
"Kenapa kamu bisa tau?". Tanya Celine kaget.
"Gu she na adalah sahabatmu, ya?". Tanya Meng xin jie mengulum senyum.
"Richard Meng..Demi mengejarku, kamu berubah profesi dari supir menjadi detektif pribadi?". Sindir Celine dengan senyum mengejek.
"Orang yang kalian singgung adalah bos aku".
"Bos kamu?. Siapa?".
"Lu Jin.."
"1123...?". Ucap Celine terkejut dengan mulut menganga. Meng xin jie menjalankan mobilnya sambil tersenyum melihat wajah kaget Celine.
**
Sedangkan she na masih berusaha meminjam uang pada kakeknya di warung makanan sang kakek.
"Kakek..Apakah aku adalah cucu kandungmu?".Tanya she na. "Kamu jangan mengupas kacang lagi. Jangan kupas lagi, jangan kupas lagi. Dengarkan aku, aku sudah berbicara sangat lama". Ujar she na dengan fruatasi menyingkirkan kacang dari hadapan kakeknya.
"Meskipun cucu kandung, tapi soal uang juga harus di hitung dengan jelas. Jika ada sesuatu, ada masalah, katakan secara langsung saja". Ucap sang kakek dengan santai.
"Karena kamu begitu kejam, aku akan mengatakannya secara langsung". Ucap she na dan di angguki kepala oleh kakeknya.
"Angpao yang aku berikan padamu itu, bisakah kembalikan padaku?". Tanya she na dengan hati-hati sambil menatap mata kakeknya.
"Sudah kuduga"
"Masalah kecil".
"Kesempatan hanya ada sekali. Tahun depan. Tahun depan kakek akan mengembalikan isi angpao tersebut beserta bunganya". Ucap sang kakek dengan santai sambil mengupas kacang lagi.
"Jika kamu tidak memberikannya padaku, aku akan pergi cari ayahku". Ancam she na.
"Baik, kamu pergi cari ayahmu". Tanggap sang kakek tenang sambil tersenyum. "Setelah orang tuamu bercerai, aku sudah lama tidak melihatnya. Kamu dan ayahmu sudah lama tidak bertemu, kan?. Jika kamu serius bisa menemukannya, kakek akan memberikanmu hadiah". Tantang balik dari sang kakek.
"Itulah dia, sekarang hanya tinggal aku dan kakek saling mengandalkan". Ujar she na menggenggam tangan kakeknya dengan wajah memelas.
"Apakah kakek tidak bisa meminjamkan sedikit uang padaku?". Ujarnya dengan sedih.
"Berapa banyak yang ingin kamu pinjam?". Tanya sang kakek akhirnya luruh.
She na mengeluarkan 5 jarinya dengan senang.
"500?". Tanya sang kakek tersenyum.
"No no no...". She na menggoyangkan jari telunjuknya.
"5000?".
"No no no..".
__ADS_1
"50.000..?".
"70.000 yuan...". Jawab she na tersenyum nyengir.
"Jadi, kenapa kamu tunjukkan 5 jari?". Sentak sang kakek kesal.
"Lima digit". Sahut she na.
"Apa yang terjadi?". Tanya sang kakek penuh selidik.
"Apakah kamu menumis orang di dalam panci?".Tanya kakek menatap tajam.
"Tidak...Orang lain yang memecatku". Cicit she na dengan menunduk. Sang kakek langsung memukuk meja mendengar ucapan she na.
"Ai ya..Bos Gu. Kamu..kamu..kamu bantulah aku sedikit. Setelah aku menemukan pekerjaan, aku akan..aku akan..aku akan...eeh, aku akan bayar secara cicilan. Bayar secara cicilan". Bujuk she na sambil memijit bahu kakeknya.
"Baik, baik, baik". Ucap sang kakek menghentikan tangan she na yang sedang memijitnya.
"Berdasarkan keterampilan memasakmu, kamu hanya pantas menjadi asisten untuk bekerja sementara. Bertanggung jawab menjadi asisten. Mencuci piring dan melaksanakan perintah". Ujar sang kakek membuat she na senyum nyengir kuda.
"Bisa..bisa". Sahut she na dengan mantap tersenyum lebar.
"Di gaji perhari". Sambungnya menatap sang kakek penuh harap.
"Perhari..". Gumam kakek menatap cucu kesayangannya.
"Kacang, kacang, kacang..". Ujar sang kakek meminta kacang yang kacang yang diambil she na tadi.
"Yang ini tidak boleh minta bayaran".
"Jika tidak di bayar, kamu kupas sendiri". Ujar she na membuat kakek geleng kepala dengan tingkah cucu satu-satunya.
**
"Besok malam akan menjamu pemimpin kantor pariwisata Australia di rumah, jangan terlambat". Ucap ibu presdir Lu di telpon.
"Aku tau ibu. Tapi seperti ini, aku tidak bisa pulang karena masalah akuisisi. Jadi...". Kata presdir Lu.
"Apa yang terjadi?. Aku dengar Liman bilang, bukankah harga akuisisi sudah di tekan sangat rendah olehmu?". Ucap ibu presdir. (Liman adalah wanita yang menelpon presdir Lu saat kejadian presdir Lu jatuh ke kolam).
"Tidak ada masalah. Hanya saja, harganya masih bisa di tekankan lagi". Jawab sang presdir.
"Hotel seperti itu tidak pantas membuatmu menghabiskan waktu selama ini. Segera selesaikan". Perintah ibu presdir dengan tegas.
"Baik, baik, aku mengerti. Sampai jumpa". Ucap sang presdir menutup telpon.
"Xiao jie..."..Sang presdir memanggil asistennya yang sedang asik main ponsel.
"Ya, ada perintah apa bos?". Jawab Meng xin jie tersenyum.
"Aku lapar".
__ADS_1
"Haah..Astaga, akhirnya kamu lapar juga". Ucap asisten Meng menghela nafas lega.
"Jadi, kenapa kamu masih berdiri disana?".Tanya sang presdir melipat tangan di dada.
"Karena aku juga tidak punya cara yang baik. Karena kita sudah keluar dan cari satu putaran, kamu tidak menyukai semua hidangan. Ada yang kamu sukai, sangat dekat, ada di lantai bawah. Tapi kamu tidak mau makan". Ujar sang asisten.
"Kenapa aku tidak mau makan?".
"Bukankah kamu bersumpah...". Asisten Meng tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa..?"
"Aku akan pesankan sekarang juga". Ucap sang asisten melangkah keluar. Baru sampai pintu, sang asisten kembali ke dalam ruangan.
"Baru saja teringat olehku, anda tidak bisa memakannya lagi. Guru Gu sudah di pecat".
"Siapa yang melakukannya?". Tanya sang presdir.
"Manager shen...".
"Manager shen??".
"Manager shen bilang, apakah perlu mempertahankan orang yang membuat presdir Lu marah?. Dulu dia hanyalah asisten biasa. Hanya karena kamu suka masakannya, maka dia berubah menjadi koki. Sekarang kamu tidak ingin makan masakannya lagi, jadi untuk apa dia mempertahankannya?. Dia...Dia berkata seperti ini". Ucap asisten Meng memaparkan ucapan manager shen.
"Shen...Manager shen..Benar sekali. Pantas sekali, jadi tidak boleh membuatku marah". Ujar sang presdir.
"Benar, benar, benar"
"Berikan airnya padaku"
"Jika saling mencintai, bisa kenyang meskipun hanya minum air". seloroh asisten Meng memberikan air pada bosnya.
PONG...Presdir Lu menghentakkan gelas air di meja dengan keras, setelah mendengar ucapan asistennya.
"Maaf..". Ucap asisten Meng mendapat tatapan dingin dari bosnya.
"Bos, 500m di depan sana ada restoran Gerbang Ungu. Aku lihat evaluasinya lumayan tinggi". Ucap asisten Meng yang sedang menyetir membawa bosnya mencari makan malam.
"Satu setengah bintang. Lewatkan". Ucap sang presdir yang duduk di belakang.
"Eh, yang ini belok kiri dari persimpangan ini sejauh 200m, ada sebuah restoran bernama Paviliun Tian Ling. Aku pernah makan disana. Ada satu.....". Ujar asisten Meng terpotong.
"Ganti yang lain. Lewatkan...Lewatkan... Lewatkan". Ucap sang presdir, setiap asistennya mengenalkan restoran padanya.
"Masih lebih bagus dua restoran tadi. Lanjut cari". perintah sang presdir dengan santai. Sang asisten melihat bosnya dari spion menghela nafas yang sudah sesak.
"Bos, bagaimana jika kita turunkan sedikit permintaan?". Lirih sang asisten dengan muka memelas.
"Lanjut cari". Tegas sang presdir.
"Terutama karena aku takut kamu kelaparan, tubuhmu tidak tahan". Ucap asisten Meng membujuk bosnya, karena dia sudah capek dari tadi keliling mencari restoran, namun tidak ada satupun yang cocok dengan selera bosnya.
__ADS_1