
Sesampainya di hotel XX, She na langsung menuju ke ruang ganti berganti pakaian dan pergi ke dapur saat masuk ke dapur. Saat masuk ke dapur Daguo langsung menghampirinya sambil membawa sayuran di tangannya.
"She na..". Panggilnya.
"Sini aku saja". Ucap she na mengambil sayuran di tangan Daguo.
"Aku saja. Manager Cheng sudah mengatur cuti untukmu". Ucap Daguo beritahu.
"Bukankah cuti harus potong gaji?".
"Sini...". Daguo membawa she na ke sudut dapur agar tidak di dengar yang lain.
"Ada apa?". Tanya she na heran.
"Bagaimana kasih kondisi kakekmu?". Tanyanya.
"Cukup baik. Bersiap untuk melakukan operasi stent".Jawab she na jujur.
"Ini...". Daguo memberikan sebuah amplop pada she na. She na mengambilnya dan membukanya, mulut she na menganga, karena isinya adalah uang. "Ambillah..". Ucapnya.
"Aku tidak mau ini". Ucap she na mengembalikan amplop padanya.
"Kamu ambil saja".
"Aku tidak mau".
"Kamu ambil saja. Aku tidak bisa membantu, ini hanya sedikit bentuk perhatianku". Ucap Daguo menggenggam tangan she na beserta amplop sambil tersenyum.
"Toa Besar... Sayurnya mana?". Seru koki zhang.
"Segera di antarkan". Sahut Daguo. " Untuk apa kamu sungkan padaku?". Ucap Daguo melangkah pergi sambil tersenyum. She na menangis dengan sedih setelah Daguo pergi.
She na bekerja keras setiap hari, mulai dari pagi mengambil barang untuk warung kakeknya, kemudian ke hotel bekerja, sore menjenguk kakeknya, malamnya bekerja di warung kakeknya sampai dini hari. Lalu kembali ke rumah sakit untuk menemani kakeknya.
'Di sini ada sedikit masalah, mungkin tidak akan kembali untuk sementara waktu. Apakah kamu baik-baik saja. Belakangan ini Kerjanya lelah tidak?'. Pesan dari Lu Jin membuat she na tambah sedih, di saat dia membutuhkannya, Lu Jin tidak ada.
"Cukup baik". Balas she na singkat.
**
"Dapou...". Panggil she na setelah selesai membuat pesanan pelanggan di warung kakeknya.
__ADS_1
"Aku datang..".
"Bihun kertas timah 3 porsi untuk meja nomor 6. Tunggu sebentar!. Tidak mau ketumbar, tidak mau daun bawang, normal". Ucap she na membedakan 3 hidangan pesanan pelanggannya. Bahkan she na sampai ketiduran di warung kakeknya saking capeknya, waktu sudah menunjukkan pukul 02:00 dini hari. Semua warung sudah sepi, hanya warungnya yang masih tinggal 1 pelanggan. Sedangkan Dapou membersihkan meja yang kotor.
"Pok...pok...Bos..Pok...Pok...Bos...Pok...Pok...Bos...". Panggil seorang pelanggan sambil menepuk meja. She na terbangun dari tidur dan menghampirinya.
"Ada apa?". Tanya she na.
"Apa yang ada apa?. Kamu tidak melihat rambutmu jatuh ke dalam hidangan ini?". Protes pelanggan itu mengambil sehelai rambut dari hidangan yang sudah hampir habis.
"Maaf ya. Aku buatkan yang baru untukmu sekarang". Ucap she na mengambil piring hidangan di meja.
"Tunggu sebentar, tunggu sebentar". Cegah pelanggan itu. "Ada rambutmu di dalam hidangan ini, buat yang baru untukku sudah selesai?". Ucapnya menatap she na.
"Jadi, maksudmu adalah...". Tanya she n Mengerutkan alis.
"Maksudku adalah... Begini saja, aku juga bukan orang yang suka cari masalah. Hidangan di meja ini, anggap kamu yang mentraktirnya, oke?". Ucapnya melihat she na dengan senyum licik sambil berdiri, namun dari belakang ada sebuah tangan menekan bahunya, hingga dia duduk kembali.
"Apakah seru menindas seorang gadis?". Tanya Lu zheng dengan tatapan tajam.
"Kamu siapa?". Tanya pelanggan itu ketus.
"Sudahlah..". Ucap she na tidak mau ribut.
"Kamu merasa rambut ini sungguh miliknya?". Ucap Lu zheng melihat kepala she na.
"Kalau bukan miliknya, lalu milikku?". Tanya pelanggan itu berdiri memasukkan tangannya ke saku jaket yang ada bungkusan kecil. Namun Lu zheng sudah melihatnya. "Terlalu banyak ikut campur". Ujarnya. Lu zheng langsung merebut bungkusan kecil itu dari saku jaketnya dengan cepat saat pelanggan itu mau pergi.
"Jangan pukul...jangan...". Seru she na takut keduanya berkelahi.
"Kamu sungguh datang dengan penuh persiapan, ya?". Sindir Lu zheng memberikan bungkusan kecil yang berisi rambut itu pada she na.
"Maaf, salah paham ". Nyali pelanggan itu langsung menciut. "Salah paham, salah paham.Aku sungguh minta maaf". Ucapnya gelagapan.
" Ini apa?". Tanya Lu zheng menyentak.
"Bukan, salah paham. Salah paham, salah paham. Sungguh salah paham. Maafkan aku,maafkan aku". Ucapnya pelanggan itu sudah gugup.
"Halo...110, ya?". Lu zheng mengeluarkan ponselnya dan menempelkan ke telinganya pura-pura menelpon polisi.
"Jangan, jangan, jangan lapor polisi. Aku bayar. Maaf, Maaf, aku pergi dulu. Maaf ya, jangan lapor polisi". Ucap pelanggan itu dengan muka pucat berlari pergi.
__ADS_1
"Sungguh lapor polisi?". Tanya she na penasaran.
"Lapor apa?. Masalah seperti ini, aku seorang bisa mengatasinya". Ucap Lu zheng menyimpan ponselnya.
"Terima kasih..". Ucap she na tersenyum. "Tetapi, apa yang kamu lakukan di tengah malam begini?". Tanya she na.
"Bukankah kamu memintaku datang untuk meramaikannya?. Tetapi, tempatmu ini sangat susah ditemukan". Sahut Lu zheng melihat sekeliling warung yang ada. "Kenapa melamun?. Ada apa?. Tidak menyambutku, Dewa Rejeki?". Goda Lu zheng.
"Sambut, tentu harus disambut. Kamu duduk di sini tunggu sebentar. Hari ini aku pasti akan membuatmu makan sampai puas. Duduklah, duduklah". Ucap she na melangkah ke dapur, lalu memasak untuk Lu zheng. Setelahnya she na kembali ke rumah sakit untuk menemani kakeknya. Pergelangan tangan kirinya ditempel koyo karena nyeri, habis memasak di hotel, harus memasak di warung kakeknya sampai dini hari. Masuk ke dalam kamar rawat kakeknya dengan lesuh, mengelus kepala kakeknya sebentar, lalu she na tertidur di kursi samping ranjang kakeknya. Paginya She na berjalan keluar sambil menguap masih ngantuk.
"Anggota keluarga Gu Baoguo, ya?". Tanya perawat saat melihat she na lewat.
"Ya..". Jawab she na.
"Waktu operasi ditetapkan pada Senin depan, pukul 13.00. Sebelum operasi, harus puasa makan 8 jam, Puasa minum 4 jam".Ucap perawat menjelaskan.
"Baik..".
"Jangan lupa untuk membayar biaya di kasir".
"Sekarang ya?". Tanya she na.
"Ya..".
"Baik..". Jawab she na dengan lesuh berjalan pergi.
Sedangkan di kamar kakeknya kedatangan tamu. Ibunya Lu Jin datang menjenguk kakek Gu.
Tok...Tok...Tok...
"Siapa?. Silakan masuk". Sahut kakek Gu.
Ibu Lu Jin berjalan masuk dengan elegan setelah kakek Gu menyahut. "Apa kabar?". Sapa ibu Lu Jin. " Aku adalah ibu Lu Jin". Ucapnya saat melihat kakek Gu bingung.
"Silakan duduk, silakan duduk". Ucap kakek Gu.
"Aku tidak duduk lagi. Aku bawa sedikit suplemen untuk anda". Ucap ibu Lu Jin meletakkan suplemen di meja.
"Tidak perlu sungkan. She na bilang kamu sangat sibuk". Ujar kakek Gu.
"Sudah seharusnya. Anda lebih tua. Kali ini aku datang untuk memberitahu anda, mulai sekarang jika anda ada kesulitan, boleh Katakan padaku. Lu Jin agak sibuk, semua pekerjaan perusahaan ditanggung olehnya. Jangan pergi mengganggunya jika tidak ada urusan penting". Ucap ibu Lu Jin dengan tegas. Suaranya tidak keras, tapi nyelekit. Kakek Gu hanya diam tidak membalas ucapan ibu Lu Jin. "Ini adalah kartu nama asistenku. Jika ada masalah, Anda boleh telepon ke nomor ini". Ucapnya memberikan sebuah kartu nama pada kakek Gu. Mau tak mau kakek Gu menerimanya tanpa berbicara. "Aku tidak mengganggu anda lagi". Ucapnya melangkah pergi.
__ADS_1
Kakek Gu menggeleng kepala dan menghela nafas panjang melihat sikap ibu Lu Jin. "Cucuku She na...". Ucap kakek menghela nafas.