CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Ketahuan 2


__ADS_3

Suasana ruangan itu seketika berubah menjadi hening, rasa canggung tercipta diantara mereka bertiga, entah kenapa posisi Jingga dan Lucas seperti habis kepergok mesum, dan siap untuk di adili, karena melanggar norma. Tunggu dulu, norma yang mana, yang mengatur suami istri di larang berbuat mesum ?? Tapi itu sekarang yang mereka berdua rasakan.


Jingga dan Lucas tidak menyangka, Dika bisa membuka pintu itu, terlebih lagi hanya Jingga dan Lucas yang tahu.


Dan Dika, hanya diam menunduk, saat ini dia begitu sok, meratapi mata sucinya telah ternodai oleh hal-hal mesum yang baru saja dia lihat.


Lucas mencoba mencairkan suasana, ber dehem keras, mencoba bersuara.


"Kamu tahu dari mana kode pintu itu ?" Suara Lucas terdengar berat, ia berusaha untuk tetap tenang, walaupun sejujurnya dia cukup malu. Entah kenapa kepergok Dika, lebih memalukan dari pada kepergok Tsania sedang bercinta.


" Nebak mas."


" Nebak ?"


Meski suara Lucas sedang dalam mode tidak santai, tangan Lucas tetap meremas untuk menenangkan pikirannya.


Jingga mencoba bersembunyi di balik punggung suaminya itu, saat ini dia merasa malu untuk menunjukkan wajahnya pada sepupunya itu.


" Iya nebak aja, untuk ukuran orang yang bucin tingkat dewa aku kira semua kode dirumah ini pasti ulang tahun Jingga." Ucap Dika dengan santainya, wajah tegangnya mulai melunak, karena dia merasa menang, bisa menebak kode itu.


Dan Lucas hanya bisa membuang nafas kasar, rasanya dia harus mengganti semua kode yang ia punya. Ternyata kebucinannya ini, juga merupakan kelemahannya.


" Lain kali jangan asal masuk ! Mau kamu nanti kalau sudah menikah dan lagi me-time sama istri kamu, Mas tiba-tiba datang, ngebor lantai kamar kalian."


Dika mengangguk paham, ia tidak berani melawan. Terima tidak terima, Lucas lebih tua darinya, Dika takit kualat. Namun ia juga sadar diri, ia sudah kelewatan.


" Oh ya, aku mau pamitan." Ucap Dika, sontak membuat Jingga seketika menoleh kearah sepupunya itu.


" Kamu mau pulang ?" Tanya Jingga, Dika mengangguk singkat.


" Iya, cutiku sudah habis, aku harus kembali bekerja."


Jingga menghela nafas pelan, ia merasa bersyukur, orang jahil dirumahnya sudah mau pergi.


" Jangan senang dulu, aku bakal.sering main kesini, boleh kan mas ?" Goda Dika.


Dan Lucas juga hanya mengangguk singkat.


" Aku lapar, buatin mie instan dong ?" Minta Dika pada Jingga, Dengan segera Jingga bergegas ke dapur, karena ia senang malam ini terakhir Dika di rumah ini, sebagai perpisahan ia akan membuatkan mie instan untuk sepupunya itu.

__ADS_1


Mata Dima melirik kearah Lucas yang berada tidak jauh darinya.


" Mas?"


Tidak ada sahutan. Fix , Kakak iparnya ngambek.


"Maaf, ya, mas." Dika merapat duduk makin merapat kepada Lucas.


" Hmm."


Dika melengos, kakak iparnya memang marah.


" Nggak lagi-lagi. Beneran, Mas . Jangan ngambek dong, Mas. Bentar lagi aku juga pulang, nggak di sini lagi, kalian berdua bebas mau ngapa-ngapain."


Lucas mendelik kearah Dika, membuat Dika menelan ludah.


" Jadi selama ini kamu sengaja menganggu kami ?"


" Nggak, siapa juga yang mau ganggu." Dika terlihat panik.


" Baguslah, aki harap ini yang terakhir kejahilan kamu di sini."


Dika mengangguk cepat, entah kenapa saat ini ia merasa takut. Tatapan Lucas begitu menakutkan.


" Apa ?"


" Aku minta tolong, jaga Jingga ya, aku rasa saat ini hanya mas yang dia percaya, dan masalah orang tuanya, aku mohon kasih dia pengertian."


Lucas hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa, masalah orang tua Jingga, saat ini hal yang sangat sensitif untuk di bahas, Dan untuk saat ini, hal yang bisa dia lakukan hanya memberi waktu untuk istrinya itu. Ia yakin, Tidak lama untuk Jingga memaafkan orang tuanya.


" Kamu tenang aja, aku akan selalu ada buat Jingga." Ucap Lucas yakin, sambil menepuk pundak sepupu istrinya itu.


Dika yang mendengar itu tersenyum tipis, ia merasa lega, Jingga bertemu dengan pria yang tepat.


Dika makin mendekatkan diri pada Lucas, dan berbisik pelan.


" Mas Lucas... Top !" Ucap Dika sembari memberi jempol kepada Lucas.


" Perkasa." Lanjut Dika.

__ADS_1


Sudut bibir Lucas tertarik membentuk senyum bangga. Terlepas dari insiden dirinya terciduk beberapa saat yang lalu, Lucas tidak bisa menampik dan mengelak jika Dika akan menyadari keperkasaannya.


" Dika, nih mir nya ." Tiba-tiba, Jingga kembali hadir dari arah dapur, sepiring mie goreng favorit Dika sudah tersaji di atas meja.


Jingga duduk, Dika malah berdiri, mengambil piring yang berisikan mie goreng itu.


" Aku makan di kamar ya, sekalian mau nonton Netfl*k." Ucap Dika seraya pergi meninggalkan Jingga dan Lucas yang masih duduk di sofa.


Dan Jingga dan Lucas kompak hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Dika.


Setelah kepergian Dika, sadar akan kondisi yang sudha kembali kondusif, Lucas perlahan menggeser duduknya mendekati Jingga yang sedang asyik bermain dengan ponselnya, Tangan Lucas sudah melingkar cantik di pinggang istrinya.


" Sayang." Bisik Lucas pelan di telinga Jingga.


" Hmm."


" Nggak mau lanjut ?"


" Lanjut apa ?" Tanya Jingga dengan polosnya.


" Tadi ?" Lucas tersenyum, tangannya bermain nakal di pundak istrinya itu.


" Nanti keciduk Dika lagi ."


" Nggak, dia udah janji nggak bakal ganggu lagi ?"


" Dia ? Udah janji ? Emang kamu ancam apa an sampau dia patuh kayak gitu ?"


" Aku nggak ngancem dia, sumpah !" Ucap Lucas membela diri.


" Beneran ?" Tanya Jingga memastikan.


" Ayo sayang, adik ku udah kangan nih, pengen masuk."


Jingga mencibir.


" Sayang." Ucap Lucas manja.


" Iya deh, yuk , ke kamar."

__ADS_1


Lucas langusung berdiri dan mengangkat Jingga ala bridal style menuju kamar mereka berdua.


"Malam ini aku tidak akan membiarkanmu tidur." Bisik lucas di telinga istrinya.


__ADS_2