CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Kamu Tidak boleh Pergi Dengannya


__ADS_3

TING TONG.......


"Siapa?". Ucap she na sambil makan camilan membuka pintu. Setelahnya she na mematung melihat presdir Lu.


"Sesama tetangga, pinjam api". Ucap sang presdir langsung masuk membawa sayuran yang di hatinya.


"Pinjam api?". Alis she na mengerut.


"Kenapa?".


"Aku pinjamkan untukmu". Ucap she na memindahkan panci di kompor.


"Perayaan perpindahan rumah untuk mempererat hubungan. Sekaligus meminjam keterampilan memasakmu". Ucap sang presdir santai.


"Tidak". Ucap she na melengos pergi.


"Aku cuci sayurannya". Seru presdir Lu sambil senyum.


"Aku pergi ke toilet".


TOK...TOK...TOK.....


Cheng ziqian mengetuk pintu rumah she na yang terbuka. Dia melihat ada presdir Lu di dalam.


"Presdir Lu..". Panggil ziqian kaget.


"Siapa mengetuk pintu?". Seru she na dari dalam.


"Tidak apa-apa". Sahut sang presdir berjalan ke pintu.


"Kenapa kamu ada disini?". Tanya ziqian penasaran.


"Siapa kamu?". Tanya sambil menutup pintu dari luar.


"Aku adalah Cheng ziqian". Sahut ziqian sambil senyum.


"Aku...datang jenguk karyawan. Sekarang sudah bisa pulang".


"Jika begitu, biar aku antar". Ucap ziqian melangkah ke depan. "Presdir Lu". Panggilnya melihat sang presdir berjalan ke sebelah rumah she na.


"Kenapa kamu ada disini?". Tanya presdir Lu di depan pintu rumahnya.


"Bukankah beberapa hari ini she na tidak datang kerja?. Aku datang jenguk dia". Ucap ziqian. "Ayo pergi". Ajaknya.


"Tidak perlu. Aku sudah tiba di rumahku". Ucap presdir Lu membuka pintu rumah dan masuk ke dalam.


"Hah...". Ziqian melongo melihat she na dan presdir Lu. no 302 dan 303. "Sudah tiba di rumah?". Ucapnya menggaruk kepala dan berjalan masuk ke rumah she na.


"Kenapa presdir Lu bisa tinggal di sebelah?". Tanya ziqian saat duduk di meja makan.


"Mana aku tau?. Tidak tau apa lagi yang dia pilirkan". Sahut she na dengan santai.


"Apakah kamu tidak merasa tindakan presdir Lu itu sedikit tidak masuk akal?".

__ADS_1


"Masuk akal. Dia hanya ingin makan masakanku".


"Jika ingin makan masakanmu, cukup tinggal di hotel XX saja. Apa perlu beli sayur sendiri dan datang cari kamu masak?". Tanya ziqian penasaran.


"Dia pelit".


"Jika pelit, kenapa dia khusus menyewa rumah untuk tinggal di sebelahmu". Tanya ziqian lagi.


"Jangan menebak pikiran orang kaya. Ketika harga diriku mencapai miliaran, aku akan memberitahumu pertama kalinya, apakah seperti itu pemikiranku". Ujar she na membuat ziqian tersenyum.


"Apakah hari ini kamu sengaja bawa makanan untuk menjenguk karyawan?".


"Tentu saja bukan. Hotel Sakura Bay ada sebuah pelatihan koki, dilaksanakan oleh alumni aku ketika aku belajar di Australia. Apakah kamu tertarik untuk mendengarnya". Tanya ziqian.


"Aku boleh pergi?". Tanyanya dengan antusias.


"Tentu saja boleh, aku akan menemanimu pergi".


"Bagus sekali. Kapan?". Tanya she na.


"Akhir pekan ini".


"Bisa". Jawab she na dengan senang.


"Cepat makan". Ujar ziqian. Mereka berdua makan sambil ngobrol dengan santai.


"Ponsel, kunci, KTP, semuanya sudah di bawa". Ucap she na keluar dari rumah dengan ziqian.


"Ayo..". Ujar ziqian berjalan di depan.


"Apa hubungannya denganmu?". Sahut she na dengan ketus.


"Manager Cheng, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Gu she na secara pribadi. Terima kasih". Ucap presdir Lu menatap ziqian.


"Aku tunggu kamu di bawah". Ucap ziqian pada she na yang di jawab anggukan kepala she na.


"Apakah akhir pekan kamu ada waktu?". Tanya sang presdir setelah ziqian pergi.


"Tidak ada waktu. Aku ingin mengikuti kelas pelatihan di Hotel Sakura Bay". Sahut she na dengan cepat.


"Pelatihan apa?. Dengan siapa?".Tanya presdir Lu penasaran.


"Tentu saja dengan kakak ziqian aku". Ucap she na dengan lembut menyebut nama ziqian.


"Dengan dia?. Tidak mungkin, kamu tidak akan bisa pergi". Tegas sang presdir dengan muka kesal.


"Kenapa?".


"Karena...Akhir pekan ini Hotel XX mengadakan sebuah jamuan yang sangat besar, semua koki harus lembur, kamu tidak punya waktu untuk pergi". Ucap sang presdir menegaskan ucapannya.


"Perjamuan yang sangat besar?". Tanya she na mengerutkan alisnya.


"Benar".

__ADS_1


"Kenapa aku tidak mendapatkan pemberitahuan?".


"Kamu akan segera mendapatkan pemberitahuan". Ucap sang presdir dengan santai.


"Tapi tidak apa-apa. Meskipun ada pemberitahuan seperti itu, aku juga sudah menyerahkan laporan cuti tahunan pada manager shen, juga sudah di setujui". Jawab she na dengan senyum menyeringai.


"Apa?".


"Apa apaan?. Sebagai seorang CEO berpangkat tinggi, untuk apa kamu mengurus tingkat kehadiran seorang koki?. Sangat aneh. Banyak sekali yang kamu urus". Decak she na menggerutu.


"Aku bukan...aku bukan ingin mengurusmu. Kamu boleh pergi, aku suruh Meng xin jie temani kamu pergi". Ucap sang presdir dengan lembut..


"Aku tidak mau. Kenapa harus menyuruh asistenmu pergi denganku?. Aku cukup di temani kakak Ziqian saja". Ucap she na sengaja.


"Kamu tidak boleh pergi dengannya". Sentak presdir Lu spontan. "Ekhem, kamu tidak boleh pergi dengannya". Ucapnya lagi dengan lembut.


"Kenapa aku tidak boleh pergi dengannya?. Aku pergi dengan siapa, apa yang aku lakukan, apa hubungannya semua itu dengan kamu?. Kamu siapanya aku?".


"Aku adalah...Aku adalah atasanmu". Sahut sang presdir ragu-ragu.


"Dulu iya, sekarang bukan. Kakak Ziqian baru merupakan atasan langsungku. Sampai jumpa". Ucap she na melambaikan tangan pada sang presdir. "Kakak Ziqian...". Panggil she na dengan manja berlalu pergi.


Presdir Lu sampai melongo mendengarnya.


"Kakak Ziqian. Kakak Jin lebih enak di dengar". Gumam sang presdir sendiri.


**


"Lihatlah, mana yang kamu suka?". Tanya ziqian pada she na yang sedang memilih koper.


"Yang ini saja". Ucap she na menunjuk koper warna merah.


"Begitu sembarangan?". Ucap Ziqian.


"Aku ada fobia saat memilih sesuatu". Cicit she na.


"Bukankah akan semakin sulit memilih jika seperti itu?".


"Bukan. Aku akan sulit untuk memilih, jika aku beli barang sendiri, tapi jika akan di belikan oleh orang lain, aku dapat memilih dengan cepat, karena aku takut dia akan menyesalinya". Ujar she na.


"Jika begitu, aku akan segera pergi bayar?". Ucap ziqian, lalu memanggil pelayan di toko tersebut. "Halo..".Ujarnya melambai tangan.


"Halo...". Sapa pelayan.


"Yang biru ini mau satu. Yang merah ini.....".


"Bolehkah aku minta 2?". Potong she na.


"Ada siapa lagi?". Tanya ziqian.


"Aku ingin membawa Toa besar(Daguo) bersama".Sahut she na.


"Toa besar?".

__ADS_1


"Adikku di hotel XX, yaitu pengikutku. Aku merasa ini adalah kesempatan yang sangat bagus, jadi aku ingin membawanya pergi lihat juga". Ucap she na memikirkan Daguo yang selalu bersamanya.


"She na begitu setia kawan, aku tidak masalah". Ucap ziqian dengan santai mengizinkan she na membawa Daguo. "Jika begitu, aku minta yang ini 2, yang ini satu, bantu bungkuskan". Ucap ziqian pada pelayan. Dia memilih koper warna biru 2, dan koper warna merah 1 punya she na.


__ADS_2