
Tapi mengenai wanita, coba kamu tanya seluruh kota, gadis mana yang tidak kenal aku, Meng xin jie". Ucapnya dengan bangga.
"Kamu tidak bisa di bandingkan denganku dalam hal ini. Kamu tajir?. Tidak ada gunanya. Kamu tajir juga tidak bisa, kamu lihat aku juga tidak bisa. Percuma lihat aku, kamu tau?. Kalau tidak puas, coba kita bertanding". Tantangnya dengan sombong, dia gak tau sang presdir sudah merasa marah padanya.
"Kamu katakan sekali lagi". Ujar sang presdir dengan datar.
"Bukan, perkataan tadi terlalu berlebihan. Itu, aku tidak bermaksud begitu. Kamu jangan simpan dalam hati". Ujar Meng xin jie merasa bersalah.
"Katakan sekali lagi". Ucap presdir Lu menekan nada suaranya.
"Ti...Tidak puas kita bisa coba bertanding, hehehe". Sahutnya dengan terbata.
"Sikap yang sebelumnya". Pinta sang presdir dengan senyum santai.
"Ka...kamu...kamu lihat aku juga percuma. Tidak puas kita bisa coba bertanding". Ucapnya dengan susah.
"Sikap?".
"Kamu, kamu lihat aku juga percuma, tidak puas kita bisa coba bertanding". Ucap Meng xin jie dengan lantang, keringat dingin sudah membasahi punggungnya karena takut.
"Sikap yang ini. Pertahankan, katakan seribu kali". Ucap sang presdir dengan santai sambil berdiri.
"Jangan..Janganlah". Mohon Meng xin jie.
"Tidak katakan sampai habis, jangan tidur". Ucap presdir Lu berlalu pergi.
"Aku akan mengganggu istirahatmu". Seruan Meng xin jie di abaikan bosnya. Dia hanya bisa menghela nafas panjang dengan wajah cemberut menerima hukumannya.
"Kamu lihat aku juga percuma, tidak puas kita bisa coba bertanding.1. Kamu lihat aku juga percuma, tidak puas kita bisa coba bertanding.2. Kamu lihat aku juga percuma, tidak puas kita bisa coba bertanding.3. Kamu lihat aku juga percuma, tidak puas kita bisa......Hahahahaha.....". Meng xin jie tidak bisa menahan tawanya karena geli sendiri dengan ucapannya yang bicara sendiri.
"Jangan ketawa..". Sentak sang presdir dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Kamu lihat aku juga percuma, tidak puas kita bisa coba bertanding.4". Ucapnya kembali melanjutkan hukumannya. "Kamu lihat aku juga percuma, tidak puas kita bisa coba bertanding.5.........968...". Ucapnya hingga esok pagi sampai suaranya sudah sangat serak.
**
She na sedang memasak makan malam untuk presdir Lu di dapur. Tok...Tok...Tok...ada yang mengetuk pintu rumahnya, saat membuka pintu she na melihat presdir Lu berdiri dengan bunga mawar di tangannya.
"Bunga ini untukmu.....". Ucap presdir Lu terpotong.
"Bagaimana kamu bisa tau aku perlu bunga mawar?". Sela she na dengan cepat sambil mengambil bunga mawar dari tangan presdir Lu. "Bisa juga kamu". Ujarnya langsung masuk menuju dapur.
"Aku tebak". Ucap sang presdir tersenyum canggung. Setelah menutup pintu presdir Lu ikut masuk ke dapur, namun sang presdir terkejut melihat she na menggunting bunga mawar dan mencabut kelopaknya, lalu merendamnya ke dalam mangkok berisi air. Setelah itu she na menumbuk kelopak mawar.
"Ini sangat segar. Tunggulah disana". Pintanya pada sang presdir
"Baik". Sahut presdir pergi dari dapur.
Setelah kelopak bunga mawar sudah hancur, she na memasukkan ke dalam panci, lalu di tambah madu, gula dan air. Dan memasaknya dengan pelan.
"(Kalau aksi bunga gagal, segera lakukan rencana B)". Sang presdir langsung mengambil sebuah buku di rak buku she na dan memperhatikan arah sinar matahari masuk.
"(Ingat, harus pada sore hari jam 5 saat matahari senja. Pria yang duduk membaca buku dibawah matahari senja, wajah samping dan sudut matahari senja harus mencapai 90 derajat. Dengan begini secara ke seluruhan akan terlihat seperti terlapis sinar keemasan. Siapa yang melihatnya tidak akan bisa menahannya)". Mengingat itu presdir Lu menaikkan sudut bibirnya dan duduk di meja dapur sambil membaca buku.
"Lu rewel, kamu jangan bilang... Bunga mawar yang kamu beri ini memang.....". Ucap she na membalikkan badan melihat presdir Lu, seketika terdiam melihat presdir Lu sedang membaca buku dengan di sinari matahari senja lewat jendela dapur. Dengan perlahan presdir Lu melihat she na dengan senyum tipis, lalu kembali melihat buku lagi.
"Dapur tempat penting, orang santai jangan masuk. Kamu bisa keluar". Ujar she na dengan lembut terlena melihat presdir Lu yang terlihat sangat tampan.
"Aku bukan orang santai. Aku pelanggan kamu yang terhormat". Ucap sang presdir santai tanpa melihat she na, masih fokus pada bukunya.
"Kamu pelanggan, tunggu di luar. Apa yang kamu lakukan di situ?. Mencurigakan". Ujar she na kembali melanjutkan masaknya.
Sang presdir menutup bukunya dan menghampiri she na dengan santai.
__ADS_1
"Aku takut ada yang berniat jahat padaku, sengaja meracuni. Jadi aku datang untuk mengawasi. Ini boleh, kan?". Modus sang presdir.
"Sengaja meracuni?". Tanya she na menekan suaranya.
"Benar. sengaja meracuni". Ucap sang presdir dengan enteng, lalu membuka buku kembali sambil menyender di sudut jendela.
She na kesal, lalu memasukkan cabe kering ke dalam panci panas sambil melihat presdir Lu, tidak ada respon, she na menambahkan lagi cabe kering ke dalam panci, Lalu sang presdir tersedak karena panci mengeluarkan asap pedas. Uhuk....Uhuk....Sang presdir langsung berlari keluar dari dapur.
"Mau duel denganku. Ck. Uhuk..Uhuk...". She na juga ikut tersedak asap pedas cabe. Dengan cepat dia menghidupkan penyedot asap di atas kompor dan mematikan api kompor.
Sedangkan di tempat lain, Meng xin jie sedang duduk di sebuah restoran dengan muka agak pucat karena tenggorokannya sakit. Dia minum air dengan pelan dan hampir tersedak karena Celine tiba-tiba muncul dan duduk di depannya.
"Kaget tidak?. Minum pelan-pelan, minum pelan-pelan. Lama tidak bertemu". Ucapnya dengan ramah.
"Meng xin jie...Itu, waktu terakhir kali makan bersama kamu, dengar kamu berbicara bahasa Finlandia. Menurut kamu kebetulan bukan, perusahaan kami kedatangan klien dari Finlandia. Sepertinya sebuah perusahaan travel ingin mempromosikan rute wisata kelas atas di Suhai, rekan yang lain tidak berani menanganinya. Sangat sulit. Sulit sekali mencari penerjemah bahasa asing ini. Tapi aku berpikir, kamu bisa. Akhirnya aku menanganinya, aku telah membuat surat perjanjian dengan direktur. Harus mendapatkan orderan besar ini". Cerita Celine panjang lebar.
"Jadi, ingin minta bantuan kamu menjadi penerjemah sementara aku. Bagaimana?". Tanya Celine dengan tidak tau malu setelah kejadian di restoran Finlandia.
Meng xin jie hanya mengulum senyum tanpa berkata apa pun sambil mengangguk-angguk.
"Baiklah, baiklah. Aku mengaku, aku memalukan. Perkataan aku pada waktu terakhir kita makan bersama itu, asli, karena takut kamu menghabiskan uang dengan sembarangan untukku. Jadi, kalau kata-kata yang aku ucapkan telah menyakitimu, aku sungguh-sungguh minta maaf kepadamu". Ujar Celine menundukkan kepala di depan Meng xin jie.
Meng xin jie masih mengulum senyum tanpa berkata apa pun.
"Kenapa tidak bicara?". Tanya Celine. "Meng xin jie, aku seorang wanita telah inisiatif minta maaf padamu. Kamu seorang pria dewasa, kenapa masih berlagak". Ucap Celine dengan nada tersinggung dengan sikap Meng xinj jie, dia mengira Meng xin jie sengaja tidak mau bicara padanya.
Meng xin jie mengankat telapak tangannya melambai-lambai tanpa bicara dengan mimik muka tidak enak.
"Baik, baik, baik. Aku tau, aku tau, aku tau. Sudah". Seru Celine melihat gerakan tangan Meng xin jie. "Kamu ingin merayu aku tapi tidak berhasil, ingin membuat perhitungan denganku?. Baik. Kamu bisa buka harga. Aku kasih kamu biaya penerjemah, bisa,kan?". Tebak Celine sok tau dengan kesal.
"Su...suaraku...serak...". Ucap Meng xin jie dengan susah payah.
__ADS_1