CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Lupa bawa barang kan


__ADS_3

"Xiao Zheng... Mulai sekarang, hanya tersisa kamu dan ibu saling mengandalkan. Kamu harus ingat perkataan ibu, dan pesan ayahmu sebelum meninggal". Lirih Ibunya terisak. Lu zheng tidak menjawab hanya merangkul ibunya dan mengingat pesan. 'Ming Ting adalah hasil kerja kerasku seumur hidup. Tidak boleh membiarkannya hancur. Kamu harus mempertahankannya'. Pesan Lu Ming Ting sebelum menutup mata untuk selamanya. Lu Jin melihat makan ayahnya dari jauh dengan sebuket bunga putih di tangannya. Setelah Lu zheng dan ibunya pergi, Lu Jin mendekat dan meletakkan bunga dan berlalu pergi.


Tok...Tok..Tok...


"Presdir Lu...". Panggil M X J setelah mengetuk pintu.


"Masuklah..". Sahut Lu Jin.


Ceklek..M X J membuka pintu kantor Lu Jin berjalan masuk.


"Presdir Lu junior grup Ming Ting sedang menunggu di ruang rapat". Ucap M X J, Lu Jin mendongak melihatnya tidak percaya, namun M X J mengangguk pasti.


"Aku sudah tau". Sahut Lu Jin, menghela nafas panjang. Setelah menutup laptopnya, Lu Jin melangkah keluar menuju ruang rapat. Saat Lu Jin masuk ke dalam, Lu zheng langsung berdiri. "Duduklah..".Ucap Lu Jin melihat wajah sedih Lu zheng dan duduk di bangku kebesarannya. "Aku suruh mereka siapkan kopi khusus untukmu. Rasa kesukaanku. Cobalah". Lu Jin menyodorkan segelas kopi untuk Lu zheng.


"Ka..kak..Aku ingin memohon satu hal padamu". Ucap Lu zheng dengan gugup.


"Masalah grup Ming Ting?". Jawab Lu Jin dengan cepat. Lu zheng mengangguk. "Katakan..".


"Ming Ting adalah hasil kerja keras Ayah seumur hidup. Bisakah kamu tidak mengakuisisi Ming Ting?".Mohon Lu zheng dengan tatapan sendu.


"Lu zheng.. Aku sangat memahamimu. Namun, kamu harus perlahan-lahan, perlahan-lahan belajar untuk Mandiri. Kelak kamu harus membangun prestasi sendiri. Namun, sekarang masih tidak bisa. Pertama-tama, kamu harus memahami dua hal". Ujar Lu Jin menatapnya. "Hal pertama, grup Ming Ting punya masalah yang tidak bisa ditolong lagi. Seperti apel yang dimakan cacing. Setiap ditunda 1 detik, akan berkurang satu poin. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah menggali bagian yang busuk, namun, kamu tidak mempunyai kemampuan untuk itu".Lu Jin menjelaskan masalah yang di hadapi Ming Ting. Lu zheng menunduk diam mendengarkan ucapan kakaknya. "Hal kedua, Jangan bicarakan soal perasaan di dalam bisnis. Bisnis adalah bisnis. Tidak ada istilah perasaan. Jadi, aku tidak dapat menyetujui permohonanmu. Kamu tidak dapat menghentikan aku mengakuisisi Ming Ting". Ucap Lu Jin datar dengan tatapan dingin.

__ADS_1


"Kak.. Lepaskan Ming Ting. Aku mohon padamu". Ujar Lu zheng menggenggam tangan Lu Jin memohon.


"Jika hari ini kamu datang untuk mewakili Grup Ming Ting, maka aku tak terima sikapmu sekarang. Jika ingin mencegahku mengakuisisi, keluarkan sikap tanggung jawabmu, buktikan padaku, biarkan aku lihat seberapa hebatnya kamu". Ucap Lu Jin sengaja menantangnya. Lu zheng meremas tangannya Lu Jin dan melepaskannya dengan tatapan kecewa. "Pulanglah. Aku sudah mengerti yang kamu katakan. Pulanglah". Ucap Lu Jin sengaja berkata seperti itu, agar Lu zheng belajar mandiri dan bertanggung jawab, tidak main-main lagi.


"Kak... Aku harap kamu ingat kata-katamu hari ini". Ujar Lu zheng membungkuk pada Lu Jin dan melangkah pergi dengan muka serius.


"Aku akan mengingatnya". Gumam Lu Jin tersenyum setelah Lu zheng pergi.


Keesokan harinya, Lu zheng keluar dari rumahnya dengan setelan jas yang rapi dan terlihat gagah dengan wajah dingin dan datar. Lu zheng menatap ke atas langit sebentar, lalu melangkah masuk ke mobil yang sudah ditunggu oleh sopir yang akan mengantarnya ke grup Ming Ting. Selama beberapa hari ini Lu zheng rajin pergi ke grup Ming Ting dan memimpin rapat dengan serius. Lu Jin juga memantau perkembangan grup Ming Ting bersama rekan kerjanya.


"Kali ini kamu akan pergi berapa lama?". Tanya she na memeluk Lu Jin dari belakang saat Lu Jin bilang mau keluar negeri.


"Apakah kamu tidak takut, ketika kamu tidak ada, aku kabur dengan orang lain?". Tanya she na menggoda Lu Jin.


"Kamu berani?".Ancam Lu Jin.


"Bagaimana jika aku berani?". Jawab she na sambil tersenyum menggoda Lu Jin.


"Aku mohon, jangan bercanda dengan hal ini. Selama aku tidak ada, aku sudah mengatur semua hal untukmu. Termasuk warungmu, kamu tidak perlu khawatir. Kamu hanya perlu pergi bekerja dengan tenang. Oh iya, ada satu lagi, aku hampir melupakan hal yang penting. Gunakan sesuka hatimu". Ucap Lu Jin mengeluarkan sebuah black card untuk she na dari sakunya.


"Waow...Cup..". She na mengecup kartunya di depan Lu Jin. "Kamu juga harus berjanji padaku, jangan bekerja dengan mata merah". Ucap she na menangkup wajah Lu Jin dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Baik..". Sahut Lu Jin menatap sendu pada she na.


"Pergilah..". Ujar she na ragu-ragu, seperti tidak ingin Lu Jin pergi.


"Baik..". Lu Jin berbalik melangkah membuka pintu dan pergi begitu saja. Setelah pintu tertutup she na memanyunkan bibirnya cemberut. Beberapa detik kemudian...


Tok...Tok...Tok...She na tersenyum senang mendengar ketukan pintu dan segera membukanya.


"Lupa bawa barang,kan?". Ucap she na begitu pintu di buka dengan senyum merekah.


"Benar..". Sahut Lu Jin langsung memegang tengkuk she na dan menciumnya. ********** dengan lembut dan di balas oleh she na, saling menukar saliva dan lilitan lidah masing-masing. Setalah sudah cukup lama dan puas, pergi ke bandara.


Semantara di ruang rapat grup Ming Ting sedang ada rapat dewan direksi yang di pimpin oleh Lu Zheng.


"Presdir Lu.. Sudah tidak ada lagi harapan dari pihak Wei'en. Jika tidak bekerja sama dengan Wei'en, maka tidak ada bank manapun yang bersedia mendukung finansial kita". Ucap supervisor Kong.


"Sekarang Ming Ting kurang banyak dana. Jika selanjutnya tidak ada suntikan modal baru, takutnya pengoperasian harian juga sulit untuk dipertahankan". Timpal direktur Chen.


"Aku merasa, di akuisisi belum tentu merupakan hal yang buruk. Setidaknya bisa mengandalkan pohon besar Grup Zheng Hong. Ke depannya bisa menikmati kesejukan di bawah pohon besar". Ujar supervisor Kong sambil bercanda membuat semua yang hadir terkikik.


"Supervisor Kong.. Kamu sangat tidak memahami grup Zhwng Hong. Perusahaan yang diakuisisi oleh mereka, jika tidak memenuhi persyaratan penilaian mereka, Maka akan dihancurkan dan dijual. Pada saat itu, kamu, aku, dan semua yang ada di sini akan kehilangan pekerjaan". Cecar direktur Chen. Lu zheng hanya diam mendengar perdebatan mereka sambil meremas pulpen yang di pegangnya saat mendengar akan di akuisisi oleh grup Zheng Hong.

__ADS_1


__ADS_2