
Setelah pulang dari kantor Lu Jin hari sudah petang. she na pergi ke studio Paman tuanya, QUAN'AN.
"Untuk apa mencariku?. Ditindaskan?. Sudah kubilang jangan pergi. Cari masalah sendiri". Nyinyir paman tua dengan kedatangan she na.
"Keren sekali. Lu Jin benar-benar sangat keren". Teriak she na kegirangan. "Kamu tidak melihat kondisinya ketika sedang bekerja dengan giat. Benar-benar sangat keren. Juga disaat dia berbicara. 'Jangan minta maaf padaku. Aku paling benci orang lain minta maaf padaku. Karena begitu kalian minta maaf, aku harus berpura-pura toleransi agar hati kalian merasa lebih baik. Aku tidak bisa melakukannya. Toleransiku terhadap kalian bukan agar kalian menghina IQ ku'. She na meniru gaya berbicara Lu Jin yang datar dan dingin, hingga membuat paman tua merinding mendengarnya. "Akh....Dia sangat tampan. Akh...". Pekik she na kegirangan.
"Tenang dulu, Nyonya Lu...". Sentak paman tua kesal.
"Nyonya Lu..?". She na langsung diam mendengar sebutan nyonya Lu, wajahnya merah merona malu.
"Jadi...".
" Jadi.. Aku berencana untuk mengubah diriku". Ujar she na.
"Berencana untuk ganti otak?". Cibir paman tua.
"No, no, no.. Aku ingin menjadi wanita di balik pria sukses. Mencintai dia, toleransi padanya, memahami dia". Tekad she na sambil tersenyum.
Sementara di grup Zheng Hong, Lu Jin kembali melakukan rapat dengan dewan direksi.
"Mulailah..". Ucap Lu Jin pada semuanya.
"Baik. Grup Ming Ting baru saja mencapai niat kerja sama dengan Hotel Wei'en untuk perencanaan ulang dan konstruksi vila Sinan.Lu Ming Ting akan terbang ke Paris minggu depan untuk menghadiri upacara penandatanganan". Ucap direktur Wei.
"Jika kerjasama benar-benar tercapai, maka Ming Ting mungkin dapat bangkit kembali". Ucap Li Man. "Mereka dapat menenangkan kreditur dengan proyek ini. Pada saat itu, jangankan bank Huimin, bank besar lainnya juga mungkin bersedia memberikan mereka dukungan finansial". Ujar Li Man menjelaskan.
"Jadi, Departemen penilaian resiko merekomendasikan kita, apakah kita bisa menarik diri dari awal, mengurangi risiko yang tidak diperlukan". Ucap direktur Wei.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan?". Sentak Li Man melipat tangan di dada. "Menarik diri?. Apakah kamu tahu grup Zheng Hong menginvestasikan nerapa banyak di dalam proyek ini?. Kita juga sudah berjuang sekian lama hingga lembur demi proyek ini. Sekarang ingin kita menarik diri?. Bukankah itu namanya menyerah?. Bukankah semua kerja keras kita menjadi sia-sia?". Desis Li Man tidak setuju dengan usulan direktur Wei.
"Iya. Karena sebelumnya Departemen Hubungan Masyarakat telah mengumumkan Zheng Hong pasti memenangkan Ming Ting. Jika menarik diri sekarang, sama saja dengan menampar diri sendiri". Timpal direktur Chang.
"Selain itu, begitu kabar ini terbocorkan keluar, harga saham Zheng Hong pasti akan turun. Bagaimana kamu menjelaskan kepada para pemegang saham?". Tanya Li Man pada direktur Wei.
"Namun, jika kita terus mengakuisisi, maka kita harus menghabiskan uang beberapa kali lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya". Sahut direktur Wei.
"Meskipun sekarang kamu mengeluarkan uang sebanyak apapun, juga tidak bisa mendapatkan Mimg Ting lagi. Sejauh yang kuketahui, sudah muncul pembeli pihak ketiga, harga yang ditawarkan juga tidak rendah". Ujar direktur Chang.
"Pembeli pihak ketiga bukan masalah inti. masalah intinya adalah jika proyek mereka dan Wei'en bisa berjalan lancar, mungkin Ming Ting bisa bangkit kembali. Pada saat itu, dia tidak perlu diakuisisi lagi". Sahut direktur Wei tetap kekeh dengan pendapatnya.
"Pokoknya aku tidak setuju untuk menarik diri". Ujar Li Man sama kerasnya dengan direktur Wei.
"Presdir Li... Sakit sementara lebih baik daripada sakit berkepanjangan". Ujar direktur Wei. Perdebatan mereka membuat Lu Jin sakit kepala.
"Putri bungsu grup Wei'en?". Tanya Li Man kaget.
"Jania..". Ucap Lu Jin mengangguk. Li Man langsung berdiri melangkah dekat jendela dan menelpon seseorang.
"Baik, aku mengerti". Li Man menutup telpon dan menghampiri Lu Jin. "Berlibur di Chiang Mai, Thailand". Ucap Li Man
"Bagus. Bantu aku pesan tiket pesawat ke Thailand sekarang. Kirim juga alamat hotelnya dan nomor kontak ke ponselku". Pinta Lu Jin berdiri dan memakai jasnya
"Aku temani". Ujar Li Man.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri". Tolak Lu Jin. "Karena ada hal yang lebih penting yang perlu kamu lakukan. Kamu harus menyelidiki latar belakang pembeli pihak ketiga. Selidiki hingga jelas". Pinta Lu Jin.
__ADS_1
"Tenang saja..". Jawab Li Man dengan pasti.
"Proyek Wei'en dengan Mimg ting tidak akan berhasil. Jalankan akuisisi sesuai rencana. Aku akan membiarkan Zheng Hong mendapatkan Ming Ting dengan harga yang masuk akal". Ucap Lu Jin melangkah pergi meninggalkan Li Man yanh melihatnya dengan salut.
Keesokan harinya di ruang rawat Lu Ming Ting, dia mendapat telpon yang mengejutkannya.
"Apa yang terjadi?". Tanya istrinya melihat wajah suaminya panik.
"Grup Wei'en memutuskan kerjasama secara sepihak". Ujar Lu Ming Ting.
"Kenapa bisa seperti ini?. Bukankah Nyonya CEO sudah berjanji untuk membantu kita?. Lagi pula, dia punya hak berbicara di grup Wei'en". Tanya istrinya tidak mengerti kenapa bisa begini.
"Aku salah mencari pendukung. Pemimpin asli Wei'en di kemudian hari bukan dia, melainkan putri bungsu CEO senior mereka, Jania. Aku baru tahu bahwa jania selalu bertentangan dengan ibu tirinya, berusaha melawannya. Kali ini Lu Jin langsung pergi ke Thailand untuk mencari Jania, memutuskan kerjasama di antara kami". Lirih Lu Ming Ting menjelaskan.
"Lu Jin lagi. Apa yang harus kita lakukan sekarang?".Tanya istrinya khawatir.
"Lu Jin memutuskan semua jalan mundur bagi Ming Ting, aku juga tidak berdaya. Hanya bisa nunggu diakuisisi oleh Zheng Hong. Uhuk...Uhuk...". Lirih Lu Ming Ting dengan Lesuh.
Aku sudah kembali..". Seru Lu Zheng berjalan masuk.
"Jangan panik". Ujar istrinya menepuk punggungnya suaminya dengan pelan.
"Ayah...Apakah perlu panggil dokter?". Tanya Lu zheng cemas melihat ayahnya memegang dadanya. "Kesehatanmu tidak bagus, harus jaga kestabilan emosional. Jangan sering marah jika tidak ada masalah besar. Sangat merugikan tubuhmu". Cicit Lu Zheng.
"Tidak ada masalah besar apanya?. Kamu pergi ke mana lagi?". Cecar ibunya.
"Aku ke warung Gu she na. Aku bawa makanan untuk kalian. Ceker ayam semur tanpa tulang. Langsung meleleh di dalam mulut. Cobalah". Sahut Lu zheng mengangkat makanan yang di bawanya.
__ADS_1
"Gu she na?. Orang yang diumumkan Lu Jin di pesta perjamuan bahwa dia adalah tunangannya?". Tanya ibunya, Lu zheng mengangguk menjawab ibunya. "Waktu itu aku lihat Zheng Hong sangat marah. Aku rasa, dia pasti tidak suka calon menantunya itu". Ujarnya mendecak. Lu Ming Ting terlihat memikirkan sesuatu setelah mendengar ucapan istrinya.