CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Ada Seorang Pria di Samping Nana


__ADS_3

"Aku tenang. Tentu saja tenang. Sejak kecil, Nana memang suka pergi ke rumah orang. Tetangga lama kami di jalan kuliner, semua Pernah dia kunjungi. Aku sangat tidak mengkhawatirkannya. Hanya saja, kamu.....". Sindiran paman tua terpotong tepukan she na di tangannya.


"Apakah perlu mengejekku seperti itu?". Cecar she na.


"Baik, aku tidak mengomentarimu. Aku mengomentarimu". Ucap paman tua menatap Lu zheng. "Presdir Lu Junior...Tok...Tok...Tok...Siapa malam-malam seperti ini..". Lagi-lagi ucapan paman tua terpotong ketukan pintu.Membuatnya kesal saja.


"Paket anda..". Seru kurir dari luar.


She na langsung berdiri, baru mau melangkah, namun, Lu zheng menahannya.


"Paket aku, aku pergi buka". Lu zheng berdiri berjalan membuka pintu. Paman tua menunjuk she na dengan wajah kesal mencebik bibirnya, She na menunduk melihatnya. Lu zheng masuk membawa sebuah kotak dan menaruhnya di meja samping she na duduk.


"Ini untukmu". Ucap Lu zheng sambil tersenyum.


"Apa ini?". Tanya she na.


"Buka dan lihatlah". Pinta Lu Zheng. She na membukanya perlahan, wajahnya langsung tersenyum senang melihat isi dari kotak itu.


"Ini adalah mobil. Paman tua..Lihatlah mobil ini, ini sangat hebat". Ucap she na sangat senang melihat mobil kecil di depannya yang belum dirakit, paman tua langsung membuang muka ke samping tidak mau melihat. Lu zheng melihatnya tersenyum seringai.


"Makan dulu, nanti aku rakitkan untukmu". Ujar Lu zheng.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri". Ucap she na sambil mengeluarkan isi dari kotak itu.


"Benarkah? Kemarin, tidak tahu siapa yang memecahkan gelasku". Ujar Lu zheng bercanda.


"Aku sudah bilang aku akan ganti rugi. Kenapa kamu mengungkit lagi?". Ucap she na kesal membawa mobil yang akan di rakitnya ke meja sofa. Lu zheng juga mengikuti she na dan duduk di bawah sofa.


"Kalian.....". Protes paman tua tertahan oleh deringan ponselnya. "Halo, Zenan..". Ucapnya mengangkat telpon.


".......".


"Aku ada di tempat she na..".


".......".

__ADS_1


"Rumah sakit?. Kamu kenapa?". Tanya paman tua cemas.


".......".


"Baik, jangan panik. Aku segera kesana". Ucap paman tua menutup telpon. "Nana...Zenan terkena gastroenteritis sekarang di rumah sakit. Aku harus segera pergi melihatnya". Pamitnya pada she na sambil berdiri.


"Cepatlah pergi, cepat pergi". Sahut she na merasa khawatir.


"Presdir Lu Junior.. Jika tidak ada urusan, pulanglah lebih awal. Malam-malam berada di rumah seorang gadis, tidak bagus". Sindir paman tua ketus.


" Paman, Jangan khawatir. Aku akan pergi setelah selesai". Balas Lu zheng dengan senyum nyengir. Paman tua langsung pergi dengan kesal.


"Hati-hati di jalan". Seru she na.


"Aku tau..". Paman tua membuka pintu rumah dan melangkah pergi. Lu zheng menyeringai dan melihat jam tangannya sebentar, Lu zheng menebak paman tua pasti melapor pada Lu Jin.


"Aku bantu kamu, kamu salah bongkar". Ujar Lu zheng mengambil rakitan mobil she na.


"Aku bisa, aku pasang sendiri". She na mengambil kembali rakitan mobilnya.


"Kamu harus bongkar ini dulu". Lu zheng memberitahu she na apa yang harus di rakit dulu dan melihatnya dengan tatapan penuh arti.


"Halo...". Ucap Lu Jin mengangkat telpon.


"Halo.. Ada satu hal, aku harus mengingatkanmu dulu". Ujar paman tua langsung setelah Lu Jin menjawab telponnya. "Ada seorang pria di samping Nana, marganya Lu, apakah kamu kenal?". Tanya paman tua. Benar saja dugaan Lu zheng, paman tua pasti melapor pada Lu Jin, makanya dia sengaja dekat-dekat dengan she na saat ada paman tua.


"Lu zheng?". Tebak Lu Jin.


"Benar, itu namanya". Sahut paman tua.


"Dia adikku, kenapa?". Tanya Lu Jin tidak mengerti.


"Tadi aku bertemu pria itu di rumah Nana. Selain itu, sejauh yang kuketahui, belakangan ini Nana selalu bermain bersama pria itu".Ujar paman tua melaporkan.


"Baik, terima kasih". Ucap Lu Jin menutup telpon lalu memijit pelipisnya.

__ADS_1


Sedangkan She na masih asyik merakit mobil dengan Lu zheng, tidak tau sudah ada melapor pada kekasihnya.


"Aku bantu kamu. Ini seharusnya dipasang di sini". Ucap Lu zheng membantu she na merakit mobil kecilnya.


"Berapa harga mobil ini?. Beri tahu lewat WeChat, aku transfer untukmu". Ujar she na sambil fokus merakit mobilnya.


"Baik..". Sahut Lu zheng melihat ponsel she na yang ada di samping she na sambil tersenyum penuh arti, seakan tau sebentar lagi akan ada yang menelpon she na.


Benar saja, baru beberapa detik ponsel she na berdering, tertera nama 'Lu rewel' disana.


"Halo..". She na langsung menjawab telpon setelah melihat Lu Ji. yang menelpon.


"Halo, Nana...Kamu sedang berada di rumah?l. Tanya Lu Jin.


"Aku ada di rumah. Ada apa?". Sahut she na dengan polos.


"Sendirian?". Tanya Lu Ji lagi. She na langsung melihat Lu zheng yang mengisyaratkan jangan bilang dia ada dan berdiri melangkah keluar.


"Iya, aku sendirian". Sahut She na berbohong, Lu Jin memejamkan mata mendengar jawaban she na. "Ada apa kamu menghubungi aku?". Tanyanya. Lu zheng menyeringai mendengar jawaban she na berjalan keluar dari rumah she na.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu, ingin mendengar suaramu". Ucap Lu Jin memang benar dia sangat rindu pada she na juga kecewa dengan jawaban bohong she na.


"Berapa lama lagi kamu pulang?". Tanya she na.


"Dua atau tiga hari lagi. Ada beberapa masalah rumit yang perlu di selesaikan. Jadi...". Ucap Lu Jin terpotong.


"Masih harus dua hingga tiga hari lagi?". Sela she na. "Baiklah, jaga kesehatanmu". Ucapnya dengan lemah, dia juga sangat merindukan Lu Jin.


"Baik, aku tutup dulu. Sampai jumpa". Lu Jin langsung menutup telpon tanpa mendengar ucapan she na lagi. Ting...Ting...Ponsel Lu Jin berdenting pertanda ada chat masuk. Lu Jin membuka pesan itu dan melihat foto she na dan Lu zheng yang begitu dekat seperti mau berciuman. Foto yang waktu Lu zheng mengusap sudut bibir she na dari dekat. Lu Jin kecewa melihatnya, dan sore itu juga Lu Jin langsung terbang pulang ke Suhai, menempuh waktu belasan jam di dalam pesawat tanpa bisa menutup untuk beristirahat.


Ting...Tong... Bel rumah she na berbunyi. She na membuka pintu dan melihat Lu Jin, dia langsung menghambur memeluk Lu Jin dengan senang.


"Kenapa kamu pulang?. Bukankah kamu bilang beberapa hari lagi?". Tanya she na mengurai pelukannya, namun tangannya masih melingkar di leher Lu Jin.


"Iya..". Jawab Lu Jin singkat membawa she na masuk ke dalam.

__ADS_1


"Apakah kamu lelah naik pesawat?. Duduk selama belasan jam". Tanya she na kembali memeluk Lu Jin.


"Lumayan..". Lagi-lagi jawaban Lu Jin dengan singkat. She na masih belum melihat kejanggalan Lu Jin, saking senangnya Lu Jin sudah pulang.


__ADS_2