
"Hari ini kalau bukan kamu datang, maka habislah. Kali ini aku berdiri di depan Direktur akan di marahi. Tidak bisa, aku juga harus belajar bahasa asing". Ujar Celine bersyukur sudah di bantu Meng xin jie dan bertekad untuk belajar bahasa asing.
"Tidak perlu, tidak perlu. Menurutku, karena orang asing itu datang ke tiongkok mencari uang dari orang tiongkok, maka harus belajar bahasa mandarin. Betul, tidak?. Kenapa harus kita yang belajar bahasa asing, tidak cocok dan tidak adil. Makanya bos kami tidak biasa dengan hal ini, dia meminta seluruh supervisor perusahaan yang ada hubungannya dengan luar negeri, harus bisa bicara bahasa mandarin". Ucap Meng xin jie dengan bangga.
"Bagaimana kamu bisa kenal presdir Lu?". Tanya Celine penasaran.
"Kami berdua...Kami berdua termasuk teman sejak kecil. Dia lebih tua beberapa tahun dariku. Waktu aku kecil, dia suka bermain denganku. Kemudian setelah masuk SMA, ibunya bawa dia keluar neger. Dan bertahun-tahun tidak ketemu, dia berada di luar negeri terus". Ceritanya tentang masa lalu. "Kemudian setelah dia balik dari luar negeri, di waktu pertama langsung telpon aku. Kemudian tanya aku, Jie, kamu bersedia kerja denganku?. Aku berpikir kerja sama siapa sama saja. Iya, kan. Aku ikut dia dan kenal juga, kadang-kadang aku bisa mengatainya juga. Aku bilang oke. Aku menyetujuinya". Bualnya membanggakan diri sendiri.
"Nanti malam ada urusan tidak?". Tanya Celine bosan mendengar bualan Meng xin jie panjang lebar.
"Tidak ada". Jawabnya dengan cepat.
"Bantu aku mendapatkan pelanggan, bagaimana pun harus berterima kasih, traktir kamu makan". Kata Celine.
"Mohon maaf sekali, hehehe...Sampai ketemu nanti malam". Nyengir Meng xin jie.
"Baik, ayo pergi dari sini". Ajak Celine.
"Ayo..". Baru berdiri ponsel Meng xin jie berdering, terlihat nama 'Direktur Li'.
"Maaf, aku terima telpon dulu. Kamu duluan". Ucapnya pada Celine.
"Baik". Sahut Celine berjalan keluar.
"Halo...Direktur Li". Ucap Meng xin jie mengangkat telpon.
"(Wanita disisi presdir Lu, namanya siapa?)". Tanya wanita bernama Li Man terdengar menekan suaranya, membuat Meng xin jie gugup.
**
Di rumah she na sedang memasak, lalu ada yang mengetuk pintu.
"Sudah pula.....".She na mengira presdir Lu yang pulang, gak taunya paman tuanya yang datang. "Kenapa busa kamu?".
"Belakangan ini aku mendapat proyek besar". Ucap paman tua melenggang masuk.
"Dapat proyek besar datang pamer padaku".
"Pamer apa, aku minta bantuan padamu. Aku butuh model untuk membuat sampel". Ujar paman tua.
"Aku jadi model?".
"Betullll".
"Mungkin akan kelihatan norak". Ujar she na tidak percaya diri.
"Tenanglah, gaun perpisahan anak SMP, tidak cari kamu, aku mau cari siapa?". Ucap paman tua mau mengukur badan she na.
__ADS_1
"Pergi. Sekarang aku tidak ada waktu". Tolak she na.
"Bukan, selesai ukur aku langsung pergi".
"Aku mau masak buat Lu Jin". Ucap she na menepis tangan paman tua dan pergi ke dapur lanjut masak.
"Na na..Gu she na. Aku paman kamu, sikap apa ini?". Decak paman tua kesal langsung duduk di sofa.
"Hey...Bangun, bangun...". Seru she na berlari keluar dari dapur.
"Apa?.Apa?". Tanya paman tua kaget.
"Pergi kamu. Kamu jangan duduk bantalan Lu Jin. Menyebalkan". Omel she na mengambil bantalan presdir Lu dan menaruhnya di sofa lain dengan hati-hati.
"Gu she na...Sadarlah, aku paman kamu". Sentak paman tua.
"Dari pihal ibu". Sahut she na dengan enteng, lalu melanjutkan masak di dapur.
"Aku kasih tau kamu, kalau tidak ada urusan lain cepat pulang". Seru she na yang melihatnya dari jendela dapur mengusir pamannya
"Grup Zheng Hong?". Paman tua mengambil sebuah dokumen di meja.
"Dokumen Lu Jin. Bisakah kamu taruh kembali, jangan merusaknya. Kalau kamu tidak ada urusan, aku sarankan kamu pulang diam di rumah". Omel she na setiap paman tua tidak sengaja pegang barang punya Lu jin, she na pasti akan segera mengomelnya. Dasar bucin akut.
"Aku...Ai yo...Na na, belakangan ini baca buku bahasa inggris?". Ucap paman tua mengambik buku di nakas ruang tamu.
"Hugo...Kenapa?".
"Kamu jangan mengotori buku Lu Jin. Taruh, cepat". Sentak she na. Paman tua menaruh kembali buku, dan melihat ada dua mug couple, dia mengambilnya.
"Ai yo yo.....Sudah di lengkapi dengan Mug couple. Lucu sekali". Ledeknya. Paman tua sengaja pura-pura akan menjatuhkan mug itu, she na langsung terlihat panik. Paman tua sangat senang menggoda she na.
"Lu jin dimana?". Tanya paman tua menaruh kembali mug di nakas.
"Pergi beli cuka, oh pergi beli kecap".
"Na na...Kalian berdua ternyata...Baik. Kalau sikap kamu begitu, aku juga tidak mau pergi. Aku baca buku...Hugo". Ucap paman tua ngambek.
Samapai presdir Lu pulang, keduanya duduk berhadapan di meja makan saling menatap.
"Melihat penampilan dan watak kamu, pasti presdir Lu, ya?". Tanya paman tua membuka pembicaraan.
"Penilaiannya bagus". Sahut presdir Lu datar. "Siapa kamu?". Tanyanya melipat tangan di dada.
"Aku adalah Designer merek pakaian terkenal, pendiri studio Quan'an kustomisasi tingkat lanjut, Gao Quan'an juga merupakan paman sepupu Na na". Ucap paman tua mengenalkan nama besarnya dengan bangga.
"Ooo". Hanya itu tanggapan sang presdir.
__ADS_1
"Presdir Lu, tampaknya lebih muda dari yang aku bayangkan". Sindir paman tua tentang usia.
"Walaupun kamu lebih tua dariku, tapi juga lebih muda dari yang aku bayangkan. Paman sepupu". Balas presdir Lu dengan santai.
"Karena sama-sama muda, tidak usah sungkan, makanlah!". Ujar paman tua pegang sumpit mau makan.
"Tunggu...Maaf, aku mengidap Mysophobia. Mangkok ini milik She na. Terimaka kasih, sumpit juga". Ujar presdir Lu mengambil mangkok san sumpit milik she na, menggantinya dengan yang lain. "Silakan!". Sambungnya.
Paman tua menghela nafas kesal. Haah...
"Terima kasih".
"Sama-sama". Balas sang presdir.
"Presdir Lu, silakan makan!". Ucap paman tua mengambil lauk untuk presdir.
"Aku tunggu she na makan bersama. Silakan!". Ucap presdir Lu santai.
"Ekhem..Aku tunggu kalian bersama". Ujar paman tua dengan muka kecut.
Sang presdir melihat jam tangannya, paman tua juga tidak mau kalah melihat jam tangannya.
"Paman tua, bantu aku jaga api, aku ke toilet dulu". Seru she na langsung berlari ke toilet.
"Hehe...Saat darurat, masih harus mengandalkanku". Ujar paman tua sombong melengos ke dapur.
"Heh,, paman sepupu, kan". Gumam sang presdir tersenyum samar.
TOK...TOK...Ada yang mengetuk pintu rumah she na.
"Tunggu sebentar". Seru paman tua dari dapur.
"Halo...Air anda, tolong berikan kartu air untuk di conteng". Ucap pengantar air.
"Kartu air, baik. Tunggu sebentar". Ujar paman tua mencari kartu air she na di meja dan laci, namun tidak ketemu.
"Maaf..". Ucap presdir Lu dan mengambil kartu air she na memberikannya pada pengantar air.
"Terima kasih". Ucap pengantar air setelah menconteng di kartu.
"Terima kasih". Balas sang presdir. "Tolong tutup pintunya". Pintanya pada paman tua, lalu mengangkat galon air dengan enteng ke dapur.
Dengan kesal paman tua menutup pintu dan menyusul ke dapur.
"Tolong tuang airnya, terim kasih". Ucap sang presdir berlalu pergi ke ruang tamu.
Paman tua menghentakkan kakinya kesal, mengangkat galon air dengan susah payah.
__ADS_1