CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
YANG WARNA PINK ATAU YANG WARNA-WARNI


__ADS_3

"Suaraku serak". Ucap Meng xin jie dengan sudah payah.


"Bukankah beberapa hari yang lalu baik-baik saja?. Begitu bawel". Ujar Celine tidak percaya.


"Karena terlalu bawel". Ujar Meng xin jie Dengan suara seraknya.


"Terlalu bawel?". Tanya Celine di jawab anggukan kepala Meng xin jie. "Aku bisa percaya padamu?. Kamu tidak bisa bahasa Finlandia, bilang saja tidak bisa!. Pakai cara ini membohongiku. Masih terlalu bawel, membuat diri sendiri jadi bisu. Kenapa kamu tidak bilang kebanyakan disko sehingga kakinya juga lumpuh?. Cerca Celine dengan kesal berlalu pergi begitu saja.


"Bisa kasih tau aku. Aku bisa". Ucap Meng xin jie berusaha menjelaskan dengan suara yang sangat kecil, tentu saja Celine tidak mendengarnya. Dia menghela nafas panjang dengan menekuk muka kesal.


**


She na membuat ikan kod pasta roset, Jamur panggang minyak zaitun dengan telur mata air panas dan dessert.


"Lu rewel, bunga mawar kamu memang sangat segar". Ujar she na meletakkan hidangan di meja.


"Aku tidak suka panggilan Lu rewel".


"Hah...".


"Ganti satu lagi". Pinta sang presdir menngganti nama panggilannya.


"Ganti satu lagi.....?". Ucap she na sambil berpikir.


"Kakak Jin". Panggilnya menautkan alis.


"Meskipun ini terdengar sangat agak akrab, aku masih bisa menerimanya dengan terpaksa". Ujar sang presdir dengan santai.


Hahahahaha......... She na tertawa mendengar tanggapan presdir Lu


"Kakak Jin...Hahaha...". Panggil she na sambil berjalan ke dapur. "Dasar tidak tau malu. Hahaha...Jin...Hahaha...". Seru she na merasa geli dengan panggilannya. Lalu keluar membawa nota sambil makan Tanghulu di tangannya.


"Ikan kod pasta roset 600 yuan. Jamur panggang minyak Zaitun dengan telur mata air panas 300 yuan. Satu lagi adalah S....". Ucap she na terhenti saat melihat presdir Lu menatap Tanghulu di tangannya.


"Kamu cicipilah". She na memberikan Tanghulu pada sang presdir.


"Makanan kesukaan anak gadis, aku tidak berminat". Tolak sang presdir dengan gengsi.


"Aku buat sendiri. Kalau begitu, aku hanya bisa makan sendiri". Ujar she na mengambil kursi dan menaruh di dekat sang presdir, lalu makan Tanghulu di depan presdir Lu dengan sengaja. KRAKK....Bunyi kerak gula di gigit she na.


"Hmm, asam dan manis normal, pas sekali". Ujarnya menggoda sang presdir.


"Karena kamu sudah membuatnya, tidak boleh menyia-nyiakan tenaga kamu. Coba cicipi dengan terpaksa". Ucap sang presdir mengambil Tanghulu dari tangan she na dan memakannya.

__ADS_1


"Bagaimana?". Tanya she na.


"Oh, kerak gula terlalu keras. Sanca terlalu asam, rasanya sangat biasa". Jawab presdir Lu sambil makan Tanghulu.


"Eh, kemari". panggil she na


"Kenapa?".


"Kemari". She na menyuruh presdir Lu mendekat padanya.


"Sudut mulut kamu ada kerak gulanya. Bagian itu". Ujar she na menunjuk sudut mulut kiri.


"Eh, aku bantu kamu, aku bantu kamu". Ujar she naengambil tisu dan mengangkat sedikit dagu presdir Lu ke atas, lalu membersihkannya.


Sang presdir terkejut melihat muka she na begitu dekat dengannya. Dia menatap mata dan bibir ranum she na.


"(Maksud aku adalah kamu sekarang sangat pasif. Kamu harus menjadi aktif dari pasif)". Presdir Lu teringat ucapan asistennya.


"Tunggu sebentar...". Ucap sang presdir ketika she na menjauhkan diri darinya. "Jangan bergerak". Pintanya meletakkan Tanghulu ke piring dan berdiri.


"Rambut kamu juga menempel sedikit gula". Ujarnya mendekati she na.


"Rambut aku..". She na melihat rambutnya.


"Jangan bergerak, kamu tidak kelihatan, kalau tidak nanti bisa berserakan kemana-mana. Jangan bergerak". Pinta presdir Lu mengelap rambut she na dengan tisu, jarak keduanya sangat dekat.


"Aku, aku mau cuci piring". Ucap she na melarikan diri ke dapur dengan muka merah merona.


Sang presdir tersenyum senang dan meletakkan nota yang sudah di tanda tangani dan berlalu pergi.


Esok harinya she na memainkan alat musik GU ZHENG dengan piawai, dia memakai pakaian Chong Sam warna putih dengan rambut terurai dengan cantik.


Presdir Lu duduk dengan santai di depan she na sambil menikmati musik sambil menatap jemari lentik she na memainkan Gu Zheng.


PROK...PROK...PROK...


Sang presdir tepuk tangan sambil tersenyum saat musik sudah berhenti.


"Sudah lama tidak latihan, agak awam". Ucap she na merendah.


"Sangat bagus..". Ujar sang presdir meyakinkan.


"Biaya makan 600 yuan, pertunjukkan seni 2.00" yuan". Ujar she na dengan nota di tangannya.

__ADS_1


"Tidak masalah. Tanda tangan sekerang. Maaf, tidak bawa pulpen. Kamu ada?". Ucap presdir Lu meraba saku jasnya.


"Aku ada...aku ada pulpen. Aku ada pulpen. Tunggu sebentar". Seru she na dengan cepat dan mencarinya di laci lemari.


"Kamu carilah pelan-pelan". Ujar sang presdir berjalan ke sofa mengambil coatnya.


"Kamu tunggu sebentar".


"Tidak perlu buru-buru". Ucap sang presdir sambil memakai long coatnya.


"Kamu jangan...". Ucap she na dengan cemas melihat presdir Lu sudah bersiap.


"Aku tunggu kamu".


Lalu she mengambil kursi kecil naik diatasnya untuk mencari pulpen di atas lemari.


"Aku akan bantu kamu". Ucap presdir Lu dari belakang dan menurunkan she na, lalu dia naik ke atas kursi.


"Itu, yang di atas itu". Ujar she na menunjuk atas lemari.


"Yang atas itu, baik". Sahut presdir Lu sambil membungkus she na yang ada di depan dengan long coatnya.


"Yang warna pink atau yang warna-warni?". Modus presdir Lu. She na membeku berada di dalam long coat sang presdir.


"Yang warna pink, ya?". Tanya presdir Lu lagi. She na tidak menjawab, dia sedang mencium bau parfum presdir Lu sambil memejam mata.


"Atau kantong bunga di sebelahnya?". Ucap sang presdir sengaja dengan senyum terukir di bibirnya melihat she na yang mencium long coatnya dari atas.


"Aku sedang bertanya padamu?". Ujar sang presdir menyentuh kening she na dengan pelan.


She na langsung mendongak ke atas melihat presdir Lu.


"Yang warna pink?". Tanya sang presdir dengan lembut.


"Yang... yang di atas itu". Ujar she na dengan gugup menunjuk ke atas.


"Yang mana?". Presdir Lu menyentuh jari she na.


She na langsung berlari masuk ke kamarnya dengan wajah merah merona karena malu.


"Aku belum bayar". Seru presdir Lu dari luar sambil tersenyum.


"Bicarakan lain kali saja". Sahut she na.

__ADS_1


. Presdir Lu melihat papan yang di tempel she na beserta nota-notanya.


. Sang presdir mengambilnya dan berlalu pergi. Sedangkan di dalam kamar she na tersenyum malu melihat jarinya yang di sentuh oleh presdir Lu tadi.


__ADS_2