CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Sendok Cinderella


__ADS_3

Pagi hari di dalam kamar hotel presdir Lu. Sang asisten sedang duduk di meja panjang sambil membuka sebuah kotak yang isinya sebuah sendok.


"Apakah kamu lihat barangku.... Jangan sentuh". Tanya presdir Lu dan berteriak saat melihat asistennya mau mengambil sendok yang ada dalam kotak kayu tersebut.


"Tidak sentuh, tidak sentuh". Jawab sang asisten kaget dengan teriakan presdirnya, lalu mengembalikan kotak itu pada sang presdir. "Dimana tongkat harapan labu kuning yang ada di dalam kotak ini?". Tanya sang asisten saat melihat kotak hadiah yang diberikan semalam sudah berbeda isinya.


"Kotaknya sudah diganti, jangan disentuh sembarangan". Jawab sang presdir menutup kembali kotak tersebut.


"Bukankah ini hanya sendok saja?. Barang antik barat, ya?". Tanya asisten heran.


"Kamu tidak mengerti, ini adalah sepatu kaca". Ucap sang presdir melengos pergi membawa kotaknya.


"Cinderella mana yang menjatuhkannya?". Tanya sang asisten penasaran. (Sendok Cinderella)


Sang presdir berhenti dan berbalik melotot pada asistennya. "Tidak perlu kamu urus". Langsung melengos ke kamar.


**


Di rumah, she na sedang menonton tv dengan santai sambil menyantap camilan paginya. Ada yang mengetuk pintu, saat membuka pintu melihat siapa yang datang, she na sangat kesal dan langsung mau menutup pintu, tapi di halang kaki Daguo. Ya, yang datang adalah Daguo, teman tidak setia saat insiden gudang terbakar kemarin.


"Aku...aku mencarimu ada masalah". Kata Daguo terbata.


"Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu".


"Aku bukan datang untuk menjelaskan".


"Minta maaf juga tidak ada gunanya". Kesal she na.


"Aku juga bukan datang untuk minta maaf". Kata Daguo dengan muka bersalah.


"Dimana pisauku yang panjangnya 40 meter itu". Emosi she na berbalik mau ke dapur ambil pisaunya, namun di cegah Daguo.


"Sudah..sudah. Kalau pun kamu tidak ingin membantuku, kamu juga harus bantu membereskan dapur, kan?. Kelompok kami sudah mau di musnahkan". Ucap Daguo memohon dengan kedua tangan di depan.


"Masalah apa yang terjadi?". Tanya she na menatap selidik pada Daguo.

__ADS_1


"Tamu dari kamar 1123 memesan lagi".


"Siapa tamu dari kamar 1123?".


"Dia adalah..... Bagaimana aku menjelaskannya padamu?. Dia adalah orang yang dengan tidak sengaja memakan nasi goreng tamparanmu". Ucap Daguo dengan mimik muka bersalah.


*


Di meja makan panjang kamar hotel presdir Lu, sang asisten lagi enak-enak memainkan ponselnya sambil ketawa. "Hehehe...Sekarang kamu cukup melihat ponsel sudah kenyang, ya?". Nyindir sang presdir.


"Aku tadi sudah pesan makanan di prasmanan bawah. Jika Bos kamu bisa menelan makanan yang sangat sederhana itu, akan aku bungkuskan untukmu". Kata asisten masih dengan senyum di wajahnya.


"Kamu semakin menjadi-jadi, sarapan pagi di hotel bintang 5, kamu menyebutnya makanan sederhana?". Kata sang presdir tersenyum juga.


"Mungkin karena mengikuti anda selama 2 tahun ini, seleraku meningkat sedikit". Balas asisten dengan senyum bangga.


"Kenapa makananku belum di hidangkan?. Aku sudah lapar". Tanya sang presdir menatap asistennya yang masih tersenyum.


"Kalau begitu, aku bantu tanyakan". Kata asisten lalu berdiri dari duduknya.


"Benar,benar,benar. Tapi, aku harus mengingatkan anda, nasi goreng kemarin, anda tidak menyisakannya sedikitpun". Sindir sang asisten senyum neyngir. "Masih perlu sikap elegan, elegan". Sambungnya.


"Kemarin hanya sebuah keserakahan". Ucap sang presdir melihat keluar jendela karena merasa malu.


"Benar, benar, kemarin hanya kesalahan". Balas asisten mengangguk kepala tersenyum tipis.


Gak berapa lama manager shen mengantarkan sarapan presdir Lu.


"Ini adalah salmon panggang keju yang di buatkan oleh koki yang kemarin membuatkan nasi goreng Tamparan". Ucap manager shen saat menghidangkan makanan di meja.


"Jangan lupa,ya!". Bisik sang asisten ke telinga presdir Lu mengingatkan untuk bersikap elegan, saat melihat sang Bos tampak menyukai makanan di depannya.


Sang presdir mulai memotong salmon panggang kejunya dengan elegan. Lalu membawa suapan pertama masuk ke mulut, matanya membulat merasakan makanan lezat tersebut, lalu melihat ke arah sang asisten. Manager shen yang melihatnya harap-harap cemas. Suapan kedua, ketiga...sampai tak terasa makanan tersebut ludes tak tersisa di piring makanannya.


Sang presdir menatap asistennya dan manager shen yang berdiri di depannya. Manager shen terlihat senang, makanan yang dihidangkan kali ini habis semua dan tidak ada kata GANTI lagi.

__ADS_1


"Manager shen". panggil sang presdir sambil berdiri dari duduknya dengan elegan. "Gedung yang ada disana, bukankah warnanya sedikit mengganggu tamu untuk istirahat dan tidur?". Kata sang presdir menunjuk gedung yang ada di depan jendela kamarnya untuk mengalihkan perhatian manager shen yang melihatnya menikmati makanannya. "Ganti warnanya". Perintahnya.


"Haaa....Ucap manager shen kaget. "Presdir Lu, itu adalah gedung pemerintah". Kata manager shen bingung dengan perintah sang presdir yang tidak masuk akal.


"Tidak heran begitu agung". Ucap sang presdir salah tingkah. "Angkat saja piring-piringnya". Sambungnya sambil masuk ke dalam kamar dengan malu. Sang asisten tersenyum geli dengan tingkah bosnya. Asisten mempersilahkan manager shen membawa keluar piring-piring yang sudah habis isinya.


Ruang manager shen (Departemen Makanan Dan Minuman). Didalam ruangan manager shen sedang bicara dengan ikan di akuarium dengan senang. "Makan lebih banyak, semakin bahagia kamu makan, aku juga semakin bahagia". Katanya tertawa senang memberi makan ikannya.


TOK...TOK...TOK...


"Siapa?".


"Manager shen, ada yang ingin aku bicarakan denganmu". Ucap she na dari depan pintu yang tidak di tutup oleh manager.


Melihat she na yang datang, manager shen menghela nafas sebentar. "Xiao Gu, bukankah hotel ini sudah mempekerjakanmu kembali?". Kata manager shen memunggungi she na melihat ikan di akuarium. "Apa lagi yang ingin kamu bicarakan denganku?". Tanyanya tanpa melihat she na.


"Aku ingin negosiasi denganmu". Kata she na dengan yakin.


"Xiao Gu, kamu ini hanya seorang karyawan biasa. Ada hak apa kamu negosiasi denganku yang sebagai manager ini?". Hina manager shen menatap arogan she na.


"Aku dulu hanya karyawan biasa". She na menjawab dengan tenang Sambil tersenyum. "Tapi, sekarang aku adalah satu-satunya karyawan biasa yang dapat memuaskan selera dari tamu kamar 1123. Menurutmu, apakah aku mempunyai hak?". Tanya she na balik menatap manager shen dengan seringai licik.


"Heh, anak muda seperti kalian ini, tidak boeh sombong hanya karena memiliki jasa yang begitu sedikit saja". Ucap manager shen melunak melihat seringai licik she na.


"Aku mengerti, aku mengerti prinsipnya". Jawab she na. "Tapi, filosofi anak muda seperti kami adalah bisa sombong sebentar, tentu harus sombong sebentar". Sambungnya tersenyum tenang.


"Kamu sombong sebentar sudah cukup. Jadi, apa yang kamu mau?". Tanya manager shen meninggikan suaranya karena kesal.


"Naik jabatan dan naik gaji". Jawab she na dengan tegas.


"Tidak mungkin". Tolak sang manager langsung.


"Baiklah...". Jawab she na langsung melangkah pergi.


Eh,eh...Kamu...mau kemana?". Tanya manager gugup melihat she na melangkah pergi.

__ADS_1


"Pulang untuk berbaring". Jawab she na dengan enteng.


__ADS_2