
"Mau..".
"Tidak..". She na bilang mau, namun Lu Jin berteriak tidak.
Saat she na mau menaiki sepeda itu, Lu Jin langsung menggendongnya ala bridal style.
Aaargh......Teriak she na kaget Lu Jin menggendongnya tiba-tiba.
"Kamu pakai sendiri saja". Seru Lu Jin pada pemuda itu dan membawa she na masuk ke mobilnya.
"Aku antar kamu pulang dan istirahat dulu dengan baik. Setelah itu, kita baru bahas masalah ini". Ucap Lu Jin setelah mereka sudah duduk di dalam mobil. Melihat she na diam saja, Lu Jin mendekat, namun she na langsung memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela. Lu Jin tertegun melihat sikap she na, dia duduk kembali dengan kedua tangannya menutup wajahnya. "Maaf...Maaf, ketika kakek mu sakit, aku tidak berada disisimu, kamu mengalami banyak kesulitan, mengalami banyak penganiayaan. Semua Itu salahku, aku tidak ada di sisimu. Aku minta maaf padamu, namun, sekarang aku sudah pulang. Aku ada, aku ada di sisimu". Ucap Lu Jin dengan rasa bersalah menatap she na yang masih memalingkan wajahnya. "Kita selesaikan dan hadapi masalah selanjutnya bersama. Aku tidak akan pergi lagi. Tolong jangan marah lagi padaku. Oke?". Mohon Lu Jin.
"Jika begitu, katakan padaku, kamu ingin menjadi Liu Bang atau Xiang Yu?". Tanya she na dengan muka datar menatap Lu Jin.
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?. Sang pemenang adalah raja, yang kalah adalah pecundang. Seharusnya aku akan memilih Liu Bang. Apakah pertanyaan ini penting?". Jawaban Lu Jin membuat she na kecewa.
"Ayo jalan, aku sudah capek". Ucap she na setelah memakai seatbeltnya dengan lemas.
Setelah sampai di rumah, she na berbaring di sofa memikirkan hubungannya dengan Lu Jin.
Sedang kan di rumah sakit, paman tua yang menjaga kakek Gu menggantikan she na.
"Lu Jin itu pasti karena pekerjaannya terlalu sibuk, tidak bisa menarik diri. Jika tidak, dia juga tidak akan pergi dengan terburu-buru. Paman... masalah ibunya itu, sangat susah dihadapi. Kakak itu selamanya bukan...Kring...Kering...". Ucap paman tua terpotong deringan ponselnya.
"Ada apa?". Tanya kakek Gu melihat paman tua lama belum jawab telponnya.
__ADS_1
"Ah, pekerjaan, klien". Kilah paman tua membelakangi kakek Gu menjawab telponnya. "Halo...". Ucapnya tanpa menyebut nama.
Disinilah sekarang paman tua dengan Lu Jin yang tadi menelponnya, di sebuah kafe mewah.
"Katakan..". Ucap paman tua.
"Ceritanya, setelah aku kembali, aku merasa she na agak aneh. Selalu sengaja menjaga jarak denganku, tidak mau menerima semua bantuanku. Aku tahu terjadi banyak hal selama aku tidak ada di sini, namun, aku tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu padaku". Lu Jin mengeluh pada paman tua.
"Karena... demi mengumpulkan biaya operasi kakek, Nana sudah bekerja tiga shift, sudah tidak beristirahat dengan baik selama beberapa hari". Jelas paman tua.
"Aku lebih ingin tahu, biaya operasi kakeknya begitu besar, kenapa aku bukan orang pertama yang tahu?". Tanya Lu Jin dengan kesal.
"Haish.. masalah ini salah aku. Aku.. aku merasa tidak boleh selalu meminta uang padamu di saat ketemu kesulitan. Jadi aku membayar biaya rawat inap kakek. Namun, kedua kalinya, masalah pemasangan ring sebesar ini, aku juga merasa aneh. Mungkin Nana menjaga harga dirinya". Terang paman tua dengan santai.
"Dia adalah pacarku. Aku... Kami adalah pasangan kekasih". Kilah Lu Jin tidak terima.
"Rasa aman?".
"Rasa aman". Ucap paman tua mengulang perkataaannya. Lu Jin persilahkan paman tua untuk melanjutkan ucapannya. "Aku tidak bisa membantumu dalam hal ini. Harus kamu yang memahaminya sendiri. Namun, yang terpenting sekarang adalah kesehatan kakek. Yang paling dipedulikan Nana adalah menjaga kakek dengan baik". Paman tua memberi nasehat.
"Aku mengerti". Ucap Lu Jin setelah minum seteguk air putih lalu berdiri. "Terima kasih". Ucapnya menepuk pundak paman tua melangkah pergi.
"Sama-sama. Orang kaya tidak tahu membayar juga?". Omel paman tua setelah Lu Jin pergi. Baru saja paman tua mau meminum jusnya, ponselnya berdering. "Ai ya.. Sepasang kekasih ini...".Eluh paman tua melihat she na yang menelponnya. "Nana...Katakan..". Ucapnya menjawab telpon.
Disinilah sekarang she na berada, studio paman tuanya.
__ADS_1
" Nana... Apakah ini bagus?". Tanya paman tua menunjuk sebuah patung kecil di mejanya pada she na selonjoran di sofa dengan wajah cemberut.
"Aish..Paman tua, bisakah Jangan bermain lagi?. Aku sedang bertanya padamu. Apakah aku benar-benar tidak pantas berpacaran dengan Lu Jin?". Tanya she na mencebikkan bibirnya.
"Iya..". Jawab paman tua dengan enteng.
"Aku tidak bercanda, aku serius". Ucap she na kesal dengan jawaban pamannya.
"Aku juga tidak bercanda. Aku merasa kalian berdua tidak cocok. Sudah dari dulu aku ingin menasehati kamu untuk putus dengannya. Sekarang tepat saatnya, kamu kebetulan merasa ragu, lebih baik ambil kesempatan ini untuk putus hubungan dengannya. Mulai sekarang, dia jalani kehidupan mewahnya, kamu jalani kehidupan sederhanamu. Tidak perlu saling berhubungan lagi. Prok..Prok..". Ucap paman tua bertepuk tangan dengan sarannya sengaja menjahili she na.
"Sebenarnya, tidak separah itu. Aku hanya merasa...Aku hanya merasa...". Sahut she na dengan tergagap.
"Kamu merasa kamu masih menyukainya". Potong paman tua.
"Tentu saja aku menyukainya". Aku she na dengan jujur.
"Jika kamu berkata seperti itu, masalah ini lebih gampang untuk ditangani. Katakan... Kenapa hari ini kamu lemas lagi?". Omel paman tua malas melihat wajah she na begitu lesuh.
"Aku merasa jarak diantara aku dan Lu Jin sangat besarl". Ucap she na berjalan gontai ke depan paman tuannya.
"Nak, kamu benar-benar tidak paham. Kuberitahukan padamu. Jarak menciptakan rasa baru. Rasa baru menciptakan rasa penasaran. Rasa penasaran menciptakan rasa cinta". Petuah paman tua. "Sehingga dia memilihmu bukan memilih Li Man yang tidak ada jarak dengannya, paham dalam soal pekerjaan, dan latar belakang keluarganya cocok". Penjelasan paman tua membuat she na tersenyum sumringah.
"Aku sudah ngerti. Aku ngerti Jika kamu berkata seperti itu. Paman tua, Menurutmu, apakah aku akan menyusahkan Lu Jin?". Tanya she na.
"No, no, no..". Sahut paman tua menggoyangkan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Kenapa?".Tanyanya lagi.
"Berdasarkan tingkat statusmu, kamu sama sekali tak mampu untuk menyusahkannya". jawaban paman tua membuat she na ketawa senang, dan Paman tua juga ikut senang melihat She na tidak cemberut lagi.