CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Kamu Baik Padaku, Aku Juga Baik Padamu


__ADS_3

"Tidak tambah pertemanan juga tidak apa-apa. Mungkin saja suatu hari kamu akan menginap di hotelku. Pada saat itu kamu sebut namaku, pada saat kamu cari aku. Aku traktir kamu makan, beri diskon padamu. Apa kamu mengantuk?. Baiklah, kalau begitu, kamu tidur dulu. Aku lanjut dengarkan laguku". Cerocosnya sampai berhenti pun presdir Lu tidak meladeninya.


"Pakai headphone". Ucap presdir Lu datar.


"Baiklah". Sahutnya cengengesan. "Aduh...Aku tidak bawa headphone. Aku tidak dengar lagu lagi".


**


"Aku sudah kembali 2 tahun yang lalu, tapi selalu bekerja di hotel zhou zhuo. Awalnya ingin kembali lihat-lihat, tapi pekerjaan terlalu sibuk, sungguh tidak ada kesempatan. Kebetulan, kali kontrak sudah jatuh tempo. Aku akhirnya ada kesempatan untuk kembali. Bagaimana denganmu?. Kamu.....Sekarang perubahannya sungguh sangat besar. Sungguh sudah dewasa. Jika bukan kakek Gu membawaku bertemu denganmu, aku tidak berani mengenalimu". Ucap ziqian memuji perubahan she na, saat ini keduanya duduk santai di sebuah kafe.


"Kenapa?. Sekarang cantik hingga kamu tidak berani mengenaliku?. Hehe". Ucapnya sombong mengibas rambutnya ke belakang. "Aku ingat saat kamu pergi, aku baru berusia 12, 13 tahun. Betul, saat kelulusan Sekolah Dasar. Sangat cepat, aku sekarang berusia 21 tahun. Aku dengar kamu bekerja di hotel?. Aku juga bekerja di hotel, aku sebagai koki di hotel bintang Lima. Seluruh dapur hanya aku seorang wanita. Sungguh aku bekerja disana dengan mengandalkan kemampuanku sendiri. Hebat,kan?". Sombongnya memamerkan jabatan yang sudah di pecat.


"Kamu bekerja di hotel mana?".


"Eh,, jangan ungkit lagi, terjadi masalah. Jadi, mempertahankan pekerjaan, tetapi menangguhkan gaji". Bohong she na dengan senyum canggung.


"Oh ya, bagaimana dengan kakimu?. Coba aku lihat". Ucap Ziqian alihkan pembicaraan. Saat ingin megang kaki she na, namun she na langsung menghindar.


"Sudah lebih baik". Ujarnya dengan senyum canggung.


"Aku lupa, she na kamu sudah dewasa. Bukan lagi seperti waktu kecil, bentar menangis, bentar ketawa. Nona kecil yang suka minggat dari rumah". Ledek Ziqian sambil mengusap kepala she na dengan senyum lembut.


"Begini saja. Hari ini aku memakai kopi menggantikan alkohol, selamat untuk kita bertemu lagi setelah lama berpisah". Ucap she na mengangkat gelas kopinya.


"Baik, bersulang".


"Bersulang, hehe..".


Setelah keluar dari kafe, ziqian mengantar she na pulang.

__ADS_1


"Pelan-pelan". Ucap ziqian.


"Tidak apa-apa, sudah membaik". Sahut she na jalan sedikit pincang.


"Kak ziqian, kamu pulanglah istirahat dulu. Aku tinggal di atas, kamu tidak perlu antar lagi". Ucap she na ketika mereka sudah sampai di halaman rumah.


"Aku antar kamu naik saja. Kakimu kurang nyaman". Ujar ziqian khawatir.


"Baiklah, kalau begitu. Naik dan minum sesuatu, juga mengenal tempat. Kelak jika ada makanan enak, semua antar kesini". Cicit she na membuat keduanya ketawa.


"Ayo, hati-hati. Besok pagi aku temani kamu ke rumah sakit untuk di periksa kembali".


"Baik". Keduanya berbincang memasuki rumah.


Sedangkan di dalam taksi yang presdir Lu naiki, sudah berganti penumpang yang lain.


"Ai yo,, sungguh tidak mudah, begitu malam masih bisa mendapatkan taksi?. Pak supir, kamu sangat bekerja keras". Ucap wanita paruh baya yang baru naik.


"Waw...Anak muda, kamu hebat. Salut,salut". Ucap wanita paruh baya melihat presdir Lu dari spion depan. "Eh, kalian pasti sudah lapar. Mari kamu makan tidak?". Wanita paruh baya menawarkan makanan yang di bawanya.


"Aku menyetir". Tolak pak supir dengan halus.


"Anak muda, mau makan tidak?". Tawar wanita paruh baya lagi.


"Aku tidak lapar, terima kasih". Jawab presdir Lu.


"Anak muda, kamu begitu jauh, begitu buru-buru, apakah karena cinta?". Tanya wanita paruh baya, namun sang presdir diam tak menjawab. "Kamu tidak bicara berarti benar. Kenapa?. Kalian berdua berselisih, bertengkar?. Lihat usiamu, seharusnya sudah punya anak, kan?. Demi anak, kamu juga harus bertahan". Presdir Lu menghela nafas panjang mendengar pertanyaan wanita paruh baya di depannya. "Anak muda, kamu datang ke zhuo zhou untuk apa?".


"Dinas". Jawab presdir Lu singkat.

__ADS_1


"Dinas?. Aku juga datang untuk dinas. Kali ini aku datang ke Zhuo zhou untuk menanda tangani kontrak pakan. Aku membuka peternakan ayam di kampung halaman. Bisnisnya sangat bagus. Aku di kampung halamanku, bagaimana pun juga di anggap pengusaha kecil". Cerita wanita paruh baya dengan bangga. "Waktu itu saat suamiku mengejarku, miskin. Dia takut aku tidak memandangnya, kemudian tidak ada uang untuk memberiku hadiah, sehingga diam-diam pergi belajar merajut sweater. Kamu lihat, baju ini dialah yang menenunnya untukku, bagus tidak?". Tanyanya pada pak supir yang menjawabnya dengan mengangguk. "Anak muda, bagus tidak?". Tanyanya pada presdir Lu yang tidak meresponnya.


"Aku tau, kalian orang kaya tidak akan memandangnya. Tapi menurutku sangat bagus. Aku sudah memakainya bertahun-tahun, aku tidak tega membuangnya. Aku tetap merasa, sweater rajutan suamiku ini hangat, sangat hangat. Anak muda, kedua pasangan menjalani hidup yaitu kamu baik padaku, aku juga akan baik padamu. Kamu suka padaku, aku juga suka padamu. Jika bisa bertemu, sering bertemulah". Nasehat wanita paruh baya. Sang presdir jadi mengingat ucapan she na di kala malam mereka berpisah.


'Kenapa kamu tiba-tiba baik padaku?. Tapi orang biasa seperti kami adalah kamu baik padaku, aku juga akan baik padamu. Jika kamu ingin makan, kamu datanglah ke rumahku untuk makan. Gratis'. Sang presdir tersenyum mengingatnya.


"Kamu mau tidak?". Wanita paruh baya memberikan jagung rebus pada presdir Lu. Sang presdir menerimanya dan langsung memakannya sambil memikirkan she na.


Gak lama, wanita paruh baya itu sudah sampai ke tempat tujuannya.


"Anak muda, aku sudah tiba, aku pergi dulu". Ucap wanita paruh baya turun dari taksi.


"Kak...". Panggil presdir Lu. "Sweater anda ini...Bagus". Puji sang presdir.


"Iya kan?. Aku juga merasa seperti itu. Semoga kamu segera menemukan cintamu. Bye-bye". Ucap wanita paruh baya berlalu pergi.


"Bye-bye". Presdir Lu melambaikan tangannya.


Pagi menyambut, taksi mereka sudah sampai Suhai.


"Sobat..Bangunlah, sobat". Panggil supir taksi membangunkan presdir Lu. "Sudah tiba". Ucapnya.


"Sudah tiba, ya. Dimana ini?". Tanya presdir Lu melihat sekeliling, ini masih di pinggiran kota.


"Suhai". Sahut supir taksi.


"Apa??".


"Tapi mobilku ini tidak bisa masuk ke kota. Plat mobil tidak benar. Hanya bisa mengantarmu sampai disini saja". Ujar pak supir dengan santai.

__ADS_1


"Tunggu..Ini bukan alamat tujuanku. Kamu harus mengantarku sampai alamat yang kutuju". Ucap presdir kesal.


"Kata orang harus punya hati nurani. Aku sudah mengaturnya untukmu...


__ADS_2