
Di dalam ruang rapat perusahaan Ming Ting.
Ceklek...
"Ayah... Semuanya, maaf aku terlambat". Ucap Lu zheng cengengesan.
"Cepat cari tempat duduk". Ucap ayahnya. Lu zheng langsung duduk di samping ayahnya.
"Semuanya telah hadir, Kita mulai bahas topik hari ini. Beberapa obligasi yang sebelumnya diterbitkan perusahaan, akan jatuh tempo secara bersamaan dalam waktu dekat. Aku tahu semua orang sangat peduli dengan pengaturan dana kedepannya. Cheng bagaimana progres penerbitan obligasi baru?". Tanya pemimpin Lu, ayahnya Lu Jin dan Lu zheng.
"Pemimpin Lu, anda tenang saja, semuanya sangat lancar. Aku telah komunikasikan dengan berbagai institusi besar. Kalau dilihat dari peringkat kredit terbaru perusahaan kami, modal obligasi baru kami Seharusnya lebih rendah dari sebelumnya". Sahut Manager Cheng.
"Bukan 'seharusnya', tetapi harus. Dari pelaksanaan beberapa proyek sebelumnya, boleh dikatakan kurang memuaskan. Ada penyebab dari lingkungan makro, aku tidak jelaskan satu persatu secara detail lagi. Namun, beberapa proyek diantaranya, melebihi anggaran hingga 30%. Jika seperti ini terus, akan ada masalah besar pada perputaran kas perusahaan. Karena itu, biaya penerbitan obligasi harus ditekan". Ucap pemimpin Lu.
"Baik. Kalau begitu, aku akan menghubungi beberapa institusi lagi, usahakan menekan biaya semaksimal mungkin". Sahut manager Cheng.
" Bagaimana dengan pinjaman kredit jangka pendek bank?". Tanya pemimpin Lu Ming Ting pada direktur Han.
"Sudah di negosiasikan dengan kisaran kredit yang telah di negosiasikan sebelumnya, kuota pinjaman kami kali ini harusnya tidak akan ada masalah besar. Halnya saja prosedur bank agak merepotkan, aku akan menghubungi kepala Bank Zhao lagi siang ini. Di usahakan minggu depan dapat menyelesaikan proses persetujuan perjanjian pinjaman". Jawab direktur Han.
"Sebelum penerbitan obligasi baru, hanya bisa mengandalkan pinjaman untuk menghalanginya terlebih dahulu, tidak boleh ada kesalahan apa pun. Jika uang obligasinya tidak bisa dikembalikan, ini akan menjadi masalah besar. Kesulitan yang dihadapi oleh perusahaan saat ini, harusnya kalian semua sudah tahu. Aku berharap semua orang bisa bekerja sama menghadapi ini bersama". Ucap pemimpin Lu meminta pengertian semuanya. Semua dewan direksi mengangguk.
Lu zheng melihat muka ayahnya agak pucat dan memegang perutnya menahan sakit.
"Ayah, kamu tidak apa-apa?". Tanyanya.
"Tidak apa-apa". Jawab ayahnya mengambil dokumen di meja dan membukanya.
Setelah istirahat sebentar mereka kembali melakukan rapat darurat...
"Pemimipin Lu...Pemimpin Lu...". Sapa semua direksi di ruang rapat saat Lu Ming Ting masuk dengan terburu-buru.
" Bagaimana situasinya?. Cepat katakan". Desak pemimpin Lu.
"Baru saja mendapat kabar bahwa anak perusahaan, konstruksi Lanyu terlibat manipulasi laporan keuangan. Sekarang, media-media keuangan membicarakan masalah ini dengan berlebihan di mana-mana. Meskipun Departemen hubungan masyarakat dari perusahaan grup sudah berusaha untuk menekan hal ini. Namun, pengaruh negatif dari opini publik menyebar semakin luas". Papar direktur Han.
"Di saat seperti ini, Kenapa hal ini bisa terekspos?. Tidak peduli dengan cara apapun, harus bisa menaikkan masalah ini". Perintah Pemimpin Lu.
Semua orang lagi khawatir dengan keadaan perusahaan, namun Lu zheng masa bodoh, dia dengan tenang menggambar di buku kecilnya.
__ADS_1
Ceklek...
"Pemimpin Lu, gawat... Bank baru saja menelpon kita, katanya pinjaman grup diberhentikan oleh bank Pusat". Seru sekretaris pemimpin Lu dengan panik setelah membuka pintu.
" Segera telepon kepala bank Zhao, tanya dia apa sebenarnya yang terjadi". Sentak pemimpin Lu dengan emosi.
"Sudah pernah meneleponnya. Kata kepala bank Zhao, konstribusi tahunan Lanyu terhadap keuntungan perusahaan group melebihi 30%. Mengingat opini negatif publik terhadap Lanyu saat ini, Departemen pengendalian risiko dari bank pusat langsung menghentikan persetujuan perjanjian pinjaman". Timpal direktur Han.
"Segera siapkan materi Lanyu untukku. Segera hubungi manager Liu dari Departemen kredit bank pusat. Bilang padanya, aku akan menemuinya segera". Perintah pemimpin Lu.
"Pemimpin Lu, Lembaga pemeringkat mengeluarkan pengumuman, mengatakan bahwa prediksi peringkat Ming Ting, dari stabil akan disesuaikan menjadi negatif. Aku memperkirakan peringkat kredit perusahaan akan segera diturunkan". Ujar manager Cheng.
"Bagaimana bisa begitu?". Ucap pemimpin Lu dengan lirih.
"Jika peringkat kredit diturunkan, penerbitan obligasi kami akan terhambat sampai saat itu, jangankan ingin mengurangi modal, bahkan bisa terbit atau tidaknya obligasi tersebut juga sulit dipastikan. Aku merasa jika broker, perusahaan kepercayaan dan perusahaan manajemen aset mengetahui berita ini, pasti akan segera menagih hutang pada kita". Manager Cheng menjelaskan kondisi perusahaan.
"Gawat, tidak bisa mendapatkan pinjaman dari bank, obligasi baru ini juga tidak bisa diterbitkan. Jika para kreditur mendengar berita ini, mereka pasti tidak akan duduk diam, pasti akan datang untuk membuat masalah. Aliran dana perusahaan sekarang ini, terjadi masalah yang begitu besar. Mulai sekarang, pengoperasian normal juga akan menjadi sulit. Pemimpin Lu, aku mempunyai saran, bisakah kita pertimbangkan dengan serius rencana akuisisi grup Zheng Hong?". Ucap direktur Han memberikan saran untuk masalah perusahaan. Pemimpin Lu tersenyum tipis mendengarnya.
" Rapat ini semakin menarik. Aku semakin tidak mengerti, apa tujuan sebenarnya dari saranmu ini?". Tanya pemimpin Lu menatap tajam direktur Han. " Ini adalah cara penyelesaian yang sudah kamu pertimbangkan dengan baik, atau kalian semua sudah mencapai konsensus secara pribadi?. Aku Lu Ming Ting, telah berada di posisi tinggi di dunia bisnis selama lebih dari 30 tahun. Walau pun aku jatuh, juga tidak akan tunduk pada grup Zheng Hong. Aku sungguh mengerti, ini adalah rapat dewan direksi Ming Ting, atau rapat dewan direksi Zheng Hong?".Bentak pemimpin Lu bersih kukuh tidak akan tunduk pada perusahaan Zheng Hong 'mantan istrinya'.
Bugh...
"Pemimpin Lu...Pemimpin Lu...". Seru semuanya saat melihat Lu Ming Ting memegang dadanya yang sakit dan jatuh pingsan.
**
"Kamu memanggil begitu banyak teman?". Tanya Lu Jin menunjuk semua teman kokinya she na sudah berkumpul bersama di vila tempat mereka rekreasi.
"Bukankah kamu yang bilang boleh mengajak teman ke sini?". Jawab she na dengan polos.
"Benar, benar, tapi...tapi pergaulanmu terlalu luas". Protes Lu Jin yang awalnya hanya ingin berdua saja dengan she na.
"Ini tidak luas, semuanya adalah koki, pelan-pelan kamu akan terbiasa".
" Tapi, awalnya aku mengira hanya kita berdua, dunia kita berdua". Ucapnya berbisik di telinga she na dan memainkan rambutnya.
"Tetapi, kamu yang bilang boleh mengajaknya..."
"Presdir Lu... Bolehkah aku mengobrol sebentar dengan sahabatku?". Sela Celine mengganggu.
__ADS_1
"Tentu saja..". Sahut Lu Jin dengan muka kesal melangkah pergi.
"Terima kasihl. Ucapnya duduk di kursi Lu Jin tadi. "Bagaimana, cara yang ku ajarkan padamu berguna tidak?.Kamu dan Lu Jin sudah sampai tahap apa?. Beri tahu aku dengan jujur". Desak Celine dengan jiwa keponya.
"Ti... tidak ada apa pun yang terjadi diantara kami". Jawab she na.
"Tidak mungkin. Bagaimana mungkin tidak ada apa pun yang terjadi?. Kalau begitu, bukankah persiapanku semuanya menjadi sia-sia?". Ucap Celine dengan muka kecewa.
"Kamu masih....". Ucap she na terpotong dengan tawa M X J.
"Hahaha... Mereka berdua ini...".
"Kamu datang untuk minum air, makan dan main ya?". Cerca bosnya.
"Kalau tidak?". Tanya M X J mengendikkan bahu.
"Manfaatkan kesempatan ini untuk mempererat hubungan!". Ucap sang bos.
"Baik,baik..". Sahut M X J melangkah pergi.
"Kembali...Ini, kami tukar dia kembali". Pinta bosnya.
"Aku kebetulan bermaksud seperti itu". Ucapnya dengan pergi ke tempat she na dan Celine berada. "Guru Gu... Jarang-jarang bisa berduaan, berikanlah aku kesempatan". Ujar M X J memeluk bahu Celine yang malu-malu. She na langsung mengerti dan berdiri sambil tersenyum melihat keduanya. " Kamu pintar sekali, orang yang cantik memang berbeda". Puji M X J pada she na yang mengerti maksudnya.
She na melangkah ke arah Lu Jin dan berhenti di depannya. Lu Jin sangat senang melihatnya.
"Aku lihat kak ziqian sebentarl. Ucap she na menunjuk ziqian yang duduk di belakang Lu Jin.
"Baik..". Jawab Lu Jin langsung memudar senyumnya.
"Kak ziqian.. Apakah kamu tidak bosan membaca buku sendirian?". Tanyanya duduk di samping ziqian.
"Tidak apa-apa. Aku sendirian sebentar. Masalah di perjamuan hari itu, kamu tidak apa-apa kan?". Tanya ziqian khawatir.
"Tidak apa-apa. Aku adalah seseorang yang mudah memproses, kamu tenang saja".
"Serius..?". Tanya ziqian.
"Serius".
__ADS_1