CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
NAIK LEVEL


__ADS_3

"Haaa..". Mulut sang asisten terbuka tidak mengerti.


"Aku sedang bertanya padamu". Teriak sang presdir pada asistennya.


"Sedang bertanya padamu..". Teriak asisten pada she na.


"Tidak canggung...". Jawab she na dengan teriak juga.


"Kamu jangan bicara lagi. Kamu orangnya, kamu membawa sial untukku. Aku tidak ingin makan makananmu lagi, ok?". Bentak presdir Lu menunjuk wajah she na. "Kamu sudah menang. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi". Ucap sang presdir dengan emosi lalu berbalik membuka pintu kamarnya, namun tidak bisa, karena kartu akses pintu ketinggalan di dalam.


"Kartu..". Ucapnya pada sang asisten.


"Kartu...". Sentak sang asisten pada manager shen.


"Pergi...antarkan kesana". Ujar manager shen memberikan kartu akses pada she na.


She na mengambil kartu itu dengan cepat membuka pintu kamar sang presdir.


"Presdir Lu.....Silakan". Ucap she na dengan lantang mempersilahkan setelah pintu terbuka.


"Kamu keluar". Sentak presdir Lu emosi.


"Aku keluar". Ucap she na langsung berlari keluar.


Presdir Lu berlalu masuk dengan kesal. Sang asisten menyuruh semuanya pergi sebelum menutup pintu kamar bosnya.


"Gu she na...Mulai hari ini, hubungan mutualisme kita berakhir disini. Kamu di PECAT!!". Ucap manager shen pada she na.


"Tidak, manager. Tadi presdir Lu bilang tidak ingin makan masakanku, tapi bagaimana jika itu hanyalah kata-kata emosinya saja". Ujar she na mempertahankan posisinya.


"Dia adalah bos besar. Untuk apa dia mengucapkan kata-kata emosi?. Sudah syukur dia tidak menggugatmu meracuni dia". Sentak sang manager membuat mata she na membulat mendengar kata mengugat.


"Aku tidak meracuni dia. Itu karena jamur belum matang, tapi dia datang minum secara diam-diam. Apa hubungannya denganku?". Ucap she na membela diri dengan kesal.


"Guru Gu...Waktu itu kamulah yang berinisiatif untuk menerima pekerjaan ini. Sekarang kamu juga yang tidak ingin bertanggung jawab. Kamu tau istilah promosi dan naik gaji, kenapa kamu tidak tau untuk merasa bersalah dan mengundurkan diri?". Ucap manager shen tetap mau she na keluar dari hotel XX.


"Kalian ini membalas air susu dengan air tuba" Ucap she na menatap kesal.

__ADS_1


"Pelanggan sudah tidak membutuhkanmum Untuk apa aku mempertahankan karyawan biasa seperti kamu?. Pulanglah ke rumahmu". Sindir sang manager.


"Baik. Ingin memecatku?. Seluruh Suhai hanya ada satu hotel XX?. Aku adalah koki wanita muda yang cantik. Apa mungkin aku tidak bisa menemukan pekerjaan?". Balas she na berteriak pada manager shen, Setelah itu dia berlalu pergi.


"Eh, koki Gu, koki Gu. Arah itu adalah dapur. Ruang ganti sebelah sana". Ujar manager shen menunjuk ke arah kanan


"Kamu tidak perlu mengurusku". Kesal she na menghentakkan kakinya berlalu pergi.


**


Keesokan harinya, presdir Lu dan asistennya makan di sebuah restoran. Saat sang asisten sudah bersiap untuk makan, presdir Lu menatapnya sambil tersenyum.


"Ada apa?. Bukankah ini adalah hidangan yang kamu puji-puji waktu itu?". Tanya asisten canggung di tatap terus.


"Kaviar Danau Qindao dengan simping. Prajurit menguasai pemimpin. Apakah kamu menyukainya?". Tanya sang presdir mengartikan hidangan di depannya dengan masih terus menatap asistennya.


Ti...Tidak, tidak, tidak suka. Tidak suka, ganti,ganti". Sahut sang asisten gugup dan meminta pelayan mengganti hidangan lain.


"Waktu itu anda bilang, hidangan ini langsung meleleh saat di masukkan ke mulut?". Ucap asisten seraya memotong hidangan yang baru dan memasukkan ke mulutnya.


"Tunggu...". Seru sang presdir sambil memotong daging di depannya.


"Tadi aku menggunakan waktu berapa lama untuk memotongnya?". Tanya sang presdir sambil memakan makanannnya tidak puas.


"Tidak hitung". Jawab asisten jujur.


"Apakah aku benar-benar pernah memuji restoran ini?. Pernah memuji?". Tanya sang presdir sambil melihat ke sekitar restoran. Sang asisten gugup tidak bisa menjawab, hanya mengangguk dan menggeleng kepala.


"Mungkin indra perasaku rusak, atau sudah naik level. Naik level?". Gerutunya pada diri sendiri. "Kamu nikmati perlahan". Ucap sang presdir berdiri dan pergi begitu saja.


"Kamu itu namanya jadi sangat memilih makanan". Rutuk sang asisten setelah bosnya pergi. Dia juga ikut pergi dengan kesal.


**


Sedang di dalam rumahnya, she na melihat laptopnya mengerutkan alisnya.


"Apa mungkin seperti itu?. Aku memasukkan begitu banyak surat lamaran. Tapi tidak ada satu panggilan pun yang masuk!. Apakah HR semua hotel bintang 5 itu tidak punya komputer?". Gerutu she na menatap nanar laptop di depannya. Di saat sudah putus asa, ponselnya berdering, dengan cepat she na mengambil ponsel di sofa.

__ADS_1


"Ternyata masih ada satu yang punya komputer". Ujarnya langsung menjawab dengan ramah.


"Halo...,aku adalah Gu she na. Surat lamaranku, kalian....." Ucap she na terpotong suara di seberang telpon.


"Nona Gu...". Panggil asisten presdir Lu di telpon.


"Meng Xin Jie...?". Kata she na langsung mengenali suara asisten presdir Lu.


"Eh, jika ada urusan, katakan sesingkat mungkin. Aku sangat sibuk, sedang menunggu telpon". Sarkas she na dengan kesal.


"Tidak ada urusan lain, hanya ingin mendesakmu bayar hutang. Hari ini adalah hari terakhir waktumu bayar hutang". Ucap asisten Meng dengan santai.


"Kamu...galak apaan?. Yang berhutang adalah penguasa. Apakah kamu tidak tau?. Tunggu saja". Jawab she na dengan suara keras.


"Aku galak apa?. Perkataan bos kami benar sekali. Baik, jika tidak ingin bayar, kita bertemu di pengadilan saja!". Ucap asisten Meng langsung menutup telpon dengan kesal.


"Pe...pe...Bertemu di pengadilan?". Dengan lesuh she na duduk di sofa. "Gawat, gawat, gawat. Mereka ingin lapor polisi atau menuntutku, aku gawat. Hidupku gawat. Aku akan gawat, bagaimana ini". Gumam she na menjambak rambutnya menangisi nasibnya. Namun, tiba-tiba dia berhenti dan tersenyum sambil melihat foto kakeknya yang ada di samping TV. "Masih ada kesempatan..". Ucapnya langsung berdiri masuk ke kamarnya.


**


"Gadia cantik...Sedang tunggu mobil?". Kata asisten Meng menghentikan mobilnya di samping Celine(Rena) sedang berdiri di tepi jalan.


"Yoo...Pak supir. Kamu jadi supir grab?". Sindir Celine.


"Apakah kamu pernah melihat grab pakai FERRARI?". Ucap Meng xin jie dengan bangga.


"Apa yang perlu di banggakan?. Bukankah karena bos kamu ganti mobil baru lagi". Ujar Celine dengan senyum mengejek.


"Sudahlah, sudahlah. Jangan mengejekku lagi. Pergi atau tidak?. Aku antar kamu". Tanya asisten Meng mengalah.


"Baiklah, aku berikan kamu kesempatan". Ucap Celine langsung masuk ke dalam mobil.


"Hahaha...Ingin pergi kemana?". Tanya asisten Meng sambil ketawa menggeleng kepala.


"(Xu zhao di, aku akan mencari kakekku sekarang. Jika tidak bisa mendapatkan uang, aku harus masuk ke pengadilan. Pada saat itu, kamu cukup masuk bersamaku saja)". Celine mendapat pesan suara dari she na saat sudah duduk di mobil asisten Meng yang juga ikut mendengar suara dengan nada ancaman tersebut.


"Gu she na...Kamu harua percaya terhadap kemampuan kakekmu. Jangankan ganti rugi, dia adalah bos....". Balas Celine dengan pesan suara juga .

__ADS_1


"Eh..Kamu, kamu tunggu sebentar. Wanita yang mengundangmu masuk ke pengadilan bersamanya adalah seorang koki, kan?". Sela asisten Meng setelah mendengar nama Gu ahe na.


"Kenapa kamu bisa tau?". Tanya Celine kaget.


__ADS_2