
Keesokan harinya, Tring...Tring...
"Meja nomor 6, karang rendam jus lemon hijau, apel kayu asap raja salmon Selandia Baru. Meja nomor 11, steak Tartare dimasak lambat Pork Neck iberian. Meja nomor 15, ikan bass goreng, Parfait hati angsa. Meja Nomor 18, bolu sifon air bunga jeruk dengan Mousse Saffron dan jeruk almond. Hari ini semuanya lebih semangat, pelanggan lebih banyak, semangat!". Seru pelayan pembawa hidangan dengan semangat membaca menu pesanan.
"Prok...prok...prok... Semua sudah mengerti?". Seru she na dengan lantang.
"Mengerti...". Sahut para koki.
" Kalau mengerti mulai kerja". Seru she na penuh semangat.
"Meja nomor 11, serahkan padaku". Ucap koki wong.
" Aku selesaikan meja nomor 6". Seru koki Liu.
" sSisanya.. koki utama Gu, aku kerjakan semuanya. Cepat, cepat, siapkan bahan". Seru koki Zhang.
"Hoh... Akhirnya kamu tempati posisi koki utama dengan stabil. Aku juga lebih santai". Ucap Daguo menghela nafas lega.
" Santai itu tidak mungkin. Aku berencana meningkatkan keterampilan memasakmu, setiap hari memantau kamu". Ujar she na.
"Tidak masalah. Manager Cheng bantu kamu selidiki kenyataannya, memecat koki Yu. Kamu mau bagaimana berterima kasih padanya?". Tanya Daguo.
" Bagaimana berterima kasih?. Bukankah harus diserahkan padamu?. Bukankah kamu ahlinya mengambil hati atasan?.". Tanya she na mengejek.
"Eih... Aku selama ini cuma mengambil hati anda saja, Guru Gu". Sahut Daguo dengan bercanda.
" Anak muda, kamu harus memusatkan pemikiran ini pada pekerjaan. Jangan selalu berpikir sembarangan. Mengerti?".
"Mengerti".
"Kalau mengerti, pergi siapkan bahan".
" Baik, Guru Gu. Merepotkanmu". Ucap Daguo dengan senyum bercanda. She na tersenyum senang melihat suasana dapur yang damai, tidak ada lagi perseteruan.
Di restoran XX, Presdir Lu sedang menunggu she na.
" Bagaimana....Kamu kemarin malam pulang, ibumu menyusahkanmu tidak?". Tanya she na begitu datang dan duduk di depan presdir Lu.
" Tidak, tentu saja tidak,berpikir kebanyakan. Aku ada satu kabar baik ingin kasih tahu kamu". Ucap sang presdir tersenyum. She na langsung mendekat untuk mendengar kabar baik itu. "Ibuku ingin berdamai denganmu, traktir kamu makan Sederhana. Hanya kita bertiga". Ucapnya. Senyum she na langaung surut.
"Ini kabar baik?". Tanya She na. "Hehe...Tidak mau pergi. Kalau aku memikirkan gambaran memasak di depannya, aku jadi tidak nyaman". Ucap she na merasa tidak enak tentang masakan kemarin.
"Tidak...tidak. Bukan kamu yang masak. Makan di hotel, tentu saja aku menghormati kamu". Ucap sang presdir.
"Aku pikirkan lagi, nanti aku kasih tau kamu".
"Baik. Kamu pikirkan. Kalau tidak, kamu pikirkan sekarang". Pinta sang presdir tidak sabar.
"Sedang sibuk...Koki utama, hehe...". Ucap she na menunjuk dirinya tersenyum malu.
"Tentu".
"Aku agak malaman kasih tau kamu".
"Baik".
"Pergi dulu. Pulang pikirkan lagi". Ucap she na berdiri.
"Baik".
"Pergi dulu".She na langsung melangkah pergi.
__ADS_1
"Baik. Kamu...". Sang presdir tersenyum sendiri melihat kepergian she na.
Di klub malam Celine dan Lukas sedang menari dengan semangat.
"Aih... Tidak sanggup menari lagi, tidak sanggup menari lagi. Kalau bukan kamu bilang ingin main, aku jarang sekali datang ke tempat seperti ini". Ucap Celine bohong setelah lelah menari.
"Kak Celine..Ini alkohol di traktir manager Wong di sebelah sana". Ucap pelayan klub mengantar arak untuk Celine menunjuk seorang lelaki di seberang sana. Celine tersenyum canggung menerima arak itu, mengangkat gelasnya ke lelaki tersebut.
"Kebetulan sekali, mantan klien aku". Ujar Celine pada Lukas. Lukas menatap aneh Celine.
Kring..Kring...Celine menelpon paman tua.
"Telpon pada waktu seperti ini, ingun minum atau menangis?". Tanya paman tua langsung setelah mengangkat telpon.
"Pertolongan darurat..Teman karibmu bertemu blasteran" Ucap Celine.
"Kamu jangan sampai tertipu supir". Sindir paman tua.
"Bagaimana mungkin aku jatuh dua kali dalam satu lubang?". Sahut Celine.
"Jam segini adalah puncak penggunaan mobil. Pengeluaran biaya 1,5 kali lipat". Ucap paman tua.
"Kasih kamu 2 kali lipat. Pakai lebih macho, jangan sampai ketauan". Pinta Celine.
"Lebih macho?". Ucap paman tua melihat tampilannya. "Kalau begitu, biaya busana di hitung terpisah".
"Baik, aku pesan semuanya. Sudah kirim lokasi kepadamu, cepat". Ucap Celine.
"Oke..". Ucap paman tua segera berganti pakaian dan menuju ke klub tempat Celine berada.
Tak lama kemudian Celine dan Lukas berjalan keluar dari klub.
"Bukan aku antar kamu, supir sewa yang antar kita". Jawab Lukas.
"Sungguh tidak usah..Aku ada teman, kebetulan ada di sekitar sini. Seharusnya akan segera tiba". Ujar Celine mencari keberadaan paman tua.
Ciit...
"Zhao Di, kakak sudah sampai". Seru paman tua dari dalam mobil sambil menurunkan kacamatanya. "Jangan naik dulu, kakak putar balik dulu di depan". Ucapnya menjalankan mobinya ke depan.
"Teman aku orang wilayah utara". Ucap Celine.
" Sudah terdengar, sangat nyaman". Sahut Lukas santai.
" Kalau begitu begitu, Hari ini aku pulang dulu". Ucap Celine ketika mobil paman tua sudah di depannya.
"Baik. Sudah sampai rumah kasih kabar". Ucap Lukas mau mencium pipi Celine, namun Celine menghindar.
"Apa yang kamu lakukan lagi?. Kenapa masih berdiri di situ?. Cepat naik mobil. Kakak bawa kamu pergi siapkan ginseng". Seru paman tua dari mobil.
"Aku pergi dulu". Ucap Celine naik ke mobil paman tua.
"Pria ganteng, pergi dulu..". Ucap paman tua menjalankan mobilnya. Celine tersenyum pada Lukas.
Celine dan paman tua sampai di restoran 'Sambil minum sambil ketawa'.
"Zhao Di..Cewek ini siapa?". Tanya paman tua sengaja ingin melihat she na bisa mengenalinya atau gak.
"Buta ya, paman tua?". Cibir she na.
"Bisa mengenalinya?". Ucap paman tua melepas kacamata besarnya. "Tak mau berlakon lagi. Seharian ini melelahkanku". Ucapnya duduk di samping she na.
__ADS_1
"Melelahkan?. Kamu lihat pakaianmu Seperti apa ini?. Kepala Spike kamu, kacamata besar, ada lagi mie instan mu itu. Kenapa meniru Michael?". Omel Celine dengan dandanan paman tua.
"Haha... Menurutku lumayan bagus". Ucap she na sambil ketawa.
"Dengar tidak. Memang Nana Kami lebih mengerti. Aku kasih tahu kamu. Aku berpakaian begini ada penjelasannya. Kaki menginjak keledai, punggung ada macan, menakuti kamu si tikus kecil". Ucap paman tua menaikkan kaki perlihatkan sepatunya, dan punggung pakaiannya ada gambar macan.
Piih...Desis Celine.
"Kenapa kamu hari ini berdandan seperti ini?". Tanya she na.
"Dia belakangan ini tertarik pada seorang blasteran. Tampannya lumayan ganteng. Xu Zhao Di.. Kalau aku tidak salah tebak, karena keberadaanku, blasteran kamu itu sedang khawatir kamu sampai di rumah atau tidak, lihat ponselmu". Ucap Paman tua sok tau.
"Satu Wechat pun tak ada". Ucap Celine kesal melihatkan ponselnya.
"Tidak mungkin". Ucap paman tua merebut ponsel Celine dan memeriksanya.
"Xu Zhao Di.. Kamu tertarik dengan blasteran?. Apakah jangan-jangan kali ini kamu salah pandangan lagi?. Bisa tidak kamu cari yang bisa diandalkan?". Ucap she na menautkan alisnya.
" Apa yang dimaksud lagi?. Kalian tau ada yang dinamakan Ensiklopedia Baidu?. Dia adalah orang yang ada di Ensiklopedia Baidu". Ujar Celine. "Sudah, jangan bicara tentang dia lagi. Bicara tentang kamu, hari ini kenapa?. Tiba-tiba traktir kami makan daging, dapat rezeki?". Tanya Celine pada sahabat yang biasanya pelit.
"Ya..". Timpal paman tua.
" Bukankah kesialanku sudah berakhir?. Selain itu masih ada dua masalah, ingin minta kalian bantu aku Berikan pendapat". Ucap she na sambil tersenyum.
"Katakan". Ujar Celine.
"Menyelesaikan masalah kalian berdua adalah tanggung jawabku. Katakan". Ucap paman tua.
"Yang pertama adalah bukankah Kak ziqian kali ini bantu aku membersihkan tuduhan?. Aku sedang berpikir harus bagaimana mengucapkan terima kasih". Kata she na.
"Berikan dia ciuman manis. Tanpa modal, biar dia ingat seumur hidup". Ide paman tua yang ngawur mendapat pukulan di lengannya dari she na.
"Pret... Bagaimana dengan Presdir Lu?. Menurut aku, tunjukkan dengan buat masakan apa adanya saja". Saran Celine.
"Menurutku bisa. Biaya terjangkau dan penuh ketulusan". Ucap she na setuju dengan ide Celine.
"Betull".
" Masalah berikutnya". Ucap paman tua.
She na terdiam sebentar dengan murung.
"Ibu Lu Jin...Berinisiatif undang aku makan, aku masih ragu-ragu. Ibunya bilang demi mengklarifikasi kesalahpahaman sebelumnya". Ucap she na sedikit cemas.
"Pergi, pasti harus pergi. Walaupun Kakak itu galak, juga tidak bisa menyaingi anaknya menyukaimu. Nana, dengar kata Paman. Lain kali kamu ada kesempatan ini ketemu dengan kakak. Kali ini pergi selidiki kemampuan bersaingnya, anggap sebagai pemanasan". Ucap paman tua, dia menyebut ibu presdir Lu sebagai kakak.
"Pemanasan?". Alis she na mengerut. Paman tua mengangguk pasti.
"Makan balik semua makanan dan kerugian kamu, makan sampai dia miskin". Timpal Celine.
"Tidak akan miskin. Nana....Besok datang ke studio customisasi tingkat lanjut paman. Aku ukur dari atas sampai bawah...". Ucapnya terpotong.
"Paman...Hehe..". Sela she na tersenyum memegang tangan pamannya. "Studio aku tidak usah pergi, bisa?. Waktu itu kamu membuatku jadi bahan lelucon".Sambungnya dengan cemburut.
"Besok kamu makan di mana?". Tanya Celine.
"Ibunya bilang hanya makan Sederhana, Selain itu, janji di XX". Jawab she na dengan lesuh.
" Makan Sederhana. Kalau begitu tidak perlu dandan lagi, membuatnya seperti kita belum pernah melihat pemandangan besar ini". Ucap paman tua ketus.
"Memang..". Celine membenarkan.
__ADS_1