
"Ayo, kita pergi cari kakek". Ujar she na setalah melihat mobil yang membawa Lu zheng sudah pergi.
" Cari kakek apanya?. Panggil kakak keluar untuk makan?". Ujar paman tua dengan santai.
"Bukankah Kakek ada perlu dengan kita?".Tanya she na heran melihat sikap paman tuanya.
"Dia ada urusan apa adanya kita?. Ayo, aku traktir". Ucap paman tua melengos pergi di ikuti she na dengan senang karena akan di traktir.
Keesokan harinya she na pergi main ke bengkel Lu zheng.
"Terima remotnya, cepat". Lu zheng memberikan sebuah remot control pada she na. "Sekarang mobil ini adalah milikmu". Lu zheng memberinya mobil Tamia.
"Taruh sesuka hatikah?". Tanya she na mengambil mobil Tamia dari tangan Lu zheng dan menaruhnya di rel balapan.
"Taruh sesuka hati". Ucap Lu zheng juga menaruh mobil kecilnya ke rel balapan. "Tombol ini adalah gas. Tekan perlahan-lahan". Ucapnya menunjuk tombol warna biru. "Perlambat saat di tikungan. Percepat saat di jalur lurus. 1,2,3...". Jelas Lu zheng dan mulai menjalankan mobil kecil mereka.
"Waow...". She na menjalankan mobilnya dengan semangat.
"Semangat...Semangat...". Seru Lu zheng berlomba dengan she na, sampai she na menekan gasnya terlalu kencang dan membuat mobilnya meluntur menghantam sebuah gelas di meja sampai jatuh. PRANG... She na langsung gugup dengan menundukkan kepala merasa bersalah pada Lu zheng.
"Tepat sasaran....". Lu zheng malah berseru memberi jempol pada she na hingga membuatnya tersenyum.
She na bermain seharian di tempat Lu zheng tanpa merasa lelah sambil di ajari Lu zheng bagaimana memperbaiki mobil kecil itu.
"Sudah main seharian. Ayo makan sesuatu". Lu zheng membawa kue ke meja tempat she na duduk.
"Puff..". Ujar she na melihat kue di depannya dan segera memakannya.
"Makan seadanya. Aku hanya punya ini". Ucap Lu zheng duduk di depan she na. "Enak?". Tanya Lu zheng, she na mengangguk sambil mengunyah kuenya. Lu zheng melihat sudut bibir she na ada krim dari puff, tanpa permisi Lu zheng mendekatkan wajahnya dan mengusap sudut bibir she na, dan membuat mata she na langsung membelalak melihat Lu zheng di depan wajahnya sangat dekat. Setelah itu, she na langsung berdiri menghindari Lu zheng. "Kenapa reaksimu begitu besar?. Sudut mulutmu kena krim". Ucap Lu zheng menjelaskan dengan santai.
"Aku ada urusan, aku pergi dulu". Ujar she na mengambil tasnya dan pergi dengan buru-buru. Lu zheng melihatnya pergi dengan senyum smirk.
Keesokan malamnya, paman tua main ke rumah she na ingin makan malam dengan she na. She na memasak di dapur sambil melamun tentang sikap Lu zheng padanya.
__ADS_1
"Seharusnya aku berpikir terlalu banyak". Gumamnya sampai sayur yang di masaknya hampir gosong. She na menuangkan ke piring dan membawanya ke meja makan yang sudah ada paman tua dengan muka kusut.
"Sikap seperti apa Kamu?. Muka seperti apa?. Aku datang makan di tempatmu. Apakah kamu tidak bisa berpura-pura senang". Protes paman tua melihat wajah she na begitu kusut. She na langsung tersenyum nyeringai dengan paksa. "Jangan ngomong soal pura-pura. Sikapmu ini sudah ditunjukkan dengan sangat jelas". Ucap paman tua menunjuk piring sayuran yang hampir gosong itu.
"Tadi aku tiba-tiba tidak fokus". Ujar she na membela diri.
"Tidak fokus?. Kenapa?. Kamu bertengkar dengan Lu Jin?. Kenapa bertengkar?. Salah siapa?. Kenapa bisa?". Tebak paman tua bertanya berturut-turut.
"Kamu bertanya begitu banyak sekaligus. Aku harus jawab yang mana?". Ujar she na dengan ketus.
"Jawab sesuai urutannya". Ucap paman tua.
"Kamu tidak pulang setelah bekerja, untuk apa datang ke tempatku?". Decak she na menjawab pertanyaan paman tua.
"Sikap seperti apa kamu?". Sentak paman tua. " Paman datang melihat keponakan, apakah butuh alasan?". Cecarnya dengan kesal.
"Apakah kamu datang untuk menyuruh aku bayar hutang?". Tanya she na dengan wajah gugup.
"Belakangan ini aku.....".
"No, no, no...". Potong paman tua menggoyang jari telunjuknya di depan wajah she na.
"Paman.....Tok...Tok...Tok...". Ucap she na terpotong ketukan pintu rumahnya.
"Siapa?. Malam-malam begini". Desis paman tua kesal. She na berdiri dan berjalan membuka pintu
"Siapa?". Tanya she na sebelum membuka pintu. Ceklek..." Kenapa kamu?". Tanya she na melihat Lu zheng di depan pintu rumahnya.
"Kemarin aku melihat kamu pergi dengan terburu-buru. Aku khawatir aku melakukan sesuatu yang salah, membuatmu salah paham, jadi segera datang minta maaf". Ucap Lu zheng dengan muka sok polos, pura-pura tidak ingat apa yang di lakukannya.
"Tidak. Kemarin kebetulan rumah ada urusan mendadak, jadi aku segera pulang". Ujar she na berusaha bicara santai, menutupi kegugupannya.
"Benar-benar tidak marah?". Tanya Lu zheng memastikan.
__ADS_1
"Tidak marah. Apakah aku adalah orang yang begitu pelit?". Cicit she na.
"Nana...Siapa?". Seru paman tua dari dalam, karena she na membuka pintu terlalu lama.
"Paman, ini aku..". Lu zheng yang menjawab langsung nyelonong masuk ke rumah she na tanpa permisi pada sang pemilik.
"Kamu...". Ucap she na tertahan, orangnya sudah masuk ke dalam mau bilang apa lagi.
"Kemarin aku lihat She na sangat suka makan Puff. Hari ini aku berikan khusus untuknya. Apakah Paman ingin mencobanya?". Ucap Lu zheng berdiri di depan paman tua sambil tersenyum.
"Jangan panggil begitu akrab". Ketus paman tua.
"Duduklah. Apakah kamu sudah makan?". Tanya she na setelah masuk ke dalam.
"Kalian berdua baru bertemu dua hari yang lalu. Kenapa kemarin bertemu lagi?". Tanya paman tua dengan ketus. Presdir Lu Junior.. Kamu begitu suka mencari Nana?". Desisnya.
" Paman tenang saja. Kemarin She na hanya pergi main ke tempatku". Ujar Lu zheng menjelaskan dan di angguki oleh she na.
"Aku tenang. Tentu saja tenang. Sejak kecil, Nana memang suka pergi ke rumah orang. Tetangga lama kami di jalan kuliner, semua Pernah dia kunjungi. Aku sangat tidak mengkhawatirkannya. Hanya saja, kamu.....". Sindiran paman tua terpotong tepukan she na di tangannya.
"Apakah perlu mengejekku seperti itu?". Cecar she na.
"Baik, aku tidak mengomentarimu. Aku mengomentarimu". Ucap paman tua menatap Lu zheng. "Presdir Lu Junior...Tok...Tok...Tok...Siapa malam-malam seperti ini..". Lagi-lagi ucapan paman tua terpotong ketukan pintu.Membuatnya kesal saja.
"Paket anda..". Seru kurir dari luar.
She na langsung berdiri, baru mau melangkah, namun, Lu zheng menahannya.
"Paket aku, aku pergi buka". Lu zheng berdiri berjalan membuka pintu. Paman tua menunjuk she na dengan wajah kesal mencebik bibirnya, She na menunduk melihatnya. Lu zheng masuk membawa sebuah kotak dan menaruhnya di meja samping she na duduk.
"Ini untukmu". Ucap Lu zheng sambil tersenyum.
"Apa ini?". Tanya she na.
__ADS_1