
3 tahun kemudian......
Jingga mengerutkan dahi dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Perempuan bernama Matahari Jingga itu terlihat sedang mengurut-ngurut keningnya. Dulu ia berpikir, menjadi seorang bussines women di bidang kuliner seperti ini, asal bisa masak dan menguasai ilmu bisnis walaupun tidak banyak semua akan berjalan lancar, Tapi nyatanya, praktik tidak selalu sama dengan teori. Seperti sekarang misalnya, bukan masalah masakan yang tidak enak, atau masalah pelayanan yang buruk. Melainkan salah satu pelanggannya, ya bisa dibilang pelanggan kelas elit nya.
Baru saja Jingga mendengar kabar, bahwa reserfasi pelanggan elitnya dibatalkan secara tiba-tiba.
Oh tidak bisa... ini tidak bisa terjadi. Ini uang besar.
Jingga sungguh pusing, bagaimana bisa gagal.
Dan usut punya usut, pelanggan elitnya itu terancam gagal menikah. Apabila gagal menikah, maka itu artinya yang menjadi ladang uang yang paling potensialnya juga akan ikut hilang. Karena sejak awal, si pelanggan mahabesarnya itu sudah berjanji akan menggunakan jasa hidangan dari restoran miliknya untuk kebutuhan acara pernikahan nanti.
Hari ini pihak pelanggannya berkata, bahwa dia berkemungkinan akan gagal menikah karena tunanngannya berselingkuh. Mendengarnya saja sudah membuat Jingga sakit kepala.
Selingkuh ? Memang sekarang mana ada orang setia ?
Jingga tersenyum sinis, kata selingkuh mengingatkan akan luka lama yang berusaha dia sembuhkan. Tapi entahlah... Sampai kapan Jingga akan bertahan.
" Tunggu, pak Pandu, sepertinya tidak mungkin sekali kalau tunangan anda berselingkuh ?" Jingga berusaha meyakinkan pelanggannya.
" Nggak mungkin gimana, baru saja saya dapat kabar dari pegawai saya kalau Jesica sedang berada di salah satu kawasan hiburan malam paling elit, kemungkinan dia disana bersama selingkuhannya.
" Mungkin saja, cuma temannya Bu Jesica." Jingga masih berusaha.
" Saya sudah tidak peduli, pokoknya saya mau batalin kerja sama kita, saya akab bayar pinaltinya, jangan khawatir."
Jingga bereaksi cukup keras.
Dari pada pinalti, jumlah uang yang sebenarnya lebih menggiurkan.
" Jangan terburu-buru begitu, Pak Pandu. Begini saja, bagaimana kalau saya utus salah satu pegawai saya untuk menjemput tunangan bapak dari kelab malam itu sekarang ? Saya jamin, tunangan Bapak nggak selingkuh, jadi, Bapak nggak perlu terburu-buru mengambil keputusan untuk melakukan pembatalan." Jingga menghela napas pelan.
Segala cara akan aku lakukan, aku tidak bisa membiarkan uang besar didepan mata melayang begitu saja.
Hati Jingga benar-benar ingin menjerit, rasa bercampur menjadi satu.
Setelah sebisa mungkin mengulur agar pelanggan mehabesarnya tidak membatalkan kerja sama, akhirnya Jingga mendapat persetujuan untuk menjemput dan mengecek langsung keberadaan tunangan pelanggannya itu. Apa benar selingkuh atau tidak.
" Baik, tunggu kabar baik dari saya, ya Pak Pandu. Terima kasih."
Setelah percakapan dengan Pak Pandu berakhir, Jingga langsung menekan nomer lain di layar ponselnya, kali ini, nomer salah satu assitennya sekaligus sahabatnya. Ya dua sahabat ini tidak bisa terpisahkan.
" Hallo Riv ! Tolong ke sini sebentar."
Tidak lama setelah itu, sosok Riva pun muncul di balik pintu ruangannya.
" Ada apa ?"
" Temani aku ke kelab x ."
" Ngapain ? Kamu mau mabuk lagi ? Kamu baik-baik saja kan ?" Tanya Riva khawatir.
__ADS_1
" Aku nggak apa-apa. Aku baik-baik saja."
" Terus mau ngapain kesana ?"
" Aku mau cari tunangan Pak Pandu."
" Tunggu dulu, bukannya acara nikahnya sudah dibatalkan ?" Tanya Riva bingung, yang gagal nikah pak Pandu, kenapa Jingga yang repot.
" Iya, tapi aku lagi berusaha supaya mereka nggak batal menikah."
" Ya tuhan Jingga, Please.. kerjaan kita masih banyak, ngapain kamu ngurusin urusan orang lain sih, klien kita juga masih banyak, batal satu kayaknya nggak bakal membuat kita bangkrut."
" Nggak bisa, pokoknya pernikahan Pak Pandu nggak boleh batal, kita nggak bisa melepas kerja sama ini begitu saja, ini uangnya gede."
" Uang lo banyak, masih kurang, noh di kartu atm lo nol nya berjejer."
" Itu bukan uangku." Ucap Jingga dingin.
Mendengar itu sontak membuat Riva menciutkan nyalinya untuk melanjutkan perdebatan.
wanita itu paham betul, luka di hati sahabatnya belum sembuh total. Dia tidak akan lagi memaksa apalagi membahasnya.
" Oke, oke. Terus sekarang lo mau ngapain, nyeret itu tunangan Pak Pandu ke sini ?"
" Boleh."
" Gila ya, please deh, jangan ikut campur masalah orang lain."
" Emang kamu tahu dari mana, kalau Pak Pandu cinta."
" Nebak saja. Udah ah, ayo temani aku kesana."
" Tunggu dulu, kelab X kan, itu kelab elit, tidak sembarang orang bisa masuk ke sana."
" Bodoh amat, yang penting kesana dulu, masalah masuk gampang, kita pikir sambil jalan."
******
Mata Lucas terus melihat kearah gelas yang ada ditanganya, memutar pelan gelas itu hingga air berwarna merah itu bergerak mengikuti putaran gelas itu.
Kelab elit itu semakin malam semakin lama semakin ramai,Taoi disana Lucas menjadi manusia paling kesepian, pria itu seakan asyik dengan kesendirian diantara keramaian dan entah sudah berapa perempuan yang lewat dan mencuri pandang kearahnya. Tak hanya itu, satu atau dua perempuan yang sudah tahu siapa Lucas, mereka akan berpikir ulang untuk menghampirinya. Bukan karena tidak ingin didekati, melainkan karena Lucas bukan orang sembarangan, tidak ada yang ingin membuat masalah dengan pria penuh dengan kekuasaan itu.
Terlebih Lucas terlihat dingin dan menyeramkan hanya dengan tatapan matanya.
Lucas tersenyum saat seorang perempuan yang tidak ia kenal dengan berani berjalan mendekatinya, tapi sayang dengan satu tangan Jimmy berhasil menghentikan langkah perempuan itu.
Tapi sayangnya perempuan itu tidak menyerah begitu saja.
" Jesica Abimana." Bisik pelan di telinga Jimmy.
Bukan wanita sembarangan, dia anak kesayangan Abimana, putri rival bisnis Tuannya.
__ADS_1
Mendengar itu Jimmy raut wajahnya sangat tenang. Pria itu hanya berjalan mundur dan mencoba menekati tuannya.
" Jesica Abimana." Bisik Jimmy pada Tuannya, Luca yang mendengar itu lagi-lagi hanya tersenyum sinis.
" Perempuan yang sangat berani." Ucap Lucas.
Dengan isyarat tangan, Lucas menyuruh Jesica mendekat padanya.
Melihat itu, sontak wajah Jesica sangat sumringah.
Ternyata sangat mudah mendekati Lucas Arkana Putra.
" Hay.. Aku Jesica."
Lucas hanya menganggukan kepalanya, dan menyuruh Jesica duduk.
Lucas mengedarkan pandangannya kepada perempuan yang duduk di sampingnya itu. Dengan balutan Dress ketat dan seksi berwarna merah, perempuan itu tersenyum mengoda padanya yang kemudian direspons dengan senyuman tipis oleh Lucas.
Murahan.
Tiba-tiba, sebuah tangan halus menyentuh paha Lucas, dia sengaja membiarkan perempuan nakal itu menjelajahi pahanya, dia ingin tahu seberapa berani lagi perempuan ini.
" Boleh aku temani kamu minum ." Tanya Jesica dengan sangat mengoda.
Tapi sayangnya Lucas hanya diam, seolah tidak peduli.
Pria itu masih asyik dengan gelas ditangannya.
Jesica semakin berani, karena sikap Lucas yang hanya diam, perempuan itu mengartikan Lucas tidak keberatan jika dia semakin berani lagi.
Jerica kini bermain-main di dada Lucas, bergelayut manja di sana.
" Bu Jesica ?"
Suara perempuan yang sangat Lucas kenal. Matanya sontak melihat kearah sumber suara.
Jingga.
*Note
Hallooo para pembaca semua, lama tidak jumpa ya, hehe
Maaf ya, author baru bisa update, setalah beberapa bulan author hiatus.
Author harap kalian nggak bosen sama cerita Jingga dan Lucas, karena jujur cerita selanjutnya bakal lebih seru.
Semua kegilaan Lucas dalam mengejar Jingga, akan terpampang nyata di cerita selanjutnya.
Dan setelah ini, author akan berusaha keras untuk update setiap hari. Harap ditunggu ya ...
Dan nanti kalau ada yang coment, kelamaan nggak update lupa jalan ceritanya,, author cuma bisa ngasih saran baca dari awal lagi.. hehe karena cerita Lucas dan Jingga nggak akan membuat kalian bosen. ( harapan author begitu ) hehe
__ADS_1
Selamat membaca semua ....