CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Kamu Tidak Bisa


__ADS_3

"Kamu sekarang ada masalah apa langsung dibicarakan denganku?. Oke?". Ucap ziqian dengan lembut membuat Lu Jin makin cemburu. Dia meminta bantuan dari paman tua lewat kerlingan matanya. Paman tua langsung tau maksudnya dan mengangguk setuju.


"Kamu sedang membaca buku apa?".Tanya she na.


"Aku hanya sekadar baca-baca saja".


"Aku biasanya membaca buku masak".


"Ziqian... ke sini sebentar". Panggil paman tua.


"Ada apa?". Tanya ziqian.


"Paman...paman sedang memikirkan...".


Ekhem...Lu Jin berdehem


" Paman sedang memikirkanmu. Kamu sudah kembali begitu lama, juga tidak pernah mengobrol dengan paman. Buruan bagikan hal-hal menarik seputar kuliah di luar negeri dengan paman". Ucap paman tua. Lu Jin mengulum senyum dengan tindakan cepat paman tua.


"Pergi, pergi, bagikanlah dengannya". Ucap she na.


"Sini, sini..".


"Dia sangat menantikannya". Ujar she na melihat paman tuanya gak sabar.


"Paman sangat menantikannya".


"Paman...". Panggil ziqian menghampirinya.


"Presdir Lu..Coba cicipi masakanku". Ucap pelayan narsis yang biasa mengantar makanan di hotel menepuk punggung Lu Jin.


"Baik, baik". Jawab Lu Jin langsung memakannya. Dia mau secepatnya mendekati she na.


"Siapa yang bilang dia tidak memakan masakan orang lain?. Ayo, she na..Coba cicipi masakanku". Ucap pelayan itu lebih mendekati she na. Lu Jin sangat kesal dengan semuanya. Banyak sekali yang menghalangi berduaan dengan she na.


"Ini...Bukankah ini hanya beberapa daun sayuran?". Tanya she na.


"Bakso..Mari..". Dia memberikan she na bakso buatannya.


Lu Jin menyugar rambutnya dengan kesal. semua orang sedang mengobrol, hanya dia saja yang duduk sendirian.


**


Di rumah Lu Jin, Li Man sedang jalan mondar mandir menelpon Lu Jin dari tadi tidak di angkat.


"Kenapa, Lu Jin masih belum angkat telponnya?". Tanya ibu Lu Jin.


"Mungkin sedang sibuk". Sahut Li Man.


"Memang sedang sibuk. Hanya saja arah kesibukannya sesuai atau tidak, Ini yang penting". Sinis ibu Lu Jin. "Mari, duduk kemari". Pintanya pada Li Man duduk di sampingnya. "Ini adalah pemberian Tuan Sun dan Wei'en untukku. Selalu tidak ada kesempatan untuk meminumnya. Hari ini jarang-jarang kamu di sini, temani aku minum ya". Ucapnya mengangkat gelas winenya.


"Baik, pemimpin Zheng". Sahut Li Man santun.


"Anggur berkualitas dalam gelasnya bercahaya. Anggur seperti apa, cocok dengan gelas seperti apa. Menurutmu yang kukatakan benar tidak?". Ujar ibu Lu Jin.

__ADS_1


"Benar, pemimpin Zheng".


"Kalau tidak di lingkungan kerja, tidak perlu memanggilku 'pimpinan Zheng', panggil saja Bibi Zheng". Pinta ibu Lu Jin, Li Man tersenyum mengangguk. "Li Man, kamu telah di samping Lu Jin selama bertahun-tahun, sudah banyak membantunya. Bibi selalu sangat menyukaimu. Jadi, selalu berharap kamu bisa menemani di sisi kami. Kamu mengerti maksudku?". Tanya ibu Lu Jin menggenggam tangan Li Man. Li Man tidak menjawab, hanya mengulum senyum. "Mari minum segelas". keduanya bersulang.


Kembali ke tempat rekreasi..


"Sudah puas makan dan minum, Mari kita lakukan sesuatu yang serius. Kita main permainan bersama 'Truth or Dare'. Seru M X J pada semuanya dan meletakkan sebuah dadu besar di meja.


"Bagaimana?. semua tau cara mainnya kan?". Tanya Celine dengan semangat.


"Bukankah hanya 'Truth Or Dare'?. Siapa yang tidak pernah main?". Ucap pelayan narsis itu.


"Memang, ayo sini". Timpal paman tua.


"Baik. Presdir Lu, boleh tidak?". Tanya Celine.


"Tentu saja".


"Baik..".


"Bagus!. Hidup presdir Lu...". Seru M X J.


" Kalau begitu, kita main sesuatu yang besar. Jangan main 'Truth' lagi, kita main langsung main 'Dare' saja". Ide Celine.


"Woah...Dare!. Dare!. Dare...". Seru semuanya semangat.


"Kalau begitu, aku yang memutar botolnya. Botolnya menunjuk pada siapa, dia harus melempar dadu. Isi pada dadunya adalah isi tantangannya, oke?". Ucap Celine berdiri dan memegang sebuah botol.


"Oke, oke...".


Botol yang di putar berhenti ke arah presdir Lu.


"Meng xin jie...Kamu curang". Seru she na.


"Nana...Kamu melindungi". Timpal paman tua.


"Benar..".


"Presdir Lu...Presdir Lu...Presdir Lu...". Sorak semuanya.


Lu Jin dan she na saling menatap tak berdaya.


"Aku bantu... aku bantu kamu lempar dadunya. Bantu kamu mendapatkan yang lebih baik". Ucap M X J berdiri dan melempar dadu mewakili bosnya.


Tidak terasa hari sudah malam, dan sudah bermain banyak permainan.


"Kamu di sini untuk menungguku?". Tanya Lu Jin saat keluar dari toilet sudah ada ziqian di depan.


"Benar, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu". Ucap Ziqian.


"Katakan!".


"Apa hubunganmu dengan Gu she na sekarang?". Tanya ziqian.

__ADS_1


"Dia adalah pacarku". jawab Lu Jin dengan santai.


"Apa kamu serius?".


"Apakah aku perlu melaporkannya kepadamu?".


"Presdir Lu, bisnismu ada di seluruh dunia. Bagaimana bisa selalu menemani di sisinya?".


" Tidakkah kamu tahu bahwa di dunia ini ada alat transportasi yang disebut 'pesawat'?. Tidak peduli seberapa jauh jarak yang ada di dunia ini, hanyalah perjalanan udara 10-an jam. Tidak peduli di mana urusan bisnisku, selama Gu she na membutuhkanku, aku bisa berada di sisinya kapanpun". Jawab Lu Jin dengan mantap.


" Apakah kamu tahu, apa cita-cita Gu she na?". Tanya ziqian.


"Ke depannya aku akan tahu. Karena kami memiliki banyak waktu untuk saling memahami. Aku tidak hanya akan memahaminya, aku juga akan bantu dia mewujudkannya". Sahut Lu Jin setelah diam sejenak.


"Bantu dia mewujudkannya?.Hah.. Bagaimana caramu bantu dia mewujudkannya?. Melepaskan bisnis besar keluargamu, menemaninya cuci tangan dan membuat sop?. Apakah setiap harinya kamu bisa menemaninya, menjaga keluarganya, menjaga kehidupannya?. Apakah kamu bisa?". Tanya ziqian beruntun.


"Apakah itu susah?". Tanya Lu Jin dengan enteng.


"Yang aku katakan adalah setiap hari".


"Jika dua orang saling mencintai, apakah penting untuk bersama setiap hari?".


"Ini adalah pendapatmu. Apakah kamu pernah menanyakan pendapat she na?".


"Kamu berkata begitu banyak padaku, bukankah hanya ingin bilang kamu lebih bisa memberinya kebahagiaan dibandingkan aku benar tidak?". Sinis Lu Jin.


"Benar..". Jawab ziqian yakin.


"Kamu tidak bisa".


"Aku bisa..".


"Kamu tidak bisa. Karena Gu she na mencintaiku. Dia adalah wanitaku". Ucap Lu Jin menohok hati ziqian. Karena dia juga tau kalau she na suka pada Lu Jin.


" Aku harap presdir Lu bisa mengingat apa yang kamu katakan hari ini".


" Tentu saja, aku tidak akan memberimu kesempatan". Ucap Lu Jin menatapnya dengan serius.


**


Di ruang rawat ayahnya Lu Jin ( Lu Ming Ting) istrinya (ibunya Lu Zheng) sedang memijat kakinya.


"Kamu sudah lelah seharian, pulang dan beristirahatlah lebih awal". Ucap Lu Ming Ting pada istrinya.


"Aku temani kamu sebentar lagi. Aku sungguh tidak berguna, kesehatanmu sudah seperti ini, tetapi aku tidak bisa membantu apa-apa. Aku juga tidak mendidik anak kita dengan baik. Sampai sekarang Xiao Zheng juga belum bisa membantumu menopang grup Ming Ting". Ujar istrinya dengan sedih.


"Kelakuan Xiao Zheng seperti ini. Kalau bicara mengenai tanggung jawab, ini bukan kesalahanmu seorang. Salahku karena tidak mendidiknya dengan baik. Beban Ming Ting, cepat atau lambat akan jatuh di pundaknya. Sudah saatnya mencarikan dia seorang wanita yang normal, agar dia memiliki keluarga kecil. Agar dia tahu apa itu tanggung. Ke depannya baru bisa mengambil alih keluarga besar Mimg Ting. Saat ini masih ada aku. Kalau suatu hari..... orang-orang dewan direksi pasti tidak akan bersikap baik padanya". Ujar ayah Lu Jin.


"Aku juga berpikiran seperti itu. Untungnya sekarang Xiao Zheng sudah tidak terlalu menolak untuk ikut rapat di perusahaan. Aku merasa dia perlahan akan berubah. Kamu tenang saja. Oh ya, aku dengar yang sedang melawan kita sekarang adalah grup Zheng Hong?". Tanya istrinya.


"Grup Zheng Hong, ingin melawanku sudah bukan satu hari ini saja".


"Aku dengar sekarang Lu Jin cukup hebat, dalam rencana akuisisi Global yang dia Pimpin, ada beberapa perusahaan dan grup Ming Ting di luar negeri".

__ADS_1


"Benar. Dalam berbisnis, otaknya lebih jernih dari pada ibunya, dia juga sangat berani. Ini agak mirip denganku dulu. Saat aku mendirikan Ming Ting...". Di lihatnya muka istrinya langsung cemberut. "Sudah puluhan tahun tidak pernah berhubungan dengannya, tidak perlu cemburu".


"Apa yang tidak berhubungan?. Di kehidupan sehari-hari, kalian memang tidak begitu berhubungan. Tapi, di lingkungan kerja kalian tidak jarang bertemu. Dasar Zheng Hong ini, kantor juga harus terlibat dengannya". Sungut istrinya yang cemburu dengan ibu Lu Jin.


__ADS_2