CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Nasib Burukmu Telah Menimpaku


__ADS_3

"Kamu katakan, aku kembali bekerja lagi, apakah kamu yang atur?". Tebak she na menyelidik.


"Pfftt...Walau pun aku ingin sekali menerima jasa ini, tapi memang bukan aku". Jawab ziqian dengan jujur, karena memang bukan dia.


"Aku mengerti. Tertutup, sttss...Aku mengerti". Ujar she na menaruh jari di bibirnya, dia masih berpikir ziqianlah yang membantunya.


"She na, kelak kamu butuh bantuan apa pun, langsung kasih tau aku. Aku pasti kerahkan semua kemampuanku". Seloroh ziqian.


"Aku pasti minta bantuanmu. Tenanglah, hehe". Sahut she na nyengir.


"Jadi sekarang, sudah bisa kembali untuk kerja?".


"Sekarang aku ada hal yang membutuhkan bantuanmu".


"Katakan".


"Itu,, Lu rewel yang mengakuisisi hotel kita itu...Lu Jin, Presdir Lu. Presdir Lu, apakah dia akan kembali ke hotel lagi?". Tanya she na ragu-ragu.


"Ini aku kurang tau. Tapi perjanjian akuisisi sudah di tanda tangani, aku juga sudah menjabat. Menurutku, seharusnya presdir Lu ada hal lain yang harus di kerjakan". Jawaban Ziqian membuat muka She na murung. "Kenapa?. Kalian saling kenal?". Tanyanya.


"Tidak kenal". Seru she na dengan cepat membuat Ziqian mengernyitkan alis. "Kenal...Itu, dulu aku pernah menyinggungnya. Itu...Tidak apa-apa, aku kembali kerja dulu". Ucapnya lagi dengan hati-hati, berlalu ke dapur. Baru berjalan dua langkah, dia berhenti dan berbalik. "Oh ya, kelak hal apa pun jangan sembunyikan dariku!". Tunjuknya dengan jari.


"Tau, pergilah".


"Tertutup". She na kembali ke dapur dengan kedua tangan di belakang pinggangnya. Ziqian tersenyum lebar melihatnya.


Malamnya, Celine ke rumah she na mau menginap.


"Eh, apakah kamu tau?. Supir dan Bos itu, sepertinya mau pulang ke Swiss. Supir tidak berguna ini, akhirnya menghilang dari hadapanku. Aku sungguh merasa lega". Ucap Celine sambil meregangkan badannya.


"Dia benar-benar mau pergi?". Lirih she na menatap langit-langit kamarnya.


"Iya. Dengar-dengar, Lu Jin naik taksi selama lebih 10 jam bergegas pulang dari Zhou zhuo. Meng xin jie bilang saat mencuci bajunya, masih membawa apa,, biji jagung atau semacamnya, mukanya penuh dengan debu". Ucap Celine membuat She na bangun dari baringnya dengan cepat. "Ck, bisa lihat seberapa penderitaan yang dia alami baru datang sampai sini. Tapi, Lu Jin ini, aku sungguh tidak mengerti. Habus cium langsung kabur?". Ujar Celine heran.

__ADS_1


"Aku juga mengomelinya. Aku harus bagaimana?". Tanya She na menyesal sudah marah-marah pada presdir Lu.


"Kalau begitu, aku tanya kamu, apa kamu suka dia?". Tanya Celine menatap lekat mata she na.


"Aku cuma, aku merasa tidak rela dia pergi. Jadi jika memikirkan kalau dia akan pergi, hatiku merasa sangat tidak nyaman. Lu Jin ini,...sudah berumur, mulutnya juga murahan, kerjanya juga bertele-tele". Sahut she na dengan apa yang di rasakannya.


"Betul..".


"Dan membawa sial padaku. Setelah bertemu dengannya, tidak pernah bertemu hal baik. Tapi... tapi...". Ucap she na ragu-ragu.


"Aii ya, tapi apa?. Suka pertahankan, kalau tidak suka biarkan dia pergi". Ujar Celine to the point.


"Suka..". Jawab she na dengan cepat dan mantap.


"Suka?. Kejar". Ucap Celine. She na langsung turun dari ranjangnya dengan cepat. "Eh, mau kemana?. Ck, prasyarat pertama untuk mengejar adalah harus pertahankan dia dulu". Ujar Celine menahan tangan she na.


"Bukankah dia bisa mengerti makna hidangan kamu?. Kalau begitu, kamu buat sebuah hidangan yang melambangkan mencintaimu, Sebelum dia naik pesawat, hidangkan ke hadapannya. Satu hidangan memutuskan untuk tinggal. Prok..Prok..Prok.. Mencengangkan tidak?. Bisa dia di andalkan?". Celine memberikan ide brilian pada she na dengan sangat meyakinkan.


"Bisa..". Jawab she na dengan mantap. Celine tidak jadi menginap, dia kembali ke rumahnya, membantu she na mencari informasi.


'Sup Penyihir adalah hidangan rahasia yang di wariskan dari mulut ke mulut di antara para wanita Gipsi. Setiap musim dingin tiba, mereka akan masak dengan panci kecil. Masak perlahan-lahan dengan bahan kesukaan orang yang di cintai dan Wine. Jadi, sup penyihir tidak punya resep khusus. Hidangan itu adalah cinta berlimpah terhadap kekasih. Di kenal sebagai Kode Ujung Lidah di antara pasangan kekasih'.


"Aku sudah tanya dengan jelas. Penerbangan mereka adalah jam 11 pagi, Jadi akan pergi jam 8. Dia ada di Vila di Suhai, aku sudah kirim alamatnya ke ponselmu". Ujar Celine mengirim pesan suara pada she na setelah mendapat informasi dari Meng xin jie.


Pagi-pagi she na memasukkan sup ke termos dan membawanya sambil berlari keluar.


"Tunggi sebentar, tunggu sebentar". Seru she na pada supir taksi pas ada orang yang turun sambil berlari cepat.


"Pak supir, Vila One Pine Bridge. Mohon lebih cepat sedikit. Terima kasih". Ucap she na setelah duduk di dalam taksi.


Setelah sampai di tempat presdir Lu, she na dengan cepat menekan bel, namun tidak ada yang keluar membuka pintu gerbang. Dia melihat ke dalam dari celah gerbang, tidak melihat ada orang. Dengan panik menelpon Celine.


"Halo...Zhao Di. Alamat yang kamu kasih benar tidak?. Kenapa tidak ada orang sama sekali?". Tanya she na dengan panik.

__ADS_1


"(Aku baru saja mau menelpon kamu. Situasi berubah. Mereka berangkat lebih awal, di perkirakan sekarang akan segera tiba di bandara. Tapi kamu masih ada waktu)". Ucap Celine di telpon.


"Baik..". She na langsung menutup telpon dan segera berlari mencari taksi.


"Tu..Keluar tol di depan, kemudian belok kanan di pintu pertama". Perintah presdir Lu di dalam mobil pada supirnya.


"Baik".


"Ti..Tidak Bos. Kamu, sekarang keluar tol untuk apa?. Ini putar terlalu jauh ini, puncak kemacetan benar-benar sangat macet". Omel Meng xin jie tidak di hiraukan sang presdir.


Setelah melewati komplek rumah she na, presdir Lu melihatnya dengan tatapan sedih. Meng xin jie jadi mengerti, kenapa bosnya minta keluar tol.


Sedang she na duduk di dalam taksi dengan cemas memegang termos supnya.


"Pak supir, kamu bisa lebih cepat lagi?. Aku terburu-buru". Desak she na.


"Nona, sekarang adalah jam kerja, tidak bisa cepat". Jawab supir taksi membuat she na semakin panik, apalagi melihat kemacetan sepanjang jalan. Ponselnya berdering, Celine menelponnya.


"Halo..Sedang di jalan". Ucap she na.


"(Situasi berubah lagi. penerbangan mereka tidak terkejar. Sekarang mereka ada di stasiun kereta cepat, naik pesawat ke Swiss dari Hang zhou. Cepat putar balik)". Ujar Celine baru mendapat info dari Meng xin jie.


"Pak supir, putar balik. tidak ke bandara lagi, pergi ke stasiun kereta cepat". Pinta she na tidak enak.


"Nona, disini tidak boleh putar balik. Kalau kamu buru-buru, kamu turun, naik mobil lagibdi seberang". Saran supir taksi yang baik, she na menurutinya.


Setelah turun dari taksi, she na berlari ke seberang naik taksi lain ke stasiun kereta cepat. Setelah sampai, she na berlari ke dalam.


'Kereta yang menuju Hang Zhou, sudah berhenti terima tiket. Ada penumpang yang naik kereta ini, silakan pergi ke loket penjualan tiket, ganti tiket kereta yang lain'. She na menghentikan langkahnya mendengar informasi ini. Dia berdiri diam dengan sedih. Ada seorang penumpang yang berlari dengan terburu-buru, tidak sengaja menyenggol lengan she na membuat termos supnya jatuh dan menumpahkan semua Sup Penyihirnya.


Saat she na mau mengambil termos supnya, ada tangan yang lebih dulu mengambilnya. She na mengangkat kepala melihat siapa yang ambil, mata she na membulat melihat presdir Lu berdiri di depannya. Keduanya saling menatap dengan haru.


"Pesawat tidak terkejar, kereta cepat juga sudah berangkat. Tampaknya nasib burukmu telah menimpaku". Kata presdir Lu melihat she na meneteskan air mata dan tersenyum lebar. "Sup Penyihir?". Ucap sang presdir mencium aroma dari termos di tangannya. She na mengangguk dengan malu.

__ADS_1


"Bisa buat satu porsi lagi?". Pintanya sambil tersenyum. She na mengangguk menunjukkan deretan gigi putihnya. Meng xin jie ikut senang melihatnya dari jauh.


__ADS_2