CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Jamur Shitake dan Jamur Portabella


__ADS_3

"Karena lezat..". Jawab she na singkat, padat, tepat. Sang presdir mengulum senyum mendengarnya.


"Aku cicipi sesuap, rasanya lumayan unik. Tapi unik bukan berarti lezat. Kamu memadu jamur shitake lokal dengan Tenderloin yang di import dari Australia, apakah sebanding?".Tanya Li Menyindir.


"Sebanding atau tidak, aku tidak tau. Aku merasa yang penting lezat". Jawab she na.


"Lezat atau tidak, itu hanya penilaian subjektif. Sesuai atau tidak ada standar objektifnya. Mengenai standar objektif juga bukan aku yang bisa mengatakannya. Tapi melalui percobaan berkali-kali, penyesuaian berkali-kali, tes rasa oleh sekian banyak orang. Sehingga mendapatkan pengakuan secara luas di seluruh dunia dan di terapkan secara terpadu. Misalnya Kaviar Emmas dan Chardonnay adalah pasangan alami, kalau kamu memadu Kaviar Emmas dengan alkohol Erguotou, menurut kamu apakah itu sebanding?". Ucap Li Man meremehkan. She na hanya tersenyum menanggapinya.


"Aku mengerti, kamu menginginkan inovasi, setiap koki ingin punya hidangan kreatif sendiri. Tapi inovasi bukan berarti kamu bisa berbuat sembarangan. Kamu boleh melakukan inovasi, tapi kamu harus pilih menggunakan bahan-bahan import yang sesuai dengan standar hotel. Teori yang begitu gampang, sekolah kalian tidak pernah mengajarkannya?. Aku lupa tanya, kamu lulusan sekolah mana?". Sambungnya dengan nada Menghina.


"Presdir Li, itu sebenarnya koki kita pendidikannya masih sangat bagus. Dia dari Le Cordon Bleu". Manager shen yang menjawab


"Aku juga pernah belajar di sekolah Le Cordon Bleu Prancis. Kita berdua masih teman sekolah. Kamu di kelas apa?". Tanya Li Man sengaja, karena dia sudah tau she na dari sana.


"Li Man, sudah cukup". Sentak Presdir Lu.


"Aku dan presdir Li bukan teman sekolah. Aku juga tidak pernah pergi ke paris. Aku dari kampus Sanghai. Yang lain aku tidak tau, tapi guru kami pernah mengajarkan bahwa, bahan-bahan segar adalah paling terpenting. Jamur shitake lokal lebih lembut di banding Jamur Portabella". Sahut she na dengan senyum, setelah itu dia pergi begitu saja tidak peduli manager shen memanggilnya.


"Gu she na.... Presdir Li, lihatlah, dia terlalu muda, usianya terlalu kecil, baru berusia 21 tahun tidak pengertian. Aku pergi tegur dia". Ucap manager shen pamit pergi.


"21 tahun, juga termasuk memiliki prestasi di saat muda". Ucap Li Man menatap presdir Lu di depannya.


"Aku pergi ke toilet dulu". Ucap sang presdir datar berlalu pergi.

__ADS_1


Di dalam dapur she na mencincang daging dengan dua pisau di dua tangannya dengan kesal menatap ke depan. Presdir Lu datang menemuinya.


"Hai...Apakah kamu baik-baik saja?". Tanya sang presdir dengan canggung, namun tidak di hiraukan oleh she na. "Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu". Ucap sang presdir.


"Tidak ada yang ingin kukatakan padamu". Sahut she na dengan dingin.


Presdir Lu menghela nafas panjang mengusap wajahnya.


"Sebenarnya Li Man bukan sengaja mempersulit kamu. Dia juga termasuk orang yang suka memasak. Dia mengikuti pelatihan di institut seni kuliner Le Cordon Bleu Prancis demi hal ini. Jadi hari ini dia hanya bersikap polos ingin membahas cara pembuatan Steak Wellington denganmu. Aku merasa, kamu tidak perlu terlalu memusuhi dia. Serius". Ucap presdir Lu terdengar sedang membela Li Man di telinga she na.


She na meletakkan pisaunya dan menatap nyalang pada presdir Lu.


"Dia suka memasak, dia mengikuti pelatihan di institut seni kuliner Le Cordon Bleu Prancis,dia polos. Aku tidak pantas. Perkataanmu sebelumnya tidak salah. Nilai dari suatu barang tidak bisa dilihat dari nilai subjeknya sendiri, tapi penentuannya tergantung pada dimana posisinya. Jadi, dia mengikuti pelatihan di institut seni kuliner Le Cordon Bleu Prancis, jadi masakannya sudah semestinya mahal. Kamu merasa terlalu mahal jika makan di rumahku?". Ucap she na menatap dingin pada sang presdir.


"Benar, aku tidak normal. Aku tidak memiliki logika yang normal. Di duniamu, aku hanyalah koki yang sangat kecil". Ucap she na menunjukkan jari kelingking dan jempolnya. "Aku tidak bisa mencapai levelmu, aku tidak peduli dengan logika atau tidak logika. Tapi logikaku adalah kamu sendiri tidak boleh memakan masakan dari 2 wanita". Ucapvshe na dengan berkaca-kaca.


"Kenapa?". Tanya sang presdir.


"Kenapa apaan?. Tidak ada alasan. Tidak boleh ya tidak boleh". Cibir she na.


"Aku datang kesini bukan untuk mendiskusikan masakan siapa yang harus kumakan. Aku...sangat naif". Ucap presdir Lu sudah mulai kesal. "Benar, dulu aku terbiasa memakan masakannya. Tapi aku sekarang terbiasa memakan masakanmu. Aku hanya terbiasa memakan masakanmu. Aku mengakui bahwa kamu sangat spesial, tapi tolong kamu jangan terlalu spesial. Kespesialanmu membuatku.....Aku..aku mulai ragu, aku..aku..aku tidak tau". Ujar sang presdir meninggikan suaranya.


"Tidak ada yang perlu kamu ragukan. Meskipun aku spesial, bagimu, aku juga hanyalah seorang koki saja". Sahut she na dengan ketus.

__ADS_1


"Kamu adalah seorang koki, tapi kamu...Bukan, kamu bukan hanya seorang koki, kamu juga...kamu dan aku, kamu...Bisakah berikan aku sedikit waktu untuk memikirkannya?. Aku perlu memastikannya dulu". Ucap presdir Lu terbata meminta waktu untuk meyakinkan hatinya.


"Apa yang perlu kamu pastikan?". Tanya she na.


"Aku.....".


"Kamu ingin memastikan jamur kancing kecil(Jamur Portabella) dan jamur shitake, mana yang lebih mahal, atau memastikan masakanku lebih enak, atau Li...Li apaan". Sela she na.


"Li Man".


"Aku tidak ingin kamu mengingatkanku". Sentak she na dengan mata merah.


"Apakah kamu sudah selesai memastikannya?. Keluarlah jika sudah selesai. Kembali ke posisi yang semestinya bagimu". Ucap she na setelah diam beberapa saat dan mengusir presdir Lu keluar.


"Aku bahkan tidak tau dimana posiaiku?". Kata sang presdir.


"Aku beritahukan padamu". Ucap she na membersihkan pisaunya.


"Songqiao Yihao, Ferrari, presidential suite, sisi Li apaan itu. Intinya kamu seharusnya tidak muncul di dapur ini". Ucap she na menahan air matanya agar tidak jatuh.


Sang presdir membalikkan badan melangkah pergi, namun baru dua langkah dia balik lagi. "Kamu akan tau sebenarnya dimana posisiku". Bisiknya di dekat telinga she na dan berlalu pergi. She na diam dengan air mata menetes di wajahnya, memandang kosong ke depan.


Presdir Lu dan Li Man kembali ke vilanya, namun sang presdir menunjukkan wajah datarnya dari dalam mobil sampai ke vila, sang presdir tidak berbicara sekatapun.

__ADS_1


__ADS_2