
Sang presdir melepas paksa pelukan she na dan terkejut melihat wajah she na
"Kamu.....Ternyata kamu?". Ucap sang presdir dengan mata membulat.
She na langsung memuntahkan arak di mulutnya ke badan presdir Lu dan pura-pura jauth pingsan.
"Hei...Aku mengingatmu. Berdiri, cepat berdiri. Kamu jangan pura-pura mabuk". Decak presdir Lu. Melihat she na tak bergeming, sang presdir menelpon bagian resepsionis hotel, namun tidak ada yang mengangkat telpon. Dengan kesal mengambil bantal sofa dan menekan-nekan lengan she na, menyuruhnya bangun. She na malah menendang bantal itu dengan kakinya masih pura-pura mabuk membuat sang presdir terlonjak kaget. Lalu, dia berjalan ke samping she na dan menarik kedua lengannya naik ke atas ranjang. Dalam hati she na sudah panik apa yang akan di lakukan oleh presdir Lu menariknya ke ranjang. Setelah itu, presdir Lu jalan menuju ke kamar mandi dan melepaskan kemejanya. She na membuka matanya sedikit mengintip presdir Lu, hatinya makin panik melihat sang presdir membuka baju dengan pintu kamar mandi yang tidak ditutup.
Di dalam diskotik dengan suara dentuman musik yang keras, Rena berjoget dengan happy. Melihat ada seorang cowok yang sedang memandangnya dari tadi, Rena tersenyum tidak peduli terus berjoget dengan senang. Habis berjoget Rena minum sendiri di meja bar.
"Pelayan". Panggil seorang pria, sambil sengaja menjatuhkan kunci mobil tepat di samping Rena.
"Ya, apa kabar tuan!". Sahut sang pelayan.
"Beri aku segelas arak". Ucap pri itu.
"Baik, tunggu sebentar". Jawab pelayan.
Rena mengambil kunci itu. "Tuan, kuncimu jatuh". Ucap Rena mengembalikan kuncinya.
"Terima kasih". Ucap pria itu mengambil kuncinya. "Richard Meng...Boleh tau namamu nona?". Kata pria yang mengaku bernama richard.
"Celine Xu". Ucap Rena mengulurkan tangannya.
"Celine..?. Nama yang bagus". Ujar Ricahrd menjabat tangan Rena, lalu duduk di sampingnya.
"Bolehkah aku mentraktirmu minum segelas?". Ucap Richard.
"Boleh". Jawab Rena sambil tersenyum.
"Pelayan, XO".Kata Richard.
"Dua gelas?". Tanya pelayan.
"Sebotol". Ucap Richard dengan sombong sambil menatap Rena memberikan sebuah kartu pada pelayan tanpa melihatnya.
__ADS_1
"Baik..". Jawab pelayan menerima kartu itu. Beberapa detik kemudian, sang pelayan kembali. "Tuan, ini adalah kartu akses kamar hotel XX anda". Kata sang pelayan mengembalikan kartu itu. "Bayar dengan wechat pay atau Alipay?". Tanya pelayan itu.
Richard merasa sangat malu salah memberikan kartu. Ponselnya tiba-tiba bergetar.
"Jangan-jangan memakai An Credit (cicilan)". Sindir Rena dengan senyum mengejek.
"Maaf, nona, aku perlu angkat telpon sebentar. Permisi". Ucap Richard jalan menjauh.
"Kak Celine, arak ini masih mau buka tidak?". Tanya sang pelayan.
Celine adalah nama panggilan Rena.
"Simpan kembali saja. Orang seperti dia sudah banyak aku temui. Nanti dia datang, pasti bilang, aku masih ada urusan. Aku pergi dulu. Bagaimana kalau kita bertukar kontak?". Ucap Rena mencemooh. "Ingin mendapat nomor telponku dengan cuma-cuma saja". Sambung Rena . Gak lama Richard kembali dan berkata.
"Celine, maaf, aku ada masalah yang mendesak, aku harus pergi dulu". Ucap Richard membuat Rena tersenyum nyengir.
"Masalah apa begitu terburu-buru?. Terburu-buru pergi ke pasar pagi?". Sindir Rena dengan suara centil.
"Hahaha..... Bukan seperti itu, ada masalah mendadak". Ujar Richard terbahak. "Kalau tidak, kita tinggalkan kontak. Besok pagi, kita janjian sarapan bersama, bagaimana?". Ucap Richard dengan percaya diri.
"Aaaaah...Bug". Suara teriakan she na jatuh dari ranjang dengan satu kaki di atas ranjang. Sebenarnya she na mau melarikan diri, tapi malah terjatuh.
Presdir Lu keluar dari kamar mandi setelah mendengar suara, lalu menghampiri she na yang sudah jatuh di lantai.
"Bagaimana bisa seperti ini?". Ucap presdir Lu melihat kaki she na satu ada di atas ranjang. Lalu sang presdir mengangkat she na kembali ke ranjang, setelah itu menata bantal di bawah ranjang dengan kesal, takut she na jatuh lagi.
Baru mau kembali ke kamar mandi...
"Bos, aku sudah datang". Ucap sang asisten yang langsung nyelonong masuk ke kamar. Melihat ada seorang wanita di ranjang bosnya, sang asisten menutup mulutnya yang menganga. "Wah...Bolej juga kamu, bos!". Ujar sang asisten meledek bosnya. Sang presdir langsung menyuruhnya diam.
"Tidak seperti yang kamu pikirkan. Keluar". Ujar presdir Lu mengusir asisten songongnya keluar kamar.
"Boleh juga kamu ini,...Kamu sekarang sudah hebat, siapa gadis itu?. Aku tidak kenal". Tanya sang asisten saat sudah berada di ruang tamu.
"Wanuta itu yang mencelakaiku". Ucap presdir Lu sekenanya.
__ADS_1
"Aah.....". Sang asisten mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Wanita yang mencelakai mobilku". Jelas sang presdir dengan kesal.
"Ternyata dia,ya?". Sahut asisten.
"Benar".
"Jadi, utangnya masih perlu aku tagih?". Tanya asisten penasaran.
"Apa maksudmu?. Aku jelaskan padamu, dia yang datang sendiri mencariku, aku tidak melakukan apa-apa". Ucap presdir Lu tidak mau asistennya salah paham.
"Ya, keliatan..!". Ledek sang asisten melihat penampilan bosnya yang hanya memakai dalaman singlet saja.
"Dia mabuk, lalu datang mencariku. Membuat sekujur tubuhku terkena arak. Jadi, aku melepas bajuku. Tapi, bukan seperti yang kamu pikirkan". Lagi-lagi presdir Lu menjelaskan.
"Oowwh...Bukan, aku...aku hanya ingin tau, dia tidak ada kartu akses kamar, bagaimana dia bisa masuk?". Tanya sang asisten tidak terlalu percaya ucapan bosnya.
"Ini yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa dia tiba-tiba muncul di balkonku?". Ucap sang presdir menunjuk asistennya dengan kesal.
"Dia....."
"Bagaimana dia bisa ada di balkonku?". Bentak sang presdir.
"Dia...Dia panjat dari sebelah, ya?. Pasti seperti". Tebak sang asisten. "Tapi, tidak benar juga, saat pagi hari dia bilang tidak punya uang. Bagaimana dia bisa menginap di kamar suite?. Bukankah di sebelah kamarmu adalah kamar suite". Analisa sang asisten.
"Bagaimana aku tau?. Aku tidak mau pedulikan semua itu. Kamu periksa dengan jelas, sebenarnya apa latar belakangnya. Kerja sebagai apa. Kenapa dia mengikutiku terus?". Ucap presdir Lu dengan kesal.
"Baik, baik, baik. Aku sudah mengerti, aku pergi memeriksanya". Ucap asisten berdiri mau pergi.
"Besok baru periksa". Ujar sang presdir menahan lengan asistennya kembali duduk.
"Kamu terlalu baik hati, masih menunggu sampai besok". Decak asisten dengan kesal. "Aku sekarang akan menanyakannya dengan jelas untukmu". Ucap sang asisten kesal, lalu berjalan kembali ke kamar bosnya.
Sampai di kamar tidak ada siapa pun. Melihat jendela yang terbuka, mengintip keluar tidak melihat siapa pun. Lalu berlari keluar kamar berteriak..."Ti...Tidak benar. Orangnya sudah hilang. Pintu balkon ini terbuka, Dia...,dia tidak mungkin....". Ucap asisten terhenti tangannya menunjuk ke bawah.
__ADS_1