
"Tidak. Aku ingin menghabiskan satu toples buah kaleng". Ujar she na menatap Lu Jin. Lu Jin menghela nafas melihat toples buah kaleng di meja nakas, lalu menyuap she na dengan lembut dan penuh perhatian. "Bisakah nanti malam Kamu jangan pergi. Bisakah kamu temani aku?". Pinta she na penuh harap.
"Baik. Aku tidak pergi ke mana-mana. Aku akan menemanimu malam ini". Ucap Lu Jin membuat she na senang kegirangan sampai batuk-batuk. "Tidak usah di habiskan". Ujar Lu Jin melihat she na batuk.
"Tidak. Harus di habiskan". She na makan buah kaleng yang di buat Lu Jin dengan lahap.
Lu Jin memeluk she na sampai she na tidur pulas, baru membaringkannya pelan-pelan dan menyelimuti she na. Lalu Lu Jin mengambil termometer di laci nakas dan mengukur suhu badan she na yang menunjukkan angka 36,1°. Lu Jin melangkah keluar dengan pelan dan mengerjakan kerjaan kantornya di ruang tengah yang sempat tertunda. Sampai pukul 02:00 dini hari Lu Jin masih bekerja.
"I know. However, this week I have no time. Okay, listen... I need you to give me a good reason. Okay?. You have to know who is the boss. I'll call you later". Lu Jin menghubungi karyawannya yang ada di luar negeri. Kebetulam she na keluar dari kamar dan melihat Lu Jin masih bekerja pada dini hari. She na melihat Lu Jin sangat lelah.
"Masih harus kerja semalam ini". Tanya she na dengan khawatir melihat mata lelah Lu Jin.
"Kamu...Kenapa kamu bangun?". Ucap Lu Jin berdiri melihat she na menghampirinya.
"Apakah aku sangat tidak pengertian?". Ujar she na menatap sendu pada Lu Jin.
"Kenapa?". Tanya Lu Jin sambil mengambil selimut di sofa dan memakaikan pada she na.
"Apakah kamu tidak merasa aku sangat keras kepala?. Kamu harus menjagaku, juga harus kerja. Aku masih marah dengan ibumu sehingga membuat diriku demam seperti ini". Ujar she na menatap Lu Jin yang membelai kepalanya dengan lembut sambil tersenyum. "Namun, aku jamin ke depannya aku usahakan tidak sakit lagi. Aku akan menjaga diriku sendiri". Lu Jin mengangguk mendengar ucapan she na. "Aku tidak ingin melihat matamu merah". Sambung she na.
"Aku juga tidak ingin melihat matamu merah". Ucap Lu Jin langsung memeluk she na dengan erat.
__ADS_1
"Aku temani kamu, bagaimana?". Tanya she na mengurai pelukannya. Lu Jin menempelkan punggung tangannya di kening she na, merasa sudah tidak panas Lu Jin mengangguk.
"Hm, sebentar". Jawab Lu Jin. She na langsung berbaring di sofa, Lu Jin membenarkan selimut she na dan duduk di bawah sofa she na berbaring. "Aku akan segera selesai". Ucapnya melihat she na di belakangnya, lalu lanjut dengan kerjaannya. She na melebarkan selimutnya dan menyelimuti Lu Jin dengan tangannya melingkar di leher Lu Jin dari belakang. "Thank you so much, my sweety". Ujar Lu Jin tersenyum. She na menemani Lu Jin bekerja sampai dia ketiduran di sofa sambil memeluk Lu Jin dari belakang. Lu Jin yang mau menghubungi rekan kerja yang di luar negeri, jadi membatalkannya saat melihat she na sudah tidur. Lu Jin tersenyum berdiri dengan pelan, lalu menggendong she na masuk ke dalam kamar.
Keesokan harinya, setelah Lu Jin berangkat kerja, she na pergi ke studio paman tuanya untuk bercerita tentang Lu Jin.
"Kalian berdua sudah berhubungan badan?". Tanya paman tua kaget.
"Hah..Tidak. Kami hanya tidur biasa saja". Ujar she na menjelaskan.
"Pria baik. Tidak tergoda dan salah bertindak". Respon paman tua.
"Siapa bilang kamu tidak tahu apa-apa?. Bukankah kamu bisa memasak?". Ucap paman tua dengan santai.
"Aku masak setiap hari untuknya, tapi.....Eh, aku bisa mengantarkan makanan untuknya. Hidangan cinta. 5 kali dalam sehari". Ujar she na tersenyum senang memikirkan ide ini.
"Kamu anggap Lu Jin bab*?". Cibir paman tua sambil gambar desain pakaian.
"Kamu tidak mengerti orang elit seperti mereka, bekerja keras setiap hari, otaknya harus berjalan cepat, dia pasti gampang lapar. Lihatlah, jika seperti itu, makan tiga kali sehari, pagi, siang, malam, itu sudah pasti. Lalu pukul 10.00 pagi ada tambahan cemilan buah. Seperti itu bagus untuk kesehatan. Pada saat pukul 15.00 pada saat itu, dia pasti ngantuk,minum sedikit teh, pasti adalah yang terbaik. Jika dia lembur, cemilan malam juga sudah semestinya ada. Benar, kan?". Ujar she na bermonolog sambil jalan mondar mandir.
"Benar..". Jawab paman tua memutar bola matanya jengah melihat tingkah she na.
__ADS_1
"Jika masak untuknya, aku harus masak juga untuk rekannya. Dia punya berapa rekan?. Seperti dapur kami, hanya belasan orang saja. Namun, perusahaannya besar, bagaimanapun juga, setidaknya ada 40 hingga 50 orang. Jika sebanyak itu, aku persiapkan 60 hingga 70 porsi. Tidak terlalu aman juga. 80 porsi saja. 80 porsi lebih aman. Jika 80 porsi, tiga kali sehari, pagi, siang, malam, 80 porsi, tiga kali delapan ,24. Berarti 240......".Monolog she na panjang lebar.
"Berhenti..". Potong paman tua berdiri di depannya. "Pertama. Tidak boleh pergi. Kamu akan mempengaruhi Lu Jin bekerja. Selain itu,kemungkinan besar tidak suka. Kedua...". Ucap paman tua dengan cepat saat melihat mulut she na mau yang terbuka untuk menyelanya. "Kamu sebuah perunggu rongsokan ingin berbaur dalam lingkaran Raja?. Apakah itu cocok? Jika menimbulkan masalah, kamu akan menyesalinya".Cibir paman tua.
"Pertama. Aku tidak akan mengganggu Lu Jin bekerja. Aku hanya melihatnya di samping dengan patuh dan diam. Jika dia membutuhkanku, aku akan langsung pergi membantu. Kedua.. Aku bahkan bisa menangani ibu Lu Jin, si bos besar itu. Apakah aku harus takut para elit itu?. Ketiga. Paman tua... Jika kamu ingin memadukan syal Sutra ini, kamu adalah perunggu". Ujar she na balas mencibir paman tua balik mengambil syal dari tangan paman tua.
"Kamu...Nana...Kamu menindasku". Sentak paman tua dengan tangan kemayunya.
"Iya..". Jawab she na tersenyum.
"Kamu tunggu di tindas saja". Cecar paman tua mengambil syalnya kembali dengan kasar dan melongos pergi.
Keesokan harinya, she na pergi ke kantor Lu Jin dengan membawa Hidangan Cintanya. Sampai di dalam gedung she na tidak bisa masuk tanpa kartu akses, lalu dia pergi ke resepsionist untuk bertanya.
"Maaf...Bisakah bukakan pintu untukku?. Aku ingin naik untuk mencari orang". Pinta she na.
"Maaf, gedung kami ada peraturan, pengantar pesan antar tidak boleh masuk. Tolong tunggu sebentar disini". Sahut petugas resepsionist melihat she na membawa rantang makanan.
"Aku bukan pengantar pesan antar, aku ingin naik untuk mencari Lu Jin". Ujar she na menjelaskan.
"Presdir Lu...
__ADS_1