
Keesokan harinya, setelah presdir Lu selesai makan, she na memberikan nota pada sang presdir untuk di tanda tangani. Namun, saat mau tanda tangan presdir Lu melihat ada yang salah.
"Apakah salah hitung?". Tanya sang presdir. "Kalau tidak coba kamu lihat lagi".
"Salah hitung?". She na mengambil nota dan melihatnya. "Sepertinya benar salah hitung. Kelebihan satu lauk". Ujarnya.
"Bagaimana cara menyelesaikannya?". Ucap presdir Lu datar.
"Biasanya di luar...gratis". Lirih she na.
"Gratis?. Baik, ikuti kamu. Merepotkanmu, lauknya sangat lezat, terima kasih. Sampai jumpa besok". Bisik sang presdir di telinga she na dan menepuk bahunya dengan lembut dan berlalu pergi. She na tersenyum malu-malu sendiri.
Keesokan harinya, saat presdir Lu sedang duduk di meja makan sambil minum, she na keluar membawa hidangan ditangannya.
"Goreng minyak zaitun.....". She na tidak sengaja menyenggol lengan presdir Lu yang sedang megang gelas air dan membuatnya menumpahkan air minum sampai bajunya basah.
"Maaf...maaf...Mohon maaf". Ucap she na terlihat panik.
"Tidak apa-apa". Ucap sang presdir.
"Bagaimana bisa tidak apa-apa?". Sentak she na tiba-tiba. "Baju kamu ini sangat mahal. Kamu meremehkanku?. Sebutkan angkanya, aku ganti. Katakan". Sinis she na. Sang presdir membelalak melihat she na marah.
Beberapa hari berlanjut hubungan she na dan presdir Lu makin baik. Seperti siang ini she na menyiapkan makan siang untuk sang presdir.
"Makan siang sudah siap. Cepat makan kesini!". She na mengirim pesan pada presdir Lu.
Sang presdir yang sedang rapat dengan karyawannya, menerima pesan dari she na menaikkan sudut bibirnya.
"Kalau tidak ada masalah, bubarlah". Perintah sang presdir. Setelah itu dia datang ke rumah she na.
Hari-hari berganti dengan cepat, begitu pun dengan hubungan keduanya yang semakin dekat.
She na sedang duduk di depan pintu sambil bersenandung sambil mengupas kenari. Kring...Kring... Ponsel she na berbunyi, setelah melihat siapa yang menelpon, she na langsung menjawabnya.
"Halo...Paman tua".
"Na na, bagaimana keadaanmu?".
"Sangat baik". Jawab she na dengan senang.
"Uang yang di palak masih lancar?". Tanya paman tua yang belum tau hubungan keduanya makin dekat.
"Lancar".
"Masih berapa lagi baru lunas?". Tanya paman tua.
"Tidak tau. Sudahlah, aku tidak bicara lagi denganmu. aku mau kupas kenari". Ujar she na.
__ADS_1
"Kupas kenari?. Tunggu. Untuk apa kamu kupas kenari?". Tanya paman tua penasaran.
"Aku ingin buat kenari karamel untuk Lu Jin. Belakangan ini dia sangat bekerja keras, pekerjaannya sangat banyak. Sudah ya, bye...". Jawab she na dengan santai dan menutup telpon. Dia melanjutkan kupas kenarinya.
"Suplemen otak?". Gumam paman tua menatap ponselnya.
"Bos...". Panggil Karyawannya.
"Haah... Apa yang kamu lakukan?". Sentak paman tua kaget.
"Bukankah kamu suruh aku kasih dia coba syal?. Bagus tidak?". Ucap Zenan menunjuk manekin yang di bawanya sudah di pakaikan syal.
"Bagus". Sahut paman tua dengan kesal.
"Benarkah?".
"Pergi...pergi...". Usir paman tua.
"Kalau begitu, aku lanjutkan di rumah. Terima kasih, Bos". Ucap zenan dengan senang membawa pergi manekinnya.
**
"Kamu mau kemana?". Tanya presdir Lu melihat she na membuka pintu dan menghampirinya.
"Aku pergi buang sampah".
"Aku temani kamu".
"Kenapa lampunya tidak nyala?". Tanya sang presdir melihat lampu di depan pintu rumah she na tidak menyala.
"Sudah rusak berhari-hari. Tidak tau kenapa. Aku pergi dulu".
"Jangan. Kalau terjatuh bagaimana?. Aku pergi denganmu". Ujar sang presdir dengan perhatian mengambil kantong sampah dari tangan she na.
"Masing-masing setengah saja". Ujar she na tersenyum. Baru mau melangkah she na sudah tertarik ke belakang dan memeluk sang presdir karena sang presdir menginjak sandalnya.
"Lihatlah, aku bilang apa?".
"Itu karena kamu, Lu rewel menginjak sandalku". Ujar she na masih memeluk sang presdir.
"Kelak bisa ganti nama panggilan tidak?. Jangan panggil aku Lu rewel". Protes sang presdir dengan nama panggilannya mengeratkan pelukannya.
"Kakak Jin". Panggil she na dengan malu-malu, di jawab uhm oleh presdir Lu. "Kamu, uhm apa maksudnya?".
"Uhm adalah uhm". Sahut sang presdir.
"Jadi kamu, uhm dan uhm, maksudnya sama?". Ucap she na mendongak melihat wajag presdir Lu
__ADS_1
"Uhm, jadi kita masih pergi buang sampah tidak?". Tanya sang presdir dan di angguki she na melepas pelukannya, keduanya berjalan membuang sampah bersama.
**
"Presdir Lu, penawaran harga kamu sangat rendah, makanya kami mengadakan rapat khusus dewan direksi untuk membahasnya". Ucap presdir Fang di ruang tamu kamar presdir Lu. "Dan menganalisa perihal akuisisi perusahaan anda. Kami menemukan satu hal menarik. Grup Zheng Hong biasanya sangat kuat, tegas dan tidak pernah ragu. Audit paling lama tidak lebih dari 5 hari, dan presdir Lu, anda di tempat kami menyelidikinya begitu lama. Cukup membuktikan niat Zheng Hong terhadap Zijing". Ujar Presdir Fang.
"Jadi?". Tanya presdir Lu datar.
"Jadi kami memutuskan, menjual hotel dengan harga promosi ini". Sahut presdir Fang.
"Heh, walaupun aku tidak begitu mengerti apa yang telah kalian bicarakan di dewan direksi, tapi keputusan ini sudah sangat bijak. Kalau begitu, kita putuskan begitu saja. Kontrak segera di tanda tangani secepat mungkin". Ucap presdir Lu. "Oh ya, kalau pembayaran ikuti metode kami, menggunakan dolar Amerika". Sambungnya. Meng xin jie hanya diam mendengar ucapan bosnya, walau penasaran.
"Kenapa perhitungannya menggunakan dolar Amerika?". Tanya presdir Fang.
"Kami biasanya menggunakan dolar Amerika. Nilai kurs tidak masalah, terserah kamu. Kalau tidak, berdasarkan nilai kurs besok saja". Sahut presdir Lu.
"Baik. kalau begitu, presdir Lu ada rencana apa setelah ini?. Aku traktir presdir Lu untuk minum". Ajak presdir Fang.
"Tidak usah, tidak usah. Biasanya jarang minum alkohol. Kita minum kopi sebagai gantinya". Ujar presdir Lu mengangkat gelas kopinya dan berdiri. "Semoga kerja sama lancar!".
"Baik. Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu presdir Lu".
"Semoga kerja sama kita menyenangkan!" Ucap presdir menjabat tangan presdir Fang.
"Baik".
Setelah presdir Fang pergi, Meng xin jie mendekati bosnya.
"Sejak kapan kita hitungan menggunakan dolar Amerika?". Tanyanya yang sudah penasaran sejak tadi.
"Nilai kurs besok cocoklah". Sahut sang presdir dengan santai.
"Hebat". Puji Meng xin jie. "Oh ya, itu, Direktur Li suruh aku tanya anda, katanya kapan pulang ke swiss?". Ucapnya.
"Lain kali bicarakan lagi. Belum ada rencana untuk ini".
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu".
"Silakan".
"Baik. Itu,...Bagaimana dengan guru Gu?". Tanya Meng xin jie dan di jawab dengan jempol dan telunjuk 'ok' presdir Lu.
"Siapa yang lebih unggul?".
"Tentu saja dia". Jawab presdir Lu spontan. Meng xin jie melihatnya mengangguk kepala dengan senyum nyengir.
"Aku. Aku". Ujar presdir Lu kesal.
__ADS_1
"Sudah...sudah...". Ucap Meng xin jie tertawa.
"Itu aku....."