baik padaku, aku juga baik padamu. Katakanlah, apa syaratnya?. Apakah ingin makan beberapa porsi lagi ke rumahku?. Kamu tinggal katakan saja. Karena kamu sudah mengatakannya, kamu ingin makan apa?. Aku bisa pergi ke pasar pilih untukmu". Ucap she na dengan polosnya.
"Kamu tidak hutang padaku. Kamu tidak usah masak untuk bayar hutang lagi. Sudah lunas, tidak berutang lagi". Ujar sang presdir serasa ditusuk jarum, sakit.
"Aku sudah katakan, kalau kamu ingin makan, kamu datang saja makan di rumahku sesuka hati. Gratis". Ujar she na tersenyum nyengir.
"Udang Acallops dengan markisa. Silakan di nikmati". Ucap pelayan mengantar hidangan mereka.
__ADS_1
"Terima kasih". Ucap she na.
She na langsung memotong udang dan memakannya.
"Ini udang oriental, bukan udang windu. Dekorasi begitu bagus, 2 jenis udang saja tidak bisa membedakannya. Ck, sudah harus di tutup". Ucap she na dengan berbisik. Sang presdir tersenyum sesaat mendengarnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu". Ucap sang presdir dengan serius.
"(Apakah ingin melakukan pengakuan padaku?)". Ucap she na dalam hati tersenyum senang.
"Mulai hari ini, aku tidak akan pergi makan di rumahmu lagi. Hutang kita sudah lunas. Aku masih ada pekerjaan, mengerti?".
"Ak..Aku kurang mengerti. Mengapa tidak bisa makan ke rumahku?". Tanya she na mengerutkan alis.
"Masak untuk bayar utang adalah lelucon yang aku buat, maaf. Kita berdua tidak saling berutang. Pesawat penerbanganku malam ini, akan berangkat sebentar lagi". Ucap sang presdir membuat mata she na langsung merah menggenang mendengarnya. Dengan cepat dia menghapus air matanya yang jatuh tanpa permisi.
"Bill...". Seru she na pada pelayan.
"Tidak usah, aku traktir".
"Karena tidak saling berutang, kita bagi 5:5". Ucap berusaha agar suaranya tidak gemetar.
"Tuan Lu, silakan tanda tangan sekarang". Ucap pelayan memberikan nota bayaran.
Saat pelayan mau pergi, she na langsung mengambil Bill dari tangan pelayan dan melihatnya nominalnya.
"Tidak...Kami hanya pesan 3 hidangan. 2 piring Acorn Ham juga hanya 1.000 yuan. Ikan salmon..Ikan salmon lelang juga hanya 550 yuan/pon. Dan kamu ini.....hiks...". She na sudah tidak menahan tangisnya lagi.
"Udang windu ini bukan udang windu, ini udang oriental....Maaf". Ucap she na pada pelayan. Dia merasa bersalah karena meluapkan emosinya pada pelayan. Sang presdir mengibaskan tangannya menyuruh pelayan pergi.
"She na..Nilai suatu barang, terkadang bukan nilai barang itu sendiri". Ucap sang presdir dengan lembut.
"Aku mengerti. Yang aku buat tidak berharga".
"Bukan ini maksud aku..."
"Tidak apa. Semoga selamat sampai tujuan!".Ujar she na berlalu pergi dalam tangisnya.
Sampai di rumah she na menangis histeris sampai tertidur, dan paginya bangun dengan mata bengkak.
"Aku ketiduran. Artinya aku tidak terjebak. Gu she na, ini hanya sebuah transaksi". Gumamnya menguatkan diri.
She na pergi ke pasar dengan muka dan rambut kusam.
__ADS_1
"Gu she na sudah datang, jangan lihat lagi, jangan lihat...". Seru kakak zhang penjual makanan laut pada teman di sebelahnya.
"Ai ya, kenapa kamu takut padanya?". Sahut temannya.
"Kamu baru datang tidak paham. Anak gadis ini, asalkan sedang bad mood pasti datang ke pasar potong harga. Dia beli ikan di tempatku, bisa memindahkan kursi duduk di sampingnya potong sampai setengah jam". Cerita kakak zhang merasa ngeri mengingatnya.
Hahaha....Teman kakak zhang ketawa mendengarnya
"Masih bisa tertawa. Tadi kamu lihat raut mukanya tidak?. Berhenti dimana, orang itu yang akan sial". Ucap kakak Zhang meringis.
"Kakak Zhang...". Panggil she na tiba-tiba sudah di belakangannya.
"Aaaa...". Kakak penjual terkejut namanya di panggil.
"1 pon udang. Udang besar". Ucap she na dengan senyum smirk. Kakak zhang meringis melihatnya. Baru di omongin, she na sudah si tempatnya. Kakak zhang segera mengambil pesanan she na.
"She na, kamu dianiaya, ya?". Tanya kakak zhang penasaran.
"Kenapa kamu bisa tau?".
"Apakah bisa tidak tau?. Kamu kalau sedang bad mood suka beli barang mahal. Ini, totalnya 96". Ujar kakak zhang.
"50 aja". Tawar she na datar.
"Haa...Bukan, kamu jangan potong separuh. Aku jual kepada orang lain 96, kasih kamu 90, oke?". Ucap kakak zhang. She na tidak menjawab, dia mengambil kursi, kakak zhang langsung berseru. "Jangan, jangan...85..85. Ai ya.. Kamu jangan duduk, 80". Ucap kakak zhang dengan muka memelas.
"Bilang dari awal 80. Terima kasih, kak zhang". Ujar she na memberikan uang dengan muka tidak bersalah berlalu pergi.
"Sama-sama. Ai ya...untung hanya beli 1 pon. Kalau beli banyak, aku bisa rugi besar". Ngeluh Kakak zhang
"Menurut kamu, apakah dia di campakkan?". Tanya teman kakak zhang melihat she na pergi.
Aaaarrgghh.....Teriak she na menghentakkan kakinya.
"Sepertinya begitu. Lihat dia seperti itu, pasti iya". Jawab kakak zhang melihat tingkah she na.
"Di rumah she na melihat ke setiap sudut ruangan, mengingat sang presdir.
"Aku tidak terjebak, aku sama sekali tidak terjebak". Ujar she na.
She na mengumpulkan semua barang milik presdir Lu yang ada di rumahnya ke dalam kardus besar. Lalu dia membuang semuanya ke tempat sampah. Saat melangkah masuk she na menginjak kotoran anjing. Dia menunjuk anjing kecil itu dengan kesal, anjing kecil langsung menggonggong ke arahnya seakan tau sedang di marah. She na masuk ke rumahnya dengan kesal.
"Kura-kura kecil, mulai sekarang marga kamu sama denganku". Ujar she na pada kura-kura kecil yang ada di akuarium. Kura-kura yang di beli oleh presdir Lu. Kemudian she na nonton drama dari ponselnya di sofa uring uringan bukan bukan fokus nonton, namun dia melamun dengan mata memerah.
__ADS_1