
Sialan ! Udah jam 9 malam tapi Lucas belum datang juga !
Jingga sibuk memeriksa ponselnya, tidak ada telfon atau pun pesan dari Lucas, Jingga memeluk gulingnya sembari memelototi layar ponselnya. Sudah lewat 8 jam sejak ia menelpon Lucas, memintanya untuk datang menjeput di kos Riva. Tapi nyaris pukul sepuluh malam, Lucas tidak kunjung datang. Merasa malu dengan Riva, Jingga pun memutusak untuk tidur, sudah malam dan sudah tidak ada harapan lagi, Lucas akan datang. Delapan jam menunggu rasanya sudah cukup, mending ia tidur.
" Kamu beneran nggak pulang ?" Tanya Riva.
" Nggak."
" Pulang sana, kalau udah berumah tangga, berantem kecil kayak gini udah biasa, jangan main kabur-kaburan, nggak pantes."
" Masalah kecil ?"
" Iya, udah nggak usah diperbesar. Lagian Lucas juga nggak selingkuh, dia ngomong kayak gitu, supaya kamu berhenti, nggak berbuat hal yang merugikanmu."
Jingga, diam. Apa yang dikatakan Riva ada benarmya. Tapi rasa kesalnya masih menggebu, Lucas tidak menjeputnya. Satu malam ini saja, ia ingin memberi pelajaran ke suaminya.
" Malam ini aja, aku nginep." Ucap Jingga, di tariknya selimut, dan mencoba memejamkan mata.
Tapi sayang, antara hati dan otak tidak bisa singkron. Otak meminta tidur, tapi hati begitu resah.
Jingga masih tidak habis pikir, kenapa Lucas tidak menjemputnya saat itu juga setelah di telfonnya.
pikiran macam-macam sudah mengusiknya.
walaupun tadi ia sudah mendengar dari Riva, kalau suaminya itu ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi ia masih saja ragu.
Jingga kesal setengah mati, ini benar-benar sudah kelewatan, lihat saja, dia tidak akan pulang sebelum lelaki itu menjemputnya. Bahkan jika ia datang pun, Jingga tidak akan mau pulang dengan mudahnya.
Tiba-tiba ketukan pintu kamar tempatnya berdiam kala itu terdengar.
" Jingga, buka pintunya ?" Teriak Riva dari dalam kamar mandi.
" Kamu ada tamu ?"
" Nggak, itu kurir. Aku tadi pesen makanan."
Oh ya, kita belum makan malam.
Jingga beranjak dari kasur tempatnya berbaring, berjalan menuju pintu.
" Berapa mas ?" Tanya Jingga langsung, tanpa menatap siapa sosok yang saat ini berdiri di depan pintu.
" Sayang." Ucap Lucas, pelan.
Mendengar suara yang tidak asing baginya, ia langusng menganggkat kepalanya, yang sedari tadi sibuk mengeluarkan uang dari dalam dompet.
Lucas.
Dengan cepat, Jingga mencoba menutupnya kembali, tapi sayang, dengan cepat pula Lucas menahan pintu itu. Sempat terjadi peperangan sengit antara mereka berdua, sekuat tenaga mencoba memenangkan pintu di tangan mereka, tapi lagi-lagi Jingga kalah, dengan sekuat tenaga Lucas bisa membuka pintu itu.
__ADS_1
" Kamu siapa ya ? Apa kita kenal ?" Tanya Jingga dengan sinisnya, ia masih sangat kesal dengan suaminya itu. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan mudah goyah apalagi tumbang, hanya dengan rayuan suaminya itu. Malam ini, titik. Dia tidak akan pulang.
" Sayang, please jangan mulai."
" Aku nyuruh suamiku jemput jam 3 sore, ini udah jam 8 malam. maaf, anda usah salah alamat."
" Aku ada kerjaan, yang harus aku selesaikan dan nggak bisa di tinggal."
Lucas mencoba meraih tangan istrinya itu, tapi Jingga menepisnya, dengan pelan.
" Kerjaan ? Bukannya kamu lagi ngurusi teman kamu itu, siapa nama wanita itu ? Aku lupa ?"
" Nggak, aku beneran ada kerjaan. Kalau kamu nggak percaya tanya aja Jimmy." Ucap Lucas sembari menoleh kearah Jimmy yang berdiri tidak jauh dari pintu.
Jingga menatap Jimmy tajam. Dan Jimmy hanya menganggukkan kepalanya, tanpa bicara.
" Iya kan, Jimmy. Jawab ? Jangan cuma ngangguk-ngganguk doang."
" Maaf tuan. Iya nyonya, tadi tuan ada kerjaan yang harus di selesaikan." Jawab Jimmy cepat.
" Kalian nggak lagi bersekongkol kan ?" Tanya Jingga.
" Nggak, sumpah."
" Terud kamu ngapain ke sini ?"
" Jemput kamu."
" Nginep ?" Tanya Lucas kaget.
" Iya, aku masih marah sama kamu."
" Sayang jangan gitu dong, aku minta maaf deh."
" Kamu tahu salah kamu apa ?" Tanya Jingga, dia ingin memastikan apa Lucas tahu alasan dia marah.
Tapi Lucas diam, dia berpikir keras, memikirkan apa sebenarnya salahnya ? Karena baginya kesalahannya hanya, telat menjemput istrinya.
" Aku telat jemput kamu." Jawab Lucas dengan polosnya.
Mendengar itu kepala Jingga serasa keluar asap, rasa kesal seketika ingin meledak saat ini juga.
" Astaga, aku benar-benar nggak tahan lagi. Kamu tuh sadar nggak sih kalau aku marah sama kamu ? Perempuan ngambek itu seharusnya lebih cepat di tangani, tapi kamu apa ?"
Usai mengatakan itu Jingga berjalan menuju kasur, dan berbaring segaja menutup wajahnya dengan guling.
" Jingga, makanannya mana, Aku udah laper banget ?" Tanya Riva yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi, menggunakan piama dan juga masker wajah yang menutupi sebagian wajahnya, menyisakan mata dan mulutnya.
" Riva, bisa kamu keluar sebentar ?"
__ADS_1
perhatian Riva sontak tertuju pada sumber suara, Riva tertegun.
" Ok." Ucap Riva ia beranjak pergi, menutup pintu dengan pelan. Tapi tiba-tiba membuka kembali pintu itu.
" Sorry, cuma mau ngasih tahu, kamar ini tidak kedap suara, jadi tolong jangan buat keributan, apalagi suara-suara vulgar." Ucap Riva, lalu ditutup kembali pintu itu.
Lucas berjalan mendekati ranjang tempat istrinya berbaring, duduk di tepi ranjang. Mencoba meraih guling yang menutupi wajah istinya itu, tapi lagi dan lagi Jingga menolak .
" Kamu marah kenapa sih ?"
" Nggak tahu, pikir aja sendiri !"
" Aku benar-benar nggak tahu salahku apa ? Kasih tahu aku, jangan diem kayak gini."
"…....."
" Masih tentang Tsania tadi ?"
" ,........."
" Jingga."
Tidak ada jawaban dari Jingga, Lucas menarik nafas panjang melihatnya.
" Kamu beneran mau tidur disini ? Ok kalau gitu aku juga tidur di sini." Ucap Lucas, di lepasnya dasi yang sedari tadi seakan mengikatnya, lalu di lepas jas hitam yang dipakainya, dan yang terakhir membuka semua kancing kemejanya. Terlihat jelas dada bidangnya, yang begitu menggoda.
" Geser dikit." Lucas mencoba menggeser tubuh istrinya, kemudian di peluknya Jingga dengan erat.
" Udah sana pulang."
" Nggak."
Jingga sudah merasa enggap sendiri, karena guling yang menutup wajahnya, lalu disingkirkannya guling itu. Sekilas ia merasakan sikunya menyentuh kulit suaminya itu. Sontak ia memutar tubuhnya menghadap Lucas.
" Ngapain kamu lepas baju ?" Tanya Jingga.
Dia nggak bakal aneh-aneh kan ?
" Panas, di sini nggak ada AC ya ?" Tanya Lucas, matanya melihat sekeliling mencoba mencari pendingin ruangan itu.
" Nggak ada, udah sana pulang, tempat ini nggak cocok buat kamu." Jingga mencoba mengusir, mencoba mendorong tubuh suaminya, tapi sayangnya dengan cepat Juga Lucas balik memeluknya, sangat erat, hingga ia tidak bisa bernafas.
" Lepasin, aku nggak bisa nafas." Ucap Jingga, ia mencoba meronta, tapi sayang, tenaganya kalah dengan tenaga suaminya.
" Ya udah aku kasih nafas buatan."
Cup.
Ciuman singkat, mendarat di bibir Jingga.
__ADS_1
" Masih kurang ?" Tanya Lucas dengan jahilnya.
Lucas mencoba mencium kembali, tapi Tangan Jingga menahan bibir itu untuk mendekati bibirnya.