CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Waktu


__ADS_3

"Apakah ini adalah proyekku?. Setelah selesai, bawalah hasilnya dan pergi ke cabang perusahaan. Aku ikut sibuk, juga tidak akan masuk ke dalam penilaian kinerja. Semua orang bekerja untuk mencari uang. Kamu ingin aku menjadi sukarelawan, apakah kamu tidak merasa malu?". Sentak Andrew berdiri menatap tajam pada Celine lalu melangkah pergi. Celine menghela nafas kasar meredam emosinya.


**


Malam harinya, she na duduk di ruang tamu rumahnya dengan lampu temaram. Pintu rumahnya sengaja tidak di tutup rapat agar kalau Lu Jin kesini bisa langsung. Gak lama Lu Jin masuk dan menutup pintu rumah she na lalu berjalan masuk, melihat She na dudukn menunduk dalam diam. Lu Jin duduk di depannya dan menatap She na dalam.


"Aku yang salah. Aku tidak seharusnya gegabah. Tidak seharusnya memukul orang. Maaf..". Ucap Lu Jin menyesali tindakannya pada Lu zheng yang di lihat oleh She na.


"Aku juga salah. Aku tidak menjaga jarak dengan Lu zheng, sehingga membuatmu salah paham, menambah banyak masalah". Sahut She na menatap sedih Lu Jin di depannya.


"Aku datang hari ini untuk memberitahumu bahwa..... Aku tidak pernah punya pikiran untuk tidak percaya padamu. Tidak pernah. Aku hanya... Hanya cemburu saja". Aku Lu Jin dengan senyum kecut. "Melihat kamu bersama pria lain, aku akan merasa tidak senang. Karena aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu". Ucap Lu Jin dengan tatapan serius. She na menggenggam kedua tangan Lu Jin dengan erat.


"Aku tidak akan melakukan hal yang membuatmu tidak senang lagi. Aku tak akan menghiraukan hujan lagi. Sungguh tidak ku hiraukan". Jawab she na membalas tatapan Lu Jin tak kalah serius. Tiba-tiba ponselnya berdering, terlihat nama Lu zheng yang menelponnya. She na langsung merejectnya di depan Lu Jin. Lu Jin tersenyum melihat tingkah She na.


"Aku...". Ucap Lu Jin terhenti saat matanya melihat sebuah mobil kecil di meja nakas sebelah sofa. She na mengikuti arah pandang Lu Jin.


"Aku membelinya dengan uangku sendiri". Cicit She na, Lu Jin mengangguk. Namun, She na mengambil mobil kecil itu dan langsung membuangnyan lewat jendela bolkon yang terbuka. Lu Jin melongo dengan tindakan She na yang mendadak. "Aku merakitnya bersama dia". Terang She na, Lu Jin tersenyum senang mendengar jawabannya. She na berdiri dan memeluk Lu Jin dengan erat. "Sudahlah, kita jangan bertengkar lagi..". Ucap She na mengurai pelukannya. Lu Jin menatap She na penuh cinta dan cup, Lu Jin mengecup singkat bibir She na dan memeluknya dengan erat.


Keesokan harinya, Celine menemui kliennya di sebuah restoran mewah.


"Pemimpin Li...Ini adalah proposal perusahaan kami". Ucap Celine dengan ramah memberikan proposal yang di buatnya.


"Dulu aku sudah pernah mendengar nama Nona Xu. Setelah bertemu hari ini, ternyata memang berbeda dengan yang lain". Puji Pemimpin Li menatap Celine penuh arti, tanpa melihat proposal yang di kasih oleh Celine.


"Anda pernah mendengar namaku?". Tanya Celine agak kaget.


"Haha...Iya. di dalam lingkaran humas Sahai, siapa yang tidak tahu bahwa nona Xu paling cantik dan punya kemampuan?". Puji Pemimpin Li dengan senyum mesumnya. "Proposal, seperti ini saja. Berdasarkan kemampuan nona Xu, tentu saja aku tidak khawatir". Pemimpin Li menutup proposal Celine tanpa melihatnya.


"Terima kasih..". Ucap Celine dengan sopan.


"Nona Xu begitu hebat, sangat sayang jika berada di perusahaan ini. Bagaimana jika datang ke tempatku?. Aku berikan gaji yang terjamin". Cicit pemimpin Li menawarkan kerjaan.


"Pemimpin Li mau menarikku?". Tanya Celine sambil bercanda.

__ADS_1


"Gaji bulana 20.000 yuan, bagaimana?". Tawar pemimpin Li berharap Celine setuju mau pindah ke perusahaannya sambil menepuk-nepuk tangan Celine mengedipkan sebelah mata.


Celine langsung menepis tangan pemimpin Li dengan kasar sambil berdiri.


"Pergi kepalamu..". Maki Celine melangkah pergi dengan marah.


Sedangkan di hotel XX, She na sedang sibuk memasak berbagai macam masakan. Ponselnya berdering di atas meja dan tertera nama Lu zheng. She na tidak peduli, dari semalam Lu zheng menelpon dan mengechatnya tetap tidak di balas. Sesuai janjinya dengan Lu Jin untuk tidak menghiraukan Lu zheng lagi.


**


"Presdir Lu...Dokumen dari presdir Li". Ucap M X J membawa beberapa map masuk ke ruangan Lu Jin.


"Iya, terima kasih". Ujar Lu Jin. Setelah itu M X J menghela nafas panjang dengan wajah kusam. "Ada masalah?". Tanya Lu Jin mendengar helaan nafasnya.


"Ada sedikit masalah..". Jawab M X J mengangguk.


"Duduklah. Ada apa?". Tanya Lu Jin penasaran apa yang membuat asisten sekaligus temannya ini frustasi.


"Aku ingin minta cuti. Aku daftar Magister Administrasi Bisnis. Ingin belajar". Sahut M X J menunduk.


"Aku ingin membicarakan masalah cinta dengan anda". Ucap M X J dengan wajah memelas.


"Xiao Jie.. Sebenarnya terkadang aku sangat kagum padamu". Ujar Lu Jin menatap M X J.


"Kagum apa?. Aku sudah cukup menderita". M X J menertawakan dirinya sendiri.


"Waktu. Ada dua jenis pria di dunia ini. Yang pertama adalah menggunakan karir untuk melindungi cinta. Yang kedua adalah menghabiskan waktu untuk menemui cinta. Bukan hanya pria sukses yang pantas untuk mendapatkan cinta. Jadi, kamu adalah jenis yang kedua". Ucap Lu Jin dengan mantap. M X J mengangguk-ngangguk mendengar ucapan bosnya. "Kamu ingin bilang apa padaku?". Tanya Lu Jin.


"Tidak apa-apa. Terima kasih, presdir Lu". Sahut M X J dengan senyum tulua pada Lu Jin, lalu pamit keluar.


**


Kembali ke kantor Celine..

__ADS_1


"Direktur...". Celine menghadap direktur Lin setelah pulang dari restoran menemui klien mesumnya.


"Ada apa?". Tanya direktur Lin melipat tangan di dada.


"Aku tidak dapat mengerjakan proyek ini. Berikan pada orang lain saja". Ucap Celine mengembalikan dokumen proyek pada direktur Lin.


"Kamu jangan keberatan. Bukankah kecantikanmu adalah kelebihan terbesar darimu? Kamu harus memanfaatkannya sebaik mungkin". Desis direktur Lin meledek Celine. Karena Celine di cap bisa mengerjakan tugas yang di berikan walau pun sangat sulit dengan mengandalkan tubuhnya. Karena Celine menemui klien di club malam, makanya dirinya di cap gampangan.


"Apa maksudnya?". Tanya Celine menggenggam erat dokumen di tangannya.


"Dunia orang dewasa. Hanya lihat hasil, tidak lihat proses. Dapatkan proyeknya, terima bonusnya, itu lebih penting dari apapun". Perintah direktur Lin tidak peduli bagaimana caranya Celine harus mendapatkan proyek itu. "Xu Zhao Di yang dulu tidak akan takut seperti sekarang ini. Sekarang kamu kenapa?. Berpacaran dengan seorang sopir, sifatmu jadi berupa. Pikirkan baik-baik lagi". Sindirnya berlalu pergi begitu saja. Celine diam tak berdaya, dengan gontai berjalan pergi.


**


Sore harinya di gang menuju rumah She na, terlihat Lu zheng sedang menunggu She na pulang. Tak lama She na pulang dengan sepedanya, saat mau berbelok ke gang rumahnya She na melihat Lu zheng sedang berdiri melihat ke arah rumahnya. Dengan cepat She na menjalankan sepedanya lurus ke depan sebelum Lu zheng melihatnya. Sampai malam hari She na baru pulang dengan mengendap-ngendap takut Lu Zheng menunggunya di depan pintu rumahnya. Setelah di lihat tidak ada orang, She na menghela nafas lega berjalan ke depan pintu mengambil kunci dari tasnya mau membuka pintu.


"She na.....". Panggil Lu zheng tiba-tiba keluar dari belakang She na.


"Kamu masih belum.....". She na kaget, hampir keceplosan kalau tadi dia menghindari Lu zheng.


"Teleponmu tidak dijawab, wechat juga tidak dibalas. Aku takutnya terjadi sesuatu, jadi melihatmu ke sini. Kamu tidak menghindariku,kan?". Tanya Lu zheng pura-pura tidak tau.


"Tidak. Untuk apa menghindarimu?". Jawab she na dengan senyum paksa.


"Terus terang padaku. Apakah kakakku tidak izinkan kamu berhubungan denganku?". Tanya Lu zheng dengan tatapan sendu.


"Tidak. Pasti bukan begitu. Jangan berpikir sembarangan. Hari juga sudah larut, kamu anak kecil sendirian di luar juga tidak aman. Cepat pulang lah". Usir She na dengan halus.


"Kamu perhatian padaku?". Goda Lu zheng.


"Tidak..". Jawab She na spontan dengan suara tinggi. "Aku tidak perhatian padamu. Aku hanya... sudah, cepatlah pulang. Aku masuk dulu". Ucap She na berbalik melangkah mau membuka pintu rumahnya.


"Aku ingat pernah kasih tahu kamu, aku tidak berharap permusuhan generasi sebelumnya berlanjut ke generasi kita". Ujar Lu zheng dengan suara sedihnya. "Tampaknya aku yang berangan-angam. Setelah Ayah meninggal, Ibuku... selalu menangis di rumah setiap hari. Aku hanya tidak ingin tinggal sendirian di rumah. Aku ingin mencari orang yang seumur,mengobrol dan berbincang dengannya saja". She na hanya berdiri diam di tempat tanpa berbalik melihat Lu zheng, mendengar perkataan sedih Lu zheng dengan tidak tega. "Aku tidak menyangka, bisa menjadi masalah yang begitu besar bagimu. Maaf.. Tenang, aku tak akan mengganggumu lagi. Hiks...".Ucap Lu zheng berbalik melangkah pergi dengan pelan sambil meneteskan air mata palsunya. Dia tau jurus ini pasti bisa meluluhkan hati She na yang tidak tegaan.

__ADS_1


"Tunggu sebentar.....


__ADS_2