CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Lihat Foto Ini


__ADS_3

"Beli 3 koper?". Ucap presdir Lu jalan mondar mandir di dalam rumahnya.


"Benar". Sahut Meng xin jie.


"Itu artinya beli satu juga untukku". Ucapnya dengan percaya diri.


"Bos, terlalu banyak berpikir". Meng xin jie tersenyum nyengir.


"Diam". Sentakan Bosnya membuat Meng xin jie langsung menutup mulutnya rapat-rapat. "Jadi kenapa tidak memberitahuku?. Alangkah baiknya jika ngomong langsung padaku. Kamu selidiki dulu, koper ketiga itu di beli untuk siapa?". Ucap sang presdir mengusap dagunya.


"Aku...aku sudah menyelidikinya". Cicit Meng xin jie.


"Kenapa tidak bilang jika sudah menyelidikinya?". Sentak sang presdir.


"Toa Besar". Jawab M X J.


"Toa Besar?". Pengikut kecil itu. Itu baru benar". Gumam presdir Lu.


**


"Sangat indah, sangat indah. Wauw....Cepat, cepat, cepat". Seru Daguo pada she na dan ziqian yang ada di belakangnya. Mereka sudah sampai di Hotel Sakura Bay. "Benar-benar sangat indah. Mari kita foto bersama". Ajak Daguo pada keduanya.


"Baik". Jawab she na tersenyum senang.


"Hai..Bisakah tolong fotokan kami?". Tanya Daguo pada seseorang yang lewat.


"Baik".


"Terima kasih".


"Ayo bersiap. Satu, dua, tiga". Seru orang yang mau memfoto mereka. She na berada di tengah-tengah Daguo dan ziqian. Mereka melakukan beberapa gaya berfoto.


"Terima kasih". Ucap Daguo pada orang yang sudah memfoto mereka. "Bagus, bagus, bagus". Ujar Daguo melihat hasil foto mereka. "Eh, bunga besar, ayo, pergi lihat bunga". Seru Daguo.


"Pergi liat bunga". She na ikut berlari dengan Daguo.


"Pelan-pelan". Seru Ziqian geleng-geleng kepala melihat kedua orang itu.


**


"Bos, bos, bos...Apakah kamu sudah melihat foto ini?. Lihatlah". Seru Meng xin jie melihatkan ponselnya. Presdir Lu langsung mengambil ponsel M X J dan menzoom gambarnya.

__ADS_1


"Ini...tangannya..". Presdir Lu melihat foto yang she na posting, tangannya merangkul pundak ziqian.


"Benar, benar, lihat, lihat tangannya".


"Aku bisa melihatnya, tidak perlu kamu perbesar lagi". Ucap sang presdir kesal. "Foto ini dapat dari mana?". Tanyanya dengan muka masam.


"Guru Gu baru saja posting di moment Wechat". Sahut M X J.


"Tidak mungkin..". Ucap sang presdir tidak mendapat foto postingan she na di ponselnya.


"Guru Gu memblokir kamu. Hahaha...". Kata M X J ketawa geli dan langsung diam ketika mendapat tatapan mematikan dari Bosnya. "Bagaimana jika kamu telpon sekali lagi". Saran M X J dengan gugup.


"Baik. Aku telpon sekali lagi". Ucap sang presdir berjalan ke balkon untuk telpon.


"Telpon, telpon..". M X J menghela nafas lega duduk di sofa.


**


She na dan Daguo menyimak dan mencatat dengan serius apa yang di terangkan guru di depan.


"Berikutnya aku jelaskan lagi, 2 kata yang di bedakan dengan jelas dalam hidangan barat. Penyedap dan Bumbu. penyedap adalah menambah rasa ke bahan dimana tidak akan mengubah rasa dari bahan utamanya. Bumbu adalah menambah sejenis rasa baru ke bahan masakan. Sehingga mengubah atau memperbaiki rasa asli dari bahan utamanya.". She na mencatat semua penjelasan guru dengan baik, ponselnya bergetar, terlihat nama 'Lu rewel' di layar ponsel. She na langsung mematikan ponselnya dan kembali menyimak penjelasan guru di depan.


"Selanjutnya kita lihat uang lain. Herbal Timi. Herbal Timi disebut juga dengan Thymus Vulgaris. Tumbuh di lereng berbatu. Varietas yang di tanam di prancis berbeda dengan wilayah lain di Eropa. Batang dan daunnya kecil. Berwarna hijau keabu-abuan. Manis dan ada sedikit rasa pedas. Sering digunakan saat memasak semur daging, telur, atau sup. Masakan tradisional Eropa merasa Herbal Timi merupakan simbol keberanian. Jadi pada abad pertengahan sering menghadiahkannya kepada ksatria yang ikut perang".


"Halo.. Manager shen, aku sedang mengikuti pelajaran". Ucap Daguo berbisik, dia menjauhkan ponsel dari telinganya karena mendapat bentakan dari manager shen. "Baik, aku sudah tau". Setelah menutup telpon, Daguo menarik lengan baju she na dan berbisik.


"Kak she na, manager shen bilang besok ada perjamuan. Suruh aku segera pulang, aku cabut dulu". She na mengangguk, lalu dia pamit dengan ziqian dan pergi dengan berjalan pelan-pelan tanpa mengusik orang yang ada di ruang pelatihan.


Setelah mengikuti kelas pelatihan, she na dan ziqian pergi ke perpustakaan resep masakan.


"She na, lihatlah, ini adalah bahan pelajaran pelatihan keterampilan layanan. Aku sudah mencarinya untukmu". Ucap ziqian melihatkan laptopnya. "Lumayan lengkap. Seharusnya sama dengan isi dalam buku ini. Coba kamu bandingkan dulu". Ujarnya sambil mencuri lihat pada she na yang sedang fokus dengan bukunya. Ziqian menatap wajah she na dengan senyum lembut sampai ponsel she na bergetar di meja. Terlihat nama 'Lu rewel' lagi yang menelpon. She na langsung mematikan panggilan itu.


"Tidak apa-apa kan?". Tanya ziqian.


"Tidak apa-apa". Jawab she na kembali melihat bukunya.


Sedangkan di dalam rumahnya, sang presdir kesal telponnya tidak di angkat dari tadi.


"Kita...Bagaimana jika kita langsung berangkat saja?. Mobil sudah siap di panaskan di bawah". Ucap M X J melihat muka kesal Bosnya.


"Aku lapar, tidak ingin pergi lagi". Ucap sang presdir duduk di sofa dengan lesuh.

__ADS_1


"Lapar, tidak apa-apa. Jika lapar, aku bawa kamu pergi makan di luar. Oke?". Ucap M X J.


"Aku tidak punya nafsu makan lagi".


"Bukankah tadi kamu bilang kamu lapar?".


"Tadi kamu masih sedang duduk". M X J mengangguk-angguk menghela nafas panjang mendengar ucapan bosnya. Sedetik kemudian presdir Lu berdiri lagi bergumam. "Telpon lagi, telpon lagi, telpon lagi". Presdir Lu berjalan ke balkon mencoba menelpon she na lagi. M X J dari belakang melakukan gerakan ingin menonjok bosnya saking kesalnya. Saat sang presdir berbalik, M X J dengan cepat pura-pura menepuk bahu sang presdir.


"Ada debu, ada debu". Ucapnya gugup.


"(Halo..Nomor yang amda tuju, untuk sementara tidak dapat di hubungi. Silakan coba beberapa saat lagi)". Terdengar suara operator telpon.


"Dimana ponselmu". Tanya presdir Lu.


"Ponselku...".


"Buka moment Wechat. Aku lihat sekali lagi".


"Eh, tidak perlu".


"Aku lihat sekali lagi". Ucap sang presdir merebut ponsel M X J.


"Sebenarnya di antara mereka masih ada jarak tertentu. Ini jelas hanya hubungan teman". Ucapnya menghibur diri sendiri dari rasa cemburu.


"Pftt...Benar, benar, benar". M X J geli mendengarnya.


"Hubungan teman sepermainan seperti kita".


"Iya, iya".


"Apakah kamu tidak bisa melihatnya?".


"Aku bisa melihatnya. Tangan pasangan kekasih seharusnya seperti ini". Ucap M X J merangkul pundak bosnya.


"Lepaskan tanganmu". Sentak presdir Lu. "Lalu dia buat gaya seperti ini juga". Ujarnya.


"Norak..". Sahut M X J.


"Pasangan kekasih tidak akan buat gaya seperti ini". Komentarnya melihat foto-foto she na dengan ziqian terlihat dekat.


"Benar, benar, benar".

__ADS_1


"Benarkan?. Sedang apa Toa Besar berada di belakang?. Hm". Tanyanya melihat Daguo berada di belakang she na dan ziqian dari postingan she na.


"Si anak buah". Sahut M X J.


__ADS_2