CEO Dingin Yang Bucin

CEO Dingin Yang Bucin
Tragedi tas


__ADS_3

" Oh ya"


Jingga tiba-tiba membalik tubuhnnya menghadap Lucas yang sedang berbaring di sampingnya.


" Kenapa ?" Tanya Lucas


" Kabar Tsania, wanita ular itu gimana?"


" Ngapain kamu tanya dia ?"


" Penasaran aja, masih suka godain kamu ?"


" Pertemuan kemarin itu, dia mau pamitan."


" Pamitan ?"


" Iya, dia mau pindah ke Bali."


" Benaran ?" Mata Jingga berbinar bahagia.


" Iya."


" Kok bisa ?"


" Bisa gimana ?"


" Ya kok bisa dia menyerah kayak gitu, kemarin-kemarin dia bersikap seolah tidak akan menyerah untuk godain kamu, apalagi bawa embel-embel teman lama dan kamu pernah suka dia."


" Ya nggak tahu, dia nyerah lihat lawannya beringas kayak kamu." Goda Lucas, di cubit manja pipi istrinya itu.


" Sakit......, tapi beneran dia udah pergi kan ?"


" Sepertinya iya, setelah pertengkaran itu, aku udah nggak lihat dia."


" Oh ya aku sempet ngomong sebentar sama dia." Tambah Lucas, sontak membuat Jingga semakin penasaran, hingga segera duduk bersila.


" Kamu ngomong apa ?" Tanya Jingga antusias.


" Aku ngomong dia bodoh."


Jingga menganga, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


" B-o-d-o-h ?"


" Iya, kenapa emangnya ?"


" Aku nggak percaya, selama ini kamu terlihat tidak tega dan seolah melindungi dia."


" itu karena aku menghormati dia sebagai teman lama dan juga pacar kakakku, tidak lebih."


" Terus, terus apa.lagi ?"


" Ya aku bilang, aku berharap kita nggak usah ketemu lagi."


Jingga mengerjap syok mendengar ucapan Lucas, dia cukup terkejut mendengar kalimat menusuk itu keluar dari Lucas, terlebih melihat masa lalu mereka berdua, antara Lucas dan Tsania pernah ada cerita, walaupun berakhir menyedihkan, cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi Jingga kembali ingat, sikap sebenarnya Lucas saat awal-awal.mereka bertemu, terlebih sebelum rasa ini ada, Sifat Lucas yang angkuh dan seenaknya. Jingga mulai memaklumi.


" Kenapa kamu lihat aku begitu ?" Tanya Lucas.


" Nggak, cuma lagi mikir aja."


" Mikir apa ?"


" Kalau kamu nggak ketemu aku, mau jadi apa kamu ?"


Lucas mengernyitkan alisnya, mencoba mencerna ucapan Jingga.


" Maksudnya ?"


" Ya, sikap kamu yang dingin ini, siapa juga wanita yang mau."


" Kamu." Jawab Lucas dengan santainya.


" Iya juga ya." Jawab Jingga dengan polosnya.


Tawa bahagia seketika tercipta diantara mereka berdua.


******


Siang ini Lucas sengaja mengajak Jingga ke mall untuk berbelanja, dan segala upaya penolakkan sudah Jingga lakukan, tapi hasilnya tetap nihil, karena Lucas begitu memaksanya, hingga membuat ia menyerah.


Jingga bukan tipe wanita yang suka berbelanja, ia akan tetap memakai barang sampai barang itu rusak.


Jingga sungguh-sungguh tidak bersemangat, Berjalan dengan malasnya, Hingga sesekali Lucas menariknya, gengaman tangan Lucas di tangannya seakan tidak bisa lepas, Pria itu mengandeng Jingga sepanjang beradabdi mall, bahkan Jingga hampir kembali melepaskan diri dari gandengan Lucas, melihat mata beberapa pengunjung yang menatap mereka terus menerus, tatapan aneh yang sudah biasa Jingga dapatkan, mata sinis seolah Jingga tidak pantas berjalan dengan Lucas.

__ADS_1


Beruntung mereka berdua tidak terlalu lama berdiri i tengah keramaian. Lucas dan Jingga memasuki sebuah toko salah satu brand terkenal, yang mana Jingga bisa lohat hanya orang-orang tertentu yang berani masuk kedalam dan berbelanja di sana. Maka disinilah Jingga berada, duduk di sofa panjang di tengah toko bersama Lucas, yang menggode para pelayan di sana untuj segera membawa barang-barang terbaik dan terbaru mereka.


Dua tiga pelayan begitu sibuk membawa dan menata tas-tas mewah di meja di depan sofa, tempat mereka duduk.


Dari yang kecil hingga terbesar, dari segala warna dan segala bentuj rupa.


Jingga menatap tas -tas di depannya dengan tatapan bingung.


" Kamu pilih yang mana kamu suka ?"


Jingga memeperhatikan tas-tas tersebut, sangat indah dan terlihat berkelas, tapi Jingga merasa tidak cocok dengan itu.


Jingga memilih asal, tas kecil di depannya.


Aku harus cepat , agar bisa cepat keluar dari sini.Ini aja, kecil pasti tidak terlalu mahal.


Jingga memilih tas kecil berwarna biru, dengan hiasan batu-batu kecil diatasnya.


" Selera nyonya bagus sekali." Puji pegawai toko itu.


" Ini salah satu koleksi terbaik Desainer Itali, tas ini juga menghandirkan 39 berlian warna-warni yang menghias di antara jepitan emas putih, desainnya juga sangat elegan, sangat cocok di kenakan oleh wanita secantik nyonya." Tambah pegawai toko itu.


wah, pintar sekali bicara pegawai toko ni.


Jingga hanya bisa-bisa pura tersenyum menanggapi pujian yang berlebihan itu.


" Cuma ini ?" Tanya Lucas.


" Iya, itu saja, kecil pasti harganya tidak terlalu mahal." Bisik Jingga di telinga Lucas.


Lucas tidak menjawab ia hanya tersenyum.


" Berapa harganya ?" Tanya Lucas pada pelayan itu.


" Untuk tas ini, harganya 4 miliar rupiih, tuan." Jawab pegawai toko itu.


Mendengar itu sontak mata Jingga membulat, sangking syoknya.


" Berapa, bisa di ulang ?" Tanya Jingga memastikan.


" 4 miliar rupiah." Pegawai toko itu mengulangi lagi, dengan sangat jelas.


" Tas sekecil ini." Jingga masih tidak percaya, tas mungil yang hanya seukuran dompetnya yang berisikan uang receh, harganya bisa semahal ini.


" Yang ini ?" Tunjuk Jingga pada tas yang berjahar di atas meja.


" 3 miliar ."


" Yang ini ?"


" 1,3 miliar."


" Yang ini ?"


" 900 juta."


" Tas ini koleksi terbaik di toko ini, dan terlebih berhiasan berlian."


" Kalau begitu aku nggak jadi pilih ini semua, sekarang tolong tunjukkan tas yang paling murah disini." Perintah Jingga, dia tidak ingin menghambiskan uang hanya untuk sebuah tas kecil itu.


Wajah bingung terlihat dari pegawai toko itu.


" Yang paling murah ?" Tanya pelayan itu, sorot matanya melihat kearah Lucas yang duduk sambil menahan senyum.


Dan Lucas memberi isyarat untuk pelayan itu, untuk segera menuruti permintaan istrinya itu.


Pegawai toko itu bergegas mengambil tas yang di minta.


" Ini, nyonya."


" Berapa harganya ?"


" 120 juta, nyonya."


" Saya pilih ini saja." Ucap Jingga cepat, saat sebuah tas di letakkan di meja.


" Beneran ?" Tanya Lucas.


" Iya , ini saja."


"ok, kalau kamu pilih yang itu, nggak bakal nyesal kan ?" Tanya Lucas.


" Nggak."

__ADS_1


" Ok, aku bayar-------."


" Lucas, lama nggak ketemu, apa kabar ?"


Baik Jingga dan Lucas langsung menoleh saat seorang laki-laki tinggi lewat dan berhenti kala melihat keberadaan mereka.


" Oh hey Bram ." Lucas langsung bersalaman dengan teman kuliahnya itu.


" Siapa ? pacar ya ?" Tanya Bram, sedikit berbisik di tekinga Lucas.


" Kenalin istriku, Jingga." Ucap Lucas memperkenalkan Istrinya.


" Jingga."


" Bram."


" Ini kenalin, pacar aku, Stevi."


" Jingga."


" Stevi."


" Lucas."


" Stevi."


Dahi Jingga bekerut saat wanita yang berada dihadapannya. Sosok perempuan yang di bawa teman Lucas, sedari tadi memandang Jingga dengan tatapan sinis, Jingga bisa merasakan itu, hawa-hawa tidak suka terlihat jelas di sana.


Jingga melirik rangkulan Stevi itu begitu erat di lengan Bram, dengan satu tangannya sibuk memerkan tasnya kepada Jingga. Sontak saja Jingga menahan diri untuk tidak tertawa, astaga ini wanita kenapa ? Dia ingin membanggakn dirinya atau apa ? Atau memandang rendah diriku ini, seolah aku tidak pantas di tempat ini.


Jingga mencoba tidak peduli, bersikap biasa saja


" Silahkan nyonya ini tasnya." Tiba-tiba seorang pegawai toko datang mendekat sambil membawa sebuah tas menuju Jingga, sontak melihat benda itu mata Jingga bersinar secerah matahari.


" Sayang, aku pilih tas yang paling mahal ya, nggak.mungkin kan kamu beliin aku tas yang harganya cuma 120 juta ." Ucap Stevi dengan manjanya, sambil melirik kearah tas yang berada di tangan Jingga.


Ras tidak nyaman terlihat dari wajah Bram, melihat kearah Lucas dan Jingga dengan perasaan tidak enak.


" Sayang yang ini ya, ini keluaran terbaru." Ucap Stevi seraya mengambil tas kecil yang awalnya di pilih oleh Jingga.


" Stevi, hentikan." Ucap Bram, memperingatkan.


" Kenapa ? Kamu mau belikan aku yang paling murah juga." Ucap Stevi.


Tangan Jingga mengepal keras, mencoba menahan emosinya.


" Jauhkan tanganmu, dari tas itu." Perintah Lucas.


Sontak Stevi, menatap Lucas dengan tatapan sinis.


" Kenapa ?"


" Karena tas yang di atas meja, semua milik istriku, ya kan sayang ?" Ucap Lucas.


" Bungkus semua tas di toko ini." Perintah Lucas pada pegawai toko itu.


" Bain tuan."


Sontak mata Stevi membelalak tidak percaya, ia begitu kesal dan merasa terhina.


" Kalian-----." Ucap Stevi.


" Maaf, Lucas. Aku permisi dulu." Bram menarik Stevi keluar dari toko itu.


Sontak Jingga dan Lucas tersenyum penuh kemenangan, melihat kekalahan perempuan itu.


Sedangkan di luar toko, Bram memarahi Stevi habis-habisan, dia tidak percaya Stevi, bisa melakukan hal bodoh itu.


" Kamu tahu mereka siapa?"


" Siapa ? Paling cuma teman kuliah kamu yang nggak penting."


" Dia itu, Lucas Arkana Putra, pemilik Grup Arkana."


Tubuh Stevi sontak terasa lemas hingga tidak bertenaga.


" Kamu bercanda kan ?"


" Kamu Kira, aku sekarang lagi bercanda ?" Terika Bram kesal.


Pria itu begitu kesal, bertemu dengan Lucas secara kebetulan adalah keberuntungan baginya, karena secara tidak langusng dia bisa membicarakan bisnis dengan teman kuliahnya itu, tapi sekarang harapan itu mus ah. semua hancur karena kesombongan Stevi.


" Kamu tahu, aku sudah dua tahun,membuat janji untuk bertemu Lucas, tapi tidak bisa, dan sekarang aku ketemu dia, dan seketika juga kamu merusak semuanya." Ucap Bram penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2