
"Ayo, patuhlah". Ujar Lu Jin tegas.
"Aku tidak mau pergi". Rengek she na dengan kesal.
"Baik. Baik, kamu menang". Ucap Lu Jin mengalah. "Tidak mau pergi. Demam, tapi tidak mau ke rumah sakit. Jika begitu, minumlah lebih banyak air. Maka aku akan setuju kamu tidak pergi ke rumah sakit". Lu Jin mengambil segelas air untuk she na. She na mengangguk patuh minum air di bantu Lu Jin. "Katakan..Hari ini kamu kenapa?. Kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini?. Apa yang terjadi?". Tanya Lu Jin membelai rambut she na dengan lembut.
"Ibumu.....". She na menceritakan semua yang di lakukannya kemarin dengan ibunya.
"Jadi kamu mencabut semua gulma?". Tanya Lu Jin lembut.
"Tidak...". Jawab she na dengan cepat dan menceritakan lagi apa yang di lakukannya.
'Gu she na... Sebagai seorang koki, apakah kamu tidak tahu apa itu gulma, apa itu sayuran yang bagus?'. Tanya ibu Lu Jin melipat tangan di dada dengan muka marah melihat she na yang mencabut sayuran segarnya sangat banyak dengan asal.
'Hah..Bibi, aku sibuk dari tadi, tak lain adalah ingin memberitahu Bibi sesuatu. Gulma juga merupakan makhluk hidup. Semua makhluk hidup sederajat'. Ucap she na menghela nafas kasar.
"Oh..Jadi, kenapa kamu demam?". Tanya Lu Jin mengulum senyum mendengar cerita she na.
"Bertani dan berkeringat. Setelah keluar, aku kena angin dingin, mungkin demam karena itu. Apakah aku agak keterlaluan?". Sahut she na bertanya apakah tindakannya keterlaluan.
"Tindakanmu sangat bagus". Ucap Lu Jin mendukung she na dengan mengelus kepalanya dengan lembut dan mengangkat telapak tangan tos pada she na.
"Sudah kuduga...". Ujar she na sambil tersenyum mengangkat tangannya ber tos dengan Lu Jin dengan senang.
"Sangat disayangkan, aku tidak ada di sana, tidak melihat ekspresi Ibuku. Sangat menarik kan?". Tanya Lu Jin penasaran.
"Waktu itu ibumu marah hingga rambutnya berdiri. Namun, dia mengatakan sesuatu padaku". Ujar she na melebihkan hingga membuat Lu Jin ketawa.
"Apa yang dia katakan?".
__ADS_1
"Dia bilang aku sangat mirip dengan dirinya sewaktu masih muda. Menurutmu, dia sedang memujiku atau memarahiku?. Kenapa aku tidak mengerti?". Tanya she na penasaran.
"Memujimu..". Sahut Lu Jin mencium tangan she na. Uhuk...Uhuk...She na batuk, Lu Jin melihatnya tidak tega. "Tularkanlah penyakitmu padaku". Ucap Lu Jin mendekatkan wajahnya.
"Aku ingin makan buah kaleng". Sela she na sebelum Lu Jin menciumnya.
" Buah kaleng ada banyak bahan pengawet. Jika kamu ingin makan buah, aku belikan yang segar". Ucap Lu Jin menolaknya.
"Ketika dulu aku sakit, kakek selalu beli buah kaleng untukku. Dulu aku tidak bisa sembuh makan obat. Setelah makan buah kaleng, aku jadi bersemangat". Ujarnya mengedipkan matanya dengan gemas.
"Namun...".
"Aku ingin makan buah kaleng..Aku ingin makan buah kaleng...Belikan buah kaleng untukku". Rengek she na manja.
"Baik...Tunggu..Buah kaleng...Buah kaleng". Ucap Lu Jin mengalah lagi pada she na. Dia berdiri dan melangkah pergi.
Setelah sampai di kantor, Lu Jin memerintah M X J untuk membelikan beberapa macam buah segar serta kompor dan panci, alat kupas dan lainnya yang di perlukan untuk membuat buah kaleng. Tak lama kemudian M X J datang dengan beberapa karyawan membawa pesanan bosnya ke dalam ruang kantor Lu Jin. M X J duduk di depan meja rapat tempat menaruh buah dan lainnya.
"Mulailah..". Ucap Lu Jin melepas jasnya dan mulai mengupas buah. Saat Lu Jin sedang mengupas buah nanas, M X J malah enak-enak makan buah jeruk tanpa membantu bosnya. Lu Jin melihatnya kesal, lalu menaruh buah nanas yang di kupasnya ke tangan M X J dengan kasar. "Ini...".
"Akh....". Teriak M X J meringis kesakitan kena duri nanas.
"Iya, seperti ini. Baik". Lu Jin memberikan pisau kupas, lalu menghela nafas kasar. "Dimana jeruknya?". Ujar Lu Jin mencari jeruk dan mengambil sekotak buah jeruk menaruh di depannya. Lu Jin mengupas jeruk, setelah itu dia mengupas buah pir dengan cermat.
"Hebat juga, sudah terlatih". Puji M X J melihat bosnya mengupas buah dengan bagus.
Setelah semua buah selesai di kupas, mereka mulai membuat buah kaleng dengan panduan mbak google. Lu Jin yang membuat, M X J yang membaca langkahnya dari mbak google.
"Air sudah mendidih". Ujar Lu Jin menunggu langkah selanjutnya.
__ADS_1
"Setelah air mendidih, masukkan potongan pir". Ucap M X J membaca dari laptopnya. Lu Jin memasukkan buah pir dengan pelan ke dalam panci air mendidih.
"Kemudian..". Tanya Lu Jin lagi.
"Tuang gula batu...". Lu Jin langsung memasukkan gula batu. "Setelah air mendidih lagi..". Sambung M X J. Lu Jin menautkan alis melihatnya.
"Apa?. Kapan di masukkan lagi?". Tanya Lu Jin kaget memegang mangkok gula batu yang sudah kosong.
"Setelah air mendidih lagi". Jawab M X J dengan santai.
"Seperti ini saja". Ucap Lu Jin salah tingkah langsung menutup penutup panci. "Lalu..". Tanyanya.
"Tunggu...". Sahut M X J.
Setelah semua buah kaleng sudah selesai di buat, hari sudah petang, M X J dan Lu Jin memasukkannya ke dalam toples kaca. Lalu Lu Jin membawanya ke rumah she na.
"Bisakah lebih cepat?". Ujar she na sudah tidak sabar untuk memakan buah kaleng yang di bawa Lu Jin.
"Sudah siap". Ucap Lu Jin mengambil buah kaleng dan menaruhnya ke mangkuk lalu menyuapkan ke mulut she na. "Apakah enak?". Tanya Lu Jin.
"Tidak tau apakah karena sudah dewasa, mulutku semakin ketat dalam memilih makanan, aku merasa tidak seenak yang ku makan waktu kecil". Ujar she na setelah merasakan buah kaleng yang di buat Lu Jin. She na tidak tau saja, buah kaleng yang di makannya itu adalah buatan Lu Jin sendiri.
"Namun, ini sangat segar. Coba sepotong lagi". Ucap Lu Jin menyuapkan buah kaleng lagi ke mulut she na.
"Bukankah kamu bilang ada bahan pengawet?". Sindir she na sambil mengunyah buah di mulutnya.
"Yang aku beli ini tidak ada". Ucap Lu Jin menghela nafas pelan. "Apakah terasa segar?". Tanya Lu Jin.
"Aku acungkan jempol untukmu. Uhuk..Uhuk...". She na mengecup dua jempolnya lalu menempelnya ke bibir Lu Jin.
__ADS_1
"Potongan terakhir..". Ucap Lu Jin menyuapkan sepotong buah lagi ke mulut she na.
"Tidak. Aku ingin menghabiskan satu toples buah kaleng". Ujar she na menatap Lu Jin. Lu Jin menghela nafas melihat toples buah kaleng di meja nakas, lalu menyuap she na dengan lembut dan penuh perhatian.