
" Hari ini kamu mau bertemu siapa?". Tanya ziqian.
"Nanti balik kasih tahu kamu lagi. Aku pergi dulu, bye.....". Ucap she na melambaikan tangannya.
"Baik..". Sahut ziqian dengan wajah sedih.
"Aku merasa kamu hari ini agak aneh?". Ucap she na menatap muka ziqian yang murung.
"Ada yang beda?". Tanyanya.
"Sudah lama menjadi pejabat, berubah jadi agak serius. Kamu ada masalah apa, langsung Katakan saja".
"Tunggu kamu tidak sibuk baru katakan saja". Kata ziqian.
"Baik, aku pergi dulu". Ucap she na berlari. "Tutup pintu kah?". Tanya she na saat sampai ke pintu.
"Tidak usah".
"Baik..". She na langsung pergi.
" Aku ingin bilang, apa kamu menyukaiku?". Gumam ziqian setelah she na pergi.
" Kenapa kamu tidak masuk?". Tanya she na pada presdir saat sudah sampai di depan ruang pertemuan dengan ibunya presdir Lu.
" Kenapa kamu begitu cepat sudah keluar?. Aku kira kamu akan tinggal, makan kue itu bersama dia". Sindir sang presdir.
"Jangan begitu pelit. Hanya makan kue, lain kali buat yang lebih banyak untukmu". Ucap she na mengusap lengan presdir Lu.
"Kamu makan bersama dia?".
"Tidak".
"Baik..Ayo..". Ajak sang presdir masuk ke dalam.
"Kamu masuk dulu, aku pergi ke toilet dulu".
"Ke toilet?".
"Hm.. Aku, aku grogi jadi ingin pergi ke toilet".
" Kenapa harus grogi?. kamu, aku, ibuku...".
" karena..... Sudah, kamu pergi saja. Aku akan segera kembali". Ucap she na langsung pergi ke toilet.
__ADS_1
Sang presdir masuk ke dalam ruangan lebih dulu, namun dia mengerutkan alisnya melihat banyak orang di dalam.
"Senangkah bekerja di sini?". Tanya Li Man pada ziqian yang juga ada di sana.
"Lumayan". Jawab ziqian singkat.
"Baguslah....Lu Jin, sudah datang. Duduklah". Panggil Li Man melihat presdir Lu masuk. Sang presdir tersenyum menyeringai melihat semuanya.
"Apa maksudnya?". Tanya sang presdir pada ibunya.
"Apa, apa maksudnya?. Makan makanan biasa. Sudah bisa dimulai". Jawab ibunya pura-pura bodoh dan menyuruh koki di depan mulai memasak.
"Duduk..". Li Man menyuruh presdir Lu duduk di tengah antara ibunya dan dirinya.
She na melangkah masuk dan melihat ada banyak orang, dia menghentikan langkahnya menatap bingung.
"Koki utama Gu datang terlambat?. Sedang masak di dapur?". Tanya ibu presdir Lu saat melihat She na.
"Maaf..".Ucap she na.
"Koki utama Gu hari ini adalah tamu kita. Kami undang koki utama Gu makan di sini. Duduk di sini". Ucap presdir Lu menuntun she na di kursi yang Li Man maksud.
"Eh, eh...She na..Tempat duduknya sudah di sisihkan. Duduk disini". Sela Li Man menyuruh she na duduk di kursi samping ziqian.
"Baik..".
" Aku duduk di sana, kalian gampang ngobrol". Ucap she na duduk di samping ziqian.
"She na... Kenapa kamu ke sini?". Tanya ziqian berbisik setelah she na duduk.
"Aku tidak tau. Lu Jin bilang sama aku makan Sederhana, tidak tahu ada banyak orang". Jawab she na jujur berbisik.
"Ziqian... Aku telah lihat laporan keuangannya. Sepertinya keuntungan 2 bulan ini meningkat banyak dibanding periode yang sama pada tahun lalu". Ucap Li Man. She na melihat presdir Lu yang melihatnya dengan tatapan khawatir. Dia memberikan senyumnya bahwa dia tidak apa-apa. Presdir Lu juga ikut tersenyum tipis.
"Iya, kota kita sedang memasuki musim wisata, frekuensi menginap meningkat banyak. Di sisi lain kita mengganti koki utama baru. Dari segi masakan mendapat banyak pujian dari konsumen, jadi pendapatan Departemen Makanan dan Minuman juga meningkat". Jawab ziqian.
" Tampaknya ada jasa koki utama Gu". Ucap Li Man melihat she na yang menunduk.
"Tidak, tidak. Aku hanya memasak saja". Sahut she na tersenyum canggung.
" kamu terlalu sungkan. Prestasimu bisa dilihat semua orang. Walaupun sebelumnya ada sedikit rintangan, tapi pemimpin Zheng kita membedakan dengan jelas penghargaan dan hukuman. Yang harus dihukum, dihukum. Yang pantas dipuji juga tidak akan pelit. Jadi hari ini sengaja undang kamu ke sini. Bukankah seharusnya.....bersulang untuk pemimpin Zheng?". Ucap Li Man dengan seringai licik.
"Iya,iya..". Sahut she na menuang arak ke gelasnya dan berdiri. "Pemimpin Zheng.....Masalah yang lalu sudah berlalu, sekarang sudah tenang. Aku ucapkan kepada anda, berkah berlimpah dan sehat selalu. Setiap hari senang selalu. Anda suka rela saja". Ucap she na bersulang pada ibu presdir Lu.
__ADS_1
"Di fisik koki utama Gu membuatku melihat semangat dan sudut anak muda. Aku suka sifat yang begini. Tapi sebagai administrasi koki utama, tanggung jawab manajemen lebih penting. Kalau kamu hanya menonjol di bidang memasak, paling hanya menjadi seorang koki biasa. Jadi di jabatan ini, harus berhati-hati. Hormati harga diri sendiri, bisa memenangi penghormatan orang lain terhadap kamu". Ucapan pemimpin menghina she na secara tidak langsung. Li Man mengangguk-angguk mendengarnya.
"She na duduk, jangan berdiri saja". Pinta presdir Lu.
"Koki utama Gu, pemimpin Zheng dua hari ini tidak begitu sehat. Ini aku bantu dia minum. Menyusahkanmu". Sela Li Man saat she na mau duduk.
"Menyusahkanmu". Lirih she na menghabiskan arak di gelasnya begitu pun juga dengan Li Man.
"Presdir Li..Sungguh jago minum". Puji Manager Wei.
"Hari ini semuanya begitu gembira, juga senang membicarakan keterampilan koki utama Gu. Kalau tidak, minta dia tunjukkan kepada kita semua di sini. Bagaimana menurut kalian?". Ucap pemimpin Zheng sengaja menunjukkan dimana posisi she na sebenarnya.
" Iya, pernah makan masakan koki utama Gu. Tapi melihat langsung baru pertama kali. Beruntung, beruntung". Sahut direktur Fang.
"Ayo, kamu tunjukkan dulu disini. Ayo...". Ucap pemimpin Zheng persilahkan she na maju ke depan untuk memasak. Wajah sang presdir sudah berubah dingin wajahnya.
"Baik. Bisa, kalau begitu aku tunjukkan kepada kalian". Ucap she na berdiri dengan senyum terpaksa. "Tapi, tapi aku hot plate ini pertama kali. Coba saja, jadi semuanya harap sabar". Ucap she na mengambil alih tugas koki tadi sedang memasak.
"Eh, tunggu sebentar, tunggu sebentar. mengotori baju, dasar. Buka Apron kamu kasih dia". Perintah Li Man pada koki tadi. She na menerimanya dan mengucapkan terima kasih, lalu memakaikannya di pinggangnya. Pemimpin Zheng dan lainnya berdiri kecuali presdir Lu yang menatap lurus ke she na yang sedang masak dengan wajah tertekan.
"Kerjasama yang akan datang adalah bisnis Menang bersama. Aku berharap semua yang ada di sini, semuanya dewasa dan bisa dipercaya". Ucap peminpin Zheng mengangkat gelas tehnya bersulang.
"Juga berharap semuanya bisa menunjukkan tingkat profesional masing-masing, menyelesaikan pekerjaan masing-masing dengan baik. Semoga kerjasama Kita menyenangkan". Timpal Li Man.
"Baik, baik. Kerja sama menyenangkan". Ucap semuanya bersulang.
"Apakah beef ini sudah selesai?. Koki utama Gu, bisakah bantu kami membaginya?". Ucap manager Wei.
"Tidak usah bagi lagi". Potong presdir Lu. "Li Man... Bukankah kamu juga pernah belajar di Le Condor Bleu Prancis. Coba tunjukkan. Ayo". Perintah sang presdir menatap datar pada Li Man yang menatapnya dengan raut muka tidak percaya.
"Status seperti apa lakukan hal apa?. Status presdir Li, tidak cocok". Bela pemimpin Zheng.
"Apa?".Tanya presdir Lu mengeratkan rahangnya.
"Status presdir Li tidak cocok melakukan hal seperti ini?". Ucap pemimpin Zheng lagi menegaskan.
"Oh, mengerti". Sahut sang presdir berdiri melepas jasnya dan menaruhnya di kursi. "Aku juga sangat suka memasak. Aku tunjukkan kepada semuanya". Ucapnya menggulung kemejanya ke siku, lalu menghampiri she na membuka apronnya dan mengambil spatula yang di pegang she na. "Aku saja, aku saja. Berikan padaku. Baik, sama-sama saja". Ujarnya meyakinkan she na. " Sudah lama tidak masak ingin makan kematangan tingkat berapa?". Tanyanya pada orang di depan. She na melangkah pergi mengambil tasnya dan berlari keluar dari ruangan itu sambil meneteskan air mata.
Sang presdir menatap tajam oada ibunya dan Li Man, melepaskan apronnya. "Ingin makan apa lagi?. Daging ingin dibagi gimana?". Ucapnya dengan dingin. Mengambil jasnya dengan kasar dan mengejar she na keluar. Sang ibu berdiri dengan kesal menatap kepergian putranya. Li Man menunduk malu dengan perlakuan presdir Lu. SYUKURIN.
She na berlari keluar hotel dan masuk ke taksi yang kebetulan baru mengantar pelanggannya.
"She na......". Panggil sang presdir melihat taksi yang membawa she na. ****...Umpatnya dengan kesal.
__ADS_1
She na menangis terisak di dalam taksi. Setelah berapa lama, she na menghapus air matanya dan mengatur nafasnya yang sesak habis menangis lama. Setelag sampai di kompleks ruma, she na berjalan dengan gontai menuju rumahnya. Namun dia merasa ada yang mengikutinya dari belakang, saat berbalik tidak melihat siapapun. Namun ketika dia kembali melihat ke depan, dia sangat terkejut sampai memejamkan matanya menghela nafas panjang melihat koki you ada di depannya dengan membawa botol bir di tangannya.
"Koki Yu.....